
Minggu pagi yang biasanya dipakai Dira untuk ' me time ' dengan membersihkan flat kamarnya kini harus ia relakan untuk mengikuti kelanjutan acara kemarin Sabtu. Hari ini dikantor nya diadakan jalan santai bersama.
Bukan hanya karyawan saja tetapi juga karyawan yang sudah berkeluarga diwajibkan membawa sanak famili mereka sebagai cara untuk mengikat hubungan kekeluargaan didalam perusahaan. Pak Albert hari itu datang bersama istri dan anaknya, sementara teman – teman yang masih lajang ada yang membawa tunangan nya.
Berhubung Dira belum berkeluarga dan tidak memiliki kerabat disana, ia justru bergabung bersama Edgar dan Axel sahabatnya. Sementara Sandro masih tetap setia bersama Alice yang selalu berdiri disampingnya hampir lebih dari dua belas jam.
“ Selamat pagi Pak Sandro, perkenalkan ini istri dan anak saya. “ Suara Pak Albert terdengar pelan menyapa Sandro yang baru saja turun dari mobilnya.
“ Oh Ibu Albert selamat bergabung, terima kasih atas partisipasinya. “ Ucap Sandro dengan ringan sambil berjabat tangan dengan istri Pak Albert.
Pembawa acara mulai terdengar memberikan aba – aba bagi para peserta jalan santai, pada hitungan ketiga ia menyatakan bahwa seluruh peserta boleh mulai berjalan. Seluruh karyawan membaur menjadi satu, tidak ada batasan manajerial hari itu.
Sandro pun juga tidak memimpin berjalan didepan, justru ia menikmati langkah santainya sambil sedikit berbincang – bincang dengan Pak Albert. Sesekali juga pria tampan itu terlihat menunjuk beberapa jenis pohon yang ia lihat dipinggir jalan dan kembali berdiskusi dengan Pak Albert.
Alice yang hari itu terlihat begitu kasual dengan celana training hitam dan kaos berlengan panjang dipadu sepatu kets putih masih saja terlihat ayu. Ia dengan setia berjalan mengikuti langkah Sandro yang kadang sesekali penasaran dengan hal – hal yang baru saja ia temui.
Sementara seperti biasa tiga serangkai yang tidak terpisahkan itu juga berjalan beriringan, sesekali mereka terdengar berbicara dengan serius membahas pekerjaan. Tetapi terkadang terdengar suara tawa renyah karena saling bergurau.
“ Dir, jadi gimana kamu sama si bos kopi? “ Axel menyenggol lengan Dira pelan.
“ Ih, apaan sih? “ Dira bergantian menyenggol lengan Axel pelan.
“ Kamu beneran nggak jadian kan sama dia Dir? “ Axel masih saja penasaran dengan Dira yang kini terlihat cukup dekat dengan Radit.
“ Apa an sih? Kamu naksir aku ya? “ Goda Dira sambil menyunggingkan tawanya didepan Axel.
“ Idih ogah amit – amit Dir, nggak kalau sama kamu Dir. “ Axel bergumam sebal karena Dira gantian menggodanya.
“ Jangan bilang amit – amit Xel nanti kamu naksir aku beneran! “ Dira berbisik kecil menggoda Axel kemudian ia mengambil langkah cepat dan sesekali berlari pelan. Hingga tanpa Dira sadari ia sudah mendahuli Sandro yang tadi berjalan didepannya.
Sandro sekelebat melihat Axel yang tiba – tiba saja mengejar Dira dan merangkul lengan gadis yang sedang berjalan dengan cepat itu. Axel tampak mendekatkan wajahnya pada telinga Dira dan membisikkan sesuatu pada wanita cantik itu, membuat Dira memukul – mukul badan Axel.
“ Kamu juga pernah bilang amit – amit jadi pacar Pak Sandro, hati – hati nanti kemakan omongan sendiri Dir! “ Bisik Axel tepat ditelinga Dira, membuat gadis itu ngamuk dan kesal karena Axel selalu saja menggodanya.
“ Hahaha, seperti nya Pak Axel dan Ibu Oceana sangat akrab sekali ya Pak. Tampak nya kita harus merevisi peraturan perusahaan kita Pak. “ Pak Albert tertawa kecil melihat tingkah Axel dan Dira yang memang tampak seperti pasangan kekasih.
