CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
SANDRO DAN CEMBURU



Sudah lewat tengah malam masih terdengar gelak tawa dirumah tinggal yang bersumber dari dalam ruang tamu yang masih ditempati oleh Dira bersama dua orang sahabatnya itu. Mereka masih saja asyik berceloteh membahas banyak hal, sesekali juga diselingi obrolan – obrolan serius seputar kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka.


Tiba – tiba saja dari lantai dua terdengar suara pintu digital yang terbuka, dan derap langkah seseorang yang menuruni tangga semakin terdengar mendekat ke arah ruang tamu. Sudah dengan setelan baju dan celana panjang yang dirangkapi dengan cardigan setinggi lutut, Sandro berdiri tepat diujung tangga sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada menatap tajam ketiga muda - mudi yang masih bercengkerama.



(Source : Internet)


“ Kalian tidak pulang? Bukan kah besok kalian masih masuk kerja? “ Suara Sandro terdengar sangat kaku dan tampak kesal.


“ Dira juga, kamu tidak membaca aturan jam kunjungan di sini? “ Lelaki itu kini menatap tajam kearah kekasihnya.


“ Hmm, iya Pak maaf ini kami bereskan ini dahulu kemudian pulang “ Edgar terlihat segera bangkit dari kursinya.


Ketiganya begitu kikuk dan akhrinya kini mereka segera memunguti sampah bekas makanan yang terkumpul diatas meja, juga mulai melepas beberapa balon berbentuk huruf yang menempel pada dinding. Dira juga tampak masuk kedapur untuk mengambil lap basah lalu mulai menyeka meja dengan kain ditangannya.


Sandro hanya memandori mereka bertiga sambil beberapa kali menarik nafasnya dengan kasar, wajahnya masih saja terlihat begitu kaku. Axel dan Edgar yang merasa tidak enak pada Sandro hanya bisa saling melemparkan pandangan mereka tanpa bersuara.


“ Kalau begitu kami pamit dahulu Pak, mohon maaf mengganggu waktu istirahat Bapak “ Suara Edgar terdengar begitu sungkan.


“ Iya Pak kami memohon maaf sudah mengganggu waktu istirahat Bapak. Selamat beristirahat Pak “ Axel menimpali.


“ Hmm, lain kali kalau berkunjung jangan sampai terlalu larut malam “ Suara ketus Sandro semakin terdengar menusuk telinga Axel dan Edgar.


“ Hati – hati ya guys, sekali lagi terima kasih ya? “ Dira masih saja melebarkan senyumannya pada kedua orang sahabatnya yang sudah kalang kabut dengan sikap kaku Sandro.


“ Sana naik Dir, nggak perlu antar kami “ Kata Edgar seraya memakai alas kakinya, dan wanita itu mengangguk pelan sambil melambaikan tangannya.


Kedua pria itu segera berjalan keluar dari rumah dan menjauhi bangunan megah disana, sementara Dira kini tertunduk lesu dan siap menerima kemarahan Sandro pada dirinya. Gadis itu kemudian meraih buket bunganya dan juga tas selempang yang ia letakkan diatas meja.


“ Permisi Kak “ Ucap Dira dengan pelan pada Sandro yang menghadang dirinya didepan tangga.


“ Kamu ini, baca lagi peraturan tempat tinggal. Jam berapa batas waktu kunjungan tamu? “ Suara Sandro terdengar memarahi kekasihnya.


“ Iya Kak, maafkan aku. Tadi terlalu asyik mengobrol jadi tidak menyadari jika waktu berlalu dengan cepat “ Tukas Dira melakukan pembelaan.


“ Ck! “ Sandro berdecak dengan kesal kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menapaki tangga.


Dira mengikuti langkah kaki pria didepannya itu sambil terus menundukkan kepalanya, dengan segudang rasa bersalah ia tidak berani memandang wajah pria yang masih berjalan selangkah didepannya.


Sandro sudah menghentikan langkahnya didepan pintu flatnya, lelaki itu kini memandang wajah cantik wanita yang masih berjalan menapaki anak tangga dengan begitu lesu sambil menundukkan kepalanya.


“ Hmm “ Sandro berdehem keras, membuat Dira mengangkat wajah nya dan menatap pria tampan yang sudah berdiri dihadapannya itu.


“ Ini sudah pagi “ Jawab Sandro dengan nada juteknya, membuat Dira semakin tertunduk lesu.


“ Apa yang kalian bicarakan dibawah sana hingga selarut ini? “ Tukas Sandro lagi.


“ Hmm, hanya obrolan biasa saja Kak dan mereka sudah tahu kita berpacaran “ Sambung Dira kemudian.


