CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
BERBAIKAN



Dira kembali menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda karena rapatnya hari itu, ia kembali fokus pada berkas – berkas diatas meja kerjanya. Ketika Dira sedang disibukkan dengan lembaran – lembaran dokumen, seseorang mengetuk ruang kerja Dira dengan pelan.


“ Masuk “ Ucap Dira tanpa memalingkan pandangannya.


“ Bu ini angka yang disetujui Pak Sandro “ Shella menyodorkan secarik kertas yang berisi tulisan tangan Sandro mengenai jumlah yang ia setujui untuk melakukan entertain.


“ Oke, nanti segera buatkan kwitansi dan ajukan ke finance untuk perilisan dananya dan serahkan pada Pak Albert “ Perintah Dira lagi.


“ Baik Bu, lalu ini persetujuan Pak Sandro untuk approval yang tadi Ibu minta “ Shella kembali mengulurkan berkas pada Dira.


“ Kenapa begini? “ Dira terlihat bingung menatap kertas lusuh yang baru saja ia terima dari Shella anggota tim nya. Berkas tersebut adalah lembaran kertas yang diremas – remas oleh Sandro saat ia melampiaskan kekesalannya karena mengingat Dira yang sudah memiliki kekasih.


“ Saya tidak tahu Bu, dari Pak Sandro sudah kusut seperti itu. Kalau begitu saya permisi bu, saya siapkan berkas yang Ibu minta untuk pengajuan entertain “ Shella kemudian segera keluar dari ruang kerja milik Dira.


Sementara Dira masih terbengong – bengong dengan berkas ditangannya yang begitu lusuh, terlihat seseorang baru saja meremas kertas tersebut hingga pola lipatan masih tertinggal disana. Beberapa kali Dira mencoba merapikan kertas kusut tersebut, tetapi nihil ia tidak dapat kembali rapi seperti semula.


***


Setelah lewat pukul enam sore Dira terlihat melenggang dari ruang kerjanya, wanita cantik itu berniat langsung mendatangi kedai milik Radit karena semenjak siang tadi dirinya sangat sibuk sehingga merasa tidak memperhatikan pacarnya.


“ Dir! “ Suara Axel terdengar menggema ditelinga Dira saat wanita itu sudah keluar dari bangunan kantor.


“ Hmm, ada apa? “ Tukas Dira setelah berdehem singkat.


“ Kamu masih marah pada ku? “ Tanya Axel sambil berjalan mendekati wanita cantik yang sedang berhenti karena teriakannya tadi.


“ Tidak, hanya saja aku enggan “ Jujur Dira sambil memainkan ujung kaki nya menendang – nendang lantai paving dengan pelan.


“ Kenapa? Maaf jika aku terlalu kasar pada mu waktu itu “ Axel menimpali perkataan Dira.


“ Sudahlah Xel tidak perlu dibahas lagi, toh kalian juga tetap tidak bisa menerima hubunganku dengan Mas Radit bukan? “ Sambung Dira.


“ Kami menyayangi mu Dira, Edgar dan aku sangat menyayangi mu. Kami hanya ingin berusaha menyelamatkan mu dari pilihan yang salah, tetapi justru sekarang kamu menjauh dari Edgar dan aku. Kami merasa begitu kehilangan mu Dira “ Axel masih saja terdengar tidak setuju dengan hubungan yang dijalani oleh Dira.


“ Xel, jujurlah padaku apa yang sebenarnya membuatmu begitu menentang hubungan ku dengan Mas Radit? Sejauh kami menjalani hubungan ini,  semua berjalan dengan sangat baik Xel, dia sungguh laki - laki yang sangat sopan dan dapat ku andalkan “ Dira melempar tanya lagi.


“ Hmmm, aku sendiri masih  mencari jawabannya Dir. Ayo ku antar pulang “ Axel menghembuskan nafasnya kasar kemudian merangkul bahu Dira dan mengajaknya berjalan menjauh dari halaman kantor.


Kedua muda – mudi itu berjalan beriringan menyusuri jalanan yang temaram diterpa lampu jalan yang berpendar kekuningan dihari yang sudah mulai petang. Dedaunan tampak basah karena rintik hujan yang sempat jatuh membasahi bumi, udara juga terasa hangat memeluk kedua insan yang kembali merajut pertemanan.


“ Xel, aku tahu kamu dan Mas Edgar menyembunyikan sesuatu bukan? Wajah mu mengisyaratkan sesuatu Xel, dan itu terlihat sangat jelas bahwa kamu sedang berusaha menutupinya “ Dira kembali membuka suaranya ringan saat Axel masih merangkulkan tangannya pada pundak Dira.


