
"Bila 2 insan selalu bertemu disaat tidak diduga, bisakah dinamakan takdir?"
_________________________________________
PAGI hari yang cerah dengan ditemani beberapa burung berterbangan diatas sana sambil bernyanyi-nyanyi riang mengiringi langkah Amazora sendiri menuju perpusatakaan kota. Mengingat Aoi yang harus menemani Kak Andre untuk kencan bersama anak pak RT itu.
Awal Aoi menolak dengan alasan gak mau jadi 'nyamuk.' Tapi karena Kak Andre menjanjikan beberapa hadiah kepada Aoi. Akhirnya iapun menuruti Kakaknya itu. Walaupun Kak Andre selalu tebar pesona, di balik itu dia juga sangat pemalu. Pacaran saja baru pertama kali dalam seumur hidup dengan Kak Lina.
Disamping itu, di dalam perpustakaan yang begitu besar, Amazora tengah mencari beberapa buku yang berisi tentang puisi. Banyak sekali yang ia temui disana bahkan dia mengambil hampir 10 lebih buku dari berbagai rak. Di bawanya ke meja baca, seperti biasa dia lebih memilih tempat yang dekat dengan jendela.
Disamping sejuk akan angin yang menerpa. Disana juga bisa melihat pemandangan indah yang berada di depan sana. Sawah yang begitu subur dengan di latar belakangi pegunungan yang sejuk serta ada taman kecil yang banyak dihuni orang-orang sekitar. Mulai dari yang muda sampai yang tua.
Tengah membolak-balikan halaman demi halaman untuk mencari puisi yang menurutnya pas. Hingga terpampang beberapa jenis buku terbuka dan berbaris-baris seperti membentuk lingkaran. Terlalu fokus mencari sebuah puisi dan ditulisnya dalam sebuah buku kecil, Amazora sampai tidak sadar ada seseorang yang tengah berdiri disampingnya, sedikit membungkuk sambil membaca bait-bait sajak dilembaran buku yang sedang ia pegangi dengan suara lembut.
Sebatas Wanita.
.
Kumencintaimu...
Ku menyukaimu...
Ku mohon mengertilah!
Karena sekeras apapun ku berkata.
Sekeras apapun kupungkiri.
Itu tak akan mengubah apapun.
Karena, aku cuman sebatas wanita yang hanya dapat menunggumu berkata...
"milik Amazora." tertulis disana dibaris paling bawah puisi. Penasaran akan seseorang yang berada disampingnya, iapun memalingkan wajah untuk melihat siapa 'seseorang' itu.
Belum sepenuhnya berpaling. Seseorang yang merupakan Rey itu sudah berpaling menatapnya duluan. Dengan wajah yang begitu dekat jaraknya, membuat wajah Amazora memerah seperti kepiting rebus. Malu, terkejut, tegang perasaan gundah yang tercampur menjadi satu. Begitu lama moment itu terjadi hingga tiba-tiba Rey mendahuluinya
"Buatanmu sendiri?" tanyanya penuh penasaran akan puisi itu dan segera duduk disamping Amazora.
Melihat tingkah Rey yang seperti ini membuat Amazora tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Belum itu, kemarin saja dia masih malu-malu mengingat kejadian tadi malam. Sekarang tiba-tiba pangeran yang dapat memikat hati itu berada disampingnya.
Dengan menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam putih dengan kacamata yang bertengger diatas hidungnya, tak lupa ransel yang bergelantungan di pundak membuatnya terlihat keren. Ciri lelaki pintar + kutu buku pikirnya.
"Iy.. Iya Kak," jawabnya malu-malu. Pasalnya bila Rey tau fakta yang sebenarnya puisi itu adalah jeritan hati Amazora kepada dirinya.
