
Pagi itu Dira sudah siap didepan kantor sambil mengendong tas punggungnya yang berisi beberapa lembar pakaian dan sepatu safety. Hari itu Dira akan ikut melakukan kunjungan ke lokasi kebun untuk mengikuti kegiatan tanam perdana pada kebun sawit milik perusahaannya bekerja.
Kegiatan itu bukan hanya diikuti oleh Dira, tetapi juga Edgar, Axel, Pak Albert dan tiga orang manager dari Departemen lain yang juga menerima surat tugas. Kegiatan itu akan dibuka secara resmi oleh Ersandro Damaresh Basadewa selaku pemimpin tertinggi diwilayah mereka.
Dua buah kendaraan SUV berwarna putih sudah berdiri dengan gagah didiepan kantor menunggu orang – orang yang sudah dipilih dan ditugaskan. Tidak lama setelah Dira dan peserta yang lain berkumpul, Sandro tiba disana bersama dengan sekretarisnya.
“ Dira kamu ikut mobil saya saja, masih muat dua orang jika Axel dan Edgar mau bergabung. “ Tawar Sandro saat menghampiri tujuh orang yang berdiri menunggunya di lobby.
“ Baik Pak. “ Jawab Dira pelan menyetujui perintah Sandro.
“ Silahkan Pak Axel dan Pak Edgar bisa duduk dibelakang. “ Suara Alice terdengar melanjutkan perintah Sandro. Pak Allan tampak membantu membuka bangku tengah supaya kedua orang itu segera naik setelah menyimpan barang bawaan mereka didalam bagasi.
Axel dan Edgar segera masuk kedalam mobil, disusul oleh Sandro di bangku tengah. Sementara Dira tampak kebingungan menilik kursi didalam mobil. Ia merasa kurang nyaman jika sampai diminta duduk disamping Sandro.
“ Ibu Oceana silahkan, saya duduk disamping Pak Allan. “ Alice benar – benar menyuruh Dira naik dan duduk disebelah Sandro.
“ Saya saja yang didepan Ibu Alice, supaya jika Pak Sandro meminta apa – apa Ibu lebih dekat. “ Dira seolah menolak dengan saran Alice.
“ Tidak apa – apa Bu, semua sudah disiapkan kok, silahkan naik. “ Dengan tatapan mengintimidasi Alice memaksa Dira segera naik keatas kedalam mobil.
Dengan sangat terpaksa Dira menjatuhkan tubuhnya duduk tepat disamping Sandro, keduanya hanya dibatasi oleh seat gap. Dira melirik kearah teman – teman nya yang tersenyum kecil seolah sedang memberikan ejekan pada Dira.
Pak Allan segera melajukan kendaraannya setelah mobil Pak Albert dan rombongan lebih dahulu melaju meninggalkan bangunan kantor. Perjalanan yang akan mereka tempuh hingga lokasi kebun kira – kira sembilan jam dengan jalan yang tidak semuanya mulus.
“ Jalannya tidak rata semua ya Pak, jadi agak pelan saja. “ Suara Sandro memberi perintah pada Pak Allan memecah kebisuan dalam kendaraan besar itu.
“ Pak jika ingin minum ada di holder cup samping pintu. “ Ucap Alice pada Sandro yang duduk tepat di kursi depan Dira.
“ Oke. “ Tukas Sandro santai sambil menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi mobil.
Dira sendiri menjadi serba salah dengan posisinya saat ini, ia tidak enak hati pada Alice yang menurut versinya berstatus sebagai pacar Sandro. Namun ia tidak dapat menolak saat Sandro dan Alice memberinya perintah untuk ikut kedalam mobil mereka.
Rasa kantuk menyergap masuk mengganggu Dira diliriknya Edgar dan Axel sudah tampak terlelap sejak mobil yang dikemudian Pak Allan meninggalkan batas kota. Sementara Sandro yang saat itu mengenakan kaca mata hitam tidak terlihat sedang tidur atau tidak.
“ Tidurlah jika mengantuk Dir. “ Suara Sandro mengagetkan Dira yang sedang mencuri pandang pada Sandro.
“ Hehe saya kira Bapak tidur. “ Dira terkekeh karena merasa malu kedapatan curi – curi pandang pada atasan yang duduk disebelahnya itu.
Sekuat tenaga Dira berusaha agar tetap terjaga, apa daya perjalanan panjang yang cukup melelahkan itu membuat dia menyerah dengan rasa kantuk yang menyergap. Ia tertidur pulas pada bangku disamping Sandro, kepalanya tidak sengaja terantuk dan jatuh tepat dipundak pria berhidung mancung itu.
