
Setelah beberapa hari mengambil cuti dan menghabiskan waktu bersama dengan Sandro dan juga keluarganya, kini Dira sudah kembali bekerja. Tidak banyak yang berubah saat di kantor, beberapa orang masih memandang Dira dengan tatapan yang beragam. Masih ada yang tidak suka namun kebanyakan sudah tidak begitu mempedulikan hubungan Dira dengan Sandro.
Sementara Dira? Sudah membuang jauh – jauh perasaan insecure yang sempat bergelayut didalam hatinya. Ia justru tidak menyangka jika ternyata memang Pak Hiskia memiliki keinginan untuk menjodohkan Sandro dengan dirinya.
Sejak awal perekrutan karyawan memang beberapa dewan eksekutif Segah Basadewa Group sudah jatuh hati pada Dira, bukan karena parasnya tetapi karena kualitas yang ada pada dirinya. Termasuk Pak Hiskia yang memang memilih Dira secara khusus untuk membantu Sandro mengelola unit bisnis baru di wilayah lain.
“ Kamu begitu beruntung Dira ternyata Pak Hiskia sangat menginginkan mu menjadi menantunya “ Tukas Edgar setelah Dira merampungkan ceritanya.
“ Aku juga baru tahu setelah pertemuan dengan Pak Robert disana Mas, lalu sekarang dia ingin mengajakku cepat menikah. Padahal akupun belum memberi tahu orang tua ku mengenai hubungan ini “ Dira kini tertunduk lesu menghadap piring didepannya yang sudah kosong.
“ Kenalkan saja pada orang tua mu Dir? Apa susahnya? “ Seloroh Axel kemudian.
“ Aku bingung menyampaikan nya Xel, apakah mereka akan baik – baik saja saat tahu siapa kekasihku? “ Sambung Dira sambil menatap wajah Axel.
“ Mungkin mereka akan kaget diawal tetapi aku rasa jika Pak Sandro bisa menyakinkan orang tua mu mereka akan bahagia Dir karena tahu kamu mendapatkan laki – laki yang sangat hebat “ Ucap Edgar dengan santai.
“ Baiklah akan aku cari waktu yang tepat “ Ucap Dira pada akhirnya.
***
Sementara dibelahan bumi yang lain sore itu setelah melewati banyak pertimbangan akhirnya Sandro memutuskan untuk menemui kedua orang tua Dira tanpa sepengetahuan kekasihnya. Tekatnya sudah bulat, ia ingin memperkenalkan diri sekaligus meminta restu dan persetujuan dari orang tua Dira.
Sandro menghembuskan nafasnya dengan keras, ia sedang berupaya untuk meredam gejolak yang ada didalam dadanya. Ia merasa begitu gugup bahkan melebihi kegugupannya saat pertama kali ia ditunjuk menjabat sebagai CEO diperusahaan Papanya. Ia juga takut menghadapi penolakan, ia takut jika orang tua Dira tidak dapat menerima keberadaannya.
Tok.. tok..tok..
Sandro mengetuk pintu kayu didepannya dengan pelan setelah sebelumnya ia membuka sendiri pagar besi didepan rumah Dira yang tidak dikunci. Ia semakin cemas setelah beberapa lama tidak mendapatkan jawaban dari yang empunya rumah.
“ Iya, mohon maaf mencari siapa Pak? “ Seorang wanita paruh baya yang begitu mirip dengan wajah Dira tampak memperlihatkan wajahnya dari balik pintu.
“ Mohon maaf Ibu, apakah benar ini rumah orang tua Oceana Veddira? “ Tanya Sandro dengan gugup. Ia takut jika dirinya mendatangi rumah yang salah, karena kedatangannya disana hanya berbekalkan alamat rumah yang ia peroleh dari resume data diri kekasihnya serta mengandalkan kecanggihan gps.
“ Iya benar, maaf Bapak siapa? “ Jawaban Wanita paruh baya itu membuat Sandro bernafas lega.
“ Saya Ersandro Damaresh Basadewa Bu, saya atasan Dira dikantor “ Sandro mengulurkan tangannya, dan perempuan itu meraihnya dengan ragu – ragu.
“ Oh? Ada perlu apa ya Pak? Apakah ada yang terjadi dengan anak saya Pak? Hingga atasannya datang kemari? Silahkan masuk Pak “ Wanita paruh baya itu mempersilahkan Sandro agar segera masuk kedalam rumah.
Sandro terlihat duduk pada sebuah sofa kulit berwarna cokelat, lelaki itu mengedarkan pandangannya kesekeliling ruang tamu. Dilihatnya sebuah foto keluarga yang dicetak dalam ukuran besar terpajang pada dinding ruangan tersebut. Terdapat Dira bersama kedua orang tuanya juga seorang laki – laki didalam foto tersebut.
“ Begini Bu “ Ucap Sandro mengawali pembicaraan.