“ Memangnya apa Xel? “ Dira kini memutar badan nya dan menghadap ke arah Axel.


“ Hari ini bukan hal yang tepat untuk membahas itu Dira, kita baru saja berbaikan “ Tukas Axel menolak menjawab pertanyaan Dira.


“ Satu hal yang harus kamu janjikan pada ku dan Edgar Dir, kamu harus bahagia. Jika sampai Radit membuat mu menangis, dia harus menghadapi ku dan Edgar “ Sambung Axel lagi seolah ia memang memendam kekesalan yang mendalam pada Radit.


“ Hmm, jika memang itu sesuatu yang bisa melukai ku dan itu berhubungan dengan Mas Radit bukan kah kamu sudah seharusnya memberitahu ku Xel? “ Dira masih penasaran dengan sesuatu yang disembunyikan oleh Axel.


Axel hanya terdiam, ia berjalan pelan mendahului Dira yang masih mematung ditempat semula seraya memasukkan kedua tangannya kedalam jaket tebal yang sedang ia kenakan. Dira berlari kecil, menyamakan langkah dengan pria yang sedang mengantarnya berjalan pulang. Keduanya berjalan dalam keheningan.


Dira yang semula ingin mengunjungi Radit kini ia mengurungkan niatnya karena Axel mengantarnya pulang. Jauh dalam pikiran Dira ia masih penasaran dengan sesuatu yang disembunyikan oleh Axel dari nya.


“ Xel! Apa kamu menyukai ku? “ Ucap Dira tiba – tiba saat mereka sudah berhenti didepan pagar rumah tinggal Dira.


Sekelebat Axel menjitak kepala Dira dengan pelan sambil menyunggingkan senyuman menawannya pada gadis yang masih penasaran dengan hal yang belum ia katakan. Dira langsung menyentuh ujung kepala yang baru saja disentuh oleh Axel dengan pelan.


“ Ah! Sakit Xel! “ Teriak Dira berbohong.


“ Drama queen! Bagaimana sakit, aku hanya menyentuh kepala mu pelan “ Axel kembali tersenyum.


“ Kenapa tidak menjawab Xel? Kamu benar menyukai ku? “ Dira memastikan lagi.


“ Jangan bermimpi terlalu tinggi Dira, aku tidak pernah menyukai mu! Sudah sana masuk! “ Axel mendorong tubuh Dira pelan agar segera masuk kedalam rumah.


“ Lalu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari ku jika memang kamu tidak menyukaiku? Ayolah Xel ceritakan pada ku? Hmm? “ Dira masih merengek menarik tas selempang Axel yang hendak meninggalkan rumah tinggal Dira.


“ Apa kamu akan percaya jika aku bercerita? “ Tukas Axel lagi, ia masih ragu – ragu untuk menceritakan kejujuran pada Dira.


Axel takut jika Dira tidak percaya dan justru semakin menjauh darinya dan kebetulan ia masih mengumpulkan informasi yang lebih akurat lagi, ia benar – benar tidak ingin membuat wanita itu bersedih. Dira adalah orang yang sangat berharga bagi dirinya juga bagi Edgar, Dira adalah seseorang yang harus ia jaga. Axel menganggap Dira sudah seperti adik perempuannya, sehingga ia masih memikirkan cara untuk membuka sebuah kebenaran yang pasti akan menyakitkan Dira.


“ Katakan saja Xel! “ Dira kembali berteriak dan menatap tajam ke arah Axel.


“ Tidak hari ini Dir, aku tunggu waktu yang tepat setelah aku mendapatkan bukti yang cukup meyakinkanmu “ Axel kembali menolak permintaan Dira.


“ Ck! Menyebalkan sekali! “ Dira menendang pagar besi dengan pelan seraya mencibikkan bibir bawahnya menunjukkan kekesalannya pada Axel.


“ Dir! Terima kasih karena kita berbaikan hari ini “ Ucap Axel kemudian saat Dira hendak melenggang meninggalkan halaman rumah.


“ Hmm, kamu dan Mas Edgar masih hutang cerita padaku. Aku tunggu hingga kalian membuka mulut, jika memang pengakuan perasaan mu pada ku, aku tidak ingin mendengarnya “ Dira mendengus kesal kemudian berlalu meninggalkan Axel yang masih mematung sambil tersenyum simpul memandangi Dira yang kini sudah menghilang dibalik pintu rumah.