
Setibanya didalam flat nya Dira bergegas menyusun barang belanjaannya kedalam lemari kabinet dapur juga memasukkan telur kedalam kulkas disana. Gadis itu menjatuhkan dirinya diatas kursi diruang makannya, rasa kenyang yang memenuhi perutnya membuatnya malas bergerak.
Dira kemudian meraih hpnya dari dalam tas kerjanya itu, dilihatnya beberapa panggilan tidak terjawab dari Radit, pacarnya. Sedikit kalang kabut Dira kembali menghubungi pria itu, pria yang selalu ada baginya setiap waktu.
“ Halo Mas Radit, maaf Mas tadi waktu mas nelpon aku baru masak mi jadi nggak kedengaran kalau ada telepon masuk “ Ucap Dira saat Radit sudah mengangkat panggilan dari dirinya.
“ Iya sayang, nggak apa –apa. Aku penasaran aja kamu lagi dimana kok sejak pamit dari kantor tadi langsung nggak ada kabar. Aku takut kamu kenapa – kenapa “ Suara Radit terdengar begitu khawatir.
“ Hehehe maaf ya Mas sudah bikin Mas khawatir. Kedai baru sepi kah mas? “ Sambung Dira lagi.
“ Lumayan rame sayang, ini aku dirumah kok jadi biar nggak berisik. Sudah mandi sayang? “ Tanya Radit lagi.
“ Belum Mas, ini baru mau mandi “ Ucap Dira sambil tersenyum.
“ Ya sudah sana mandi dulu, sudah malam. Terus bobo ya? Besok kan masih masuk kerja “ Kata Radit masih dengan nada halusnya yang membuat Dira semakin melayang – layang dibuat olehnya.
“ Iya Mas, Mas Radit semangat ya “ Tukas Dira singkat.
“ Oke Dira, good night ya “ Bisik Radit melalui sambungan teleponnya.
“ Oke Mas. “ Sambung Dira dengan wajah tersipu – sipu, lalu menutup panggilannya.
Hati Dira semakin hari semakin berbunga – bunga, bagaimana tidak sikap Radit selalu saja manis dan membuatnya terpesona. Radit adalah tipe pria romantis menurut Dira, karena dia selalu meluangkan waktu nya untuk memberikan perhatian – perhatian kecil bagi dirinya.
***
Setelah akhrinya berhasil melawan kemalasannya, Dira segera meraih handuk mandinya dan langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi. Segera ia mengguyur tubuh lelahnya dengan air hangat, yang terpancar dari shower di kamar mandi.
Seusai rampung dengan ritual mandinya, gadis itu segera membaringkan tubuh nya yang kini jauh lebih segar keatas ranjang. Dira merasa hidupnya menjadi sangat sempurna karena kehadiran Radit yang membuat dirinya semakin semangat dan nyaman menghadapi hari – harinya yang terkadang dipenuhi drama pekerjaan.
Bahkan hanya dengan melihat senyuman Radit merekah diwajah tampannya itu sudah cukup meluruhkan segala kelelahan yang Dira rasakan. Ia juga memiliki teman – teman yang selalu berada disampingnya setiap waktu, Axel dan Edgar kedua pria yang selalu menjadi pelindungnya.
Sesaat Dira masih mengistirahatkan tubuh lelahnya diatas ranjang, ia teringat dengan paper bag pink yang tadi diberikan Sandro kepadanya. Gadis itu segera berlari ke dapur untuk mengambil barang yang tadi ia terima dari Sandro yang baru saja kembali dari Singapura.
Dira segera membongkar buah tangan yang tadi diberikan Sandro kepadanya, hingga pada akhirnya Dira tergagap saat membuka isinya. Dua kotak cokelat khas Singapura, dua kotak teh yang sangat ekslusif dengan merek terkenal. Namun yang membuat Dira semakin tercengang adalah saat Dira menemukan satu buah dompet yang masih tersegel didalam kotaknya, dompet keluaran sebuah brand ternama yang harganya begitu mahal sehingga tidak akan pernah terjangkau oleh dirinya.
“ Apa Pak Sandro salah memasukkan barang ya? “ Gumam Dira pada dirinya sendiri sambil meraih kotak berwarna hitam doff dengan tulisan putih diatasnya dari dalam paper bag.
“ Jika ini oleh – oleh bukankah sangat berlebihan? “ Sambung wanita itu lagi.
Merasa tidak layak menerima pemberian yang begitu mahal Dira segera memasukkan kembali barang – barang pemberian Sandro itu kedalam tempatnya semula. Ia segera mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kaos biasa dan segera menuju ke flat Sandro kembali.
