Because Of You

Because Of You
Bab 9 : Usaha



Cinta butuh usaha, bila hanya diam kapan majunya?!"


_________________________________________


DI sela perjalanan Aoi dan Amazora yang akan keluar dari gerbang. Tiba-tiba melihat sesosok pemuda yang sedang menunggu seseorang disamping gerbang sekolah. Melihat gadis yang ditunggu telah keluar, iapun menghampiri.


"Mau pulang?" tanya Rey kepada Aoi.


"Iya Kak. Duluan ya," kata Aoi tidak enak dengan Amazora. Tapi, Amazora hanya diam tak bergeming ataupun menunjukkan kesedihan. Tipe gadis yang dapat menyembunyikan perasaan.


"Tunggu." cegahnya "mau bareng?" tawarnya.


"E.. Enggak Kak," jawab Aoi sambil melepaskan tangan Rey. Sungguh tidak memiliki hati. Hingga Aoi dan Amazora meninggalkan Rey disana sendiri.


"Kenapa kesini? Mau buat Tya sakit hati lagi?" kata seorang pemuda di belakang Rey. Merasa suara itu familiar, iapun berbalik.


"Eh adik gue." menghampirinya.


"Bukan gitu. Gue hanya ingin Amazora bisa ngelupain gue. Dan lo bisa ngambil habis itu," jelas Rey yang langsung mendapat pukulan Arva.


"Gue emang suka Tya, tapi gak cara seperti ini. Melihatnya sedih, patah hati karena lo saja ngebuat gue frustasi. Apalagi ngeliat lo ndeketin Aoi di depannya. Pasti sakit sekali, mengingat hampir setiap hari itu terjadi," katanya berlalu pergi.


Disisi lain, Amazora yang dari tadi memilih untuk diam. Akhirnya membuat Aoi membuka diri terlebih dahulu.


"Ama," panggil Aoi yang langsung dipotong Amazora.


"Gue gak pa pa. Gue juga gak suka Rey kok, tenang aja. Gue kan gak pernah bilang kalau gue suka ma dia," jelas Amazora dengan senyum terpaksanya.


"Tapi dulu.."


"Dulu gue hanya sekedar kagum. Cukup kagum. Hanya itu, tidak lebih. Santai aja."


"Tapi, gue ngerasa gak enak ke lo."


"No problem."


"Tapi... Apakah lo suka Arva?" tanya Aoi tiba-tiba yang membuat gadis itu terkejut.


"Apa? Ya enggaklah. Mana mungkin," jawabnya cepat.


"Syukur deh." merasa lega.


"Kenapa? Masih suka?" yang hanya dibalas anggukan dan senyum manis Aoi.


***


Hari berikutnya, waktu masih menunjukkan pukul 06.05. Tepat di depan rumah Aoi terdapat sebuah mobil berwarna putih, cukup mewah. Yang pasti harganya mahal, hanya orang mampu saja yang bisa membelinya. Orang dalam mobil itupun keluar, menekan bel rumah itu. Hingga seorang gadis membukannya.


"Ama..-" kata itu terpotong setelah melihat siapa yang ada di depannya. Bukan sahabatnya, "Kakak? Ada apa?" tanya Aoi terkejut melihat Rey yang masih dibilang pagi sekali sudah disini.


"Siapa Aoi?" tanya Kak Andre yang melihat adiknya terdiam di depan pintu.


"Ah ada tamu, suruh masuk aja dek." perintah Kakaknya. Yang langsung dilaksanakan adiknya itu.


"Berangkat kapan?" kata Rey.


"Maksud Kakak?" tanya Aoi yang masih tidak paham.


"Itu artinya dia mau nganterin kamu," jelas Andre yang sedari tadi masih disana.


"Aku kan sama Amazo-" terpotong oleh suara ketukan pintu.


"Aoiiiiii, ayo berangkat," teriak gadis kecil itu. Tanpa sadar seketika suasana menjadi tegang. Melihat Rey yang sudah pagi-pagi berada di rumah Aoi, disampingnya tepat lagi. Sungguh pemandangan yang indah. Ingin dia melarikan diri dari sana. Tapi bila itu dilakukan sama saja dia belum bisa melupakan Rey.


"Kalau gitu Ama sama mas saja ya? Gue anter," kata Kak Andre. Yang di balas anggukan Amazora dan menunggu diluar. Gak tahan dengan sikap Rey yang ia berikan pada Aoi.


"Yaudah kalau gitu gue sama Ama berangkat dulu," kata Kak Andre "jangan macem-macem. Cowo lu lumayan juga." lanjut membisiki Aoi yang seketika dibuatnya merinding.


Hingga akhirnya menghilang menyisakan mereka berdua di dalam rumah. Hanya mereka, karena orang tua Aoi sedang pergi ke rumah nenek yang tepatnya ada di Klaten, Jawa Tengah.


"Gimana? Berangkat sekarang? Atau masih nanti?" tanya Rey kemudian.


