
Ketiga orang itu masih duduk dibangku taman rumah tinggal itu, Dira duduk diantara kedua Pria yang selalu menjaganya. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung kursi dan memandang lepas hamparan langit didepannya.
“ Kalian mau langsung balik? “ Ucap Dira sambil tetap memandang ke langit.
“ Ngopi saja yuk? “ Ajak Edgar pada kedua temannya.
“ Yuk, kesebelah. “ Ucap Dira sambil berdiri dan menggandeng tangan kedua rekannya itu agar bangkit berdiri.
Dira mengalungkan tangannya pada lengan Edgar dan Axel, ia merasa sangat nyaman dan terlindungi memiliki teman seperti mereka berdua. Kedua lelaki itu benar – benar menjaga nya dan selalu mengulurkan bantuan kapanpun Dira membutuhkannya. Mereka bertiga berjalan bergandengan menuju kedai kopi di samping rumah tinggal Dira.
Sandro mengawasi mereka bertiga dari balkon kamarnya sambil menyesap beer dalam kemasan kaleng berwana emas ditangannya. Ia memandang lekat pada Dira yang terlihat berjalan seraya merangkul erat lengan kedua pria dewasa itu. Mereka bertiga terlihat riang saling bercanda dan tertawa dibawah temaram cahaya lampu jalan, sekerjap perasaan iri menyeruak kedalam dada Sandro yang hanya bisa memandangi keakraban mereka.
“ Aku pesan kopi susu Xel. “ Teriak Dira pada Axel yang masuk kedalam kedai untuk memesan minuman. Dira dan Edgar sudah terlebih dahulu duduk dikursi yang pernah mereka tempati dahulu, saat pertama kali mereka datang ke tempat itu.
Axel terlihat mendatangi meja kedua rekannya sambil membawa minuman untuk mereka bertiga, lalu meletakkan satu buah cup cake berbentuk bunga ke arah Dira.
“ Nih, dari mas nya yang berkaos putih itu. Free buat Dira. “ Ucap Axel pada Dira yang menantapnya dengan bingung.
“ Ah nggak ah, makan saja. Manis begitu aku kurang suka. “ Dira mendorong pelan cup cake yang diulurkan oleh Axel menjauh dari dirinya.
“ Dia artinya naksir sama kamu Dir. “ Seloroh Edgar sambil mengaduk minuman yang baru saja disuguhkan padanya itu.
Sekilas Dira memandang lelaki yang masih berdiri didepan meja kasir itu, pria berpostur tegap namun tidak setinggi Edgar dan Axel terlebih jika dibanding Sandro. Wajah laki – laki itu manis menggemaskan, hidungnya cukup mancung rambutnya terlihat hitam tebal.
“ Cie ada yang naksir. “ Axel menyenggol pelan lengan Dira yang sedang kedapatan memandangi lelaki yang memberinya cup cake tadi.
“ Ih apasih. “ Dira menepuk keras lengan Axel yang menggodanya.
“ Eh, aku dipukul! Dilarang menggunakan kekerasan ya Ibu Dira. “ Axel memicingkan matanya memandang wajah cantik Dira.
Ketiganya berbincang – bincang seraya terus bercanda, gelak tawa terdengar keras berasal dari meja mereka menyemarakkan malam minggu hari itu. Terpancar ketulusan pertemanan diantara mereka, Edgar dan Axel terlihat menyayangi Dira.
“ Janji ya, nggak boleh ada cinta – cintaan diantara kita. “ Sambung Dira ditengah candaan mereka malam itu.
“ Hmm, jangan banyak berharap Dir. Kamu bukan tipe ku, sama sekali bukan tipe ku. “ Jawab Edgar sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya seraya memandang wajah cantik Dira.
“ Kenapa? “ Protes Dira terdengar tidak terima.
“ Kamu terlalu cantik, kamu terlalu mandiri aku tidak bisa dengan perempuan yang demikian. “ Jujur Edgar.
“ Betul Dir, akan terlalu sulit menjaga dan mengendalikanmu. Kamu butuh laki – laki yang lebih hebat dari mu. “ Tukas Axel membenarkan ucapan Edgar.