“ Apapun Bu, tapi air putih hangat saja jika berkenan “ Sambung Sandro dengan sangat sopan.
Setelah beberapa saat menghilang dari ruang tamu, Ibu dan Ayah Dira terlihat masuk keruangan tersebut secara bersamaan. Sama cemasnya dengan wajah istrinya, lelaki berkulit sawo matang itu tampak mengulurkan tangannya menyalami Sandro.
“ Perkenalkan Pak saya Ersandro “ Ucap lelaki tampan itu seraya bangkit dari kursinya dan kemudian berjabat tangan dengan Ayah Dira.
“ Iya Pak Ersandro, saya Yoseph. Ayah Dira “ Jawab Ayah Dira yang kemudian juga duduk tepat dihadapan Sandro.
“ Jadi apakah ada sesuatu menimpa anak kami Pak? Hingga atasannya datang kemari? “ Dengan cemas Ayah Dira terlihat menghujani Sandro dengan beberapa pertanyaan.
“ Bukan begitu Pak, saya memang atasan Dira saat dikantor tetapi kedatangan saya kemari bukan sebagai atasan Dira Pak Bu “ Jawab Sandro dengan suara yang rendah.
“ Jadi? “ Kini Ayah Dira melemparkan pandangannya yang bingung kepada Sandro.
“ Saya sebenarnya kekasih Dira Pak, Bu. Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin memperkenalkan diri sekaligus memohon izin bahwa saya sangat ingin menikahi Dira “ Jujur Sandro dengan suara yang begetar karena kegugupan menguasai dirinya, seraya menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan fotonya saat sedang bersama Dira guna meyakinkan kedua orang tua kekasih pujaannya itu.
Kedua orang tua Dira meraih ponsel yang disodorkan oleh Sandro dan memandang lekat pada foto putrinya bersama lelaki tampan itu. Orang tua Dira tampak begitu terkejut dengan ucapan pemuda tampan yang duduk dihadapan mereka ini. Baru kali ini mereka bertemu dengan pria muda yang begitu berani mengutarakan keinginannya untuk menikahi putri mereka.
“ Mohon maaf jika kehadiran saya ditempat ini kurang berkenan bagi Ibu dan Bapak, hanya saja saya sedikit tidak sabar untuk diperkenalkan diri pada orang tua Dira. Sehingga hari ini tanpa sepengetahuan Dira saya kemari “ Sandro kini tampak tertunduk, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
“ Haha sejujurnya saya begitu kaget dengan kehadiran Pak Ersandro, saya pikir terjadi sesuatu dengan putri kami. Ternyata ada maksud lain yang Pak Ersandro ingin sampaikan “ Ayah Dira tampak tersenyum lega meski perasaan terkejut masih berkuasa didalam hatinya.
“ Maaf sebelum nya Pak, Bapak boleh memanggil saya Sandro Pak “ Pinta Sandro kemudian.
“ Baik Nak Sandro, saya sebenarnya sebagai orang tua sangat senang jika anak saya akan menikah. Namun kenapa tidak disampaikan langsung kepada Dira juga jika Nak Sandro ingin menikah? “ Tanya Ayah Dira kemudian.
“ Saya sudah beberapa kali menyampaikan keinginan saya ini Pak, bahkan orang tua dan keluarga besar saya mengatakan hal ini kepada Dira tetapi seperti nya Dira masih meragu “ Jujur Sandro lagi.
“ Oh Nak Sandro sudah membawa Dira bertemu dengan keluarga besar Nak Sandro? “ Kini Ibu Dira terdengar membuka suara dan Sandro mengangguk pelan dengan menyunggingkan senyuman tipis pada sudut bibirnya.
“ Apa Nak Sandro kira – kira tahu apa yang menyebabkan Dira belum ingin menikah? Sebenarnya sebagai orang tua saya sangat menghargai niat baik Nak Sandro yang dengan begitu gagahnya datang menemui kami orang tua Dira. Hanya saja mengenai hubungan dan perasaan kami tidak dapat mengatur nya Nak. Hanya Dira yang berhak memutuskan “ Dengan sangat bijaksana Ayah Dira menanggapi keinginan lelaki tampan didepannya itu.
“ Begini Pak, sebenarnya saya ini putra Bapak Hiskia Basadewa pemilik perusahaan tempat Dira bekerja saat ini. Itu yang menyebabkan Dira masih belum bisa mengambil keputusan “ Dengan hati – hati Sandro menjelaskan alasan Dira masih mempertimbangkan soal pernikahan.
Deg!
Kedua orang tua Dira tampak semakin tersentak mendengar ucapan lelaki muda yang ingin meminang putrinya menjadi istrinya itu. Mereka berdua seolah tidak yakin dengan pendengaran mereka baru saja, seorang putra konglomerat tiba – tiba duduk dihadapan mereka dan memohon restu. Tentu saja membuat pasangan suami istri itu begitu terhenyak dan sangat tidak menyangka.