
Meskipun Dira dan Sandro tinggal dalam bangunan yang sama nyatanya mereka juga sangat jarang sekali bertemu. Terlebih rumah tinggal itu sudah dilengkapi dapur pribadi beserta ruang makan minimalis pada masing – masing flat. Kondisi rumah tinggal yang Dira tempati saat ini tidak begitu jauh berbeda dengan boardinghousenya dahulu, sehingga ia dan Sandro tidak perlu berbagi dapur umum maupun ruang makan umum yang berada dilantai satu.
Siang itu Dira baru saja kembali dari pasar tradisional yang tidak terlalu jauh dari rumah tinggal nya, ia membeli beberapa bahan makanan yang bisa ia masak saat terdesak ataupun saat ia sedang malas keluar rumah. Ia menenteng beras pada tangan kanannya, dan beberapa kantong plastik hitam pada tangan kirinya berjalan dari pasar menuju rumah tinggalnya.
Saat sudah tiba di depan bangunan megah itu, ia melihat sebuah mobil Maserati Quattroporte berwarna silver dihalaman rumah tinggalnya. Mobil Sandro juga masih terlihat terparkir disebelah mobil mewah disana, Dira memandang kendaraan itu sekilas kemudian melenggang masuk kedalam rumah.
“ Mbak Dira, kenapa tidak titip belanja sama saya saja? “ Sapa Bu Lisa saat melihat Dira tergopoh – gopoh membawa barang belanjaannya.
“ Eh Bu Lisa, tidak apa – apa Bu, mumpung hari minggu sekalian kepingin lihat pasar. “ Jawab Dira sambil tersenyum. Office girl itu segera membantu Dira membawa barang belanjaan Dira menuju ke lantai atas, flat tempat tinggal Dira.
Klik
Bunyi pintu flat Sandro terdengar terbuka saat Dira baru saja melewati kamar tersebut, Pria tampan berhidung
mancung terlihat menyembul dibalik pintu.
“ Dir, sudah makan? “ Tanya Sandro lugas saat Dira menghentikan langkahnya.
“ Eh, belum Pak. Mau masak kok. “ Ucap Dira malu – malu.
“ Nggak usah masak, makan di tempat saya saja. Ada banyak makanan, takut nggak habis. “ Perintah Sandro kemudian membanting pintu kamarnya cukup keras sebelum Dira mengiyakan.
Perempuan cantik itu mau tidak mau menuruti apa yang dikatakan bosnya, sesampai didalam flat kamarnya Dira
segera menyimpan seluruh barang belanjaannya. Ia menyusun beberapa jenis sayuran yang tahan lama kedalam kulkas berukuran sedang yang berdiri di dekat wastafel. Setelah beres dengan barang belanjaannya, ia segera melenggang ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sedikit berkeringat.
Tok.. tok.. tok..
Dira mengetuk pelan pintu kamar Sandro, seorang wanita yang usianya kira – kira lima puluh tahunan itu terlihat membuka pintu. Meski tidak muda lagi wanita itu terlihat cantik dan anggun, kulitnya tampak bersih terawat. Rambutnya disisir dengan rapi, cara berpakaiannya pun jelas mengisyaratkan bahwa dia seseorang yang berada.
“ Permisi Bu, Pak Sandro ada? Saya tadi diminta kemari. “ Ucap Dira lembut dan terlihat malu – malu.
“ Oh, Dira ya? Ayo masuk, Sandro sedang mandi. “ Jawab wanita itu mempersilahkan Dira masuk kedalam kamar Sandro.
Wanita cantik itu segera masuk kedalam ruangan Sandro yang terlihat lebih mewah dari tempatnya. Kamar yang Sandro tempati lebih mirip dengan apartemen mewah, dilengkapi ruang tamu bersofa besar, sebuah mini bar di sudut ruangan, serta dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan.
“ Ayo duduk Nak Dira, perkenalkan saya Lydia mamanya Sandro. “ Wanita anggun itu mengulurkan tangannya hendak menyalami Dira. Segera Dira menjabat uluran tangan Mama Sandro itu, kemudian ia duduk di sofa fabric rayon berwarna abu– abu didekatnya.
“ Sudah lama ya bekerja di kantor pusat Nak Dira? “ Tanya Mama Sandro seraya membuka box kue yang ada dimeja ruang tamu tersebut.
