
Dira mengantarkan Mama Sandro hingga halaman depan rumah, wanita yang bernama Lydia tersebut masuk kedalam mobil mewahnya kemudian disusul oleh Sandro. Bang Imam, supir pribadi Mama Sandro melajukan mobil tersebut keluar dari halaman rumah tinggal ditepi jalan raya tersebut.
Setelah mobil mewah itu menghilang dari pandangan matanya, Dira segera masuk kedalam rumah ia meraih HP dan dompetnya dari meja kerja di kamarnya. Segera ia kembali turun, membuka pagar besi didepan rumah lalu melenggang menuju kedai Kopi-ku yang sudah menjadi tempat langgannya nongkrong bersama Edgar dan Axel.
“ Kalian dimana? “ Panggil Dira pada Axel melalui telepon saat ia sudah duduk pada kursi didalam kedai. Hari itu masih cukup panas, sehingga Dira memilih kursi didalam ruangan yang tidak jauh dari rak buku yang buku - bukunya boleh dibaca oleh pengunjung.
“ Edgar baru teleponan Dir, aku masih nyuci. Tunggu ya? “ Jawaban Axel membuat Dira menguncupkan bibirnya karena sedikit kesal pada kedua teman lelakinya itu.
“ Hmm, cepetan ya. Aku sudah di TKP. “ Ucap Dira dengan ketus kemudian mematikan teleponnya. Dira berjalan menuju konter pemesanan, ia memesan kopi untuk dirinya sendiri sambil menunggu kedua orang rekannya yang belum menampakkan diri.
“ Mas Strawberries & Cream nya satu ya. “ Pesan Dira pada petugas jaga hari itu.
“ Halo, kamu datang lagi. “ Sapa laki – laki yang baru saja keluar dari ruangan kecil di kedai tersebut. Laki – laki yang kemarin memberikan cup cake untuk Dira saat ngopi bersama Edgar dan Axel.
“ Eh Mas, iya deket soalnya. Terima kasih cup cake nya kemarin ya. “ Ucap Dira seraya mengulurkan uang pada petugas dimeja pemesanan.
“ Iya sama – sama, duduk saja nanti diantar. “ Tukas laki – laki itu mempersilahkan Dira kembali ke kursinya.
***
“ Hei, ini pesanannya. “ Lelaki berwajah manis itu mengulurkan minuman yang Dira pesan beserta mousse cake berwarna cokelat.
“ Eh saya nggak pesan cakenya. “ Sambung Dira pada Pria itu.
“ Hehe, free khusus kamu. Boleh duduk disini? “ Tanya Pria itu, mau tidak mau Dira mengangguk mengiyakan pertanyaan lelaki itu.
“ Terima kasih, nanti kalau keseringan bisa bangkrut loh cafe ini. “ Ucap Dira saat lelaki itu sudah duduk didepannya.
“ Hahaha, kamu bisa saja. Perkenalkan aku Radit, namamu siapa ? “ Lelaki itu mengulurkan tangannya dengan sopan pada Dira.
“ Aku Dira, Mas nggak dimarahin bosnya nih kasih free terus? “ Tanya Dira kemudian. Lelaki didepannya itu terlihat memandang Dira lekat kemudian tersenyum.
“ Hehe kebetulan aku ownernya. “ Jawab lelaki itu sambil terkekeh.
“ Oh? Mas Radit ownernya. Terima kasih banyak ya Mas, dapat gratisan terus. “ Tukas Dira sungkan sambil menyunggingkan senyum pada sudut bibir tipisnya itu.
“ Sama – sama Dira. Kamu tinggal di daerah sini ya? Kok aku lihat kamu sering kesini? Biasanya bareng sama teman cowoknya itu kok tumben sendirian? “ Sambung Radit lagi.
“ Ini baru menunggu mereka Mas, kebetulan ini aku tinggal di rumah samping yang berpagar hitam itu. “ Jelas Dira.
“ Yang rumah besar itu? “ Radit memastikan lagi.
