
Pagi itu Dira membuka matanya kemudian menarik tubuhnya sambil menarik nafas panjang untuk meregangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Sesaat setelah ia membuka matanya, ia merasa sangat asing dengan ruangan yang sedang ia tempati itu. Ranjang dengan ukuran besar, tirai polos berwarna cokelat mocca, nakas yang berwarna hitam, sofa berwarna abu – abu itu sama sekali bukan kamar tidurnya.
“ Aku pasti sudah gila, ini kamar Kak Sandro “ Bisik Dira dengan nada suaranya yang gusar, gadis itu segera menyibakkan bedcover yang menutupi badannya.
“ Ah syukurlah “ Ucapnya saat ia melihat pakaiannya masih lengkap menempel pada tubuhnya.
Segera ia beranjak dari atas ranjang dan merapikan kembali tempat tidur yang baru saja ia gunakan, Dira membuka pintu kamar dengan pelan. Dilihatnya Sandro yang masih terlelap diatas sofa tepat didepan televisi, Dira melangkah dengan pelan kemudian mendekati Sandro yang belum terjaga.
(Source : Internet)
Dira tersenyum sekilas sembari memandangi wajah tampan pria itu, dengan sangat lembut Dira menyentuh ujung rambut Sandro yang jatuh menutupi keningnya. Sesaat laki – laki itu menggeliat dan perlahan membuka matanya, kini ia terjaga karena sentuhan Dira yang membangunkannya.
“ Kamu sudah bangun sayang? “ Suara Sandro terdengar parau khas orang yang baru bangun tidur.
“ Hmm, maaf membuat mu tidur di sofa sayang “ Ucap Dira dengan lembut tanpa melepaskan pandangan matanya dari Sandro.
“ Tidak apa – apa, aku suka melihat mu tertidur di ranjangku “ Bisik Sandro diiringi dengan kecupan singkat dibibir Dira.
“ Sana cepat naik, sudah pagi kamu perlu bersiap – siap untuk bekerja “ Ucap Sandro lagi sembari meregangkan tubuhnya yang pegal karena semalaman meringkuk diatas sofa.
“ Hmm, kalau begitu aku pulang ya Kak, eh sayang. Terima kasih sudah mengizinkan ku menjarah tempat tidurmu semalam, sampai jumpa nanti dikantor “ Pamit Dira pada kekasihnya. Sandro hanya mengangguk pelan sambil mengusap kepala Dira dengan lembut kemudian membiarkan wanita cantik itu keluar dari dalam flat nya.
***
Siang itu Dira menuju ruangan Sandro sambil membawa beberapa lembar berkas ditangannya, sesaat ia mengetuk pintu dengan pelan, Alice langsung menyambutnya. Tetapi kali ini wajah Alice tidak seriang biasanya, guratan dalam wajah Alice memperlihatkan sebuah kecemasan.
“ Ada yang bisa saya bantu Ibu Oceana? “ Tanya Alice saat Dira sudah berada didekatnya.
“ Saya ingin meminta approval Pak Sandro “ Jawab Dira sambil menyodorkan berkas yang ada ditangannya kepada Alice.
“ Apakah boleh ditinggalkan saja disini Bu? Pak Sandro sedang ada tamu didalam “ Bisik Alice kepada Dira.
“ Oh oke Bu Alice, terima kasih “ Jawab Dira dengan nada suara yang agak gusar.
Dira kemudian meletakkan berkasnya diatas meja Alice dan segera melenggang dari tempat itu, saat ia hendak keluar pintu ruang kerja Sandro tampak terbuka. Pak Han seorang Manajer Human and Resource terlihat tertunduk lesu keluar dari ruangan tersebut.
“ Mari Ibu Oceana “ Sapa Pak Han pada Dira saat keduanya berpapasan.
“ Mari Pak “ Jawab Dira sambil mengulaskan senyumannya dan berjalan mengikuti Pak Han keluar dari pintu kaca dan kembali ke ruangannya.
Perempuan berparas ayu itu kembali berkutat dengan pekerjaan lain didepan meja kerjanya, beberapa berkas tampak bertumpuk didepan Dira. Ia terlihat mengecek dengan seksama kertas – kertas yang baru saja disodorkan oleh Ellena.
Tok.. tok.. tok
Terdengar ketukan singkat dari balik pintu ruang kerja Dira, wanita itu mempersilahkan masuk orang yang berada dibalik pintu. Sekilas wajahnya tampak pias saat mendapati Sandro yang berdiri disana, lelaki itu tidak pernah sekalipun mendatangi karyawannya hingga masuk kedalam ruang kerja seperti saat ini.
