
Pagi itu seluruh karyawan sudah berkumpul di lapangan upacara didepan kantor mereka, Sandro dan tim yang datang dari kantor perwakilan tampak berdiri berjajar disana. Seluruh peserta tampak mengenakan pakaian safety lengkap mulai dari sepatu, helm dan juga rompi.
Banyak karyawan wanita yang saling berbisik saat melihat wajah tampan Sandro berdiri didepan mereka, ini adalah kali pertama Sandro tampil didepan karyawannya yang berada di lokasi perkebunan. Saat kunjungannya kali pertama, ia tidak sempat melakukan briefing seperti saat ini.
“ Selamat pagi semuanya, terima kasih karena telah turut bersama – sama dengan Segah Basadewa Group membangun lini usaha kita yang baru ini. Semoga berawal dari penanaman perdana ini dapat terus memotivasi perusahaan kita semakin berkembang. “ Sambut Sandro saat Manager kebun mengulurkan microphone padanya.
Kemudian seorang perempuan mengulurkan sebuah sendok nasi besar untuk melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol pekerjaan besar akan mulai dilakukan. Serentak seluruh karyawan bertepuk tangan saat Sandro sudah berhasil memindahkan bagian ujung tumpeng kedalam piring yang ia pegang dengan sebelah tangannya.
Setelah itu, manager membimbing Sandro menuju sebuah mobil besar yang khusus digunakan untuk medan terjal. Karyawan lain juga segera mengikuti naik keatas mobil yang sudah disediakan untuk menuju lokasi penanaman perdana.
Setibanya disebuah hamparan lahan yang sangat luas Sandro langsung menuju ke sebuah spot yang sudah diaturkan untuknya, terlihat disana satu buah pohon sawit berukuran sangat besar sudah diletakkan pada sisi lubang tanam.
Sandro meraih pupuk yang sudah disiapkan panitia didalam ember kemudian menaburkan beberapa genggam pupuk kering kedalam lubang tanam. Dibantu oleh manager, Sandro mengangkat masuk bibit besar itu dan memasukkannya kedalam lubang tanam. Dengan cekatan Sandro mengangkat cangkul yang ada disisinya kemudian menimbun lubang dengan tanah disisi kanan kiri nya.
Prok.. prok..prok..prok..
Serempak suara tepuk tangan menggema di hamparan luas tempat terbuka itu sesaat Sandro selesai melakukan penanaman. Sesudah Sandro rampung dengan bibit pertama yang ia tanam, manager mengajak seluruh peserta juga mulai menanam bibit yang ada disekitar mereka.
“ Sini aku bantu. “ Ucap Edgar seraya membantu Dira membopong bibit yang ada didepan Dira. Wanita itu tersenyum senang saat Edgar datang menolongnya.
Hampir satu jam mereka melakukan penanaman dihamparan tersebut, sesekali Sandro tampak berkeliling dengan manajer dan Pak Albert sambil melakukan diskusi kecil. Tidak jarang juga Sandro tampak berbisik pada Alice, kemudian wanita cantik itu mencatat sesuatu pada ponselnya.
***
Setelah selesai dengan agenda penanaman dan peninjauan lokasi bangunan Sandro dan rombongan dibawa naik ke sebuah bukit yang masih masuk dalam lokasi usaha milik Segah Basadewa Group. Mobil berhenti tepat disebuah bukit, dari atas sana Sandro dan rombongannya disuguhi pemandangan alam yang sungguh menawan.
“ Wow? Bagus sekali spot ini Pak. “ Ucap Sandro. Lelaki itu mengedarkan pandangannya melihat pemandangan perbukitan nan indah dari balik kacamata hitamnya.
Angin sepoi – sepoi terhembus menyapu lembutnya wajah Sandro yang bersih tanpa noda sedikitpun. Rambutnya yang semula rapi tampak sedikit berantakan karena sapuan angin diatas bukit, justru membuatnya semakin terlihat tampan dan menawan.
“ Silahkan Pak. “ Manajer menawari Sandro duduk disebuah pondok kayu, disana disajikan air kelapa muda dengan jagung rebus juga pisang rebus yang baru saja dikirim dari kantin kebun.
Melihat sajian yang menggoda, Sandro langsung berjalan menuju pondok diikuti Alice, Pak Albert dan staff yang lain. Pria itu tampak menyeruput minumannya yang disajikan diatas meja kayu dan melahap pisang rebus disana dengan wajah sumringah. Sementara Dira yang melihat pondok itu penuh memilih berjalan mengelilingi tempat – tempat disekitar bukit.
