Because Of You

Because Of You
35. He come!



Bored! yobi hanya mondar mandir dirumahnya akhir pekan seperti ini, teman temannya sudah pamit sejak semalam akan tidur seharian efek dari lembur buat game online. dari lantai 3 ke lantai 2, dari lantai dasar naik lagi ke lantai 3. pergi ke ruang biliar dan berakhir di rooftop tanpa melakukan apapun. benar benar bosan.


yobi melangkah ke dapur menghampiri bundanya yang sedang memasak bersama ART di rumahnya. sang bunda memang paling rajin memasak terlebih saat ayahnya stay di rumah


"Shawn dari tadi gak keliatan Bun??" yobi duduk di meja makan dan memeriksa isi beberapa Tupperware di hadapannya


"pamitnya sih ke minimarket ujung tapi gak tau nyangkut dimana udah lebih sejam gak balik balik adik kamu!"


yobi beranjak menghampiri bundanya yang sedang memotong sayur, ia bersandar ke pantry di dekat sang bunda. posisi mereka saling bertolak belakang.


"eh... Elsa apa kabar??" yobi berhenti mengunyah kripik pisang mendengar pertanyaan bundanya


yobi berdekhem "baik kayaknya Bun..." eh kenapa dia jadi salah tingkah begitu bundanya menanyakan Elsa??


"terakhir ketemu cuma di sekolah kamu pas penerimaan raport. pengen deh bunda ajak dia tinggal disini, kasian anak itu" yobi semakin salah tingkah "ajakin main kesini dong kapan kapan?!"


"iya nanti kalo udah resmi Bun!" katanya sambil melangkah ke lemari es, yobi melihat isi kulkas dan mengambil minuman kaleng


"cuma main apanya yang mesti___"


tap tap tap


langkah kaki shawn yang terdengar tergesa mengalihkan perhatian mereka. Shawn menyerobot kedepan kulkas dan mengambil minum seperti yobi


"pelan pelan minumnya!" tegur sang bunda melihat Shawn seperti di buru hewan


"habis di kejar peliharaan om derma bun" jawabnya asal. lalu anak itu beralih menatap yobi yang masih berdiri di samping kulkas "kak..."


yobi menoleh dan mengangkat sebelah alisnya, memperhatikan Shawn sedikit heran. mengatakan kalimat 'ada apa?' lewat ekspresinya


"kakak tau kan cerita beauty and the beast? beneran bisa di percaya gak?!"


yobi tidak langsung menjawab pertanyaan Shawn, ia meneguk minumannya terlebih dahulu membuat Shawn tidak sabar menunggu jawaban sang kakak "gak! emang percaya sama kata DONGENG??!!"


Shawn berdecak sebenarnya bukan itu yang ingin dia sampaikan "tapi kakak tau teori kenapa tiba tiba seorang 'nerd' bisa jadi 'charming' dalam waktu seketika?"


"judulnya?" kata yobi sambil melangkah ke ruang tengah


lagi lagi shawn berdecak lalu mengikuti yobi "emang mukaku kelihatan ngarang ya?? ini bukan fiktif kak ini real life. bisa gak jelasin?? otakku gak nyampek..."


tapi saat tiba di ruang tengah yobi berbelok ke tangga menuju kamarnya, tidak terlalu mendengarkan shawn "kak!!! ini urgent!!!" teriak Shawn dari bawah tangga sambil berlari menaiki tangga menyusul yobi


"kunci jawabannya hanya ada dalam orang yang memberimu soal" yobi membuka pintu kamarnya diikuti shawn


Shawn kembali berdecak, punya kakak satu berharap yang masuk akal sedikit "ya ampun... padahal pertanyaan ku sepele tapi aku gak dapet jawaban apa apa dari kakak"


yobi memilih tidak menanggapi pertanyaan aneh Shawn hari ini. dia meraih ponselnya yang berada di nakas dekat tempat tidurnya.


tiba tiba dia tersenyum sendiri melihat isi ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana "terpesona... aku terpesona.... melihat notif line!" kata Shawn dengan bernada sambil melongo ke ponsel yobi tapi yobi segera mendorong kepala adiknya dengan jari telunjuk, buru buru memasukkan ponsel ke saku celana pendeknya lalu mengambil Hoodie di lemari "mau pergi??" tanya Shawn sambil duduk di ranjang yobi. yobi tersenyum dan mengangkat kedua alisnya "ikut dong?!"


