CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
TEMPAT BARU



Waktu itu sudah lewat pukul enam sore saat Dira, Axel dan Egdar mendarat di bandara kota tujuan mereka. Sementara Sandro telah lebih dahulu tiba di kota itu bersama dengan Pak Hiskia dan Pak Robert tadi pagi, mereka menggunakan penerbangan pagi karena ada urusan dengan notaris dan owner lama. Sebelum pesawat yang ditumpangi oleh ketiga orang itu lepas landas seorang supir perusahaan sudah menghubungi Edgar dan ia mengatakan akan menjemput mereka di bandara.


“ Itu deh sepertinya. “ ucap Edgar sambil mendorong troley berisi koper mereka bertiga menghampiri seorang laki – laki paruh baya yang berdiri sambil memegang papan bertuliskan ‘Segah Basadewa Group ’ .


“ Benar dengan Pak Edgar? “ ucapnya pada saat tiga orang karyawan muda itu mendekatinya. Edgar mengangguk sambil tersenyum, pria berkulit coklat itu segera mengambil alih troley yang didorong oleh Edgar.


“ Pak, tadi pesan dari Pak Hiskia kalau  Bapak dan Ibu sudah mendarat diminta langsung menyusul Pak Hiskia untuk bergabung makan malam. “ ucap supir itu dengan ramah.


“ Oke Pak, kami ikut saja. “ jawab Edgar ringan.


Sepanjang perjalanan setelah keluar dari bandara ketiga orang itu dengan penuh kekaguman memandang sisi kanan kiri jalan. Mereka mengamati tempat – tempat yang dilewati oleh mobil yang mereka tumpangi.


“ Disini kota nya lebih bersih dan teratur ya. “ puji Dira.


“ Iya bener banget, aku juga nggak lihat mobil sembarangan parkir di pinggir jalan sih. “ sambung Axel.


“ Semoga kita betah ya guys. “ bisik Dira.


“ Kalau kita sih betah aja Dir, ada kamu gini hahahaha “ goda Axel pada Dira.


“ Hish apaan sih! “ Dira mendengus sebal.


Tidak lama mobil yang dikemudikan oleh pria yang diketahui namanya Pak Alan itu berhenti pada sebuh rumah makan seafood yang terlihat cukup ramai. Sesaat Dira melihat Pak Robert yang duduk menghadap pintu masuk, segera mereka menghampiri para petinggi perusahaan itu.


“ Sudah duduk disini saja, tidak usah sungkan. Ayo makan sekalian. “ sambung Pak Hiskia dengan ramah pada tiga orang karyawan muda yang baru saja datang menghamipiri mejanya.


“ Ayo Dira, jangan malu – malu. Kamu ini yang paling spesial disini, sampai dijagain sama bodyguard keren begini loh. “ seloroh Pak Robert membuat wajah Dira terlihat pias menahan malu. Berbeda dengan Dira, Axel dan Edgar justru terlihat santai dan bisa membaur dengan baik meski mereka duduk makan bersama dengan eksekutif.


Beberapa jenis masakan yang tadi tersaji memenuhi meja kini mulai habis dilahap oleh enam orang yang duduk disana. Sesekali terdengar guarauan juga wejangan dari Pak Robert pada karyawan yang dikirim perusahaan untuk membantu Sandro mengelola bisnis yang baru itu.


“ Disini kok seperti nya hanya Dira yang paling bersusah hati ya, kenapa Dir? Apa ada pacarmu di kota sebelumnya? Sekarang jadi berpisah makanya kamu sedih begitu? “ canda Pak Robert pada Dira yang paling diam sedari tadi.


“ Dira itu nggak punya pacar Pak, cantik tapi jomblo. “ ledek Axel yang duduk disamping Dira.


“ Masak kamu belum punya pacar Dir? “ Pak Robert memancing pembicaraan dengan Dira.


“ Hahaha, Bapak ini saya malu dong Pak kalau ditanya begini didepan banyak pria. “ jawaban Dira terkesan sengaja dibelokkan agar pembahasan tersebut tidak dilanjutkan.


