
Keduanya masih asyik berbincang – bincang di meja makan sambil sesekali terlihat Sandro menyentuh puncak kepala Dira dengan sangat lembut. Tampak ketulusan yang lahir dari dalam hati Sandro, Pria itu sangat mencintai gadis lugu yang kini menjadi kekasihnya.
“ Kak, yang mengenai buyer kemarin apakah Kakak setuju? “ Tiba – tiba saja Dira membuka obrolan yang berhubungan dengan pekerjaannya di kantor.
“ Sssht! Aku tidak mau membicarakan pekerjaan, kita sedang berkencan untuk apa membahas hal seperti itu? “ Sandro tampak mendesiskan suaranya, ia tidak mau mencampur adukkan urusan pekerjaannya dengan hubungannya bersama Dira.
“ Hmm, baiklah “ Dira akhirnya menyerah, dan tidak membawa – bawa pekerjaan dalam pembicaraan mereka.
“ Sayang, apakah boleh minta tolong untuk diseduhkan teh? “ Pinta Sandro sambil memasang wajah manjanya pada Dira.
“ Tentu saja, dimana Kak tehnya? “ Tanya Dira sambil beranjak dari kursi.
Sandro ikut berdiri dan membuka – buka kabinet dapurnya, jujur saja pria itu sebenarnya sangat tidak mahir berada didapur. Bahkan ia sendiri tidak akan mengenali nama – nama perkakas yang berjajar didapurnya, seumur hidupnya Sandro sudah terbiasa dilayani. Makhlum saja kedua orang tuanya memang para konglomerat golongan old money, yang mungkin hartanya tidak akan habis tujuh turunan.
Meski demikian tidak lantas membuat Sandro bermegah diri atas kekayaan keluarganya, ia masih bisa diajak hidup sederhana nyatanya ia masih mau makan makanan yang dibeli dipinggir jalan. Bahkan saat memilih pasangan justru ia tidak mencari wanita yang sepadan dengannya, ia malah menentukan pilihan nya pada gadis pekerja keras seperti Dira.
“ Ah ini dia “ Sandro kemudian mengeluarkan satu kaleng loose leaf tea dan meletakkan diatas meja.
*Sementara Dira terlihat membuka – buka laci dapur dan mengeluarkan tea pot beserta dua set cangkir keramik berwana cream. Perempuan itu tampak menaburkan beberapa jumput darjeeling tea* yang sudah dikeringkan kedalam tea pot lalu menuangkan air panas kedalam wadah yang sudah lengkap dengan penyaring tersebut.
Air seduhan teh kini berubah warna menjadi orange terang, segera Dira menuangkannya kedalam masing – masing cangkir tanpa menambahkan gula. Sesudahnya ia membawa nampan berisi teh kepada Sandro yang kini duduk didepan televisi di ruang tamu.
“ Ini Kak “ Ucap Dira sembari meletakkan nampan keatas meja.
“ Ayo ikut aku “ Sandro tiba – tiba saja menarik nampan dari atas meja dan berjalan menuju kamarnya. Langkah Dira langsung terhenti saat melihat pria tampan itu menarik dengan pelan handle pintu ruang pribadinya itu.
“ Kenapa masuk kamar Kak? “ Suara Dira terdengar melontarkan nada kecurigaan.
“ Tidak seperti yang kamu pikirkan sayang, ayo kita mengobrol saja di balkon kebetulan cuacanya bagus “ Jawab Sandro dengan melahirkan senyuman manisnya disudut bibir.
Perlahan Dira mengikuti langkah Sandro dengan sangat hati – hati, kamar laki – laki itu selalu saja rapi seperti biasanya. Sesaat Sandro menggeser pintu kaca yang tertutup vitrase tipis kemudian ia meletakkan teh yang ada didalam nampan keatas meja kayu bulat disana.
“ Wah, enak ya kamar Kak Sandro. Pintunya lebar, kalau mau ke balkon gampang. Ada meja kursinya lagi, bakalan betah “ Tukas Dira terkagum.
Dikamar Dira memang terdapat balkon hanya saja tidak seluas seperi milik Sandro, juga penghubungnya bukanlah pintu geser melainkan jendela kaca berukuran kecil. Sandro tersenyum sekilas menatap wajah cantik kekasihnya yang terkena pantulan cahaya kuning lampu.
