CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
PUSAT PERHATIAN



    Disepanjang perjalanan karirnya baru kali ini Dira terasa enggan dan sangat malas untuk pergi ke kantor. Ia sudah tahu pasti yang akan terjadi, ia dan Sandro kini masih menjadi perbincangan hangat oleh rekan kerja mereka. Bahkan waktu itu saja Dira sudah malu bukan kepalang saat Pak Albert mendapati mereka berdua sedang bermesraan di ruang kerja Sandro.


    “ Rasanya aku ingin mengambil cuti! “ Dengus Dira dengan begitu sebal sembari masuk kedalam halaman kantor nya.


    “ Selamat pagi Calon Ibu Suri? “ Suara Axel tiba – tiba saja mengagetkan Dira yang masih dengan gontainya masuk menuju gedung kantor.


    “ Xel, siapa sebenarnya yang mengirimkan video itu? “ Dira memasang wajah memelas, berharap Axel memberitahunya.


    “ Sepertinya Meira atau Anggun dari Departemen Legal, aku dan Edgar sangat kaget saat Shella tiba – tiba saja meneruskan video itu padaku “ Jawab Axel ringan.


    “ Iya benar Dira, awalnya aku tidak yakin itu kamu tapi setelah kuperhatikan itu benar – benar dirimu “ Tukas Edgar kemudian.


    “ Bagaimana ini? “ Dira mencibikkan bibir bawahnya, matanya berkaca – kaca.


    Bukan karena Dira tidak ingin mengakui Sandro sebagai kekasihnya, hanya saja beban berat kini harus ia tanggung. Menjadi kekasih seorang CEO bukanlah hal yang mudah, sedikit saja melakukan kesalahan pastinya akan cepat menjadi sorotan oleh semua orang. Belum lagi Dira dan Sandro jelas berasal dari kalangan yang berbeda, Dira tidak ingin disebut sebagai social climber karena memiliki hubungan khusus dengan Sandro.


    “ Sudahlah Dira tidak perlu menanggapi jika ada orang lain berkata buruk tentang mu. Mereka hanya tidak tahu siapa dirimu dan bagaimana kualitasmu “ Edgar menepuk pelan pundak Dira, berusaha membantu perempuan cantik itu menepis segala kekhawatirannya.


    “ Ayo masuk! “ Axel menarik lengan Dira dengan pelan mengajaknya masuk kedalam gedung kantor.


    Dira menyadari adanya aura yang mulai terasa berbeda saat ia masuk kedalam kantor, pandangan – pandangan mata yang pada hari sebelumnya terasa biasa saja kini justru terasa begitu menyudutkannya. Tatapan mata sinis dari beberapa orang juga membuat Dira merasa seolah – olah ia sudah melakukan dosa besar.


    “ Bye! Aku naik dulu “ Pamit Dira pada kedua sahabatnya itu setelah ia melakukan absensi pagi hari.


    Dira segera masuk kedalam lift dan berdesakan dengan beberapa karyawan lain didalam sana, tatapan sebagian orang mulai berubah terhadapnya. Perasaan tidak nyaman mulai berkuasa atas hati Dira, ia hanya bisa menundukkan kepalanya serta membuang nafasnya dengan kasar. Berharap jika ia akan segera tiba di lantai tiga.


    “ Selamat pagi semuanya “ Sapa Dira pada beberapa karyawannya yang sudah terlihat duduk pada masing – masing kubikel mereka.


    “ Selamat pagi Ibu Oceana “ Suara Meira menyapa telinga Dira, dan terdengar seolah wanita itu sedang meledeknya.


    Meira tidak pernah memanggil Dira menggunakan nama depannya, dan pagi itu perempuan yang usianya hanya berselisih beberapa bulan dengan Dira terdengar memanggil Dira dengan cara yang berbeda. Dira hanya menyunggingkan senyumannya sekilas, kemudian segera masuk kedalam ruang kerjanya.


    “ Kamu pikir aku tidak tahu video yang kamu sebarkan “ Bisik Dira dengan kesal pada dirinya sendiri.


    Dengan perasaan kesal Dira mulai mengawali pekerjaannya, seperti biasanya ia segera menyalakan komputer dimeja kerjanya. Sesudahnya ia terlihat mengecek tumpukan berkas yang ada didepan matanya, kini ia mulai terhanyut dengan pekerjaannya dan sedikit melupakan pandangan mata orang lain terhadapnya. Tatapan mata yang sebenarnya cukup menyiksa untuk dirinya.


