CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
IZINKAN KAMI MENIKAH!



    Sandro masih tertunduk dengan lesu karena respon kedua orang tua Dira yang benar – benar tidak dapat ia cerna. Pasangan suami istri itu hanya saling berpandangan dalam diam seolah tidak yakin dengan apa yang Sandro ucapkan pada mereka.


    Dalam angan – angan kedua orang tua Dira tidak pernah membayangkan bahwa akan memiliki menantu seperti Sandro. Bayangan tersebut sungguh tidak pernah sedikitpun singgah dalam benak mereka, bahkan sekalipun Dira juga belum pernah menyinggung perihal tersebut dihadapan kedua orang tuannya.


    “ Bagaimana Pak, Bu? Apakah boleh saya melamar Dira secara resmi? “ Ucap Sandro setengah memohon kepada kedua orang tua Dira yang masih terpaku diatas sofa.


    “ Nak Sandro, mohon maaf jika saya sebagai orang tua terlalu lancang tetapi apakah niatan Nak Sandro ini benar – benar sungguh ingin menikahi Dira? Bukan sekedar untuk bersenang – senang? Kami ini bukan berasal dari keluarga yang sepadan dengan Nak Sandro, jadi apakah pantas jika Dira menyanding pria seperti Nak Sandro “ Ibu Dira justru membuka suaranya, ia takut jika anak perempuannya hanya dipermainkan.


    “ Bu, saya dan keluarga saya justru tidak pernah memikirkan pantas atau tidak pantas kami berdampingan. Justru yang kami tahu adalah Dira adalah sosok perempuan yang sangat baik, dan saya mencintai Dira karena dia adalah Dira bu “ Jujur Sandro berusaha menepis keraguan dihati orang tua Dira.


    “ Saya paham betul jika Ibu dan Bapak memiliki keraguan terhadap ketulusan saya, namun saya mohon Bapak dan Ibu percaya bahwa saya benar – benar mencintai Dira. Bahkan Papa saya sendiri yang sedikit berusaha menjodohkan kami “ Tukas Sandro lagi.


    “ Ayah Nak Sandro? “ Giliran Ayah Dira membuka suaranya.


    “ Iya Pak,  Papa saya sengaja menempatkan Dira didekat saya untuk pembukaan unit bisnis kami yang baru, dan memang sengaja mengadakan banyak kegiatan yang membuat saya dan Dira selalu berkaitan. Hingga pada akhirnya saya dan Dira memutuskan untuk menjalin hubungan “ Jelas Sandro pada orang tua Dira.


    “ Jadi benar orang tua Nak Sandro juga bisa menerima Dira beserta kekurangnnya? “ Tanya Ayah Dira kemudian.


    “ Tentu saja Pak, bahkan pada saat acara keluarga kami beberapa waktu yang lalu saya turut membawa Dira dan memperkenalkan Dira sebagai calon istri saya “ Sambung Sandro lagi.


    Ayah Dira terlihat diam beberapa saat, pria paruh baya itu tampak masih berusaha menerima dan mencerna perkataan Sandro. Sebenarnya lelaki itu juga sangat senang karena nyatanya masih menemukan seorang pria yang begitu bertanggung jawab hingga memiliki keberanian untuk meminta izin untuk menikahi putrinya secara langsung.


    “ Nak Sandro, apa mau makan malam bersama kami? “ Ujar Ayah Dira tiba – tiba.


    “ Tentu saja jika Bapak berkenan mengajak saya makan malam “ Sandro mengiyakan ucapan Ayah dari perempuan yang amat ia cintai itu.


    “ Bu, siapkan dahulu makan malam nya. Aku akan mengajak Nak Sandro mengobrol didekat kolam “ Ucap Ayah Dira kemudian.


    ***


    Sandro mengikuti langkah kaki Ayah Dira yang berjalan menuju kolam ikan yang berada tepat didepan rumah mereka. Keduanya kemudian duduk pada sebuah bangku yang berada didekat kolam ikan, Sandro masih terdiam.


    “ Nak Sandro, sesungguhnya saya sangat senang dengan kehadiran Nak Sandro hari ini, terlepas dari siapa Nak Sandro dan apa jabatan Nak Sandro. Saya sangat menghargai keberanian yang ada dalam diri Nak Sandro “ Ayah Dira membuka suaranya seraya menatap lurus kearah kolam ikan.


    “ Dira adalah anak perempuan yang begitu tangguh dimata kami, dia benar – benar perempuan yang sangat mandiri, dia selalu tegar menghadapi banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupnya “ Sandro masih mendengarkan perkataan Ayah Dira tanpa menyela.


    “ Jadi jika memang suatu saat Nak Sandro menikahi Dira, saya sangat berharap Nak Sandro akan menjaga Dira dengan baik. Jangan pernah membuat anak perempuan kami menangis “ Ucap Ayah Dira pada akhirnya meluluskan permintaan Sandro untuk menikahi Dira.


    “ Tentu saja Pak, Dira adalah seseorang yang teramat berharga bagi saya tentunya dengan segenap hati saya akan membahagiakan Dira “ Jawab Sandro dengan rasa bahagia yang begitu membuncah.