Obrolan ringanpun terjadi hingga suara perut keroncongan Amazora terdengar. Mengingat tadi pagi dia tidak sempat sarapan dan langsung menuju perpustakaan. Mendengar suara keroncongan itu, Reypun tersenyum yang membuat si empunya merasa malu dan senang bisa melihat senyum itu terukir kembali lagi di wajahnya.
Tanpa basa-basi Rey langsung menarik Amazora untuk keluar dari perpustakaan sesudah membereskan beberapa buku disana. Dan menulis daftar pinjaman di petugas perpustakaan. Menunggu Rey mengambil mobil, dia memilih untuk duduk dipinggir taman yang tersedia ayunan disana.
***
"Kenapa gue berubah 360 sih? Biasanya gue dingin bila berhadapan perempuan, tapi ini kenapa menjadi sok akrab gini. Ah terserahlah," gerutu Rey ditengah perjalanan menuju mobil sambil mengacak-acak rambutnya karena terlalu frustasi.
***
"Yuks, masuk," ujar Rey dengan santai di dalam mobil.
Melihat Rey sudah datang, Amazora yang tidak pernah seperti ini bila dengan orang lain kecuali Aoi dan Kak Andre pun membuka pintu mobil.
"Hey! Bukan di belakang. Tapi depan," kata Rey ketika mendapati Amazora membuka pintu belakang.
"Eh.. Tap,, tapi," jawab Amazora dengan terkejut. Maklum, bila naik mobil dia pasti selalu berada di posisi belakang. Ketika sama keluarga maupun dengan Aoi dan Kak Andre.
"Udah masuk aja." akhirnya Amazora masuk di depan.
Ketika ingin menarik sabuk pengaman untuk dikenakan, sayang seribu sayang, sabuk pengaman itu malah macet, gak bisa ditarik. Melihat Amazora yang kesusahan, Rey dengan pekanya langsung mencondongkan badan mengambil sabuk pengaman disana dan memasangkannya untuk Amazora. Mendapat perlakuan yang begitu tiba-tiba seketika membuat dirinya salah tingkah.
"Sudah." kata Rey setelah membantu Amazora memasangkan sabuk pengamannya. Haduh, pasti udah merah banget wajah gue, pikir Amazora.
***
"Ini kenapa?" gumam Rey menuju rumah ketika merasakan getaran aneh di dada. Mungkinkah ia mulai tertarik dengan Amazora? seorang gadis remaja yang dapat membuat ketaran ini?
"Apa mungkin? tapi perasaan tadi biasa aja. Apa ini hanya rasa nyaman?" lanjut Rey dengan bingung.
"Hey bro," sapa Arva sambil bergelantungan di leher Rey.
"Eh buset nih adek ngagetin aja. Ada apa?"
"Lo bawa pesenan gue gak bang." sambil memeriksa ransel Rey.
"Woi bang diajak bicara juga malah melamun disana." lanjutnya dan menemukan secarik kertas yang menarik perhatiannya. "Ini apa?" tanya Arva. melihat kertas itu berada digenggaman Arva seketika membuat Rey panik dan segera mengambilnya.
"Kepo lo."
"Astaga kek Tya lo Kak. Sama-sama judes." dan meninggalkan Rey sendiri. mendengar perkataan itu memngingatkan Rey akan sesuatu.
"Hah?"
"Jawab dek."
"Enggak tau Kak. tapi rasanya menarik aja dengan tuh cewek. Kenapa?" tanya Arva bingung "Apa jangan-jangan abang mau nikungssss?" lanjutnya di buat sok panik berniat menggoda Kakaknya itu.
"Oh gitu. yaudah pergi sana." sambil mendorong Arva.
"Eh buset nih abang sensi amat. Lagi PMS kali ya?"
"Satu lagi. Lo itu suka. Jangan sakitin dan mainin hati perempuan. dia lemah dari apa yang lo liat." nasihat Rey dan berlalu pergi.
"Idih dia kenapa sih? merinding gue.... hiiihihihi," gumam Arva yang sudah di tinggal sendiri.
