CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
PAGAR BETIS



    Dira sedang berusaha menikmati makan siangnya sendirian disebuah kedai makan yang tidak begitu jauh dari kantornya. Ia duduk menghadap ke arah tembok sehingga orang – orang yang berlalu lalang disana tidak akan menyadari bahwa seseorang yang duduk pada sudut ruangan adalah Dira.


    Tidak jauh dari tempat duduk Dira, terlihat gerombolan karyawan perempuan dari Segah Basadewa Group dari beberapa departemen lain yang juga tengah bersantap siang disana. Tampak mereka duduk berkerumun sembari memutar sebuah video yang sewaktu itu direkam oleh Meira, video Dira dan Sandro yang tengah berpacaran.


    “ Iya kan, ini kan manajer finance & accounting kan? Yang cantik itu kan? “ Seorang wanita terdengar menyuarakan pendapatnya sambil menunjuk wajah Dira yang berada di dalam video.


    “ Iya betul, kalau Bapak Ersandro sampai membawakan makanan, mengusap kepalanya begini berarti benar saja mereka berpacaran kan? “ Seseorang kemudian menimpali ucapan wanita yang sebelumnya sudah berbicara tersebut.


    “ Padahal aku kira pada awalnya justru Ibu Alice loh yang pacaran sama Pak Sandro “ Tukas yang lain lagi menanggapi obrolan mereka di tengah makan siang itu.


    “ Sama, ku pikir juga begitu, rupanya justru Ibu Manajer itu “ Jawab perempuan yang pertama kali membuka perbincangan mereka.


    Dari tempat duduknya sesungguhnya Dira sudah merasa sangat jengah karena terus – terusan dijadikan sebagai bahan pergunjingan rekan – rekan di kantornya.  Namun ia tidak memiliki keberanian menghadapi mereka, salah satu kelemahan Dira adalah tidak bisa berseteru dengan orang – orang yang berada didekatnya. Ia akan lebih cenderung menerima keadaan meski merasakan sakit hati sendirian.


    “ Apa karena dia pacar Pak Sandro itu ya maka nya dia bisa jadi Manajer, masih muda banget kan itu Ibu Oceana itu? “ Bisik seseorang lagi.


    “ Hahaha, kok bisa sepemikiran kita? Nggak mungkin kan masih muda begitu tiba – tiba jadi manajer kalau nggak ada koneksi? “ Tukas teman mereka yang lain. Hati Dira semakin pedih mendengar ucapan – ucapan menyakitkan yang kian menyudutkannya itu.


    “ Mereka juga tinggal di tempat yang sama bukan? “ Kini obrolan mereka semakin menjadi – jadi, gosip tidak benar semakin menyebar dan membuat Dira hanya bisa menangis dari bangku nya tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang ada dihadapannya.


    BRAK!


    Terdengar seseorang memukul meja makan dengan sangat keras dari kursi yang berada tepat disamping kerumunan para penggosip, membuat kerumunan yang berada ditempat itu terdiam seketika. Gerombolan pegawai itu langsung mengalihkan pandangan mereka pada seorang laki – laki yang sekarang beranjak dari kursinya berjalan mendekati kerumunan karyawan yang sedang saling bergunjing siang itu.


    “ Apa yang kalian tahu tentang Ibu Ocena? Kalian hanya tahu luarnya saja! Apa yang kalian tahu soal Pak Sandro? Kalian tidak pernah tahu sedikitpun tentang mereka dan sekarang kalian bergosip? “ Axel tampak begitu geram, ia terlihat sudah mengepalkan tangannya bersiap meninju siapapun yang berani membuka mulutnya lagi.


    “ Apa kalian juga lupa siapa yang memberi makan kalian? Hah?! Apa pantas karyawan menggunjingkan atasannya seperti ini? Kalau memang mereka berpacaran apa urusan kalian? Apa kalian dirugikan? Tidak bukan? “ Axel semakin emosi ketika memandang wajah mereka satu persatu.


    “ Kalian hanya iri karena tidak memperoleh perhatian Pak Sandro bukan? Asal kalian tahu, Ibu Oceana sudah dipersiapkan sejak lama menjadi manajer jauh – jauh hari bahkan sebelum mengenal Pak Sandro! Kalau kalian tidak tahu apa – apa sebaiknya diam! “ Pria berbadan gempal itu akhirnya meluapkan segala amarahnya yang sudah sejak tadi ia tahan – tahan.


    “ Sudah Xel, sudah, biarkan saja mereka “ Edgar menarik tangan Axel agar kembali duduk pada bangkunya.


