Because Of You

Because Of You
Bab 17 : Menangis



Baru Kali ini aku melihat sisi lemahnya, ingin rasanya aku melindunginya


____________________________________


HUBUNGAN Amazora dengan Arva sekarang lebih dekat. Seolah sudah saling mengenal satu sama lain. Saling pengertian, memahami walaupun kadang juga sering bertengkar gak jelas. Sedangkan Aoi dan Rey? Mereka malah sering berkencan tidak seperti Amazora yang kadang masih menolak.


Di malam yang penuh dengan kelabu, tiba-tiba di beritahukan sebuah kecelakaan pesawat terjadi. Dari Jakarta-Yogyakarta. Mendengar berita itu, sesegera Ocha, Rey dan Arva pergi mendatangi bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Karena jelas, salah satu penumpang di dalam pesawat itu adalah ayah Arva dan Rey. Belum ada informasi lanjut mereka bertiga menunggu disana.


***


"Pacar lo kemana?" sindir Lisa yang kala itu Arva tidak berangkat sekolah.


"Belum pacaran."


"Berarti ngarep donk. Aduh sana telpon dulu kalau kangen."


"Gak lah. Biarin, diakan emang gitu."


"Enggak ma, setelah deket sama lo dia jadi sering masuk lho. Telpon gih siapa tau ada apa-apa denganya."


Mendapat nasihat dari Lisa, iapun menurunkan gengsinya untuk pertama kali menghubungi Arva. Satu kali, dua kali, tiga kali tidak ada jawaban dari Arva yang seketika membuat Amazora bingung. Hingga ia putuskan untuk menghubunginya kembali berniat ini yang terakhir kali. Dan kali ini diangkat.


"Assalamualaikum." dahului Amazora


"Waalaikumsalam," jawab seberang dengan nada serak khas habis menangis.


"Arva kamu gak pa pa? Kamu habis nangis?" tanya Amazora panik


"Tya... Ayah Tya," lirihnya mencoba tegar namun ia tak sanggup.


"Sekarang kamu dimana? Aku kesana."


"Enggak, kamu harus sekolah."


"Gak, cepet sekarang kamu dimana? Apa perlu aku harus tanya Rey?"


"Iya iya, aku di Bandara Adi Sucipta."


"Tunggu aku disana." tutup Amazora dan bergegas pergi membolos untuk pertama kalinya.


Sekitar 45 menit Amazora baru sampai di bandara. Ia mencari Arva di sekerumunan banyak orang disana.


"Ada apa?" gumamnya di tengah melihat banyak orang menunggu di bagian informasi.


"Tya," teriak seseorang di belakang yang seketika itu Amazora berbalik.


"Arva." yang segera di peluk oleh Arva.


"Ayah udah selamat Tya. Baru aja." senangnya.


"Ayah? Emang kenapa ayahmu?" Tanya Amazora sambil merenggangkan pelukan Arva.


Di ajaklah Amazora duduk di salah satu bangku disana. Disitu Arva menceritakan semuanya. Dengan menahan tangis dan Amazora sesegera memeluk Arva.


"Tidak apa apa. Semua baik-baik saja," kata Amazora melihat pemuda itu begitu lemah.


***


Setelah menangis cukup lama, Arva mengajak Amazora menemui orang tuanya di rumah sakit terdekat.


"Siapa Arva?" tanya Ocha-ibu Arva dan Rey


"Kenalin tante, Amazora," kata Amazora sambil menyalami tangan Ocha


"Tya. Ma." jelas Arva.


"Oalah ini tho... Ya ampun sayang kenapa sampai kesini? Gara-gara Arva ya?"


"Hah? Eee.. Eee eeenggak kok tante. Ama yang ingin kesini sendiri."


"Tante kasih tau ya, jangan mau ma tuh anak. Kekanak-kanakan." lanjutnya yang hanya di balas senyuman Amazora.


"Apaan sih mah. Tya udah suka malah di suruh sebaliknya. Nanti Arva ndeketinnya sulit lagi."


"Ya gak pa pa. Cowok kan tugasnya emang harus berjuang."


"Siapa itu Rey?" tanya ayahnya terhadap Amazora.


"Tya pah," jelas Arva kepada ayahnya yang baru aja keluar dari kamar mandi.


"Amazora om.”


"Oh, jadi ini tho pacarmu. Kok bisa sih suka ma kamu Va?"


"Astaga nih orang tua bukannya ngedukung malah ngerendahin anaknya."


"Lha iya itu pah. Aneh ya." tambah Rey.


"Gak usah ikut-ikutan deh," gerutu Arva.


Dan mereka saling tertawa melihat Arva yang mulai jengkel. Hari mulai petang Arva mengantar Amazora pulang. Serta meminta maaf kepada Hana dan Deni karena tanpa ijin membawa anak semata wayangnya ke kota. Tapi untung Hana memaklumi itu. Dan Arva pun berpamit pulang. Begitu tanggung jawab.