CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MENYERAH SAJA



Dira masih sibuk dengan tangisannya yang tidak kunjung reda, kesedihan masih saja menggelayuti dirinya. Ia masih tidak kuasa melupakan perkataan Meira tadi siang dibelakangnya, Dira benar – benar semakin takut menghadapi hubungannya bersama Sandro. Ia yakin, bahwa badai akan semakin keras menerpa mereka.


Tok.. tok.. tokk


Seseorang tampak mengetuk pintu flat Dira dengan ringan, perempuan itu segera menghapus bekas - bekas air mata yang sejak tadi terus berurai. Dira juga menyempatkan diri membasuh wajahnya dikamar mandi sesaat sebelum ia membuka pintu flat nya.


Sandro tampak berdiri diambang pintu, lelaki itu sudah berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. Pria tampan itu menarik nafasnya dengan berat saat mendapati Dira masih mengenakan pakaian kerjanya dengan wajah sembab yang terlihat kentara ia baru saja menangis.


“ Kamu kenapa? “ Dengan lembut Sandro menyentuh wajah kekasihnya yang  kini semakin banjir dengan air mata setelah mendengar pertanyaan darinya.


“ Apakah aku boleh masuk? “ Tanya Sandro dengan sopan.


Dira menganggukkan kepalanya pelan dan mengizinkan pria itu segera masuk kedalam tempat tinggalnya, Sandro kemudian menarik bangku kayu disamping jendela. Dira mengikuti langkah kaki kekasihnya itu kemudian duduk tepat dihadapan CEO tampan putra pemilik perusahaan itu.


“ Ada apa dengan mu sayang? Hmmm? “ Ujar Sandro lagi sembari meraih tangan Dira yang berada diatas meja.


“ Apa mereka masih saja membicarakanmu? “ Sandro kembali menghujani Dira dengan pertanyaan.


“ Hmm, bahkan mereka membicarakan itu dibelakangku, didalam ruang kerja kami “ Dira kembali menghapus air mata yang tidak mau berhenti turun dari kedua mata indahnya.


“ Apa lagi yang mereka katakan? “ Pria tampan itu masih menggenggam tangan Dira sambil terus menatap lekat wajah Dira, wanita yang teramat sangat ia cintai.


“ Banyak “ Dira semakin tidak kuasa menahan tangisnya.



(Source : Internet)


Sandro kemudian mendorong pelan kursi yang ia tempati kemudian beranjak dari sana dan mengambil bangku tepat disamping Dira. Pria itu kemudian menarik tubuh mungil kekasihnya itu kedalam pelukan hangat dada bidangnya.


“ Sudah jangan menangis lagi, everything gonna be okay sayang “ Tukas Sandro seraya mengusap bagian belakang kepala Dira yang menyusup kedalam dekapannya.


“ Mereka mengatakan bahwa aku bisa menjadi manajer karena berpacaran dengan mu “ Ucap Dira dengan terbata dari balik dekapan erat Sandro.


“ Bagaimana bisa begitu? Kamu menjadi manajer jauh – jauh hari sebelum kita berpacaran “ Sandro menatap wajah kekasihnya itu dengan bingung.


Dira kemudian menarik tubuhnya dari dekapan Sandro dan duduk dengan tegap pada bangku yang ia tempati. Sandro masih memandang wajah sembab Dira, perempuan itu terlihat sangat bersusah hati dengan gosip – gosip yang beredar tentang dirinya.


“ Sudahlah tidak perlu dipikirkan sayang, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita “ Sandro membelai dengan lembut rambut kekasihnya itu.


Tetapi Dira justru menghalau tangan Sandro yang masih berada diatas kepalanya, ia seolah tidak mau lagi disentuh oleh lelaki itu. Bahkan sedikit pun Dira tidak memandang wajah tampan Sandro, tatapannya kosong lurus kedepan.


“ Aku sepertinya tidak akan sanggup jika terus begini “ Tukas Dira dengan tatapan kosong.


“ Tidak sanggup apa sayang? “ Sandro memasang wajah bingung dan ia semakin mendekatkan wajahnya memandang kearah kekasihnya.


Sesaat Dira terlihat menarik nafasnya panjang kemudian ia menghembuskannya perlahan, sekelabat ia langsung membuang wajahnya memandang kearah pria yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti darinya. Sehingga keduanya bisa saling merasakan setiap tarikan nafas berat dan hembusan udara hangat yang menyapu wajah keduanya.


“ Berhenti bekerja? Tidak masalah jika memang itu sudah menjadi keputusannya, justru kita bisa segera menikah jika kamu berhenti bekerja “ Sandro memandang Dira diiringi senyuman hangat yang tersungging dari bibir tipisnya.