"gak boleh! bocil gak boleh ikutan ngedate"


"bilangin bunda ah!!" ancam sang adik


"17 years it's legal for relationship little boy!!!" Shawn berdecak lalu membaringkan tubuhnya di ranjang sang kakak. dia juga boring di rumah dan pikirannya masih sedikit terganggu oleh sesuatu


yobi menuruni tangga, melihat sang bunda di bawah tangga hendak naik buru buru dia mencium pipi sang bunda "yobi pergi Bun!"


"kemana??"


"rahasia!" jawab yobi sambil terus berjalan ke pintu utama. bundanya hanya geleng geleng kepala


"jangan aneh aneh!"


"mau kencan dia Bun....." suara Shawn dari dalam terdengar. yobi tak ambil pusing dia segera berlalu ke rubiconnya.


******


Elsa tersenyum sendiri melihat isi pesan group chat wannable. Debby memang mood booster banget, dia menceritakan bagaimana dirinya mengalami beberapa kecelakaan yang tiba tiba membuat dia terjebak di rumah tetangga crush-nya. siapa lagi kalau bukan kak almet biru, Rossy! her crush until die! dari tulisan pesannya saja anak itu sudah kelihatan excited banget apalagi kalau anak itu benar benar ada di hadapan Elsa sekarang. sayangnya dia sedang di luar kota akhir pekan ini bersama keluarganya.


Elsa beranjak dari sofa ke dapur, pagi di akhir pekan yang malas bahkan jam 8 pagi dia belum juga mandi. Elsa ingin makan dan berniat memasak apa saja yang bisa dia makan.


bel apartment berbunyi membuat Elsa menaruh kembali celemek yang hendak dia pakai.


Elsa mengernyit, kenapa orang ini??? mau apa dia??? mereka tidak sedekat itu kan? "ada apa?" tanya Elsa. wajahnya benar benar menunjukkan permusuhan. ingat kejadian waktu itu salah satunya karna dia bukan?!


orang itu menunjukkan bingkisan mungkin makanan "boleh masuk?" tanyanya


Elsa mengangguk, terpaksa!


orang itu duduk di sofa, Elsa berlalu ke lemari es mengambilkan minuman. tapi pikirannya kacau, bagaimana kalau orang itu mempunyai sifat buruk seperti teman temannya?? circle pertemanan sangat mempengaruhi watak seseorang kan? Elsa takut dan khawatir sendiri dengan pikiran pikiran over thinking.


Elsa melangkah ke sofa dengan pikiran bagaimana caranya menghindari orang itu. "gak perlu repot repot, gue bawa sendiri?!" katanya sambil mengeluarkan minuman kaleng yang mengandung alkohol. mata Elsa melotot, dirinya semakin panik.


dia melirik ponselnya yang tergeletak di meja sofa. lalu berinisiatif untuk menchanger ponselnya. orang itu mengangguk dan mempersilahkan. sesampainya di kamar, Elsa mondar mandir.


bagaimana jika seperti film film? seorang ayah tiri memperkosa anak tirinya?? oh please, Elsa semakin panik.


pikirannya begitu sinetron!


tapi worth it kan mengingat orang itu hanya selisih 8 tahun dengan Elsa sedangkan dengan mamanya yang selisih belasan tahun saja orang itu melakukannya.


oh no, help me, so please!!!


Elsa butuh bantuan untuk menemaninya sekarang. Debby!! tapi anak itu sedang di luar kota. Levita!! Levita tidak bisa pergi kemanapun tanpa jemputan Elsa atau Debby. salah satu efek perjodohan bodoh yang di lakukan Levita.


dengan perasaan khawatir dia pun mengirimi line kepada yobi, belakangan cowok itu lebih intens berkomunikasi dengannya ya... walau sering berakhir dengan kekesalan Elsa juga.


"Lo sibuk??? bisa datang gak??"


tanpa di duga yobi langsung membalasnya "*lo dimana?"


