
Pukul delapan malam Sandro dan Dira keluar dari gedung teater, tampak wajah Dira yang sembab masih menangis tersedu – sedu. Wajahnya begitu sayu dan tampak begitu bersedih, Sandro yang berada disampingnya masih memeluk bahu Dira sambil sesekali menepuk – nepuknya dengan perlahan berharap wanitanya itu segera mengentikan tangisnya.
“ Sudah sayang, itu kan hanya film “ Ucap Sandro sambil mengusap wajah cantik Dira dengan tisu yang baru saja ia ambil dari tangan Dira.
“ Tapi kenapa dia harus berpisah? Kan sedih banget aku “ Dira kembali mengeluarkan bulir – bulir bening dari kedua kelopak matanya.
“ Sudah sayang, itu kamu dilihatin banyak orang “ Sandro masih dengan sabar nya mengusap wajah cantik kekasihnya itu. Sesekali ia juga tampak mengusap dengan begitu lembut puncak kepala Dira yang masih sesenggukan.
“ Aku salah memilih film “ Sesal Dira kemudian.
“ Makan saja yuk? “ Ajak Sandro seraya menggandeng tangan kekasihnya itu berjalan keluar dari dalam gedung bioskop dilantai tujuh sebuah pusat perbelanjaan.
***
Sementara dari sudut lain, Meira yang saat itu sedang bersama Anggun juga baru saja keluar dari dalam teater yang sama dengan Dira dan Sandro tampak begitu terkejut saat melihat orang nomor satu dikantornya itu berpakaian dengan sangat kasual sembari mengusap – usap wajah perempuan yang tidak lain adalah Dira, atasannya sendiri.
“ Anggun, itu Pak Ersandro atau bukan sih? Yang topinya dibalik itu? Pakai kaos hitam berdiri disudut sana “ Panggil Meira pada Anggun saat ia melihat Sandro mengusap wajah Dira dengan tangannya.
“ Mana? “ Anggun tampak mendongak – dongakkan kepalanya seraya memicingkan matanya menatapan ke arah yang ditunjuk oleh Meira baru saja.
“ Itu “ Meira kembali menunjuk ke arah Sandro.
“ Ih iya, itu sih benar Pak Sandro deh Mei, sama itu ya atasan mu kan? Si Ibu Dira itu? “ Sambung Anggun lagi sambil melemparkan pandangannya ke arah Meira temannya.
“ Iya bener, iya kan itu Ibu Dira kan Nggun? “ Meira meyakinkan penglihatannya pada Anggun.
“ Iya itu Ibu Dira! Apa mereka berpacaran? Kok Pak Sandro sampai menyentuh wajah Ibu Dira begitu? “ Tukas Anggun lagi.
“ Sepertinya benar deh mereka berpacaran, soalnya kemarin aku menemukan dompet milik Pak Sandro terjatuh dari dalam tas Ibu Dira “ Sambung Meira lagi sambil mengingat kejadian kemarin pagi saat Dira terlambat berangkat ke kantor.
“ Serius? Kok bisa? “ Anggun seolah tidak percaya dengan ucapan Meira baru saja.
“ Iya serius, jadi waktu aku minta approval ke ruangan Ibu Dira dia tidak sengaja menjatuhkan tasnya dari atas meja. Semua barang – barangnya berhamburan di lantai jadi aku membantu memungutnya. Lalu waktu aku mengambil sebuah dompet yang jatuh dengan posisi terbuka, aku melihat ada kartu identitas Pak Sandro “ Jawab Meira panjang lebar.
“ Wow luar biasa ya? “ Anggun terlihat terpukau dengan cerita Meira baru saja.
“ Pantas saja diusianya yang sangat belia begitu dia sudah menjadi manajer “ Terdengar nada cemburu dari ucapan Meira sesaat.
“ Memangnya mereka sudah lama berpacaran? “ Anggun kembali bertanya pada Meira.
“ Entahlah, tapi kalau memang mereka tidak memiliki hubungan apa – apa sebelumnya tidak akan mungkin jika wanita yang berusia sama dengan kita tiba – tiba menjadi manajer? “ Meira tampak bersungut – sungut.
