CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
PERUBAHAN SIKAP SANDRO



Sudah satu bulan sejak kepergian Sandro bersama Dira ke toko buku tempo lalu, kedua nya menjadi sangat jarang bertemu baik saat di kantor maupun saat dirumah tinggal. Sandro terlihat sangat menghindari pertemuannya dengan Dira, ia selalu pergi ke kantor saat Dira sudah berangkat dan kembali ke rumah tinggal setelah lewat waktu makan malam.


Pagi itu Dira mengetuk ruang kaca pelan, lalu ia berjalan mendekati meja kerja Alice yang kini sudah berdiri menyambut kehadiran Dira. Alice masih seperti biasanya, menyunggingkan senyuman manisnya dan bersikap dengan sangat ramah.


" Selamat pagi Ibu Oceana, ada yang bisa saya bantu? “ Ucap Alice seraya memandang paras ayu Dira.


“ Apakah Pak Sandro ada didalam Bu? Ada yang ingin saya diskusikan dengan beliau. “ Tanya Dira sama lembutnya dengan sikap Alice.


“ Ada bu, silahkan. “ Alice berjalan kearah pintu ruang kerja Sandro.


Setelah beberapa saat wanita cantik itu mengetuk daun pintu dengan pelan, dan terdengar jawaban Sandro yang sedikit lantang Alice mendorong pintu dan mempersilahkan Dira masuk. Sandro mengakat wajahnya, beberapa saat ia memandang lekat wajah Dira yang sudah lama tidak dia lihat dalam jarak sedekat ini.


“ Ada apa? “ Tanya Sandro kemudian memalingkan padangannya pada layar komputer diatas meja kerjanya.


“ Begini Pak ada yang ingin saya jelaskan sedikit mengenai materi meeting siang ini “  Ucap Dira masih sambil berdiri tidak jauh dari meja kerja Sandro.


“ Informasikan saja yang ingin kamu sampaikan by email, supaya ada history nya atau kenapa tidak disampaikan nanti saja saat meeting? “  Sandro terdengar tidak bergairah melakukan obrolan dengan Dira.


“ Oh begitu Pak. Baik Pak, akan saya kirimkan surel nya sekarang. Lalu mengenai ini, saya memerlukan approval dari Bapak “ Dira membuka kembali salah satu berkas yang berada disebelah genggaman tangannya.


“ Letakkan saja disana, akan saya periksa nanti “ Sandro menjawab permintaan Dira dengan nada datar dan terkesan tidak senang dengan kehadiran Dira. Wanita cantik yang sedang menghadap Sandro tampak menarik nafasnya panjang lalu meletakkan berkas yang berada ditangannya dengan sangat hati – hati diatas meja kerja Sandro.


“ Kalau begitu saya permisi Pak “ Dira langsung bermitan dan melenggang dari ruang kerja Sandro meski tidak mendengar jawaban apapun dari pria tampan yang sedang duduk diatas kursi nya yang berpunggung tinggi itu.


Sekeluarnya Dira dari ruang kerja Sandro, pria itu terlihat menarik berkas yang baru saja Dira kirimkan ke ruangannya. Sekerjap ia mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat dirumah yang di tempati oleh Alice, saat Dira mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Dengan sangat geram dan tanpa sadar Sandro meremas – remas berkas yang baru saja dibawa Dira kepadanya.


“ Kenapa dia terburu – buru sekali punya pacar! “ Sandro berucap dengan kesal pada dirinya sendiri seraya melemparkan berkas yang sudah kusut itu keatas meja kerjanya.


***


Setelah istirahat makan siang, Sandro langsung menuju ruang rapat untuk melakukan beberapa pembahasan mengenai ekspansi perusahaan tersebut yang telah kembali berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan perkebunan yang sudah siap melakukan produksi.


Seperti biasa Alice selalu mendampingi pria tampan itu, dan selalu setia berada didekatnya untuk mengurus segala keperluannya. Bahan – bahan rapat yang sudah dibagikan diatas meja diulurkan oleh Alice pada Sandro dengan lembut, lelaki itu membaca sekilas beberapa lembar kertas ditangannya.


