CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MENCERITAKAN KEBENARAN



Axel dan Edgar menatap Dira dengan penuh kecurigaan, seraya menyilangkan kedua tangan mereka didepan dada kedua pria dewasa itu tampak menunggu jawaban Dira. Sementara perempuan cantik yang masih duduk didepan meja kue ulang tahunnya itu hanya tersenyum – senyum tipis.


“ Aku juga mendengar Pak Sandro memanggilmu sayang “ Kini suara Axel terdengar, lelaki itu memicingkan matanya menatap Dira dengan curiga.


“ Hmm? Jadi sudah berapa lama kalian jadian? “ Edgar langsung to the point karena ia tahu Dira tidak begitu berani membuka suaranya.


“ Hmm “ Dira berdehem pelan dan tampak ia sedang mengolah kata – kata yang ada dipikirannya.


“ Sejak kapan Dir? Kami tidak sedang memarahi mu Dira, justru aku dan Axel sangat senang kamu berhasil membuka hati mu dan lepas dari ketakutanmu itu “ Tukas Edgar dengan lembut, ia meyakinkan Dira bahwa kali ini mereka percaya pada pilihan Dira.


“ Benar kalian tidak memarahi ku? “ Sambung Dira saat membuka mulutnya kemudian.


Axel dan Edgar menganggukkan kepala mereka bersamaan lalu keduanya mendekatkan tubuh mereka pada Dira seolah sedang menunggu sebuah berita besar untuk diceritakan. Sesekali Dira terlihat menggigit bibir bawahnya karena merasa malu untuk bercerita, tetapi pada akhirnya hati kecilnya memutuskan untuk bercerita pada kedua sahabatnya itu.


“ Jadi sejak kapan? “ Axel menyenggol lutut Dira dengan ujung sikunya.


“ Sejak Pak Sandro keluar dari rumah sakit, hehe “ Dira dengan malu – malu membuka suaranya dan tanpa henti menyunggingkan senyuman cantiknya pada kedua sahabatnya itu.


“ Wao? Sudah selama ini? Jadi waktu Pak Sandro memarahimu diruang meeting kalian sudah berpacaran? “ Axel kini terlihat lebih antusias.


“ Hmm, maka nya sepanjang rapat wajahku sangat masam bukan? “ Dira mengiyakan perkataan Axel baru saja.


“ Guys tapi please ya jangan di share ke mana – mana, kalian sendiri tahu kan gap ku dengan Pak Sandro sebenarnya terlampau jauh dan sangat tidak terduga  bahwa beliau memiliki perasaan padaku. Jadi aku ingin hubungan ku sama Pak Sandro keep saja di kita ya? “ Pinta Dira kepada kedua sahabat nya itu.


“ Aman Dira, kita bisa kamu percaya kok “ Axel meraih dengan lembut tangan Dira.


“ Bro, ingat sekarang dia pacarnya Bos ya jangan main sentuh – sentuh seenak jidat mu ya? “ Edgar dengan senyuman nakalnya menepis tangan Axel yang sedang menggenggam tangan Dira.


“ Hahaha, aku lupa. Sudah terbisa begini sama Dira, jadi bagaimana dong? “ Canda Axel kemudian menyingkirkan tangannya itu.


“ Jadi selama ini tatapan – tatapan ngeri Pak Sandro pada kita berdua ini karena benar dia menyukai mu bukan Dir? “ Tanya Edgar kemudian.


“ Iya mungkin “ Jawab Dira singkat.


“ Tunggu, lalu Alice? Benar bukan pacar Pak Sandro? “ Kini Axel teringat dengan gosip – gosip yang selalu Dira bicarakan dengan dirinya.


“ Hehehe ternyata bukan guys aku sudah terlanjur salah paham “ Dira tersenyum dengan lebar seraya memamerkan deretan gigi putihnya kepada dua sahabatnya itu.


Sekilas Edgar menjitak kepala Dira dengan sangat pelan dan membuat perempuan itu terkekeh karena mengingat kebodohannya selama ini. Untung saja orang yang diajaknya bergosip hanya kedua pria didepannya itu sehingga tidak mengkhawatirkan.


“ Lalu diantara kalian berdua siapa yang mengungkapkan perasaan dahulu? “ Edgar tampak begitu penasaran menelisik kisah asmara Dira dengan atasan yang terkenal sangat perfeksionis itu.