“ Bukan “ Dira semakin berkaca – kaca, nafasnya semakin terasa berat baginya.


“ Lalu? “ Kini Sandro terlihat semakin bingung dengan arah pembicaraan Dira.


“ Berhenti memiliki mu? “ Ucap Dira terbata, bulir – bulir air mata tampak bergulir membasahi pipi Dira yang masih tampak merona itu.


Sandro tersenyum kecut memandang perempuan yang duduk disampingnya itu, ia kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar diiringi tawa yang menyeriangai. Sandro benar – benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran kekasih yang teramat ia cintai itu.


“ Hah, putus denganku maksudmu? Secepat ini kamu menyerah? Kamu lupa dengan janji mu malam itu di balkon kamar ku? Lalu kalau putus dengan ku kamu pikir bisa dengan tetap bekerja disini dengan baik? “ Dengus Sandro dengan kesal seraya menatap tajam kearah Dira.


“ Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran mu Dira, mereka yang menggunjingkan hubungan kita, mereka yang menyebarkan gosip – gosip tidak benar itu, tapi aku yang menjadi pelampiasan kekesalan mu itu? “ Sandro terlihat begitu emosi, namun ia masih bisa menahannya agar tidak semakin meluap.


“ Karena semua bermula dari hubungan kita ini, dari gosip – gosip itu aku menjadi semakin sadar dengan posisiku. Aku bukan siapa – siapa Kak? Apa pantas aku mendampingi mu? “ Dira semakin hanyut dengan kesedihannya.


“  Lagi? Kamu membahas ini lagi? Harus berapa kali aku mengatakan ini padamu? Orang lain tidak berhak membuat penilaian tentang  pantas atau tidaknya kamu mendampingi ku! Karena aku dan kamu yang menjalaninya, bukan mereka! “ Sandro kini tidak dapat membendung amarahnya, tatapan dinginnya semakin membekukan wajah Dira.



(Source : Internet)


Sebelumnya Sandro tidak pernah terlihat semarah ini pada Dira, biasanya ia masih bersikap lembut saat menanggapi ucapan – ucapan Dira yang selalu saja merasa rendah diri dan tidak pantas untuk menjadi pendamping Sandro.


“ Memangnya kamu pikir jika kita berpisah akan membuat mereka menutup mulutnya? Tidak akan pernah! Justru mereka akan semakin membicarakan mu! Mengapa kamu selalu dengan mudah memutuskan hal – hal yang menurutku sangat berarti seperti ini? “ Kesal Sandro lagi sambil mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang semakin membuncah.


“ Lalu aku harus bagaimana? “ Dira kembali terisak.


“ Biarkan saja mereka, terserah mereka mau mengatakan apapun aku tidak peduli! Mereka hanya melihat bagian terluar hubungan kita saja, lagi pula kamu menjadi manajer atas bantuanku atau tidak juga bukan urusan mereka! “ Kekesalan kembali meluap – luap dari dalam dada Sandro.


“ Ini perusahaan milik orang tua ku dan sudah ku kelola, jadi terserah saja aku mau berbuat apa? Kenapa mereka yang ikut campur! “ Ucap Sandro lagi dengan mata berapi – api.


“ Aku tidak sanggup saat mereka bergunjing tentang kita, aku tidak tahan dengan tatapan mereka  yang begitu sinis terhadapku “ Jawab Dira masih dengan tangisnya yang belum mereda.


“ Aku sudah bilang, abaikan mereka! Bukan mereka  yang memberi mu makan, jadi buat apa mengurusi omongan – omongan orang lain yang sangat tidak penting itu! “ Sergah Sandro semakin kesal.


“ Tapi aku takut “ Sambung Dira lagi.


“ Apa yang sebenarnya kamu takutkan? Orang tua ku? Mereka sangat menerimamu! Lalu apa? Merasa tidak pantas bersanding denganku? “ Sandro terlihat begitu frustasi menghadapi Dira yang masih saja terpaku dengan gap yang terbentang diantara mereka berdua.


“ Terserah saja dengan pemikiranmu itu, yang jelas aku tidak mau putus. Aku hanya ingin menikah dengan mu! “ Sandro menghela nafasnya dengan kasar lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan flat Dira tanpa  berpamitan.


Bukan karena ia tidak peduli dengan perasaan Dira saat itu, Sandro hanya tidak ingin semakin memperumit keadaan. Sandro justru menjadi tidak rela jika Dira mengajaknya berpisah hanya karena berita hubungan mereka yang sudah tersebar dan berimbas pada pemikiran orang lain terhadap Dira.