    “ Jadi Bapak mengizinkan saya menikahi Dira? “ Tanya Sandro meyakinkan.


    “ Tentu saja, dengan syarat Dira mau menerima ajakan menikah Nak Sandro tanpa paksaan “ Jawab Ayah Dira dengan kesungguhan.


    “ Apa itu? “ Ayah Dira bertanya penuh telisik.


    Sandro kemudian menjelaskan keinginannya untuk melamar Dira putri satu – satunya sekaligus anak bungsu mereka. Penuh dengan kesungguhan Sandro menjelaskan apa yang akan ia lakukan untuk mengambil hati Dira sehingga wanita pujaan hatinya itu mau menikah dengan dirinya.


    “ Ayo sambil makan kita bahas lagi “ Ayah Dira memotong sesaat ucapan Sandro.


    Kedua pria itu kemudian masuk kembali kedalam rumah, setelah membasuh tangannya di wastafel yang berada didapur Sandro kemudian ikut duduk diruang makan. Beberapa sajian sederhana khas rumahan sudah terhidang diatas meja, aroma wangi menguar dari sup kimlo diatas meja makan.


    “ Nak Sandro maaf ya tidak ada menu spesial karena tidak tahu jika akan kedatangan tamu “ Tukas Ibu Dira seraya meletakkan gelas kaca diatas meja.


    “ Ini sudah sangat spesial Bu, terima kasih sudah mengajak saya makan malam “ Jawab Sandro dengan begitu  tulus.


    Ketiganya tampak menikmati makan malam mereka sambil berbincang – bincang membahas mengenai kehidupan Sandro hingga rencana pria itu untuk melamar Dira. Sesekali mereka bertiga terlihat begitu serius namun terkadang juga terdengar percakapan yang mengundang gelak tawa.


    “ Bagaimana apakah masakan Ibu enak? “ Ucap Ayah Dira pada Sandro.


    “ Sangat enak, ternyata bakat memasak Dira didapat dari Ibu ya? Hehe “ Sandro terkekeh pelan menjawab pertanyaan calon mertua nya itu.


    Setelah rampung menikmati makan malamnya, Sandro bergegas menuju mobil yang ia sewa dari hotel kemudian mengambil beberapa bungkusan yang sejak tadi ia lupakan. Lelaki itu kemudian mengulurkan bungkusan yang ia bawa kepada kedua orang tua Dira.


    “ Pak, Bu, ini ada beberapa teh dan juga vitamin yang biasa orang tua saya konsumsi. Sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh, terlebih saat musim hujan seperti saat ini “ Ucap Sandro seraya menyodorkan buah tangannya kepada orang tua Dira.


    “ Ah Nak Sandro ini tidak perlu membawa banyak barang seperti ini  “ Tukas Ibu Dira dengan sungkan.


    “ Tidak apa – apa Bu. Oh iya, kalau makanan kesukaan Dira dari kota ini apa ya? Supaya besok saya bisa membawa untuk Dira, hitung – hitung sebagai obat rindu “ Tanya Sandro kepada kedua orang tua wanita pujaan hatinya itu.


    “ Ah! Dira sangat menyukai sirup rempah, mau pergi bersama Ibu untuk membeli beberapa? Sepertinya toko yang biasanya menjual sirup rempah masih buka hingga pukul sebelas malam “ Sambung Ibu Dira menawarkan diri.


    “ Boleh sekali jika Ibu berkenan “ Sambung Sandro mengiyakan tawaran calon mertuanya itu.


    Dengan mengendarai mobil yang ia sewa laki – laki itu kemudian pergi menuju pusat kota dan langsung menuju kesebuah toko makanan bersama dengan kedua orang tua Dira. Ibu Dira tampak memilih beberapa botol minuman, namun Sandro bergegas meraih keranjang belanjaan tersebut  sebelum Ibu Dira berjalan menuju kasir.


    “ Biar saya saja Bu “ Pinta Sandro pada Ibu Dira, agar dirinya yang membayar barang yang berada didalam keranjang belanjaan.


    “  Biar Ibu saja, Ibu ingin memberikan sesuatu untuk anak Ibu “ Ibu Dira menarik semakin erat keranjang belanjaannya.


    “ Baiklah Bu jika begitu “ Akhrinya Sandro mengalah dan membiarkan wanita paruh baya itu membayar barang – barang yang ia pilihkan untuk putri kesayangan mereka.


    Seusainya membeli barang – barang kesukaan Dira, Sandro yang dipandu Ayah Dira tampak membawa kedua orang tua Dira berkendara mengelilingi kota. Baru beberapa jam bersama nyatanya membuat mereka bertiga menjadi sangat akrab. Hingga akhrinya Sandro kembali mengatar mereka pulang sekaligus berpamitan untuk berangkat ke tempatnya bekerja esok hari.  Dengan membawa izin kedua orang tua Dira, Sandro lebih mantap untuk segera melamar Dira dan mengajaknya menikah.