“ Ih ogah, amit – amit jabang bayi deh Mas! “ Dira tampak enggan dengan ucapan Edgar baru saja.
“ Lagian dia sudah punya pacar mas! “ Ucap Dira lagi.
“ Lah kalau belum? Itu kan baru spekulasi kamu saja Dir, kan kita belum tahu kebenarannya. “ Sanggah Edgar.
“ Ah, sudah sudah. Kalau dia mending nggak usah deh mas. Dia dingin begitu mas, aku yang nggak bakalan sanggup. “ Celoteh Dira lagi. Ketiganya langsung tertawa mengingat sikap Sandro yang kaku dan cukup ambisius.
“ Kalau kamu sudah punya pacar Gar? “ Tukas Axel pada temannya itu, lelaki itu mengangguk pelan kemudian menyodorkan HP nya pada Dira dan Axel. Ia memperlihatkan foto pacarnya yang terlihat lebih manis dan lebih sederhana jika dibandingkan dengan Dira.
“ Wah jadi selera mu adalah wanita baik – baik dengan paras manis dan anggun begini ya mas. “ Ucap Dira saat memandang wajah pacar Edgar.
“ Memang kamu nggak baik - bai? Hmm, hanya karena tidak perlu begitu was – was banyak yang melirik Dir. Kalau seperti kamu begini bisa – bisa aku cepat tua karena mimikirkan mu terus. “ Gurau Edgar pada Dira.
“ Kalau kamu Xel? “ Sambung Dira bertanya.
“ Aku baru mendekati seseorang, tapi bukan kamu Dir. Hahaha sama seperti Edgar, aku akan cepat tua kalau punya pacar seperti mu. “ TukasAxel.
“ Memang apa yang salah coba guys? Asalkan kita bisa menjaga diri kan nggak masalah? “Protes Dira tidak terima.
“ Hahaha, terkadang pemikiran pria itu jauh kedepan Dir. Kamu itu terlalu cantik, kamu terlalu mandiri, bahkan secara finansial kamu sudah sangat kuat jadi bakalan bikin minder pasangan mu jika kalian berada di level yang sama. “ Jelas Edgar.
“ Makanya, kamu lebih cocok sama Pak Sandro. “ Ledek Edgar lagi. Dira gantian memukul lengan Edgar cukup keras sehingga membuat pria yang duduk disebelahnya meringis kesakitan namun berlanjut dengan tawa renyah.
“ Tapi Pak Sandro memang kalau melihatmu itu tatapannya berbeda loh Dir, coba deh kamu perhatikan. Kalau aku sama Edgar jelas kami sayang padamu selayaknya teman, kalau beliau beda Dir. “ Axel menimpali lagi membuat wajah Dira sedikit memerah.
“ Hish! Minta di pukul memang kalian ini. Dia itu sudah punya Bu Alice, bahkan Pak Sandro saja mengajaknya ke boardinghouse, sampai masuk flat guys. “ bisik Dira pada kedua lelaki yang duduk disamping kanan kirinya.
“ Serius? “ Tanya Axel terkaget. Sementara Dira hanya menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan perkataan Axel.
“ Heh sudah, sudah malah bergosip kan kita. Ayo pulang, sudah malam Dir, nanti kita dikunciin pagar lagi sama security di mess. “ Edgar tampak memotong pembahasan mereka dan segera beranjak dari tempat duduknya. Ketiganya kembali berjalan menuju rumah tinggal Dira, kedua laki – laki itu langsung masuk kedalam mobil.
“ Besok kalau mau jalan bilang saja Dir, aku atau Axel antar. “ Pesan Edgar dari dalam mobil.
“ Oke mas, terima kasih. “ Dira menyunggingkan senyuman cantiknya.
Edgar segera menyalakan mesin mobil, lalu membawa kendaraan itu keluar dari halaman rumah tinggal Dira. Perempuan cantik itu berdiri di depan pagar seraya melambaikan tangannya hingga mobil menghilang dari pandangan matanya.