Dira mengetuk flat kamar Sandro sejenak, tidak lama kemudian si pemilik kamar terdengar berjalan ke arah pintu dan membuka nya dengan pelan. Sandro terlihat sudah mengenakan setelan baju tidurnya, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“ Ada apa Dir? Masuk saja. “ Perintah Sandro sambil melebarkan daun pintu yang ia pegang handle nya itu.
Dengan sedikit sungkan karena mengganggu pada jam istirahat begini, Dira masuk kedalam tempat tinggal pribadi Sandro itu. Kemudian ia menyodorkan kembali kearah Sandro paper bag pink yang tadi sore ia terima dari pria berhidung mancung itu.
“ Seperti nya Bapak salah memasukkan barang ke tas ini Pak. “ Ucap Dira yang masih saja mengulurkan tas kertas itu dan Sandro akhirnya menerimanya.
Lelaki itu tampak bingung saat Dira mengatakan dirinya salah memasukkan barang, Sandro kemudian mengecek isi tas kertas berwarna merah muda yang tadi ia berikan pada Dira. Ia melihat tidak ada yang salah dari isi didalam tas itu, barang – barang yang ada disana memang seluruhnya ia sendiri yang memasukkan.
“ Tidak ada yang salah Dir, apa nya yang salah? “ Sandro kembali mengulurkan tas merah muda itu kepada Dira.
“ Ada kotak berisi dompet Pak, apakah memang Bapak memasukkannya? “ Dira bertanya lagi dengan sedikit sanksi. Barang tersebut terlampau mahal untuk dijadikan sebagai buah tangan.
“ Iya, memang itu buatmu Dir. Kenapa? “ Wajah Sandro justru berubah menjadi sangat bingung dengan respon Dira karena pemberiannya itu.
“ Aduh Pak, jangan. Kalau cokelat sama teh nya saya bisa menerima Pak, tapi kalau dompetnya saya tidak bisa “ Dira menolak apa yang Sandro berikan padanya.
“ Loh? Kenapa Dir? Saya kan memang beli buat kamu, itu dompet perempuan Dir “ Tukas Sandro lagi.
“ Saya tidak mau Pak, itu terlalu mahal untuk dijadikan oleh – oleh. Apalagi saya ini cuman karyawan Bapak, jadi jangan Pak. Saya ambil cokelat dan tehnya pak “ Dira masih kekeh dengan keputusannya.
Gadis itu kemudian mengeluarkan kotak dompet bermerek Chanel tersebut dari tas kertas yang ia pegang dan meletakkannya diatas meja kaca diruang tamu Sandro. Sementara wajah Sandro terlihat begitu kecewa karena
Dira mengembalikan sesuatu yang memang sengaja ia pilih dan ia beli khusus untuk perempuan berparas cantik didepannya.
“ Pak, mohon maaf jika saya kurang sopan. Hanya saja ini benar – benar terlalu mahal untuk diberikan pada saya Pak. Nanti saya jadi kepikiran bagaimana caranya membalas kebaikan Bapak “ Jujur Dira lagi, gadis itu tahu sorot mata kecewa yang terpancar dari kedua bola mata Sandro.
“ Saya kan tidak pernah meminta kamu membalas sesuatu yang ku berikan padamu Dir? “ Suara Sandro terdengar kecewa juga marah dan kesal bercampur menjadi satu.
“ Saya tahu Pak, Bapak tidak pernah mengharap balasan apapun dari orang lain. Hanya kadang hati nurani saya yang merasa perlu membalas kebaikan orang lain “ Jujur Dira lagi sambil tertunduk lesu, sementara Sandro hanya diam tidak memberikan jawaban apapun.
Padahal sore tadi ia dan Sandro bisa berbicara dengan santai, bahkan laki – laki itu juga sudah tidak menggunakan bahasanya yang formal. Dira merasa sudah akrab dengan Sandro, tetapi dirinya kembali canggung karena hal seperti ini.
“ Kalau begitu saya permisi Pak, terima kasih untuk pemberian Bapak ini “ Dira kemudian meninggalkan flat Sandro sambil menenteng paper bag berwarna pink ditangannya.
Sandro hanya menatap nanar kotak dompet yang ditinggalkan dan dibiarkan oleh Dira tergeletak diatas meja, hatinya sedikit kesal tetapi ia sungguh geli melihat sikap Dira yang terlampau polos dan juga benar – benar berbeda dengan gadis – gadis lain yang pernah ia kenal.