
Pagi itu Dira sudah bersiap dengan kopernya yang berwarna hijau disebelah tangannya, juga tas punggung yang berisi laptop dan barang lainnya. Hari ini ia, Sandro dan Axel akan berangkat menuju kantor pusat untuk mengikuti evaluasi semester pertama.
Tidak terasa sudah lewat enam bulan mereka berada dikantor cabang untuk menjalankan bisnis baru bagi Segah Basadewa Group. Akhirnya Dira akan kembali ke kantor pusat meski hanya beberapa hari saat mengikuti evaluasi.
Dibantu Pak Allan, Axel menurunkan koper dari dalam bagasi mobil milik Sandro dan meletakkannya pada troli. Dibantu oleh Dira, lelaki itu menyusun barang – barang bawaan mereka dan mendorongnya pelan melewati pintu masuk dan segera mengantri didepan counter check in.
“ Mana tanda pengenal mu Dir? “ Ucap Axel meminta tanda pengenal Dira, perempuan itu mengulurkan pada Axel yang membantu dirinya dan Pak Sandro melakukan check in.
“ Kok Ibu Alice tidak ikut Pak? “ Tanya Dira ditengah – tengah hiruk pikuk keramaian bandara pagi itu.
“ Dia saya minta menemani Pak Albert mengikuti meeting tender pembangunan pabrik Dir “ Sambung Sandro sambil membetulkan kancing kemejanya yang terbuka.
“ Terus kenapa Bapak tidak naik first class seperti biasanya? “ Sambung Dira lagi.
“ Tidak apa – apa Dira, hitung – hitung kita sedang berhemat. Kan lumayan itu cost perjalanan dinas sedikit berkurang “ Jawaban Sandro terdengar khas gaya bahasa seorang pengusaha yang pernuh dengan perhitungan.
“ Sudah Pak, mari naik “ Axel mengulurkan selembar boarding pass milik Sandro bersamaan dengan tanda pengenal milik lelaki itu.
Mereka bertiga segera berjalan dengan langkah agak cepat menggunakan eskalator untuk dapat sampai ke ruang tunggu yang berada dilantai dua. Sandro, Dira dan Axel segera duduk pada deretan bangku besi yang berada di gate nomor delapan belas.
“ Bapak mau minum? “ Tawar Axel kepada atasannya itu.
“ Cari kopi Xel, ada kedai kopi nggak ya? “ Sandro mendongakkan kepalanya mencari – cari kedai kopi yang biasanya ada didalam gedung bandara.
“ Itu Xel, disamping kedai makanan itu Xel “ Dira menunjuk sebuah kedai kopi franchise yang terihat tidak begitu ramai.
“ Bapak mau apa? Kalau kamu pasti latte kan pakai saus karamel? “ Ujar Axel sambil menyebutkan minuman kesukaan Dira.
“ Saya Americano “ Sambung Sandro singkat sambil melirik ke arah Dira.
“ Baik Pak “ Axel mengiyakan permintaan bosnya itu.
“ Xel ikut “ Dira beranjak dari kursi hendak mengikuti Axel yang lebih dahulu berjalan meninggalkan Dira dan Sandro pada bangku besi ruang tunggu.
Sekerjap Sandro menarik tangan kiri Dira dan membuat gadis itu kembali terduduk pada kursi yang berada tepat disamping nya. Dira terkaget dan memandang wajah Sandro dengan sangat gugup, segera gadis itu menarik tangannya dari genggaman tangan kekar Sandro.
“ Kkkeenapa Pak? “ Tanya Dira dengan terbata.
“ Hmm, disini saja. Biar Axel yang beli, lagi pula tidak perlu mengantri kan “ Sandro berdehem singkat kemudian menunjuk kearah kedai kopi dengan ujung dagunya.
Dira terpaksa mengiyakan perintah Sandro dan tetap duduk disamping laki – laki yang kini terlihat sibuk membaca beberapa lembar berkas yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas selempangny. Lelaki berhidung mancung itu terlihat mengulum senyum, tidak dapat dipungkiri ketampanan Sandro akan tetap tegas terlihat dan membuat setiap wanita yang memandangnya menjadi terpesona, begitu juga dengan Dira.
(Source : Internet)
Setelah beberapa hari Sandro, Dira dan Axel disibukkan dengan persiapan data dan kegiatan evaluasi, akhirnya hari ini mereka sudah dapat bernafas lega karena evaluasi berjalan dengan lancar. Meski banyak hal menjadi catatan dan menjadi pekerjaan tambahan bagi mereka, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus bersama – sama membangun tim yang solid.