“ Ya nanti biar di bantu Pak Sandro kenalin sama teman – teman beliau yang ada disini Dir. “ Pak Robert masih saja mengusili Dira, sementara Sandro juga hanya tersenyum – senyum mendengar ucapan Pak Robert baru saja.


***


“ Kamu baru kali ini ke sini ya Dir? “ tanya  Sandro seraya menyalakan mesin mobilnya.


“ Iya Pak. “ jawab Dira singkat. Sementara Sandro hanya memberikan anggukan kecil pada gadis yang duduk disampingnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesekali pria berhidung mancung yang memegang kendali mobil itu terdengar bersenandung. Sesaat Dira melirik Pria berkemeja biru yang berada didepan kemudi, Dira kembali menyadari bahwa pria itu sungguh mempesona.


“ Kenapa Dir? “ Sandro tiba – tiba menoleh ke arah Dira.


“ Oh nggak Pak, penasaran aja tadi itu apa ya? “ Dira mencoba mencari – cari alasan agar Sandro tidak menyadari jika Dira sedang mencuri pandang padanya.


Sandro kemudian melirik pada kaca spionnya, ia memastikan ada sesuatu yang memang menarik perhatian Dira. Berkali – kali Sandro melirik kaca spionnya, namun ia tidak mendapati apapun untuk dapat diperhatikan.


“ Apasih Dir? “ masih penasaran Sandro bertanya lagi pada Dira.


“ Itu loh Pak, taman yang seperti ada bola – bola nya disamping kanan tadi. “ Dira berkilah dengan alasan yang cukup baginya untuk  ' mengelabui’ Sandro.


“ Yang ada videotronnya tadi? “ Sandro seolah terperangkap dalam jawaban Dira yang terdengar tidak dibuat – buat.


“ Ya ampun saya kira apa Dir, itu sih sepertinya jogging track. “ sambung pria tampan itu lagi.


“ Oh begitu Pak. Kalau Bapak sudah pernah kesini ya? “ giliran Dira melanjutkan topik pembicaraan.


“ Beberapa kali sih Dir, ya semenjak ada keputusan ekspansi ini saya menjadi sering bolak balik ke sini jadi sudah lumayan hafal jalan. “ jawab Sandro sambil terus fokus menjalankan kuda besinya.


Tidak berapa lama Sandro memarkirkan mobilnya didepan bangunan mewah tiga lantai yang berada tepat dipinggir jalan raya. Bangunan yang didominasi warna coklat tua dan cream itu mengingatkan Dira pada bangunan boardinghouse yang ia tempati dulu. Dira segera menurunkan barang – barangnya, kemudian seorang wanita yang usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun mendekati Dira dan membantunya.


“ Selamat sore Bu, saya Lisa office girl khusus tempat tinggal disini Bu. “ perempuan itu memperkenalkan dirinya saat membantu Dira menarik koper dari dalam mobil Sandro.


“ Oh selamat sore Bu, perkenalkan saya Dira. “ jawab Dira dengan sopan seraya menyunggingkan senyum manisnya.


“ Dir coba kamu kesini. “ Sandro memanggil Dira untuk mendekatinya.


“ Itu kantor kita Dir, sebelah kanan persis itu mess Axel dan Edgar. Nah kalau yang rumah kecil bercat biru itu mess khusus perempuan. “ sambung Sandro sambil menunjuk bangunan lima lantai yang berada disebalah barat daya boardinghousenya.


“ Dekat sekali dong Pak, wah bisa jalan kaki kalau begitu. “ Dira terlihat sangat antusias.


“ Hahaha, iya deket banget ini. “ Sandro terkekeh mendengar ucapan Dira baru saja.


“ Ya sudah saya masuk dahulu, kamar mu sepertinya di lantai tiga coba tanya sama Bu Lisa. “ sambung Sandro sambil mengulurkan kunci mobil nya pada security yang berjaga disana.