“ Kamu boleh sering main ke tempat ini kok Sayang “ Sandro meraih jemari tangan Dira dan meremasnya lembut.
“ Hehehe, terima kasih Kak “ Dira mengulum senyum sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan halus milik Sandro.
Wanita cantik yang duduk disamping Ersandro terlihat mengedarkan pandangannyamenatap luasnya lazuardi malam itu. Bintang – bintang tampak memeriahkan malam gelap diatas sana sembari saling beradu memamerkan cahaya terangnya.
“ Dira “ Panggil Sandro dengan pelan sambil meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
“ Hmm, ada apa kak? “ Ucap Dira, perempuan cantik itu kemudian memalingkan wajahnya memandang wajah Sandro yang tampan.
“ Apakah kamu mau berjanji satu hal padaku? “ Tanya Sandro dengan nada suara yang terdengar sangat serius.
“ Apa itu Kak? “ Sambung Dira kemudian.
“ Jangan pernah menyerah dan jangan pernah lelah menghadapi ku “ Pinta Sandro sambil menyentuh pipi Dira dengan sangat lembut.
Dira memandang dalam wajah pria disampingnya, sekilas wanita itu tersenyum. Tiba – tiba rasa syukur menggeliat dari dalam lubuk hatinya, ia berterima kasih pada sang pencipta karena dipertemukan dengan seorang pria yang sangat luar biasa menurutnya. Meski pria itu tidak secara terang – terangan menunjukkan kecintaannya pada Dira, namun nyatanya Dira kini bisa merasakan luapan kasih sayang dari Sandro yang begitu melimpah.
“ Aku harap Kak Sandro juga tidak akan pernah lelah dan menyerah menghadapi ku “ Jawab Dira dengan lembut seraya terus memamerkan senyuman cantiknya.
“ Dira, sayang, maafkan aku. Kali ini aku benar – benar tidak bisa menahannya “ Ucap Sandro tiba – tiba tanpa memalingkan wajahnya dari Dira.
“ Kenapa Kak? “ Tanya Dira dengan bingung.
Dengan lembut Sandro kemudian menarik wajah Dira tepat ke depan wajahnya, pria itu kemudian menempelkan bibirnya yang lembab itu tepat pada bibir Dira. Dibatasi dengan meja yang berdiri diantara keduanya lelaki itu mencium bibir wanitanya dengan sangat lembut dan ********** perlahan bibir atas dan bibir bawah Dira secara bergantian.
Kini tanpa melepaskan ciumannya, Sandro beranjak dari atas kursinya dan membawa tubuhnya berdiri tepat dihadapan Dira. Sambil membungkukkan badannya ia masih saja menghujani Dira dengan ciuman lembut dan dalam. Sementara Dira hanya terpaku dengan ketidaksiapannya, bahkan ia tidak bisa memberikan ciuman balasan pada Sandro meski laki – laki itu menyerangnya secara bertubi – tubi.
Sandro memandang wajah Dira yang termangu dengan tatapan kosong sesaat setelah ia menarik bibirnya dari bibir wanita cantik dihadapannya. Dira terlihat begitu kaget dan shock, wajahnya terlihat sangat pias dan sesekali ia berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tersengal – sengal.
“ Sayang? Kamu kenapa? “ Sandro mengangkat wajah Dira yang masih terbengong diatas tempat duduknya.
“ Ha? Tidak kenapa – kenapa Pak “ Jawab Dira dengan gugup.
“ Pak? “ Sandro mengulangi sapaan Dira terhadap dirinya, namun perempuan itu tidak bergeming.
“ Dira sayang, kamu kenapa? “ Sandro mengulangi pertanyaannya sambil berjongkok tepat didepan Dira.Sebenarnya pria itu menyadari kekakuan Dira saat bibir mereka saling beradu, jelas terasa ini adalah kali pertama Dira melakukan ciuman bibir.
“ Hehe, aku kaget “ Jawab Dira dengan sangat polos.
“ Hmm, apakah kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya sayang? “ Sandro berdehem pelan kemudian bertanya dengan sangat hati – hati dan Dira menggeleng dengan pelan.
Sandro bisa merasakan betapa kikuknya Dira dengan ciuman yang baru saja mereka lakukan, lelaki itu menyadari Dira juga tidak memberikan ciuman balasan padanya tadi. Sekilas Sandro tersenyum dengan sangat senang melihat kepolosan Dira.