Dira tampak begitu enggan untuk berbicara bahkan hanya berbasa – basi dengan Axel, sementara dengan Edgar Dira juga terlihat cukup menjaga jarak. Dari tempat duduknya Sandro menyadari adanya hubungan yang merenggang diantara ketiga serangkai yang sebelumnya tidak terpisahkan itu.


Sandro juga mendapati Dira sedang memalingkan wajahnya dari Axel saat kedua mata mereka sedang beradu. Sandro tersenyum sekilas, menyadari adanya perang dingin diantara Dira dan sahabatnya itu.


“ Oke mari dimulai saja “ Ucap Sandro kemudian setelah menanggalkan senyuman dinginnya baru saja.


Seorang tim dari Departemen Marketing memaparkan rencana pemasaran mereka untuk hasil perkebunan yang telah siap dipanen. Ia juga tampak menyebutkan beberapa calon buyer yang siap menerima hasil panen karena sementara ini pabrik pengolahan kelapa sawit milik Sandro sedang dalam tahap pembangunan.


Sehingga hasil produksi akan dipasok  ke perusahaan di luar group terlebih dahulu, untuk itu ia mendirikan Departemen Marketing untuk dapat memasarkan produk mereka. Pria yang berdiri didepan layar presentasi itu juga terlihat sudah melakukan survey harga jual tandan buah segar kelapa sawit.


“ Jika kisaran harga jual sebesar itu, tolong dari Departement Accounting agar dapat diperhitungkan biaya produksinya “   Ucap Sandro sembari menatap lekat pada berkas yang berada ditangannya.


“ Tenaga panen sebaiknya menggunakan tenaga borongan saja, kita sama kan dengan sistem perhitungan di kantor pusat “ Tukas Sandro lagi, dan kini laki – laki itu menatap wajah Dira yang sedang memperhatikan wajah Sandro yang penuh pesona itu.


“ Baik Pak, jika kami sudah mendapatkan kontraktor akan kami perhitungkan biaya produksinya. Mungkin dari Tim Marketing atau Tim Produksi sudah memiliki kandidat calon pemborong? Jika ada mohon propsal penawarannya dikirim kan ke kami supaya dapat kami analisa “ Sambung Dira mengiyakan perintah Sandro.


“ Lalu untuk entertain Gubernur nanti saya minta Pak Albert berkoordinasi dengan Departement Accounting mengenai perilisan dana nya ya Pak? “ Perintah Sandro lagi, Pak Albert dan Dira terlihat bersamaan menganggukkan kepala menyetujui perintah Sandro.


***


Sekitar pukul empat sore Sandro mengakhiri rapat mereka hari itu, Dira dengan sangat berhati – hati mendekati Sandro yang masih duduk diatas kursinya sembari berfokus pada ponselnya. Lelaki tampan itu terlihat membaca beberapa pesan yang masuk.


“ Maaf Pak, mengenai nilai entertain angka yang Bapak setujui berapa ya? “ Tanya Dira pelan meminta persetujuan dari atasannya itu.


“ Minta Shella keruangan saya, akan saya bahas dengannya “ Ucap Sandro mengacuhkan Dira, kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan meninggalkan Dira disana. Sandro yang biasanya justru akan langsung mengkomunikasikan masalah yang sensitif tersebut pada Dira, bukan melalui orang lain yang meskipun berada pada Departemen yang sama dengan wanita cantik itu.


“ Shel, tolong ke ruangan Pak Sandro ya. Beliau ingin mendiskusikan mengenai entertain dengan mu “ Kata Dira pada Shella. Dira menyadari betul perubahan sikap Sandro yang begitu kentara, sikap Sandro benar – benar sudah berubah pada dirinya.


“ Baik Ibu Dira “ Shella mengiyakan perkataan Dira lalu ia melenggang dari ruang rapat untuk segera menuju ruangan orang nomor satu diperusahaan itu.


“ Ada apa dengan Pak Sandro ya? “ Kini Dira bergumam dengan dirinya sendiri dan melenggang dengan gontai kembali menuju ruangannya.