
Pagi itu beberapa karyawan yang berada di jajaran top dan middle management telah memenuhi ruang meeting untuk mengikuti rapat perdana yang diadakan oleh Sandro. Termasuk disana ada Pak Albert, Edgar, Axel dan juga Dira. Perempuan berparas ayu itu juga turut serta membawa Ellena rekan satu departemennya untuk mengikuti agenda rapat hari itu.
Lima belas menit sebelum waktu rapat dimulai terlihat Sandro sudah memasuki ruang meeting bersama dengan Alice sekretaris pribadi Sandro. Wanita anggun bertubuh tinggi dan berbadan langsing yang selalu berada di samping Sandro itu terlihat mengulurkan sebuah berkas pada CEO tampan itu sesaat ia sudah duduk di kursinya.
“ Oke selamat pagi semuanya, terima kasih telah memenuhi undangan rapat dari Direksi. Mari kita langsung mulai saja meeting pada pagi hari ini, silahkan moderator. “ Ucap Sandro membuka meeting pagi itu.
Seorang wanita yang bertugas sebagai moderator terlihat membacakan agenda meeting hari itu, beberapa poin utama akan menjadi pembahasan khusus. Dira memegang ujung kertas materinya, ia sekilas memandang wajah tampan Sandro yang terlihat serius. Tiba – tiba pria yang sedang Dira tatap itu melemparkan pandangannya pada Dira, mata mereka beradu membuat Dira salah tingkah kemudian tertunduk malu.
“ Jadi bagaiamana menurut pendapat Pak Sandro? “ Tanya seorang Pria yang baru saja selesai menyampaikan opininya secara terbuka didalam rapat tersebut.
“ Coba Pak Axel apakah hal ini bisa kita terima? Saya rasa bisa dicarikan pembanding lain untuk selanjutnya kita kaji lagi. “ Tutur Sandro seraya memainkan pensil kayunya.
“ Baik Pak, akan kami koordinasikan lebih lanjut. Jika sudah kami dapatkan pembandingnya akan kami informasikan segera kepada Bapak. “ Axel mengiyakan ucapan Sandro seraya menuliskan beberapa catatan kecil kedalam laptopnya.
“ Oke, lalu dari sisi accounting seperti apa? Apakah bisa diterima pada angka tersebut Ibu Dira? “ Sandro kemudian mengalihkan pandangannya pada Dira.
“ Berdasarkan perhitungan kami Pak, sepertinya masih dapat ditekan untuk costnya. Seperti yang Bapak sampaikan, agar diupayakan dulu untuk mencari kontraktor lain sebagai pembanding Pak. “ Jawab Dira kemudian.
Tidak terasa waktu terus bergulir saat itu sudah menunjukkan pukul dua belas siang lebih sepuluh menit, beberapa hal masih terus dalam pembahasan pada rapat hari itu. Banyak hal masih perlu untuk dikaji lebih dalam, sesekali terdengar segelintir orang beradu argumen dan mempertahankan pendapatnya masing – masing dan sebagian sudah mulai terlihat lesu.
“ Oke kita lanjutkan setelah break. “ Ucap Sandro setelah mendengar pemaparan dari Departemen Humas. Tidak lama setelah ia mengumumkan waktu istirahat, sekretaris pribadinya mendekati pria tampan itu.
“ Bapak ingin makan siang di mana? “ Tanya Alice dengan lembut pada lelaki yang sudah ia layani lebih dari lima tahun itu. Alice memang seorang sekretaris yang khusus dibawa Sandro, dia adalah perempuan yang juga bekerja padanya saat di Singapura.
“ Saya ikut makan siang disini saja. “ Bisik Sandro pada perempuan disampingnya itu.
Alice terlihat membimbing laki – laki itu menuju meja makan siang, ia mempersiapkan kursi dan meja untuk Sandro. Ia kemudian mengambilkan piring yang sudah terisi dengan berbagai makanan, tidak lupa perempuan itu menyiapkan satu botol air mineral didekatnya. Dira melihat kedua orang yang tampak begitu dekat itu dari kejauhan. Sesudah Sandro mulai melahap makan siangnya, Alice menyusul laki – laki itu dan makan satu meja dengan pria itu.
“ Woy, ayo makan! “ Axel menyenggol lengan Dira dengan pundaknya.
“ Hish, suka sekali mengagetkanku. “ Dira memukul pelan lengan Axel. Perempuan itu kemudian mengekor Axel menuju buffet makan siang diruangan itu.
Axel duduk bersebelahan dengan Dira, mereka tepat menghadap meja Sandro dan Alice. Sekilas terlihat Sandro memandang Dira yang sedang asik mengobrol dengan Axel disana.
“ Hmm, akrab sekali mereka. “ Gerutu Sandro pelan.
“ Maaf Pak, tadi Bapak berkata apa? “ Tanya Alice dengan sopan.
“ Bukan, saya hanya berbicara dengan diri saya sendri. “ Sandro terlihat mencari tisu didekatnya, dengan sigap Alice mengulurkan sebuah sapu tangan pada laki – laki itu. Sementara Dira masih bercengkerama dengan Axel dimeja lain.
