CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
BERSUA TANPA SUARA



Setelah perdebatannya dengan Sandro kemarin sore, Dira dan kekasihnya itu belum kunjung melakukan komunikasi lagi. Sandro masih mendiamkannya, kekesalan pada pemikiran Dira yang terus – menerus merasa rendah diri dan tidak pantas mendampinginya membuat laki – laki itu sengaja membuat jarak dengan wanitanya.


Dira sendiri juga masih saja bergelut dengan rasa ketidak kepercayaan dirinya untuk menghadapi orang – orang yang berada disekitarnya. Ia masih berusaha untuk menutup mata dan telinganya agar tatapan mata sinis dan pembicaraan – pembicaraan yang menjelekkan dirinya tidak membuat hatinya semakin terluka.


Dalam ruangan Pak Albert, perempuan cantik itu tengah membawa beberapa berkas yang berisikan norma – norma perhitungan biaya kegiatan dan pekerjaan produksi di perusahaan yang dikelola oleh Sandro tersebut. Kedua orang itu tampak berdiskusi untuk menentukan angka – angka yang tepat dan masuk akal.


“ Sepertinya untuk pekerjaan pengiriman hasil produksi kita basiskan pada jarak tempuh akan lebih efisien Ibu Dira “ Suara Pak Albert kini terdengar setelah lelaki itu memeriksa dokumen yang tadi diserahkan oleh Dira kepadanya.


“ Menurut saya juga begitu Pak Albert untuk itu saya datang kemari Pak, karena ini adalah perhitungan yang diajukan oleh tim produksi Pak “ Tukas Dira kemudian, manajer muda itu juga merasa setuju dengan perkataan lelaki yang duduk dihadapannya.


“ Jadi akan saya berikan catatan kaki disini ya Ibu Dira, nanti harap segera dikoordinasikan dengan tim produksi untuk merevisi sistem perhitungannya “ Ujar Pak Albert seraya bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan menuju meja kerjanya meraih pena yang tergeletak diatas meja.


Segera lelaki paruh baya itu memberikan beberapa catatan pada masing – masing lembaran berkas yang ada ditangannya. Lelaki itu juga tidak lupa memberikan paraf pada bagian – bagian yang ia berikan catatan. Pak Albert juga memberikan checkmark pada poin – poin yang sudah ia setujui dan dapat dijalankan.


Tok.. tok.. tok..


Tiba – tiba terdengar ketukan pintu diruang kerja Pak Albert saat lelaki itu masih sibuk dengan pembahasan perhitungan biaya bersama Dira. Sesaat laki – laki itu mempersilahkan seseorang yang berada diluar ruangannya untuk masuk.


Deg!


Jantung Dira berdegup menjadi tidak beraturan, debarannya semakin terasa cepat membuat ia sesekali melepaskan hembusan nafas dengan agak keras. Tubuh sempurna Sandro tampak menyembul dari balik pintu ruang kerja Pak Albert.


“ Oh Pak Albert sedang ada tamu “ Ucap Sandro ringan seraya melirik kearah kekasihnya yang kini tertunduk lesu menyadari kehadirannya.


“ Tidak apa – apa Pak, ada yang bisa saya bantu Pak? Silahkan duduk, saya dan Ibu Dira sudah hampir selesai “ Pak Albert bangkit dari duduknya dan mendekati Sandro lalu mempersilahkan laki – laki itu agar dapat duduk pada sofa yang kosong disana.


Sandro kemudian berjalan mendekati sofa yang berada dalam ruang kerja karyawannya itu, ia tampak membuka kancing jasnya kemudian duduk tepat dihadapan Dira. Lelaki itu menatap wajah Dira dengan tajam tanpa senyuman, kekesalan dan amarahnya masih tinggal menyesakkan dada Sandro. Sementara Dira masih saja tidak berani melayangkan pandangan matanya pada pujaan hatinya itu.



(Source : Internet)


Pak Albert seolah merasakan adanya perang dingin yang terjadi pada kedua orang didekatnya itu, tempo lalu lelaki itu melihat dengan mata kepalanya sendiri kemesraan Sandro dan Dira. Tetapi sungguh berbeda dengan hari ini, keduanya terlihat menjaga jarak dan tatapan mata dingin dari Sandro menghujam ke arah Dira.



(Source : Internet)


“ Oke Ibu Dira, silahkan nanti didiskusikan kembali dengan tim produksi ya “ Pak Albert kembali pada tempat duduknya semula lalu mengulurkan berkas – berkas diatas meja kepada Dira.