Dira bergitu tertarik saat melihat bunga rumpai liar berwarna ungu sedikit kebiruan tumbuh dengan subur disekitar bukit. Dira tampak memotret bunga – bunga itu dengan ponsel nya, tak luput ia juga mengambil beberapa gambar panorama indah yang tersaji didepan matanya.
“ Untung kita diajak kesini ya Xel, bagus sekali pemandangannya. “ Ucap Dira pada seseorang yang mendekatinya, yang ia pikir itu adalah Axel. Tetapi orang yang baru saja datang itu seolah enggan menanggapi dan lebih memilih diam.
“ Oh, Pak Sandro. Maaf Pak saya kira Axel. “ Dira terkejut saat mendapati orang yang berjalan kearahnya adalah Sandro.
“ Iya Pak, bagus sekali. “ Jawab Dira pelan seraya menggaruk – garuk kepalanya karena tidak tahu harus membahas apalagi.
“ Hmm, jadi lelaki yang tempo hari pergi bersama mu itu Pacarmu Dir? “ Tiba – tiba saja Sandro membuka percakapan diluar pekerjaan. Sesaat wajah Dira terlihat bingung memberikan jawaban, pertanyaan Sandro cukup mengarah pada privasi yang terlalu jauh.
“ Hmm. “ Dira berdehem pelan.
“ Bukan Pak, dia pemilik kedai yang ada disamping rumah tinggal. “ Ucap Dira kemudian.
“ Kedai yang sering kamu datangi dengan Axel dan Edgar itu? “ Kini Sandro mengalihkan pandangannya pada Dira.
“ Hmm, kok Bapak tahu? “ Spontan Dira balik bertanya pada pria berbadan tinggi disampingnya itu.
“ Saya sering lihat kalian berjalan kesana. “ Sandro membetulkan posisi kacamata hitamnya meski tidak merosot sedikit pun dari hidung mancungnya. Dira hanya mengangguk pelan seraya mengulaskan senyum manisnya mengiyakan perkataan Sandro.
“ Atau barangkali pacar mu salah satu diantara Axel atau Edgar? “ Sandro semakin menelisik hubungan asmara Dira.
“ Hahahaha, Bapak ini ada – ada saja. Bagaimana saya pacaran dengan mereka, tentu saja tidak Pak. “ Dira kelepasan, ia tertawa terbahak – bahak saat mendengar ucapan Sandro baru saja. Suara tawa renyah Dira membuat beberapa orang yang duduk di pondok bersamaan mengalihkan pandangan mereka pada perempuan yang sedang berbincang – bincang dengan Sandro itu.
“ Hmm, maaf Pak. “ Sesaat Dira menyesal karena ulahnya, ia dan Sandro menjadi pusat perhatian.
“ Jadi kenapa bisa sekali dekat dengan mereka? Terlebih Axel? “ Sandro masih saja mengejar Dira dengan pertanyaan – pertanyaan aneh itu.
“ Ya akrab saja Pak, lagi pula hanya mereka berdua yang saya punya disini. Masih butuh waktu panjang bagi saya untuk bisa beradaptasi Pak. “ Jujur Dira pada Sandro.
Memang benar, Dira hanya merasa memiliki mereka berdua saja. Anggota timnya belum sepenuhnya percaya pada Dira, mereka masih sering menatap Dira dengan sinis bahkan kadang – kadang mereka membicarakan hal buruk tentang Dira dibelakangnya. Ia sering mendengar Elle bercerita bahwa rekan – rekan yang satu ruangan dengannya sering bergunjing tentang Dira.
“ Kan ada saya juga. “ Tukas Sandro ringan tanpa memandang ke arah Dira.
“ Hehe, bagaimana bisa Bapak dibandingkan dengan Mas Edgar dan Axel Pak. “ Dira menyadari adanya gap yang terlampau jauh antara dirinya dengan Sandro.
Sandro hanya terdiam ia kemudian melirik singkat wajah cantik Dira yang tampak merona karena terpaan hangat matahari dipuncak bukit. Meski matahari menyembul tinggi nyatanya angin yang bertiup juga membawa hawa dingin yang menyusup kedalam kulit.
“ Sana makan pisang dahulu. “ Sandro memerintah Dira agar segera bergabung dengan teman – temannya yang masih sibuk bercanda pada pondok yang berada tidak jauh dari tempat mereka berbincang – bincang.
“ Iya Pak, saya permisi. “ Pamit Dira dengan sopan kemudian meninggalkan Sandro disana sendirian. Dira segera bergabung dengan rekan – rekannya yang masih menikmati sajian sederhana yang nyatanya mampu mengingatkan mereka pada kampung halaman mereka masing – masing.