"apartment"


"otw*"


Elsa bernafas lega. kenapa yobi??? karna cowok itu selalu datang di saat saat terburuk Elsa dalam hidupnya. dan cowok itu... salah satu alasan Elsa. selain itu juga... yobi... yang memberi alasan harapan itu. karna yobi orangnya. if it's not him, it's not anyone. maybe?!


dan Elsa tidak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan tentang yobi lainnya. tanyakan saja pada hatinya. diantara setiap people yang come and go, orang orang yang tidak pernah stay dalam hidupnya kenapa yobi orangnya?


padahal sebelum sebelumnya anak itu selalu protes tentang satu langkah apapun yang Elsa lakukan tapi karna itu pula dia bisa berproses.


yobi bahkan selalu mengoreksi setiap tingkahnya tapi sesungguhnya yobi mengintropeksi dirinya agar selalu bisa hadir lebih dekat dengan kehidupan Elsa.


Elsa keluar dan duduk di sofa __ di hadapan Thomas, sang tamu yang tidak ada kesan baik di mata Elsa sekarang "ada apa?" tumben kan Thomas datang ke apartementnya dan dia tau tempatnya pasti dari mamanya kan? alasan mamanya memberikan alamat apartment nya apa??


Thomas membuka makanan di depannya, seperti sudah di rencanakan dengan matang "pasti belum makan" tebaknya yang memang benar "sebagai permintaan maaf gue soal... kemaren"


Elsa menarik nafasnya, tapi sebenarnya nafasnya masih tertahan di tenggorokan. khawatir, jangan jangan ada obat tidurnya lalu setelah Elsa tertidur Thomas bisa melakukan apapun dalam keadaannya yang dalam pengaruh obat tidur. Elsa menggeleng geleng kecil


Thomas tertawa "aman! makanan ini halal dan gak ada racunnya. makanlah!"


"gak biasa sarapan pagi!"


Thomas mengangguk seolah mengerti "kenapa gak coba mulai tinggal bareng nyokap Lo aja sekarang?!" saran Thomas yang tiba tiba membuat Elsa mengerutkan keningnya. please, disana sudah sangat tidak aman sekarang, di rumahnya, yang dulu penuh kenangan canda dan tawa "ya gak... Lo kan tetep butuh seorang mama dan janji deh... kita gak bakal pergi pergi lagi"


"pergi lagi juga gak apa apa. udah biasa gue sendirian..." Elsa berusaha bersikap lebih tenang, dia menyandarkan punggungnya ke sofa


"sorry ya..."


"for what??" Elsa kembali duduk tegak memperhatikan Thomas


"for anything! gara gara gue Lo jadi.... jauh sama nyokap Lo belakangan ini dan juga__"


Elsa melengos, baru sadar ini orang?? kemungkinan ortunya cerai juga gara gara Thomas kan?? "bukan gara gara Lo... takdir!" bukan gara gara takdir juga. semuanya terjadi karna emang udah waktunya untuk terjadi. sakit tapi mau gimana? gak kuat? iya, kadang. sering malah.


"gue gak mungkin bisa gantiin sosok bokap Lo..." Elsa menatap tajam Thomas, Thomas yang awalnya nunduk jadi menatap Elsa juga "maksudnya..." Thomas jadi salah tingkah "seenggaknya kita bisa berteman kan?"


what wrong???


dia ke sana untuk mengajak Elsa menjalin sebuah pertemanan??? Elsa tergelak tidak percaya. yang benar saja dan pikirannya sungguh sudah mulai lebih banyak tenang melihat Thomas yang kelihatannya juga tidak akan macam macam. khayalan bunyi sirine polisi atau ambulans yang ada di kepalanya mulai memudar.


"Lo mau gue Nerima Lo??" tebak Elsa sambil tergelak tidak percaya


"gak maksa. cuman... kalo Lo nganggepnya gitu okelah, Lo gak harus benar benar jadi anak tiri gue tapi gue mau kita bisa lebih dekat sebagai... teman mungkin?!"


bukankah dari awal tujuan mereka berbeda? tapi... "bukankah kita saingan buat bisa dapetin hati mama??"