“ Baru dua tahun Bu, kemudian saya dipindah kemari. “ Masih dengan malu – malu Dira menjawab pertanyaan Mama Sandro.
“ Ayo dimakan Nak Dira. “ Tawar wanita itu dengan ramah.
“ Oh sudah disini Dir, ini Mama saya. “ Sapa Sandro pada Dira sambil menggosok pelan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang ia bawa tadi.
“ Iya Pak, sudah kenalan tadi. “ Sambung Dira singkat, ia kemudian menundukkan kepala nya cepat saat Sandro mendapati nya memandang wajah tampan Sandro yang berdiri didepannya.
“ Ayo makan dahulu San ajak temannya sekalian, Alice sudah menunggu Mama. “ Panggil Mama Sandro dari meja makan.
“ Ayo makan Dir. “ Ajak Sandro pada Dira yang masih terlihat sungkan.
“ Dicoba ini Nak Dira kesukaan Sandro, saya bawa langsung dari rumah loh ini. “ Mama Sandro menuangkan Sup Wonton kedalam mangkuk keramik putih didekat Dira.
“ Wah, terima kasih banyak Bu. “ Mata Dira berbinar indah melihat sup yang masih hangat mengepul dari dalam mangkuknya.
“ Terus habis jemput Mama di bandara Alice pulang dulu Ma? “ Sandro menyeruput kuah sup dengan lahapnya.
“ Iya, masih sedikit sakit perut katanya jadi habis Bang Imam drop mama kesini langsung antar Alice pulang dahulu. Mama tidak tahu kalau dia sedang kurang enak badan jadi Mama langsung telpon Alice karena telpon kamu tidak diangkat. “ Sambung wanita itu sambil meletakkan potongan bebek peking keatas piring nasi Sandro.
“ Iya semalam dia bilang sakit perut, aku antarkan obat ke rumah baru dia bisa tidur. “ Sambung Sandro tanpa mempedulikan Dira yang duduk disampingnya.
“ Wah, ternyata semalam rumah Bu Alice. “ Bisik Dira pada dirinya sendiri.
“ Nanti bawa ke rumah sakit saja San kalau masih sakit. “ Jawab Mama Sandro ringan. Lelaki tampan itu hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menikmati makanan didepannya dengan lahap.
“ Enak Dir? “ Tanya Sandro pada Dira yang hanya diam mendengarkan obrolan Sandro dengan orang tuanya.
“ Enak sekali Pak. “ Puji Dira sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
“ Ayo makan lagi yang banyak Nak Dira, masih banyak lauknya. “ Mama Sandro sambil menyodorkan piring berisi tofu siram daging ke hadapan Dira.
“ Terima kasih banyak Bu. “ Dira tersenyum dengan sungkan.
“ Jadi kalau libur begini biasanya Nak Dira kemana? “ Sambung Mama Sandro lagi.
“ Biasanya bersih – bersih saja Bu, tapi ini teman – teman mengajak keluar. “ Jujur Dira.
“ Siapa Dir? “ Telisik Sandro tiba – tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari piring makannya.
“ Biasa Pak, Mas Edgar dan Axel. “ Dira kemudian menyeruput minumannya, kemudian membereskan piring makannya.
“ Biarkan dimeja Dir, biar Bu Lisa yang bereskan. “ Tukas Sandro saat ia tahu Dira akan menuju wastafel untuk mencuci piringnya.
“ Tidak apa –apa Pak. “ Dira tetap melaju ke wastafel, mencuci alat makannya dan beberapa gelas serta piring kotor yang ada didalam bak cuci. Mama Sandro memandang punggung ramping Dira kemudian tersenyum singkat, wanita paruh baya itu kemudian melempar pandangan curiga pada anak laki – lakinya yang masih duduk didepannya.
“ Apa? Jangan berifikir aneh – aneh Ma. “ Bisik Sandro dengan ketus, namun Mamanya justru tersenyum melihat tingkah anaknya.
“ Terima kasih Pak, terima kasih Bu untuk makan siangnya. “ Ucap Dira setelah selesai mencuci alat makannya, kemudian kembali ke meja makan tempat Sandro masih menikmati makanannya. Mama Sandro tersenyum melihat perkataan Dira, sementara Sandro hanya mengangguk – anggukkan kepalanya.