“ Hahaha, peraturan yang mana Pak? “ Suara Sandro terdengar rendah dan jelas terasa tawanya sangat dipaksakan.
“ Dilarang menikah untuk karyawan dengan satu entitas perusahaan yang sama Pak, itu pasti mereka sekarang berpacaran hehe. “ Pak Albert masih saja terkekeh tidak menyadari perubahan raut wajah Sandro yang tampak begitu kesal.
***
Separuh perjalanan Sandro tempuh dengan perasaan kesal yang tidak terungkapkan, mendengar Dira berpacaran dengan Axel cukup membuatnya merasa marah. Tetapi dia tidak mau mengakui kemarahannya, lelaki itu juga tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat dirinya marah dan begitu kesal.
“ Dir! “ Panggil Sandro tiba – tiba saat jaraknya dengan Dira tidak begitu jauh, melihat Sandro yang berjalan ke arah Dira membuat Axel berpamitan untuk berjalan terlebih dahulu.
Wanita cantik itu segera menghentikan langkahnya saat mendengar suara Sandro yang memanggilnya. Dilihatnya lelaki itu dengan keringat yang bercucuran berjalan mendekatinya, kulit Sandro yang putih tampak memerah karena terpaan sinar matahari.
Aroma parfum cedarwood menguar saat Sandro mendekati Dira, meski tampak berkeringat nyatanya lelaki itu tetap saja wangi dan membuat orang – orang disekelilingnya terlebih kaum hawa menganggap Sandro sexy serta menawan.
“ Iya Pak? “ Tanya Dira sesaat Sandro dan Alice sudah berada tepat didepannya.
“ Nanti Sore bisa temani saya ke toko buku? “ Tanya Sandro pelan agar tidak terdengar dengan karyawan lain yang sedang melintasi mereka. Sekilas Dira melirik Alice yang berdiri tidak jauh darinya itu dengan tatapan mata sungkan.
“ Mohon maaf Pak, hari ini saya ada janji dengan teman. “ Jujur Dira. Hari ini dia sudah berjanji menemani Radit untuk menghadiri undangan pesta pernikahan teman kuliahnya.
Memang semenjak obrolan di kafe, juga karena Radit sempat menemani Dira berbelanja hubungan keduanya menjadi semakin dekat dan akrab. Bagi Dira nyatanya Radit adalah tipe laki – laki menyenangkan dan keduanya bisa saling nyambung saat berbicara.
“ Oh? Siapa Axel? “ Tukas Sandro singkat.
“ Bukan Pak, ada teman saya Pak. Bukan teman kantor. “ Ucap Dira lagi.
“ Oke. “ Wajah Sandro terlihat semakin kesal setelah mendengar penolakan Dira. Lelaki itu langsung berjalan dengan cepat mendahului Dira yang masih mematung disana.
Dira merasa benar – benar tidak enak pada Alice, meski wajah Alice tersenyum tetapi Dira tetap saja merasa tidak sampai hati padanya. Dira takut melukai perasaan orang lain, Dira sendiri tidak tahu mengapa Sandro justru mengajaknya bukan mengajak Alice.
“ Kenapa Dir? “ Suara Edgar membuyarkan lamunan Dira.
“ Eh nggak Mas. Hehe “ Dira tertawa kikuk saat mendengar pertanyaan Edgar yang baru saja menghampirinya.
“ Oh, yasudah ayo lanjut. “ Edgar kembali mengajak Dira agar kembali meneruskan langkahnya.
Tidak berapa lama seluruh peserta jalan santai sudah kembali lagi dihalaman kantor, setelah acara jalan santai akan dilakukan pembagian doorprize. Karyawan dengan memegang kupon undiannya masih – masing berdiri dengan wajah tegang dan antusias.
Mereka berharap nomor yang disebutkan oleh pembawa acara adalah nomor yang cocok dengan kupon yang berada ditangan mereka. Sama halnya dengan peserta yang lain, Dira juga dengan semangat berharap nomornya yang akan dipanggil. Namun sayangnya hingga akhir pembagian hadiah, tidak ada satu pun doorprize yang berjodoh dengan Dira.