“ Jika begitu saya permisi Pak Albert “ Dira langsung beranjak dari kursinya dan melirik sekilas ke arah kekasihnya yang sedang memandangi dirinya itu.


Dira langsung menghambur keluar dari ruangan Pak Albert tanpa menyapa atasan sekaligus kekasihnya Ersandro, jantung Dira berdegup dengan semakin kecang. Karena perseteruannya kemarin membuat dirinya menjadi salah tingkah dan takut menghadapi Sandro yang jelas bersikap sangat dingin terhadapnya.


***


Sekeluarnya Dira dari ruang kerja Pak Albert, Sandro tampak tersenyum geli dengan sikap kekasihnya baru saja. Dira masih saja belum bisa memisahkan kehidupan pribadi mereka dengan cukup baik, Pak Albert ikut tersenyum saat memandang wajah Sandro.


“ Sepertinya suasana hati Ibu Dira sedang kurang baik Pak “ Ucap Pak Albert membuka pembicaraan dengan Sandro.


“ Hahaha, ya begitulah Pak, Bapak sendiri melihat hubungan dekat kami dan  Pak Albert tentunya juga sudah mendengar gosip yang sedang beredar, ya itu salah satu pemicunya “ Tukas Sandro to the point.


Lelaki itu kini sudah tidak menutup – nutupi lagi perihal hubungan spesialnya dengan Dira, bukan karena gosip yang sudah terlanjur tersebar tetapi juga karena Pak Albert yang pernah mendapati mereka berdua sedang bermesraan di jam makan siang.


“ Tidak dapat dipungkiri Pak Sandro, Bapak adalah pejabat tertinggi ditempat ini. Wajah Bapak juga begitu tampan jadi wajar saja banyak orang yang merasa iri dengan Ibu Dira “ Jujur Pak Albert kemudian.


“ Biar saja Pak, seiring berjalannya waktu pasti pembicaraan buruk seputar Dira juga akan terhenti dengan sendiri nya “ Sambung Sandro sambil memandang ke arah pintu kayu ruang kerja Pak Albert.


“ Oke saya mau mendengar hasil presentasi tender pabrik Pak “  Ucap Sandro lagi yang kini mulai mengajak Pak Albert membahas pekerjaan.


Pak Albert kemudian beranjak dari kursi dan mengambil beberapa bandle cetakan buku berwarna – warni yang merupakan proposal lelang tender dari beberapa calon kontraktor. Pria kepercayaan Sandro itu kemudian mengulurkannya pada CEO muda yang masih duduk diatas sofa seraya memegangi dagu lancipnya dengan sebelah tangan.


“ Silahkan Pak, ini beberapa proposalnya “ Kata Pak Albert kemudian.


“ Oh saya sudah sekilas membaca rangkumannya dari Alice, coba Pak Albert paparkan saja bagaimana penilaian anda mengenai mereka “ Dengan sopan Sandro menolak permintaan Pak Albert.


Akhirnya Pak Albert menarik kembali tumpukan proposal dari depan Sandro, lelaki itu kemudian mengambil tempat tepat disamping bos muda dengan wajah tampan itu. Seraya memperlihatkan beberapa catatan – catatan penting, Pak Albert mulai menjelaskan hasil presentasi dari seluruh peserta lelang tender yang tidak sempat Sandro hadiri waktu lalu.


Sandro dengan begitu seksama selalu memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut Pak Albert. Sesekali ia juga melontarkan pertanyaan – pertanyaan untuk poin -  poin yang kadang masih membuatnya berpikir beberapa kali. Tidak jarang Sandro juga memberikan masukan untuk hasil penilaian Pak Albert.


“ Oke jika demikian bisa langsung diumukan secara resmi saja Pak Albert untuk pemenang tender nya dan saya harap pekerjaan bisa segera dimulai sebelum awal tahun depan “ Sambung Sandro mengakhiri diskusinya dengan Pak Albert.


“ Baik Pak Sandro terima kasih atas saran dan arahan dari Bapak, maaf membuat Bapak datang kemari karena keterlambatan saya untuk menghadap “ Ucap Pak Albert pada akhirnya.


“ Oh, tidak masalah Pak. Baiklah saya permisi kalau begitu “ Sandro kemudian beranjak dari tempat duduknya, diiringi oleh Pak Albert pria tampan itu tampak meninggalkan ruang kerja General Managernya dan kembali menuju ruang kerjanya di lantai tiga.