Thomas tergelak lalu meminum minumannya "kita punya porsi masing masing di hati nyokap Lo!?"


"Lo cinta sama mama?" Elsa menatap intens Thomas, yang di tatap tak kalah tajam menatap Elsa. ini pertanyaan yang ada di benak Elsa selama ini.


"penasaran??" tanya thomas sambil tersenyum, Elsa bergeming "butuh jawabannya sekarang???" Elsa melengos, bukan jawaban yang dia dapat "atau... nanti... setelah__"


bel apartment berbunyi. yobi. Elsa jadi ingat, dia mengundang yobi datang hari ini. argh.... betapa malunya Elsa sudah over thinking dan menyuruh yobi datang tanpa alasan akurat. sebuah ke khawatiran yang seharusnya tidak dia khawatirkan. pikiran nethink sinetron yang harusnya di hilangkan.


Elsa membuka pintu apartment, rasanya jadi kikuk sendiri. kalau yobi menanyakan maksud Elsa menyuruhnya datang??? padahal pikirannya sudah drama banget. saat yobi datang dia akan ketakutan dan.... di tenangin oleh yobi. di peluk dalam dekapan nyaman yang membuatnya merasa jauh lebih aman tapi semua pikiran negatif nya ternyata tidak ter eksekusi.


yobi tersenyum saat Elsa menyuruhnya masuk, dia bahkan meledek Elsa belum mandi lalu mengacak rambut Elsa. Elsa memasang ekspresi kesalnya. tapi senyum yobi memudar mendapati seorang pria di sofa ruang tamu apartment Elsa dengan sekaleng bir di tangan


"pacar??" tanya Thomas kepada Elsa. yobi memperhatikan Elsa, ingin tau jawabannya.


"dia__"


"salah satu alasan kenapa Lo nolak tinggal bareng kita??" tebak Thomas "biar bisa pacaran..."Thomas tersenyum " di apartment...." tebakan Thomas salah " berdua...." semakin salah tebakannya " gak ada siapa siapa...." dan Elsa benar benar kesal " bisa ngapain aja...." oke, dia tidak bisa menjadi teman yang baik dengan sikap sok taunya padahal sesungguhnya Elsa memikirkan perasaan yobi


Elsa mengumpat. yobi ber dekhem, faktanya itu fitnah. lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan "yobi!"


Thomas tersenyum dan menerima uluran tangan yobi "Thomas. bokap tiri Elsa!" kata Thomas tersenyum semakin lebar mendapati ekspresi bingung yobi namun kemudian yobi pun tersenyum. iya, itu pria yang menarik tangan mama Elsa dengan sedikit kasar waktu mereka bertemu di kafe dulu. yobi duduk di hadapan Thomas, samping Elsa


"Lo__??" ucapan Thomas terdengar ragu


"seperti yang Lo bilang, pacar Elsa!!!" kata yobi santai yang membuat Elsa menoleh tapi oke, itu hal biasa yang yobi lakukan kan, ngaku ngaku.


"sudah berapa lama??" tanya Thomas lagi semakin penasaran


"yang pasti sudah banyak hal yang kita lakukan...." Thomas tergelak "main di apartment.... berdua...." tunggu!!! itu tidak benar, Elsa sudah akan marah tapi seolah yobi tidak membiarkannya "gak ada siapapun... dan yang pasti.... kita bisa ngapain aja. iyakan babe?!" yobi yang sedari tadi menatap Thomas menoleh ke Elsa


Dejavu!!!


ini seperti kedatangan Yudha ke apartment Elsa waktu itu. salah memang, salah besar menyuruh yobi datang.


Thomas tersenyum renyah sambil menghabiskan minumannya. bisa gawat kalau Thomas lapor kepada mamanya dan benar benar berpikir dia dan yobi berada dalam tahap hubungan seperti itu


yobi merangkul pundak Elsa "iyakan babe?!" ulangnya sambil mencium pelipis Elsa. Tremor. seperti hujan meteor pagi hari.


adakah cara untuk mengulang cerita??? sebuah jam waktu yang ingin Elsa rubah dengan kedatangan yobi dan Thomas.