    “ Memang biasanya orang yang tidak tahu apa – apa akan banyak bicara. Dan ini lah yang membuat mereka tidak bisa seperti Dira, mereka terlalu banyak mulut sehingga tidak pantas menjadi manajer diusia muda “ Sama kesalnya dengan Axel, Edgar juga meluapkan amarahnya. Meski bahasanya cukup halus namun nyatanya lebih terdengar menyakitkan ketimbang suara Axel yang lantang.


    Gerombolan para penggosip itu terlihat menundukkan kepalanya dengan lesu karena malu mendengar perkataan dari Edgar baru saja. Beberapa orang yang berada disana ada yang berasal dari Departement Plantation juga Procurement yang tidak lain adalah anggota staf Edgar dan Axel. Sehingga mereka malu bukan kepalang saat mendapat teguran keras atasan mereka.


    “ Hahaha jika kalian minta maaf padaku itu tidak ada gunanya “ Axel menyeringai dan menatap tajam perempuan yang kini berdiri mendekatinya itu.


    “ Maaf Pak, kami berjanji tidak akan membicarakan Ibu Oceana lagi “ Tukas yang lainnya lagi.


    “ Pergilah saja kalian dari sini, dari pada membuat saya semakin jengah melihat tingkah kalian yang begitu rendah ini “ Axel menendang agak keras kursi yang ada didepannya membuat beberapa karyawan itu terkaget kemudian terburu – buru meninggalkan kedai makan itu.


    “ Hiks, hiks, hiks, hiks “ Kini terdengar suara seseorang sesenggukan disudut ruangan setelah kerumunan penggunjing itu meninggalkan kedai makan. Tangis perempuan yang tidak lain adalah Dira, semakin keras terdengar membuat Edgar dan Axel mendekati perempuan itu.


    “ Dira? “ Panggil Edgar dengan kaget.


    “ Kenapa kamu diam saja disana?! “ Sergah Axel dengan nada tinggi.


    “ Hiks, aku takut “ Dira masih sesenggukan dengan tangisnya.


    “ Sudah tidak perlu didengarkan, mereka hanya orang – orang yang iri terhadapmu Dira. Mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah mengenal dengan baik dirimu, perkataan mereka tidak penting  “ Edgar mengusap kepala Dira dengan begitu lembut.


    “ Sudah jangan menangis lagi, biarkan saja mereka “ Ucap Edgar lagi.


    Kedua pria itu kini duduk pada kursi yang berada tepat dihadapan Dira, mereka dengan setia menunggu Dira menyelesaikan tangisnya. Sesekali Edgar menatap tajam kearah perempuan yang masih mengusap – usap wajahnya dengan tisu.


    “ Apa yang sebaiknya aku lakukan? “ Ucap Dira kemudian setelah beres dengan tangisannya.


    “ Dira, yang harus kamu lakukan adalah tutup mata dan telinga mu. Pendapat orang yang tidak mengenal baik dirimu adalah hal yang boleh kamu abaikan “ Tukas Edgar kemudian.


    “ Iya! Biarkan mereka Dira, jika seseorang sudah tidak menyukai kita mau sekeras apapun kita berusaha mereka akan tetap mencari keburukan kita. Jadi benar kata Edgar, abaikan! “ Ucap Axel sama bijaknya dengan Edgar.


    “ Lagi pula ini adalah kehidupanmu, kamu yang berhak memberikan penilaian atas dirimu sendiri, meski memang pendapat orang lain perlu kamu dengar. Tapi tidak semua pendapat harus kamu masukkan kedalam hati mu, jika itu pendapat yang tidak berdasar cukup masukkan telinga kanan mu lalu keluarkan ditelinga kirimu “ Lanjut Edgar lagi.


    “ Kami yang sudah mengenal dekat dirimu justru sangat mendukung hubungan mu dengan Pak Sandro, karena kami tahu pasangan itu ibarat seperti orang yang sedang bercermin. Orang hebat seperti dirimu sudah sepantasnya bersama pria hebat seperti Pak Sandro “  Tambah Axel lagi.


    “ Terima kasih guys karena kalian selalu berada disampingku bahkan disaat aku seperti ini “ Tukas Dira dengan menitikkan air mata haru karena kebaikan kedua sahabatnya itu.


    Kekuatan dalam diri perempuan itu seolah kembali lagi, ia merasa lebih baik untuk menghadapi orang – orang yang berada disekelilingnya. Keberanian kini berkuasa atas dirinya, ia siap menghadapi sesuatu yang lebih besar lagi yang mungkin akan datang menghampirinya suatu saat nanti.