***
Ke esokan harinya setelah melalui hari-hari berwarna yang begitu terasa seperti mimpi, kini kembali ke hari yang membosankan. Di dalam ruang perpustakaan sekolah, Amazora menemani Arva yang sedang mengerjakan soal. Di tunggu hingga mengisi semua jawaban di lembar yang tersedia dan mengoreksi setelah dia selesai menjawab.
"45! Sangat jelek," ujar Amazora meletakkan kertas jawaban Arva di depannya yang sudah ia beri nilai.
"Pelajari lagi dibagian yang salah kemudian coba ulang." perintahnya kepada Arva.
"Gak mau," tolak Arva tanpa peduli memainkan bolpen sambil meletakkan kepala di atas meja.
"Lo!!! cepat selesaiin soalnya agar gue bisa terbebas dari lo." bentak Amazora dengan tegas.
"Gak mau, ya gak mau," jawabnya dengan nada manja, sambil mengerucutkan bibir. Merasa kesal akan balasan Arva, Amazora hanya bisa menghela nafas panjang.
"Siapa nama lo?"
"Hah?"
"Gue tanya siapa nama lo?" ulang Arva.
"Amazora."
"Nama panjang."
"Buat apa?"
"Untuk memastikan," jawab Arva tanpa respon kecuali diam.
"Gue tanya siapa nama panjang lo." ulang Arva tak sabaran.
"Buat apa? Pentingkah lo tau itu?"
"Gue bilang untuk memastikan."
Disamping itu, tiba-tiba terdapat notifikasi masuk dari Deni-ayah Amazora.
"Hey! Lo dengar gak sih?!" bentak Arva yang merasa di cuekin gadis dihadapannya karena terlalu mementingkan pesan yang ada diponsel itu.
Geram akan hal itu, Arva pun mengambil ponsel itu yang mendapat bentakan Amazora
"Tyandra Mazora. Puas?!" jawabnya sambil merebut ponsel di gengaman tangan Arva serta mengambil tasnya untuk segera pulang meninggalkan Arva yang masih berdiri disana sendirian.
"Tadi itu apa?" gumam Arva seorang diri yang masih berdiri di dalam perpustakaan dengan keadaan terkejut tak percaya.
"Apakah tadi dia menangis? Menangis karna ulah gue?" gumamnya lagi dengan pandangan kosong tak percaya.
Beberapa kali ia mencerna akan kejadian tadi, iapun akhirnya mengacak-acak rambut, kesal, frustasi dan kecewa telah melakukan hal yang membuat gadis itu menangis.
***
Sesampai di rumah sakit yang Deni kirimkan alamatnya kepada Amazora, iapun dengan cepat langsung menuju lantai 3. Mencari ruang melati kamar nomer 5.
"Seumpama gue tadi gak berurusan sama anak bermasalah itu, mungkin gue gak telat," gumam Amazora
Menemukan kamar yang dicari, iapun membukanya. Nihil, tidak ada siapapun disana.
"Ama?"
"Tante, ibu sama ayah dimana?" tanya Amazora kepada Rini-ibu Aoi yang juga berada disana.
"Ibumu sedang operasi. Ayahmu ada di depan ruang operasi menunggu ibumu disana."
Diberitahu info itu, Amazorapun berlari mencari ruang operasi tempat ibunya di operasi. Sebenarnya ibunya mengalami kecelakaan lagi ketika sedang pergi bersama Deni. Untungnya Deni tidak pa pa, melainkan istri tercintanya terpental jauh di aspal. Sadar akan hal itu, denipun menelepon ambulan beserta mengabari Amazora.
"Ayah! Ibu gimana?" teriak Amazora diseberang sana sambil berlari menuju Deni.
"Sini nak." rentang tangan deni untuk memeluk anaknya.
Beberapa lama menunggu akhirnya pintu operasi terbuka. Syukurlah operasi berjalan lancar dan Hana dapat di pindahkan ke kamar inap.