"Sekarang aja Kak."


Sesampainya di depan gerbang sekolah, segeralah Aoi keluar dari mobil putih itu sambil mengucapkan terima kasih dan melesat pergi.


"Apa lagi sekarang? Udah main anter-anteran," kata Arva yang tiba-tiba berada di samping kaca kemudi Rey.


"Iyalah usaha," kata Rey cengar-cengir, tidak melihat adiknya yang terlihat begitu penuh amarah. "Lo kapan?" tanya Rey kemudian.


"Bukan urusan lo." dan pergi dari sana.


Selepas semua itu, hari-hari membosankan pun dimulai. Arva masuk ke dalam kelas, melihat Amazora yang sedari tadi merunduk. Entah sejak kapan, mungkin dari tadi masuk. Tepat pukul 07.00 belpun akhirnya berbunyi. Menandakan kelas akan dimulai.


Sudah lima belas menit berlalu, dan sepertinya guru pengajar tidak menandakan masuk kelas. Amazora sebagai ketua kelas pun pergi keluar berniat memanggil.


Sesampainya disana ia tidak melihat seorang guru sama sekali, hingga ia akhirnya pergi ke piketan. Dapat tugas dari sana, dan kembali ke kelas. Melaporkan tugas untuk mereka kerjakan. Bila sudah selesai bisa dikumpulkan dimejanya.


Suasana kelas yang biasanya seperti pasar berubah menjadi sunyi seolah tak berpenghuni karena terlalu pusing akan tugas yang diberikan. Membuat sebuah puisi karya sendiri tanpa mencontoh karya lain. Bagi Amazora itu tugas paling mudah. Tapi tidak bagi teman lainnya. Bahkan Arva saja malah tidur disana. Kertasnya masih putih tanpa noda tinta. Seolah tak mampu atau tak berniat untuk mengerjakannya.


Bel terdengar kembali, menandakan waktu selesai. Merekapun akhirnya mengumpulkan dimeja Amazora. Ada yang mengerjakan, ada yang mengumpulkan kertas saja, juga ada yang tidak mengumpulkan sama sekali. Contohnya Arva. Dengan beberapa lembar kertas pegangannya ia berjalan dari koridor ke koridor lain. Dari gedung satu ke gedung lain. Hingga tak disengaja ia bertabarak dengan seseorang.


"Aduh! Maaf," kata mereka serempak. Melihat satu sama lain, hingga Amazora beranjak pergi meninggalkan orang itu.


Untuk apa dia kesini? Dan dia baru saja dari ruang TU? Memangnya ada apa? Berurusan dengan adminitrasikah? pikirnya. Yang langsung ia hilangkan karena buat apaan coba memikirkan masalah Rey. Yang faktanya dikala itu Rey sedang membayar adminitrasinya Arva


Ia menaruh lembaran-lembaran itu ditempat seharusnya, dimeja Bu Siti. Lalu pergi kembali ke kelas. Tapi, ditengah perjalanan. Ia berhenti sejenak ketika berada dilapangan basket. Tatapannya terlalu fokus dengan apa yang sedang ia lihat. Hingga tanpa sadar ia duduk disana, melihat pemuda itu yang tengah bermain basket.


"Ternyata dia bisa bermain basket juga rupanya," gumam Amazora.


Mungkin sudah setengah jam ia duduk disana, setia melihat pemuda itu memainkan bola baketnya. Dengan menggiring, memasing bahkan sampai shooting dan lay up. Begitu mengagumkan. Hingga pemuda yang tengah diperhatikan itu menyadari tatapan Amazora. Yang seketika membuatnya salah tingkah. Berusaha kabur dari sana, iapun kembali berdiri dan meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di depan pintu, ia mendengar suara Pak Joko yang killernya tiada tara. Dia bimbang untuk masuk atau tidak. Bila ia masuk, seketika ia malah mendapat marahan dan beberapa tugas tambahan. Sedangkan bila tidak, ia pasti ketinggalan pelajaran.


Bimbang, gugup, takut hingga ia memberanikan diri memegang kenop pintu. Berusaha untuk memutar, hampir terbuka. Hingga ia terasa ditarik seseorang. Dan mendapati pintu itu terbuka tanpa seseorangpun diluar sana. Seluruh kelas tertuju pada pintu itu.


"Sudah, sudah mungkin ada orang iseng," ujar Pak Joko dan melanjutkan pelajarannya. Amazora yang serasa ditarik tadi, akhirnya dilepaskan ketika berada di atap.


Anehnya, sesampai disana banyak sekali hiasan bahkan balon-balon yang menghiasi atap itu.


"Sebuah kejutan," kata salah satu dari sekelompok perempuan itu. Fans Arva. Tidak tersentuh, ataupun senang. Arva malah menyuruh mereka keluar dengan cara membentak hingga takut dan pergi. Tapi, melihat Amazora yang berada digenggaman Arva membuat gadis-gadis itu kesal dengannya. Dan saling berpikir, kenapa tidak aku saja. Iri satu sama lain.


