CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
BERBELANJA BERSAMA



    Sore itu sepulang kerja Dira langsung kembali ke rumah tinggalnya, siang tadi Sandro sudah menghubunginya melalui telepon bahwa ia meminta tolong untuk ditemani berbelanja. Dira tidak enak untuk menolaknya lagi, sehingga hari ini ia mengiyakan ajakan CEO nya itu. Saat masuk kedalam halaman rumah, ia sudah melihat mobil Sandro disana. Segera gadis itu berlari kecil menuju kamarnya, ia kemudian membasuh tubuhnya dengan cepat dan berganti pakaian.


    Belum sampai Dira selesai memulas bibirnya dengan liptint, Sandro sudah mengiriminya pesan dan mengatakan jika ia akan menunggu Dira di dalam mobil.


 



    Dira bergegas meraih tas selempangnya dan berlari secepat kilat menuruni anak tangga didalam rumah itu. Ia menyambar flat shoes nya dari dalam lemari sepatu dan menghampiri atasannya yang sudah menyalakan mesin mobilnya itu. Dira mengetuk kaca jendela mobil dengan pelan, Sandro membukanya hingga setengah bagian dan menyuruh Dira masuk.


    “ Maaf Pak, apa Bapak menunggu lama? “ Ucap Dira saat sudah duduk disamping Sandro pada kursi penumpang.


    “ Tidak Dir. “ Pria tampan itu langsung menjalankan mobilnya, ia mengemudikannya sendiri tanpa membawa Pak Alan maupun Alice sekretarisnya yang sejak kemarin sudah terlihat mengekor Sandro. Sama seperti biasanya, mereka duduk bersanding didalam mobil tanpa pembicaraan hanya terdengar suara lagu yang mengalun memecah kebisuan penumpangnya.


     “ Kamu bisa nyetir mobi Dir? “ Tanya Sandro saat berhenti di lampu merah.


    “ Bisa Pak. “ Dira menjawab singkat pertanyaan Sandro.


    “ Ada SIM? “ Tanya Pria itu lagi.


    “ Ada Pak. “ Lagi – lagi obrolan mereka terhenti, dan suasana didalam mobil kembali menjadi hening.


****


    Sandro memarkirkan mobilnya diluar bangunan mall, ia dan Dira kemudian berjalan menuju bangunan utama gedung. Sandro memimpin di depan dan giliran Dira yang mengekornya dibelakang. Sandro langsung masuk kedalam sebuah toko skincare kenamaan dan memilih beberapa sabun mandi. Seorang pramuniaga kemudian mendekati Pria tampan itu dengan sapaan dan senyuman merekah seraya menawarkan bantuannya.


    “ Ada yang bisa saya bantu Kak? Mau cari Produk apa Kak? “ Sapa pramuniaga itu pada Sandro.


     “ Mbak saya mau sabun mandi yang untuk kulit kering ya, sama sampo sekalian. “ Jawab Sandro dengan ramah pada wanita tersebut. Perempuan itu kemudian mengulurkan dua buah botol berisi cairan bening yang berbeda warna.


    “ Kamu nggak cari apa sekalian gitu Dir? “ sambung Sandro sambil memandang Dira yang masih menilik benda – benda disana yang belum pernah ia gunakan.


    “ Hahaha tidak Pak, saya masih banyak persediaan. “ Jawab Dira sambil tertawa.


    Sesudah beres dengan keperluan mandi Pria itu melenggang masuk ke sebuah toko branded yang menjual berbagai macam pakaian, tas, sepatu hingga handuk mandi. Sandro langsung menuju ke bagian display alat mandi, ia langsung meraih handuk mandi berwarna coklat tua dan navy. Pria itu kemudian menyodorkan pada petugas toko dan membayarnya. Dira hanya mengikuti Sandro sambil terheran – heran, Pria itu tidak pernah menilik price


tag yang menggantung atau menempel pada benda yang akan ia beli.


    “ Ada yang mau kamu beli nggak Dir? “ Sandro melontarkan pertanyaan yang sama lagi.


    “ Ah tidak ada Pak. “ jawab Dira sambil tersenyum


    Sambil menenteng belanjaannya Sandro masuk kedalam sebuah toko ritel yang memiliki banyak cabang diberbagai kota. Ia menitipkan barang belanjaannya pada konter penitipan barang, ia kemudian memasuki lorong – lorong yang ada di toko tersebut. Langkah kaki Sandro terhenti saat ia melihat deretan diffuser dengan berbagai jenis model dan warna tersusun rapi pada rak – rak besi. Ia meraih sebuah diffuser berwarna putih dan menelisik benda itu dengan teliti.


    “ Kamu mau nggak Dir? “ Sandro menunjukkan benda tersebut pada Dira.


    “ Oh nggak Pak saya tidak pernah memakai alat seperti itu. “ Tolak Dira dengan halus.


    “ Saya banyak sekali essential oil dari orang rumah, tapi diffusernya tertinggal jadi sayang kalau nggak dibelikan alatnya kan Dir. “ Laki – laki itu meraih dua buah diffuser yang masih tersimpan didalam kardus dari rak besi didepannya.


