CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
DUA MANGKUK MI INSTAN



Dira menatap lekat pada atasannya itu, ia menyadari jika memang mungkin Sandro tidak pernah mengurusi perkara panci dapur dengan tangannya. Sehingga wajar saja jika ia mengatakan tidak bisa memasak mi instan, bahkan untuk urusan mengganti galon saja dia selalu meminta Pak Jaka yang mengerjakannya.


“ Bapak yakin nggak kenapa - kenapa makan mi instan? “ Dira mencoba meyakinkan pria itu.


“ Nggak papa kok Dira, kamu mau buatkan? Sekalian saja kamu makan disini. “ Pinta Sandro lagi.


“ Baiklah Pak, jadi saya masak disini ya Pak? “ Sekali lagi Dira meyakinkan dan Pria itu menganggukan kepalanya ringan.


Akhirnya sebagai balasan buah tangan  yang diberikan oleh Sandro baru saja, Dira setuju untuk memasakkan mi instan bagi Sandro. Dira kemudian mengambil dua bungkus mi instan dari dalam tas belanjanya, beserta telur yang untungnya tidak pecah serta beberapa batang daun bawang.


“ Pak, pancinya dimana? “ Tanya Dira ringan.


“ Coba cari di kabinet bawah kompor itu Dir. “ Sandro menunjuk laci kabinet yang ada didapurnya.


Dira membuka – buka lemari dapur Sandro beberapa saat, kemudian ia menemukan panci kecil disana. Segera gadis itu mengambil panci dari dalam laci dan mengisinya dengan air lalu meletakkan panci yang tersebut keatas kompor listrik.


Sembari menunggu air mendidih, Dira terlihat mencuci daun bawang yang tadi ia beli kemudian memotong – motongnya dengan pisau yang ada dimeja dapur. Sementara Sandro tanpa terusik sedikitpun justru asik bermain game dari iphonenya.


“  Punya Bapak mau dikasih cabai atau daun bawang? “ Tanya Dira dari meja dapur.


“ Sedikit aja cabe nya. “ Ucap laki – laki itu singkat sambil terus sibuk memainkan permainan didalam ponsel canggihnya.


“ Oke. “ Dira yang merasa diabaikan tampak kembali fokus dengan air didalam panci yang sudah mulai mendidih.


Urusan didapur adalah hal biasa bagi Dira, sehingga membuat mi instan adalah hal yang sangat mudah bagi nya. Dira melakukan improvisasi untuk sajian mi instannya itu, dengan menambahkan beberapa bahan pelengkap disana.


Tidak sampai sepuluh menit dua mangkuk mi kuah sudah tersaji diatas meja makan dengan aroma sedap yang menguar memenuhi ruang makan itu. Sandro yang tahu mi instan buatan Dira sudah matang, langsung menggeletakkan ponselnya dengan sembarangan dan langsung menuju meja makan.


“ Silahkan Pak. “ Dira terlihat mengulurkan sendok beserta garpu ke arah Sandro dan pria itu langsung saja menerimanya.


“ Aku makan ya Dir. “ Ucap Sandro, sejenak Dira tertegun mendengar ucapan lelaki itu baru saja yang menghilangkan bahasa formalnya.


Sesaat ia merasa sangat dekat dengan Sandro, lelaki itu tampak berbeda dari biasanya. Sejenak mereka berdua duduk diruang makan yang sama yang seolah – olah tidak ada gap yang begitu besar diantara mereka.


Sandro juga terlihat begitu lahap memakan makanan instan yang baru saja Dira sajikan untuknya, sesekali Sandro tampak meniup – niup dengan pelan makanannya. Setelah itu ia menyeruput mi nya dengan wajah berseri – seri.


“ Bapak memang nggak pernah makan beginian ya?  “ Tanya Dira penasaran.


“ Iya Dir, bisa dihitung dengan jari. Enak sekali ya rupanya, lain kali perlu mencicipi rasa yang lain sepertinya. “ Sambung Sandro masih saja fokus dengan mangkuk mi kuah nya.


“ Ternyata lebih enak kalau ada sayurannya begini ya Dir? “ Ucap Sandro lagi.


“ Malam Minggu kamu ada acara nggak Dir? Aku belum jadi pergi ke toko buku ” Lagi, Pria itu membahasakan dirinya dengan kata ‘aku’.