Keadaan menjadi hening lagi. Hingga Arva berkata, "I love You." yang seketika membuat Amazora terkejut, membelalakkan mata.


"Hah?" melihat reaksi keterkejutan Amazora. Seketika ia melanjutkannya "maksud gue itu, dibelakang lo. Ada tulisan I love you, minggir dikit." menyuruh Amazora dengan mengisyaratkan tangannya.


"I love you Arva Askara Felizio." lanjutnya. Yang membuat wajah Amazora menjadi heran lagi tapi lebih enakan begini.


"Lo dari tadi ngeliatin gue ya?" tanya Arva sedikit menggoda.


"Hah?"


"Tadi, di lapangan basket." ketahuan kau Amazora.


"E.. E.. E.. Tidak juga," jawabnya dengan bingung mencari kata


"Oh ya?" katanya sambil mendekat yang secara reflek Amazora berjalan ke belakang. Berusaha menghindari lelaki itu.


"Apakah kamu tertarik padaku?" katanya sambil berbisik. Yang seketika langsung di dorong oleh Amazora. Dekat sekali jarak antara mereka, bahkan serasa tidak ada penghalang. Takut mendapat perlakuan aneh dari Arva, Amazora pun pergi meninggalkan Arva diatap sendirian. "Orang gila" gumam Amazora disela perjalananya.


***


Disisi lain, di dalam kelas Amazora yang sedang mengadakan diskusi dengan Lisa sebagai ketua kelompok, bersamaan Lala, Nanda, dan Fadil.


Mereka tengah sibuk sendiri-sendiri. Ada yang mencari referensi lewat buku, ponsel. Namun ada juga yang seolah lagi membrosing tapi sebenarnya lagi stalking doi. Dan dia adalah Nanda. Dia tengah menstalking akun instargam Arva, yang memang dari dulu gak pernah di privat. Khusus ignya.


Disana ia sedang mencari setiap postingan cowok itu yang berhubungan dengan nama Tya. Dia terlalu penasaran dengan nama itu, hingga tanpa sadar,


"Nanda, mana tugas lo? Yang lain sudah selesai cari referensi!" kata Lisa


"Oh iya, bentar lagi." Bohongnya.


"Ok."


Selang beberapa menit, setelah Lisa menunggu. Akhirnya ia merebut ponsel Nanda yang dari tadi sibuk di tangannya. Melihat apa yang dilakukan Nanda, segera ia menyeramahi Nanda serta menanyai pertanyaan bertubi-tubi.


"Sttt. Diam!" Kata Nanda santai sambil merebut ponselnya kembali.


"Hey!-" potong Nanda sebelum Lisa ingin protes.


"Lo tahu seseorang yang namanya Tya?" Tanya Nanda.


"Ya enggaklah. Kenapa?"


"Lo masih ingat di HUT? Dulu Arva kan nyanyiin lagu kesukaan Tya. Dan sekarang gue ingin tahu tuh orang, tapi dari tadi gue gak nemuin sama sekali." Rengek Nanda.


"Bodo amat. Yang penting kerjakan tugasnya atau lo gak kami cantumkan." Ancam Lisa.


"Ayolah Lis, mumpung wifi sekolah lancar nih."


"Terserah. Gue mau nyerahin ini. Dan lo gak gue cantumin." Berusaha berdiri dari bangku dan ingin menyerahkan tugasnya kepada Pak Joko. Belum sempat, ia segera ditarik oleh Nanda.


"Apa?" Tanya Lisa.


"Gue kerjain. Tunggu bentar ya," Pinta Nanda.


"Cepetan nan," Kata Lala.


"Iye, iye."


Akhirnya tugas selesai, dan Lisa pun mengumpulkannya. Nanda yang tengah sibuk mengotak atik ponselnya. Iapun berguman tak jelas disana.


"Siapa sih si Tya itu?!" teriaknya tanpa sadar. Yang seketika seluruh ruangan tertuju padanya.


"Diam oi"


"Sorry"


Dan Lisa menghampiri gadis itu.


"Ingin tahu Tya itu siapa?" kata Lisa dengan nada serius.


"Lo tahu?" Tanya Nanda dengan penasaran.


"Pastinya sih belum. Tapi beberapa hari lalu. Saat gue, Arva dan Amazora ngobrol, gak sengaja Arva nyebut nama Ama dengan nama Tya. Dan mungkin aja orang yang dimaksud Arva saat HUT adalah si Ama."


"Hah? Serius lo? Bukannya Ama gak pernah suka ma orang? Dia kan terlalu dingin."


"Ya ampun." Tepuk jidat Lisa.


"Kata siapa Ama suka Arva? Gue kan gak bilang gitu. Dicerna dulu kata gue. Aneh." Kesal Lisa yang kemudian keluar kelas karena bel istirahat sudah berbunyi.