    “ Iya Pak, sayang kalau tidak dibelikan diffusernya. “ Dira menjawab singkat sembari mengikuti arah langkah si CEO. Pria itu mengeluarkan kartu membernya yang berwarna hitam serta mengulurkan satu buah kartu debit platinum kepada kasir dan membayar belanjaannya tersebut. Setelahnya ia kembali mengambil barang belanjaannya di konter penitipan barang dan keluar dari dalam toko.


     “ Terima kasih Dir. “ Sambung pria itu sembari mengulurkan tas belanja yang berisi handuk mandinya, Dira hanya tersenyum menjawab perkataan lelaki tampan itu.


    “ Makan yuk? “ Ajak Sandro kemudian.


    “ Boleh Pak. “ Dira mengiyakan.


    “ Kamu mau makan apa Dir? “ Sambung laki – laki itu lagi.


    “ Nasi goreng boleh Pak? “ Dira memberikan usulan.


    “ Oke. “ Pria tampan itu kemudian berjalan mendahului Dira dan masuk kesebuah kedai makan yang cukup ternama didalam mall.


    Sandro langsung duduk pada kursi yang letaknya tepat ditengah ruangan, ia kemudian meletakkan katong belanjaan pada kursi kosong disebelannya. Dira mengikuti Sandro, perempuan itu meletakkan tas belanja Sandro pada kursi kosong tepat di depan laki – laki itu, ia merasa sungkan untuk duduk berhadapan dengan pria itu.


    “ Dir, pindah lah kesini. Orang – orang akan mengira kita pasangan yang sedang bertengkar jika kamu duduk disana. “ Sandro menunjuk kursi didepannya menggunakan dagunya.


    “ Baik Pak. “ Dira terpaksa memindahkan tas belanja itu dan ia duduk disana.


    Dari posisinya sekarang Dira bisa menikmati ketampanan Pria yang ada didepan matanya itu, Pria yang menjadi pusat perhatian setiap kali ia sedang melewati keramaian. Hanya dengan wajah tampannya saja banyak perempuan terbius dengan pesonanya, apalagi jika perempuan – perempuan itu tahu Sandro adalah seorang pewaris dari grup  besar di negara ini pasti akan semakin tergoda.


    Sepiring nasi goreng seafood dan es jeruk manis tersaji untuk Dira, sementara Sandro memesan kwetiaw siram sapi dan jeruk hangat. Hakau udang yang sudah dikukus didalam klakat bambu juga tersaji diatas meja.


    “ Ayo makan Dir. “ Ucap Sandro pada Dira.


    “ Eh iya Pak. “ Dira kemudian menyeruput es jeruknya setelah ia berdoa didalam hati. Perlahan ia menyendok makanannya, Dira benar – benar menikmati nasi goreng yang ia pesan. Sementara Sandro terlihat lahap menyuapkan kwetiaw kedalam mulutnya dengan sumpit. Sesekali ia mengambil hakau dengan sumpit lain dan memakannya dalam sekali suapan.


    “ Ini enak Dir, cobalah. “ Sandro menunjuk makanan yang masih sejenis dengan dumpling yang sudah ia nikmati sedari tadi.


    “ Iya Pak. “ Jawab Dira dengan mengangguk tanpa mengambil makanan yang ditunjuk oleh bosnya itu.


    Sandro kemudian mengambil beberapa buah hakau dari dalam klakat bambu dan meletakkannya diatas piring Dira. Perempuan itu hanya terbengong melihat Sandro melakukan hal tersebut padanya.


    “ Makan. “ Ucap Sandro singkat dan lebih terdengar seperti perintah.


    Piring keduanya terlihat kosong, begitu juga dengan gelas bening yang tadinya terisi penuh minuman juga sudah habis tak bersisa. Sandro terlihat melenggang ke arah kasir dan menyerahkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu kepada kasir. Sesudahnya perempuan itu mengulurkan struk dan uang kembalian pada Sandro. Laki – laki itu kemudian melenggang keluar dari dalam mall dan langsung menuju mobil dan meletakkan barang belanjaannya pada kursi tengah mobilnya.


    “ Pak, punya saya tadi habis berapa ya? “ Tanya Dira dengan polosnya pada laki – laki yang sudah mulai menstarter kendaraannya.


    “ Astaga Dira, kamu ini seperti apa saja. “ Sandro tidak menjawab pertanyaan Dira.


    “ Saya sungkan kalau Bapak bayarin makan terus. “ Ujar Dira berterus terang.


    “ Saya lebih sungkan kalau kamu yang bayar Dir. Belum terlalu malam, kita berkendara sebentar ya. “ Sambung Sandro kemudian.


    “ Iya Pak, terima kasih banyak ya Pak. “ Jawab Dira kemudian.


    Sandro melajukan mobilnya menjauhi bangunan mall, ia menyusuri jalan raya yang malam itu terlihat lengang tidak seramai biasanya. Sementara Dira tampak memandang keluar jendela sesekali menatap langit malam melalui panoramic sunroof mobil Sandro, perempuan itu berkelana bersama pikirannya ia tidak pernah menduga akan bisa bepergian bersama dengan Sandro CEO nya itu.