“ Iya Mas. “ Angguk Dira sambil menyeruput frappucino nya.
“ Aku boleh minta nomor Hp nya kamu nggak Dir? “ Tanya laki – laki itu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
“ Hahaha Kirain diminta in nomor sepatu Mas. “ Canda Dira pada pria yang masih duduk didepannya itu.
“ Hehe gitu ya mas? Oke deh, ini. “ Dengan sedikit terpaksa Dira mengulurkan deretan angka yang tertulis pada layar HP nya pada Radit. Lelaki itu kemudian mencatat nomor Dira pada HP yang ia keluarkan dari dalam saku celananya.
“ Thank you Dira, kapan – kapan ngobrol lagi ya? Aku lanjut kedalam dulu. “ Radit kemudian menghilang kedalam bangunan kedai yang cukup ramai dipadati pengunjung.
***
Dira sudah menyeruput minumannya hingga hampir setengah bagian, Edgar dan Axel baru menunjukkan batang hidungnya. Keduanya berjalan kaki menuju cafe yang juga tidak jauh dari mess mereka itu.
“ Lama banget sih guys? “ Omel Dira pada kedua pria yang baru saja menarik kursi di dekatnya.
“ Sorry Dir, pacarku lagi agak ngambek jadi ya tadi telpon agak lama. “ Sela Edgar sambil tersenyum melihat Dira mencibikkan bibir nya.
“ Haha, ternyata Edgar bucin banget tau Dir sama pacarnya. Tumben milih duduk di dalam Dir? “ Ledek Axel mengingat tingkah Edgar saat video call dengan pacarnya tadi.
“ Ah, kamu Xel nanti kalau sudah punya pacar juga begitu. Iya Dir tumben? “ Tukas Edgar seraya berdiri menuju meja pemesan.
“ Kalian nggak lihat panas begitu diluar? “ Jawab Dira ketus. Tiba – tiba Dira mendekatkan tubuhnya pada Axel.
“ Eh, Xel masa Mas yang kemarin kasih cup cake tadi kasih aku mousse cake habis gitu dia ngajak aku kenalan, minta nomor HP ku Xel. Gimana dong? “ Bisik Dira pada Axel yang duduk disampingnya.
“ Terus? Kamu kasih? “ Tanya Axel singkat, danDira menganggukkan kepalanya pelan.
“ Yaudah, ngapain tanya kalau begitu? “ Jawab Axel ketus seraya bangkit berdiri mengikuti Edgar yang sudah terlihat memesan minuman.
Kedua pria yang cukup tampan itu kembali menuju meja yang sudah ditempati Dira, Axel langsung menyeruput Caramel Macchiato yang ia pesan. Sementara Edgar masih terlihat membetulkan posisi baseball capnya, kemudian ia meraih Hp nya dari saku celana.
“ Guys, foto ya mau aku kirim ke pacarku. “ Edgar mengulurkan Hpnya sedikit keatas dan mengajak kedua temannya untuk berpose.
“ Eh, kok kita bisa pas begini sih pakai kaos putih semua hahaha. “ Kelakar Dira saat melihat foto mereka bertiga di HP Edgar.
“ Haha kaya anak asrama kita. “ Tukas Axel sambil tertawa terbahak.
“ Kamu nggak ngapa – ngapa in Dir hari minggu? “ Tanya Edgar sambil sibuk mengirimkan foto pada pacarnya.
“ Tadi aku ke pasar Mas, jalan kaki loh aku. Habis gitu aku diajak makan sama Pak Sandro, sama Mamanya. “ Ucap Dira santai sambil mengaduk minumannya yang masih tersisa sedikit dengan sedotan plastik yang sudah ia gigit – gigit pada bagian ujungnya.
Axel dan Edgar terbengong saat mendengar perkataan Dira baru saja, keduanya menatap Dira hingga lupa mengatupkan bibir mereka karena terkejut. Dira memandang kedua teman pria nya ini bergantian karena ekspresi wajah mereka yang membingungkan Dira.
“ Kenapa? “ Bentak Dira pada mereka.