    ***


    Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Sandro tampak meminta Alice untuk menghubungi Dira agar perempuan itu masuk ke ruang kerjanya agar bisa menikamati makan siang bersama. Namun setelah Alice mencoba menghubungi kekasih kakak sepupunya itu, Dira menolak ajakan makan siang bersama Sandro.


    “ Ibu Alice, tolong disampaikan pada Pak Sandro bahwa saya akan makan siang diluar “ Tukas Dira dengan tegas menolak permintaan Sandro.


    “ Kalian tidak makan siang? “ Ucap Dira pada tiga orang staf nya.


    “ Sebentar lagi Ibu Dira “ Jawab Shella sambil mengulaskan senyumannya, perempuan itu sudah banyak mendengar cerita mengenai Dira dari Axel. Sehingga sikap Shella biasa saja dan tidak mentapan Dira dengan padangan sinis seperti Meira.


    “ Atau kami boleh bergabung makan siang dengan Ibu? Ada yang membuat kami penasaran mengenai Ibu! “ Tukas Meira sambil beranjak dari kursinya.


    “ Hahaha, tentu saja boleh. Ayo “ Dira terdengar melepaskan tawanya dan dengan terpaksa mengiyakan ajakan Meira.


    Bukan hanya untuk sekedar menghindari pembicaraan tentang dirinya dengan Sandro yang masih hangat dibahas, tetapi juga karena ingin menggali informasi dari Meira sehingga Dira memutuskan makan siang diluar.


    ***


    Keempat orang wanita itu keluar dari dalam ruangan departemen finance dan accounting, segera mereka berjalan menuju kedai makan siap saji diseberang kantor. Dira terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang membayar seluruh makan siang mereka berempat.


    “ Terima kasih Ibu Dira “ Ucap Ellena dengan sungkan.


    “ Sama - sama  Ell, kalian yang selalu membantuku jadi sudah sewajarnya aku traktir makan “ Dira mengulum senyumannya.


    Sikap Ellena juga sama seperti Shella, tidak berubah sama sekali. Hanya Meira yang begitu kentara memandang Dira dengan tatapan sinis dan tampak tidak begitu suka. Ia seolah memang hanya sedang berbasa – basi dengan Dira, dan ajakan makan siang bersama hanyalah sebuah upaya untuk memperoleh informasi lebih mengenai Dira dan Sandro.


    “ Ibu Dira, apakah Ibu sudah mendengar gosip? “ Meira terlihat membuka obrolan sembari menyeruput cola nya.


    “ Haha gosip apa? “ Dira terdengar ringan bergantian melemparkan pertanyaan pada Meira.


    “ Ibu berpacaran dengan Pak Sandro “ Jawab Meira dengan datar.


    Sesaat Ellena tampak menyenggol kaki Meira, memperingatkan supaya perempuan itu agar tidak semakin lancang menghujani Dira dengan pertanyaan – pertanyaan yang jauh tertuju pada kehidupan pribadi atasan mereka itu.


     “ Hahaha, gosip itu. Saya sudah mendengarnya kok bahkan saya sudah melihat videonya, tapi sebenarnya jika memang benar saya berpacaran dengan Pak Sandro pun tidak masalah bukan? Kami sama – sama masih melajang, jadi ya bukan perkara yang bisa dipergunjingkan dan dipermasalahkan di kantor bukan? “ Dira sedang berusaha terlihat santai, meski sebenarnya sekujur tubuhnya terasa bergetar.


    Ia benar – benar takut dengan pandangan rekan kerjanya terhadap dirinya yang mungkin orang lain pikir tidak pantas untuk mendampingi Sandro. Dira sadar betul akan perbedaan strata sosialnya dengan Sandro sehingga dirinya masih berpikir ribuan kali untuk membuka kisah asmara mereka kehadapan publik.


    “ Hehehe iya sih Bu memang benar “ Meira kalah telak dengan jawaban Dira baru saja, membuat dirinya mengiyakan perkataan manajernya itu.


    “ Saya hanya penasaran, siapa sebenarnya yang merekam kami diam – diam “ Tukas Dira lagi sembari menatap tajam ke arah Meira.


    Sesaat Meira langsung menundukkan kepalanya dan membuang pandangan matanya berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Dira. Sementara Dira masih saja berusaha terlihat tenang dan santai, meski sebenarnya didalam hatinya penuh sesak dengan kesedihan yang menyatu dengan ketakutan.