“ Hmm, ada yang bisa saya bantu Pak? “ Ucap Dira dengan sangat gugup. Sandro langsung masuk kedalam ruangan Dira kemudian menutup pintunya dengan rapat.
“ Ck! Cepat keluar, orang – orang akan curiga! “ Dira menarik berkas dari tangan pria itu kemudian mencubit pinggang Sandro dengan cukup keras.
“ Ouch! “ Sandro mengaduh kesakitan karena cubitan Dira baru saja.
“ Cepat keluar Pak! “ Kesal Dira lagi, lelaki itu justru tersenyum melihat kelakuan pacarnya. Sandro tampak mengusap pipi Dira dengan lembut kemudian ia segera berlalu dari ruangan tersebut.
Dira kemudian menatap dengan was – was saat Sandro melenggang dari ruang kerjanya, untung saja seluruh stafnya sedang disibukkan dengan pekerjaannya masing – masing sehingga tidak begitu memperhatikan keberadaan Sandro saat didalam ruangan Dira meskipun beberapa dari mereka dibuat penasaran dengan kehadiran CEO ke ruang kerja Dira. Sekilas Dira membaca secarik kertas stick notes yang tertempel pada ujung
berkas yang baru saja diberikan Sandro padanya.
‘Ayo kencan sore ini! Aku tunggu didepan kantor pukul 17.30, I love you ‘
Wanita itu kemudian tersenyum setelah membaca pesan Sandro yang ia tulis pada kertas berwarna merah muda itu. Betapa manisnya Sandro padanya, lelaki yang dikenal begitu kaku dan perfeksionis untuk urusan pekerjaan namun nyatanya memperlakukan Dira dengan sangat baik.
***
Sambil mengendap – endap Dira berjalan mendekati mobil Sandro yang masih terparkir didepan kantor dengan mesin yang menyala. Segera Dira menjatuhkan tubuhnya tepat disamping kursi yang ditempati Sandro, pria itu segera melajukan kendaraannya setelah Dira rampung memasang sabuk pengaman.
Tidak lama berkendara, Sandro memarkirkan mobilnya tepat disebuah taman yang berada tidak jauh dari tepian sungai yang dijadikan sebagai kawasan rekreasi dikota tersebut. Pria itu segera turun dari kendaraannya begitu juga dengan Dira, belum sampai Sandro meraih handle pintu justru Dira sudah meloloskan tubuhnya dari dalam mobil.
“ Wah, aku baru kali ini pergi ke sini “ Tutur Dira seraya mengalungkan tangannya pada lengan Sandro.
“ Aku juga sayang, ayo “ Sandro kini menarik lengannya dari tangan Dira dan merangkul bahu wanita itu dan merengkuhnya kedalam dekapannya.
(Source : Internet)
Pasangan kekasih itu hanya sekedar berjalan – jalan menikmati sore hari yang kebetulan masih cerah dan terasa hangat. Sambil berbincang – bincang dengan santai keduanya berjalan menyusuri jalanan taman yang cukup ramai dengan pengunjung.
“ Sayang, apa kamu mau naik itu? “ Sandro menunjuk ke arah dermaga dengan beberapa kapal.
“ Hahaha ayo! “ Dira kini terlihat lebih antusias, ia kemudian menarik tangan kekasihnya itu agar berjalan lebih cepat menuju dermaga.
“ Tunggu, biar aku yang bayar tiketnya “ Dira tampak menghalau tangan Sandro yang sedang mengeluarkan dompet dari saku jasnya bagian dalam.
Dira kini mengaduk – aduk isi tasnya mengambil dompet dan kemudian mengulurkan beberapa lembar uang pecahan kecil pada petugas di counter pembelian tiket. Sandro tersenyum kecil dan berubah menjadi lebih gemas melihat tingkah kekasihnya itu.
“ Kamu ini sayang “ Sandro menangkup kedua pipi Dira dengan tangannya, lelaki itu benar – benar jatuh cinta pada Dira.
Sandro dan Dira segera naik keatas kapal, bukan hanya mereka berdua tetapi beberapa pasangan juga tampak duduk diatas kapal yang siap berlayar untuk menikmati udara sore hari yang begitu hangat. Dira terlihat begitu bahagia duduk pada bangku kayu diatas kapal tanpa melepaskan tangannya dari tangan Sandro.
“ Aku sangat menyukai setiap hal yang kita lakukan bersama “ Bisik Sandro dengan pelan pada Dira, gadis cantik pujaan hatinya.
“ Aku juga Sayang “ Dira kini menyandarkan kepalanya pada sebelah lengan Sandro, ia benar – benar bahagia setelah menjatuhkan pilihannya pada pria itu.