“ Xel, jangan langsung lihat ya. Sepertinya Pak Sandro dan Bu Alice sangat dekat bukan? Bahkan sampai – sampai Pak Sandro membawanya dari perusahaan lamanya dulu. “ bisik Dira pada Axel yang mendekatkan telinganya didekat mulut Dira.
“ Sudah kubilang jangan langsung lihat, tuh Pak Sandro lihatin kita. “ Mata Dira beradu dengan mata Sandro yang sedang menatapnya, Dira kemudian melepaskan tangannya dari kepala Axel dan tersenyum kikuk pada CEO nya itu.
“ Dia kayaknya tahu deh Dir kita sedang membicarakannya. “ Axel berbisik sambil menundukkan kepalanya.
Sandro masih menatap sepasang orang yang duduk diseberang mejanya itu, lalu melemparkan sapu tangannya ke atas meja dan beranjak meninggalkan Alice yang masih duduk disana. Melihat Sandro pergi, Alice mengejarnya dan mereka berdua kembali duduk dikursi rapatnya.
“ Serem banget lihatin kitanya Xel, apa dia benar – benar tahu kalau kita sedang bergunjing? “ terka Dira dengan wajah yang bingung.
“ Entah Dir, sudah ayo kembali ke tempat rapat. “ Axel kemudian beranjak menuju kursi rapatnya, Dira mengikuti Axel dan menghampiri Ellena yang sudah ada disana.
***
“ Baiklah mari kita lanjutkan pembahasan kita pada hari ini. Mohon pendapat Bapak Sandro untuk materi yang sudah dipaparkan oleh Departemen Humas tadi Pak. “ Ucap Moderator sesaat seluruh peserta rapat kembali pada kursinya masing – masing.
“ Mengenai pembelian lahan untuk pembangunan pabrik, apakah sudah dilakukan negosisasi dengan pemilik lahan? Bagaimana dengan kelengkapan dokumennya? “ Suara Sandro terdengar lebih dingin dibandingkan dengan tadi sebelum istirahat makan siang.
“ Kami sedang berupaya untuk melakukan pendekatan khusus dengan pemerintahan setempat Pak. Sementara untuk dokumennya kami sudah mulai proses ke Departemen Legal. “ Jawab Manager Humas yang duduk disamping Edgar.
“ Tolong aturkan pertemuan saya dengan Bupati disana, jika memungkinkan bisa ditembuskan ke Gubernur. Silahkan hubungi Ibu Alice untuk jadwal tepatnya. Lalu bagiamana dari Legal? Apakah dokumennya bisa diproses lanjut? “ Sandro melemparkan pertanyaan ke Departemen lain.
Rapat yang berjalan hari itu terasa semakin berat, banyak tugas dan pekerjaan yang menjadi PR dan harus segera diselesaikan. Hingga saat rapat berakhir, hampir seluruh peserta keluar dari ruang rapat dengan wajah lesu dan lelah. Beban berat menanti didepan mereka, ternyata Sandro tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Pemikirannya jauh terlampau lebih visioner, ia juga cukup ambisius, namun dengan tekanannya yang luar biasa pada karyawannya ia mampu memberikan solusi – solusi terbaik agar misinya berjalan dengan sempurna.
“ Senyum! “ Edgar menyenggol Dira yang terlihat lemas saat keluar dari ruang rapat menuju lift.
“ Capek Mas. “ Jawab Dira parau seolah kehabisan tenaga.
Edgar dan Dira segera masuk kedalam lift, tetapi tiba – tiba Alice memencet tombol pada lift sehingga pintu
kembali terbuka. Sandro yang berada dibelakang Alice kemudian masuk pada ruangan sempit itu, Alice menyusulnya kemudian.
“ Maaf Bu, saya turun di lantai dua. “ Bisik Edgar pada Alice, lalu perempuan itu membantu memencet tombol angka dua. Tidak lama lift berhenti dan pintu terbuka, Edgar dengan sungkan melewati Sandro dan keluar dari dalam ruangan besi itu.
“ Permisi Pak, bye Dir. “ ucap Edgar seraya membungkukkan badannya dan keluar dari tempat menyesakkan itu.
“ Lice, nanti mampir ke rumah ya. Ambil titipan mama. “ ucap Sandro pada sekretaris pribadinya itu dengan logat bahasa yang terdengar informal.
“ Oke. “ Alice menimpali singkat.
Sementara Dira menjadi kikuk dan merasa terjebak didalam sana, ditengah – tengah laki – laki dan perempuan yang ia duga memiliki hubungan lebih dari sekedar bos dan atasan. Dira merasakan ada kedekatan khusus diantara keduanya, ada hubungan spesial yang terjadi diantara mereka berdua. Pikiran Dira jauh mengembara hingga akhirnya lift tiba dilantai tiga, membuatnya segera bergegas keluar mengikuti Sandro dan Alice yang kebetulan juga berkantor di lantai tiga.