
“Astaga, ternyata kalian berdua?”
_________________________________________
DI Sore hari menjelang malam, Amazora dan Aoi masih setia berada di sekretariatan. Dengan begitu banyak tugas, laporan yang menumpuk. Mereka dengan senang hati menyelesaikan bersamaan music ost anime yang sedari tadi diputar. Waktu tepat menunjukkan pukul 17.15 mereka sudah menyelesaikan. Karena besok libur tanggal merah, mereka menyempatkan diri pergi ke festival malam yang tidak jauh dari sekolah.
"Ama, ayo coba main itu. Sepertinya seru." Tunjuk Aoi dengan permainan pancingan ikan yang setiap dapat ikan dapat hadiah.
"Membosankan. Bagaimana jika kita naik gondola aja. Kek di dunia anime."
"Ok. Boleh juga."
Belum sempat berbalik, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mungkin seperantara anak Tk yang tersesat. Ia mencari Kakaknya yang entah kemana.
"Kakak," Lirihnya sambil memegang tangan Amazora seolah takut.
"Ada apa adik kecil?" Tanya Aoi.
"Kakak," lirihnya tanpa membalas pertanyaan Aoi.
"Kakak? Kamu mencari Kakakmu?" yang hanya mendapat anggukan dari anak kecil cowok itu.
Disisi lain, ada 2 pemuda yang sedang seru-serunya bermain tembak-tembakan botol yang mana jika terkena botol dengan nomer yang paling tinggi ia akan mendapat hadiah. Bisa berupa buku, boneka atau lain sebagainya.
"Yes! Kena. Rey gue menang dari lo."
"Ah lo mah jago banget ya." Obrolan sang kakak beradik yang dengan antusias saling bertarung.
"Dio, dio mau apa? Biar Kakak yang tembakin. Minta nomer berapa?" Tanya Arva tanpa menoleh adiknya.
"Dio.. Dio.. Di-" tolehnya.
"Rey, Dio mana Rey?" Tanya Arva terkejut ketika melihat saudara kecilnya menghilang.
"Di belakang," Jawab Rey santai sambil bersiap-siap untuk menembak.
"Belakang dari hongkong. Coba lihat oi."
"Kok dari hongkong sih, kita tuh dari Indonesia."
"y."
"Singkat amat Va. Nih mas, gue mau mbayar." Kata Rey kepada penjaga botol itu. "Yuk cari." Lanjut Rey santai.
Di samping itu, Amazora dan Aoi yang tidak jadi bermain gondola lebih membawa pemuda kecil itu ke kedai coklat. Disana mereka berharap bahwa Kakak pemuda kecil ini dapat menemukan.
"Kakak ayo naik sangkar burung." Tunjuk pemuda itu pada gondola.
"Bentar, kita harus nungguin Kakakmu dulu," Kata Amazora.
"Tapi aku mau."
"Ya nanti ya. Setelah Kakakmu ketemu. Oke?!"
"Oke." Dan membalas.
"Hayoo pada ngapain? Buat janji segalak." Tanya Aoi yang baru datang bersama susu coklat hangat.
"Nih diminum. Oh iya, namamu siapa dek?"
"Dio Kak," Jawabnya sambil meneguk susu hangat itu.
Setelah mencari dimana-mana sambil meneriaki nama Dio, akhirnya mereka berdua menemukan Dio bersama 2 gadis. Mereka mendekati kedai itu. Setelah pasti bahwa itu Dio, ia menepuk adiknya yang seketika membuat Dio, Aoi dan Amazora berbalik.
"Arva.."
"Tya.."
"Rey.."
"Aoi."
"Kakak! Ayo kita naik sangkar burung. Katanya kalau Kakakku udah ketemu kita naik," Kata Dio semangat sambil menggenggam tangan Amazora.
"Ta..tapi.."
"Ayolah Kakak." Rengek Dio kepada Amazora.
"Kok kalian? Bisa bersama?" Tanya Aoi penasaran, yang diikuti Amazora.
“Nanti gue jelasin. Sekarang ikut gue," Kata Arva sambil menarik tangan Amazora dan menggendong saudara kecilnya itu. Meninggalkan Aoi dan Rey disana sendiri.
"Kita mau kemana? Lepas!" Kata Amazora melepaskan gengaman Arva. Dan tanpa sadar, mereka teringat dengan kejadian berpelukan tempo hari lalu dan seketika saling berbalik membelakangi sambil memegang dada masing-masing.
"Bukannya lo udah janji mau naik gondola dengan Dio?" tanya Arva mendahului.
"Ah iya Tapi..."
"Tapi apa? mau ingkar dengan anak kecil? Ayolah Kakaknya sudah datang jadi kita naik aja."
"Kita? Lo ikut?" Tanya Amazora dengan heran.
"Iyalah, gue kan Kakaknya. Dia harus ada dijangkauan gue."
"Apaan? Tadi aja bisa sampai hilang," Gumam Amazora dengan pelan.
"Apa? Apa yang baru aja lo omongin?"
“Gak ada."
"Jangan bohong!"
Tak dihiraukan oleh Amazora yang sudah naik gondola. Iapun mengikutinya.
Disisi lain, Aoi yang tengah bersama dengan Rey sedang berbincang mengenai tadi. Tentang fakta bahwa Arva dan Rey yang merupakan saudara. Di lain tempat, Arva juga mengatakan hal yang sama dengan Amazora.