***
“ Pak Sandro kita sampai ditempat peristirahatan Pak, mari makan siang dahulu. “ Alice dengan pelan menyentuh lutut Sandro, lelaki itu tampak lelap tertidur. Hingga tanpa sadar kepalanya dan kepala Dira saling menempel satu dengan yang lain.
“ Woy Dir Bangun! Pak Sandro pegel! “ Teriak Axel dengan nyaring membuat Sandro ikut tersentak. Rupanya lelaki dibelakangnya itu memperhatikan tingkah kikuk Sandro yang bingung untuk membangunkan Dira.
Sekilas Dira tampak kaget dan memasang wajah menyesal karena tanpa sadar menjatuhkan kepalanya pada pundak pria tampan disampingnya itu. Dira juga melirik wajah Alice sekerjap yang terlihat menatapnya lekat.
Setelah Dira menjauhkan dirinya dari Sandro, pria itu segera turun dari dalam mobil mengikuti langkah Alice yang siang itu ternyata sudah memesan meja dan makanan. Ia memilih satu meja khusus untuk Sandro dan satu meja lain untuk Pak Albert dan karyawan lain, namun Sandro memilih untuk membaur bersama rombongan.
“ Malu nya aku guys. “ Telihat penyesalan yang mendalam serta rasa malu yang tertinggal pada wajah Dira.
“ Kamu Dir nyaman banget dapat sandaran. “ Goda Edgar sambil terkekeh turun dari mobil mendekati rombongan mereka yang sudah duduk didalam rumah makan.
“ Bagaimana ini, lihat Bu Alice kan Xel dia lihatin aku seperti kesal kan? “ Dira semakin merasa bersalah pada Alice.
Sepanjang makan siang Dira hanya diam tidak bergeming, hanya dia yang tampak begitu khusyuk menikmati makan siangnya. Sebenarnya bukan karena Dira menikmati makan siangnya, tapi karena ia merasa tidak enak hati bisa – bisa nya ia ceroboh terlelap dipundak Sandro.
Para pejabat eksekutif tampak masih berbincang – bincang di meja makan, sementara Axel menyelinap meninggalkan rombongannya untuk merokok. Melihat Axel yang hendak ‘kabur’ Dira segera menyusulnya, seperti biasanya direbutnya satu batang rokok yang hampir dihisap oleh Axel.
“ Ck! Belikan aku kopi saja dari pada kau habiskan uang mu seperti ini! “ Omel Dira pada Axel, lelaki itu hanya memandang wajah Dira dengan pasrah.
“ Minta saja pada Mas – mas kedai kopi sebelah rumah tinggal Dir, bukan nya kalian kemarin jalan? “ Seloroh Axel seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
“ Tau dari mana? “ Dira kaget lalu menangkupkan tangannya menutupi mulutnya, ia juga sedikit menjauhkan tubuhnya dari Axel yang tadinya berdiri sangat dekat dengannya.
Sementara dari meja makan, Sandro tampak memandang Dira lekat. Perempuan cantik yang sedang mengobrol santai dengan Axel. Mimik muka Sandro yang tadinya ceria kini berubah sedikit muram, bahkan ia tidak menjawab saat Alice mengajaknya bicara.
“ Aku lihat kalian dari balkon kamar, kemana? “ Axel menyenggol tubuh Dira dengan lengannya.
“ Dia mengantarku ke supermarket, kami tidak sengaja bertemu ketika aku mau jalan. “ Jujur Dira pada Axel.
“ Sebentar lagi paling juga kamu naksir sama dia. “ Axel menggoda Dira, membuat perempuan itu memukul lengannya pelan.
“ Xel, tau nggak waktu di supermarket aku ketemu siapa? “ Lagi – lagi Dira mengajak Axel bergosip.
“ Siapa? “ Dengan antusias Axel mendekatkan telinganya ke arah mulut Dira.
“ Pak Sandro sama Bu Alice, hahaha. “ Dira berbisik kemudian terbahak dengan senang.
“ Serius? “ Wajah Axel seolah tidak percaya, ia kemudian menjauhkan kepalanya dari wajah Dira.
Sandro semakin kesal melihat kedekatan Dira dengan Axel yang begitu akrab, lelaki itu kemudian melemparkan sapu tangannya ke atas meja dan mendorong kursinya dengan kasar. Ia beranjak dari tempat duduk.
“ Ayo jalan! “ Perintah Sandro membuat semua orang yang ada disana kalang kabut mengikuti langkah leader muda itu.