“ Dira dan Axel , nanti malam pukul enam lebih tiga puluh saya tunggu disini, ya Pak Hiskia dan Pak Robert mengajak kita makan malam. Kita pergi bersama saja “ Ucap Sandro saat supir menghentikan mobil yang mereka tumpangi didepan bangunan boardinghouse yang dulu pernah Dira tinggali.
“ Baik Pak “ Dira dan Axel menjawab bersamaan perkataan Sandro, kemudian mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu dan kembali menuju kamar mereka masing – masing.
Tepat pukul enam lebih dua puluh lima menit Dira dan Axel yang berpakaian rapi juga sopan sudah menunggu Sandro dihalaman parkir boardinghouse. Keduanya terlihat begitu senang karena akhirnya mereka bisa bertemu dengan teman – teman lama mereka dan akhirnya bisa bertemu dengan Pak Robert lagi.
“ Sudah siap? “ Suara Sandro membuyarkan lamunan Dira yang sedang memandang kedai tahu tek didepan bangunan boardinghouse, Dira sedang mengingat saat ia sedang makan berdua bersama Sandro ditempat itu.
“ Sudah Pak “ Lagi – lagi Axel dan Dira bersamaan menyahut.
Ketiganya langsung naik keatas mobil yang dikemudikan seorang supir yang tampaknya baru saja bergabung dengan perusahaan itu karena Dira tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Si supir melajukan kendaraan mereka menuju sebuah tempat makan western dipusat kota.
Setibanya didepan bangunan restoran yang didominasi dengan dinding kaca, ketiganya segera masuk dan dipandu oleh seorang pelayan dan langsung menuju pada sebuah meja yang sudah ditempati oleh Pak Hiskia ayah Sandro dan Pak Robert.
“ Wah Dira, apa kabar Dira? “ Pak Robert terlihat sangat antusias saat melihat kehadiran Dira disana, sebenarnya sudah sejak beberapa waktu lalu mereka bertemu akan tetapi keduanya tidak sempat berbincang – bincang.
“ Kabar baik Pak, Bapak apa kabarnya? “ Sapa Dira sambil menjabat tangan Pak Robert setelah ia lebih dahulu menjabat tangan Pak Hiskia.
“ Ayo duduk, saya juga baik Dira “ Suara Pak Robert kembali terdengar.
“ Lebih enak kerja ada saya apa sama Pak Sandro saja ini Ibu Dira dan Pak Axel? “ Suara Pak Hiskia mengundang senyuman pada dua karyawan muda yang beruntung bisa mengenal dekat pemilik perusahaan.
“ Hahaha, tentu saja tidak dapat dibandingkan Pak “ Ucap Dira malu – malu.
“ Ya kalau Dira pasti senang dengan yang muda Pak Hiskia “ Seloroh Pak Robert menggoda karyawan nya itu.
“ Hahaha Bapak bisa saja “ Tukas Dira tertunduk malu, wajahnya sedikit memerah karena ucapan Pak Robert baru saja. Sementara seperti biasanya Sandro hanya tersenyum – senyum kecil saat seseorang sedang menjadikan dirinya sebagai bahan candaan.
“ Semuanya sepertinya berjalan baik ya San? Jadi untuk pabrik kalian masih membuka tender ya? “ Sambung Pak Hiskia sambil memandang wajah anak semata wayangnya itu.
“ Iya Pak, kami masih membuka tender. Seharusnya hari ini final meeting nya, saya masih menunggu konfirmasi dari Alice “ Jawab Sandro dengan gaya formal pada Ayahnya.
“ Oke, untuk calon buyer apakah sudah ada penawaran masuk? “ Lagi – lagi Pak Hiskia melemparkan pertanyaan sambil memotong scallop yang berada didalam piring makannya.
“ Tim marketing sedang melakukan penawaran, jika sudah tim Ibu Dira akan melakukan review sehingga kontrak penjualan akan segera diterbitkan jika semua sudah beres “ Sandro terlihat menyeruput lime squashnya pelan dan Pak Hiskia menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai berbicang – bincang sambil menikmati makan malam yang begitu lezat akhirnya mereka bertiga undur diri sekaligus berpamitan karena besok mereka akan kembali kekantor cabang melanjutkan pekerjaan utama mereka.
Dira dan Axel menjabat tangan Pak Hiskia dan Pak Robert secara bergantian, mengucapkan terima kasih juga salam perpisahan untuk kembali ke kota lain. Sama halnya dengan kedua orang karyawannya, Sandro juga menjabat tangan Pak Hiskia ayahnya juga Pak Robert secara bergantian.
“ Hati – hati, sering telepon mama mu kalau sudah pulang dari kantor “ Pesan Pak Hiskia dengan lembut sambil mengusap bagian belakang kepala anak laki – lakinya itu.
“ Iya Pa “ Jawab Sandro kemudian memeluk Ayahnya singkat.