“ Baguslah, jadi awas saja kalau mereka sudah tahu kamu milikku tapi masih saja menyentuh mu sesuka hati mereka. Akan aku mutasi mereka ke Papua Nugini atau ku kirim mereka ke India! “ Ucap Sandro dengan nada kesalnya.


“ Hahaha, Kakak ini namanya menyalahgunakan kekuasaan “ Dira malah terkekeh dengan riang saat mendengar ucapan Sandro baru saja.


“ Ck! Gara – gara kalian tertawa begitu nyaring membuatku terbangun dari tidur, kamu harus bertanggung jawab sekarang “ Tukas Sandro lagi, masih dengan nada kesalnya


Padahal sedari tadi kembali kedalam flatnya, Sandro justru tidak memejamkan matanya sedikitpun. Ia dengan sikap gusar nya hanya berjalan kesana kemari mengitari hampir seluruh ruangannya karena merasa terganggu dengan kehadiran Axel dan Edgar. Meskipun ia sudah memenangkan hati Dira, ia tetap saja merasa cemburu dengan sikap manis kedua sahabat Dira itu.


“ Ha? Aku? Bagaimana? Kenapa aku Kak? “ Dira memasang wajah bingungnya.


“ Buatkan aku cokelat panas “ Pinta Sandro kemudian.


Dira tersenyum kecil sesaat setelah ia mendengar permintaan Sandro, ia sempat takut jika Sandro meminta hal yang aneh – aneh darinya. Pria berbadan tinggi itu segera membuka pintu flatnya dan meminta Dira masuk, perempuan cantik itu mengekor dibelakangnya.


Setibanya didalam flat lelaki itu segera menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sembari menyalakan televisi, sementara Dira langsung melenggang ke arah dapur untuk membasuh tangannya dan segera membuatkan secangkir cokelat panas untuk Sandro.


“ Ini Kak “ Dira mengulurkan cangkir keramik berwarna merah pada Sandro yang kini tengah asyik menyaksikan pertandingan sepak bola.


“ Aku tidak suka kamu memanggilku Kak, rasanya seperti tidak ada bedanya antara diriku dengan Edgar “ Sandro kini terlihat memicingkan matanya memandang paras ayu Dira.


“ Hmm, iya sayang “ Dira mencubit kecil pipi Sandro, laki – laki yang semula dilanda rasa cemburu kini tersenyum dengan riangnya setelah mendengar Dira memanggil dirinya dengan panggilan sayang.


“ Terima kasih untuk hari ini sayang “ Kini Dira terlihat mengusap pipi Sandro dengan sangat lembut. Lelaki itu kian terlihat sangat bahagia segera ia menarik tubuh Dira kedalam pelukannya, dan mengusap puncak kepala Dira dengan sangat lembut lalu mengecupnya singkat.


“ I love you Oceana Veddira “ Bisik Sandro seraya menepuk – nepuk punggung Dira dengan pelan.


Dira masih duduk di sofa ruang tamu didalam flat Sandro, sementara laki – laki disampingnya itu masih asyik menyeruput cokelat panasnya dan sedikit mengabaikan Dira karena dirinya kini difokuskan dengan pertandingan sepak bola yang begitu seru. Hingga pada akhirnya Dira terlelap disana, diatas sofa disamping pria tampan yang kini benar – benar sudah memenangkan hatinya.


Sekilas Sandro menoleh kearah Dira dan mendapati kekasihnya itu sudah terlelap, Sandro kemudian tersenyum kecil melihat paras ayu wanitanya yang tampak begitu lelah. Segera ia mengangkat tubuh Dira dari atas sofa dan memindahkan wanita cantik itu kedalam kamar tidurnya.


Dengan sangat hati – hati Sandro membaringkan Dira keatas ranjang dan menyelimuti tubuh wanita itu dengan bed covernya. Sandro terlihat begitu menyayangi Dira, berkali – kali ia menyentuh dengan sangat pelan paras ayu belahan hatinya itu, ia juga menyibakkan rambut Dira yang jatuh menutupi wajah cantik kekasihnya itu.


“ Selamat tidur sayang “ Bisik Sandro kemudian, lelaki itu  memberikan kecupan singkat pada kening Dira lalu ia beranjak dari dalam kamarnya tersebut setelah sebelumnya ia mematikan lampu.


Sekeluarnya dari dalam kamar, Sandro kini telihat meringkukkan tubuh lelahnya diatas sofa didepan televisi sekilas ia masih tampak tersenyum - senyum, hatinya sungguh dikuasai kebahagiaan. Ia begitu senang karena akhirnya ia bisa memenangkan hati perempuan yang sangat ia cintai itu.