“ Kita pastikan saja yuk mereka benar pacaran apa nggak? Aku penasaran banget! “ Anggun terlihat bersemangat untuk mengikuti Sandro dan Dira yang sudah meninggalkan bangunan gedung bioskop
***
“ Sayang kamu mau apa? “ Sandro tampak mengalihkan pandangannya kewajah Dira, masih dengan mendekap Dira dalam pelukan hangat bahunya yang kekar.
“ Aku mau Sukiyaki Beef Rice saja sayang “ Pinta Dira sambil menunjuk foto pada papan menu di dinding resto.
“ Nggak mau Udon? “ Tanya Sandro lagi, dan Dira menggeleng.
“ Mau kakiage atau ebi tempura nggak? “ Tanya Sandro lagi sembari mengambil makanan lain yang sudah disajikan diatas meja dengan penjepit ditangannya dan meletakkan keatas piringnya, lagi – lagi Dira menggeleng pelan.
“ Minumnya ocha aja sayang “ Pinta Dira yang kini tampak bergelayut pada sebelah lengan Sandro.
“ Ya sudah sana duduk, aku bawa nanti makanannya “ Sandro mengusap pelan kepala kekasihnya itu sesaat sebelum ia mengulurkan uang pada kasir.
Dira kemudian memilih sebuah kursi disudut ruangan yang paling dekat dengan pintu masuk, kursi kayu yang memang hanya diperuntukkan untuk dua orang. Tidak lama setelah Dira duduk, akhirnya Sandro datang mendekatinya sembari membawa sebuah nampan kayu berisi makan malam mereka berdua.
“ Kamu nggak kenapa – kenapa sayang makan disini? “ Tanya Dira dengan wajahnya yang masih terlihat agak sembab.
“ Nggak kenapa – kenapa sayang, memangnya kenapa? “ Ucap Sandro kemudian.
“ Biasanya makan masakannya chef kan? “ Tutur Dira lagi.
“ Ck! Itu karena mama yang mau sayang, jadi ya biarkan saja. Kalau aku sebenarnya bisa makan apapun kok, ayo cepat makan “ Ajak Sandro sambil mengulurkan sebuah sendok kearah kekasihnya itu.
“ Aaaa “ Sandro menyuapkan curry udon kearah pujaan hatinya itu, Dira terlihat membuka mulutnya menerima suapan dari kekasihnya.
***
Masih pada sudut yang sama Meira dan Anggun menyaksikan kemesraan yang dilakukan oleh Sandro pada Dira. Hari itu mereka sungguh melihat sisi lain dari Ersandro CEO mereka, pria yang biasanya terbiasa untuk mendapatkan pelayanan dari semua orang. Kini lelaki itu justru terlihat sangat melayani Dira, bahkan Sandro mau menenteng nampan makanan mereka berdua.
“ Hah! Lihatlah Pak Sandro menyuapi Ibu Dira “ Anggun tampak begitu tergagap sambil menepuk – nepuk bahu Meira.
“ Fix banget mereka memang berpacaran, aku pikir Ibu Alice pacar Pak Sandro rupanya justru Ibu Dira “ Meira semakin berdecak dengan sebal.
“ Ya sudah ayo Mei kita pergi dari sini, kita seperti apa saja mengikuti mereka terus. Kayak penguntit nggak sih? “ Anggun menarik lengan Meira agar segera meninggalkan tempat persembunyiannya itu.
“ Sebentar Anggun, aku ambil video mereka berdua dahulu “ Meira mengibaskan tangan Anggun, menolak ajakan Anggun baru saja.
Meira segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang sedang ia gunakan, beberapa kali ia menyentuh layar ponselnya untuk mendekatkan pada objek. Beberapa jeperetan foto sudah ia dapatkan namun ia merasa belum cukup dengan hasilnya.
Perempuan itu pun akhirnya memberanikan diri untuk berjalan mendekat dan berpura – pura lewat seraya menyalakan kameranya untuk mengambil video Dira bersama Sandro yang tengah asyik menikmati makan malam mereka berdua yang sesekali diiringi gelak tawa dan sentuhan – sentuhan kecil dari Sandro.