Dira tampak diam dan tersenyum penuh arti, membuat kedua sahabatnya itu menjadi sangat penasaran untuk mengetahui kisah asmara sahabatnya itu. Dira menjentikkan jari nya meminta kedua orang itu agar mendekatkan telinganya pada mulut mungil Dira.


“ Hahahaha sudah kuduga “ Axel tertawa dengan sangat nyaring hingga memenuhi seisi ruangan.


***


Ketiganya semakin terhanyut dalam pembicaraan yang begitu mengasyikan sembari memutar waktu diawal kedatangan mereka ke kota itu. Mereka tidak henti – hentinya membicarakan sikap Sandro yang ternyata cukup unik, lelaki yang tergolong sangat betah menyembunyikan perasaan.


“ by the way kapan kalian menghias tempat ini? Kok waktu aku pergi tadi masih polos – polos saja tempat ini? “ Tukas Dira kemudian.


“ Jadi tadi kami sudah bertanya pada Pak Eko kamu sudah kembali ke rumah atau belum, dan ternyata kamu sedang pergi, tapi si Pak Eko nggak bilang kalau kamu pergi dengan Pak Sandro jadi kami cepat – cepat mendekor tempat ini “ Jelas Edgar pada Dira.


“ Lalu waktu aku datang? “ Tanya Dira lagi.


“ Ya Pak Eko memberi tahu kami lewat chat kalau kamu sudah datang,  eh kami malah dibuat kaget tadi waktu ada Pak Sandro diruang tamu. Ku pikir – pikir siapa, kok memanggil mu sayang “ Sambung Edgar lagi.


“ Hehehe, terima kasih banyak ya teman – teman ku sayang, tanpa kalian disini aku bagaikan ayam kehilangan induknya, hehehe “ Ucap Dira dengan sangat tulus meski diselingi dengan tawa riang nya.


“ Dir, kamu ingat nggak kamu punya nazar pada aku dan Edgar? “ Celetuk Axel kemudian.


“ Waktu itu kamu bilang amit – amit jadi pacar Pak Sandro, dan kamu bilang bakal traktir kami makan kalau sampai bener kejadian? Hmm, jadi bagaimana Ibu Oceana? “ Sambung Axel lagi sambil menaikkan alisnya beberapa kali.


“ Hahahaha, iya ya aku pernah bilang amit – amit ya? “ Dira tertawa dengan terbahak karena mengingat masa saat dia menolak keras ketika kedua sahabatnya itu menjodoh – jodohkan dirinya dengan Sandro.


“ Kan kamu kemakan omongan mu sendiri Dir? “ Suara Axel terdengar meledek Dira.


“ Nggak papa Dira kamu bilang amit - amit tapi dapatnya Pak Sandro itu namanya asset, kalau dapat Axel? Liabilitas Dir hahaha “ Kelakar Edgar kemudian.


“ Jujur Dira, aku senang sekali waktu kamu bilang sudah berpacaran sama beliau. Aku sebagai laki – laki tahu, Pak Sandro itu baik “ Sambung Edgar lagi.


“ Iya Mas, memang Pak Sandro baik banget dia nggak sekaku yang kita pikirkan. Bahkan dia sabar banget saat menghadapi aku yang tukang marah ini “ Jujur Dira pada kedua sahabatnya itu.


“ Syukurlah Dira aku juga sangat bahagia mendengar mu mendapatkan laki – laki baik, dan pada akhirnya kamu berhasil melewati patah hatimu yang berat itu “ Axel kembali menyentuh puncak kepala Dira.


Dengan cepat Edgar menepis tangan Axel dari kepala sahabat nya itu dan memandangnya dengan tatapan tajam. Axel terkekeh sesaat, ia menyadari sudah tidak boleh melakukan hal seperti itu pada Dira karena dapat memicu kesalahpahaman.


“ Iya, iya Gar aku nggak akan asal – asal lagi menyentuh Dira “ Axel tersenyum kecil seraya menguncupkan bibirnya.


“ Iya, meski aku tahu kamu tidak memiliki tendensi apapun kamu harus menjaga perasaan Pak Sandro Xel “ Terdengar Edgar menceramahi Axel.


“ Hahaha, sudah mas jangan dimarahi terus nanti dia ngambek “ Kelakar Dira.


“ Kalian janji ya, jangan menjauhi ku karena aku berpacaran dengan Pak Sandro? “ Tukas Dira kemudian diikuti dengan anggukan kepala kedua sahabatnya itu.