Sandro yang biasanya akan menggunakan ‘saya ‘ ketika berbicara dengan orang lain kecuali saat berbicara dengan Alice. Tetapi kali ini ia menggunakan kata ganti yang terdengar sangat informal dan menandakan keduanya memiliki kedekatan khusus, sebenarnya ini justru membuat Dira menjadi tidak nyaman.


“ Maaf Pak, malam minggu saya sudah ada janji Pak “ Lagi untuk kedua kali nya Dira menolak ajakan Sandro pergi ke toko buku.


Dira sudah ada janji dengan Axel dan Edgar di kedai milik Radit, ia ingin jujur pada kedua sahabatnya itu jika dirinya dan Radit sudah berpacaran. Bukan untuk meminta restu, tetapi agar Dira tidak terus – terusan menyembunyikan hubungannya dari mereka yang selalu menentangnya berpacaran dengan Radit.


“ Kemana? “ Tanya Sandro lagi, kini nada suara Sandro terdengar jika ia tidak suka.


“ Ngopi Pak, sama Axel sama Edgar “ Ucap Dira kemudian.


“ Oh sama mereka, dimana? “ Sandro masih saja mencecar Dira dengan pertanyaannya, seolah ia benar – benar ingin tahu apa yang Dira lakukan.


“ Di kedai sebelah itu Pak “ Dira menunjuk tangannya ke segala arah, tetapi yang ia maksud adalah kedai milik Radit.


“ Okelah kalau begitu Dir. “ Sandro terdengar enggan.


Kini ruang makan yang semula terdengar obrolan akrab berubah menjadi sangat sunyi, hanya terdengar sendok garpu yang saling berdentang. Sandro yang semula tampak ceria berubah kusut karena penolakan Dira baru saja.


“ Memangnya Bapak mau cari buku apa? “ Tanya Dira kemudian memecahkan kesunyian diantara dirinya dengan atasannya itu. Diamnya Sandro membuat Dira menjadi tidak nyaman dan merasa bersalah pada laki – laki itu.


“ Buku biografi Dir. “ Lelaki itu menjawab Dira dengan singkat.


“  Kalau hari Minggu bagaimana Pak? “ Akhirnya Dira menawarkan diri pada Sandro karena perempuan itu menyadari perubahan sikap Sandro yang terlihat tidak senang dengan penolakannya baru saja.


“ Oke Minggu sore ya Dir? “ Kini suara Sandro kembali terdengar ceria, dan Dira mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Dira akan mencoba izin pada Radit jika ia harus pergi bersama bos nya ke toko buku, ditengah hubungannya dengan Radit yang sedang mekar – mekarnya ini pasti dia memberikan izin untuk dirinya. Rasa tidak enak Dira pada Sandro cukup tinggi karena bukan sekali ini ia menolak ajakan lelaki itu.


Seusai menyantap makan malam nya di ruang makan milik Sandro, Dira segera membereskan ruang makan dan juga dapur yang sedikit berantakan karena ulahnya baru saja. Sandro sebenarnya melarangnya mencuci perabot makan dan alat – alat didapur. Tetapi Dira sendiri tidak sampai hati jika harus meninggalkan ruangan eksklusif itu dalam keadaan berantakan.


“ Pak, saya pamit dahulu ya Pak. Terima kasih untuk oleh - olehnya sekali lagi Pak. “ Pamit Dira sambil meraih kembali tas selempangnya yang ada tepat disamping Sandro.


“ Oke Dir, sama – sama. Thank you Dira untuk makan malamnya. “ Sambung Sandro seraya bangkit dari duduknya dan mengiringi Dira yang terlihat keluar dari dalam kamarnya.


Sesaat perasaan bahagia menyusup kedalam hati Sandro, ia tidak mengerti apakah karena mi instan buatan Dira atau karena Dira mau pergi menemaninya ke toko buku. Sandro sendiri juga belum memahami sikapnya, ia tidak pernah berlaku seperti itu pada orang lain.


Sandro tersenyum tipis saat mengingat Dira yang sedang berkutat didapur nya, ia merasa bahagia saat melihat Dira menyajikan makanan buatan tangannya keatas meja. Sandro juga sangat senang saat mengingat dirinya dan Dira mengobrol bersama sambil menikmati makan malam mereka di ruangan miliknya itu.