Because Of You

Because Of You
Bab 2 : Pertemuan Kembali



HARI senin pun tiba. Rutinitas biasa pun dimulai. Upacara bendera benjalan lancar penuh khidmat-katanya. Walaupun masih banyak yang dijemur di depan karena atribut tidak lengkap.


Tapi yang khusus hari ini adalah tiadanya bimbingan ajar mengajar. Disebabkan beberapa mahasiswa kampus sebelah akan mengadakan sosialisasi untuk kelas 3. Sosialisasi pun terlaksana dengan membosankan. Sebab apa yang diharapkan Amazora tidak terwujud.


   Disisi lain, di kelas Aoi. Disana juga terjadi begitu membosankan hingga ia izin keluar dengan alasan ke kamar kecil. Tetapi, ia malah berkeliling gedung sekolah hingga berhenti di depan lapangan basket. Disana terlihat mahasiswa yang disukai oleh Amazora sedang melakukan teknik lay up.


Melihat ada bola melayang kearahnya secara refleks Aoi memukul balik mengenai kepala mahasiswa itu hingga terjatuh. Merasa bersalah, iapun langsung berlari mendekat.


"Ah maaf Kak. Kakak baik-baik saja?" tanya Aoi dengan penuh bersalah.


"Baik? Menurut lo baik setelah lo pukul pakai bola?!" tegasnya.


"Maaf, refleks Kak. Kalau gitu saya antar ke uks dulu Kak." ajaknya sambil memegang lengan.


"Gak usah." tepisnya. Bukan Aoi namanya kalau dia mudah menyerah. Ia sesegera menarik mahasiswa itu untuk ke uks. Berat sih, apalagi mahasiswa itu memberontak.


Tapi atas usaha, akhirnya sampai juga di depan uks. Sesegera mungkin ia menyuruh mahasiswa itu untuk duduk. Disamping itu Aoi mengambil beberapa obat untuk mengobati lukanya.


   Disisi lain, Amazora yang juga terlalu bosan pun akhirnya izin keluar mencari udara sejuk. Ia memilih berada di atap karena baginya disana sangat nyaman, damai dan tenang.


Sayang seribu sayang, ketenangan itu tak berlangsung lama ketika terdengar suara pintu terbuka menandakan ada seseorang yang datang.


Dengan ketakutan ketahuan membolos, sesegera mungkin Amazora berbalik. Hah? Arva? Buat apa dia kesini? Dia terlihat begitu kebingungan hingga suara pintu terbuka kembali terdengar.


"Arva! Diam kau disana!" perintah pak Zul-guru bk.


Melihat pemandangan tak menenangkan ini, Amazora mencoba untuk melarikan diri. Sialnya dia terlambat.


"Hey kau! Diam juga disana!" perintah Arva kepada Amazora. Nasib, Amazora secara tidak langsung akan ikut masalahnya si bermasalah ini.


"Eh, ada Ama.." kata Pak Zul dengan basa basi.


"Ah iya pak." jawab Amazora dengan penuh ketakutan akan ketahuan membolos.


"Mumpung ada Ama. Ama kan ketua osis, bisa bantuin bapak gak?"


"Insyaallah kalau bisa, akan saya bantu pak."


"Tolong ajarin anak ini" sambil menunjuk Arva dengan tongkat handalan pak Zul "sopan santun, tata krama dan bantuin dia belajar sekalian ya Ama. Bisa kan? Dia kan udah kelas 3."


"E..eh. Anu... Anu.. Pak, gimana ya? Eee-" jawab terbata-bata Amazora terpotong oleh Arva.


"Siap pak." jawab Arva dengan tegas sambil membentuk tangannya seperti orang hormat.


"Hah?" jawab Amazora dengan bingungnya sampai-sampai salah satu alisanya terangkat.


"Ya udah kalau gitu bapak duluan ya. Dan kau Arva jangan susahin Ama, kasihan dia."


Dah tau kasihan kenapa juga diumpanin nih anak ke saya sih pak, teriak hati kecil Amazora.


"Dan satu hal lagi. Tolong Ama obatin lukanya ya. Dia paling gak bisa ngurus dirinya sendiri." pintanya sebelum menghilang dari atap.


"Heh?" gumam Amazora tak percaya dengan mulut terbuka dan kepala yang agak miring.


"Biasa aja kalik." mengantupkan mulut Amazora dengan tangannya "gue juga gak nyuruh lo buat anter ke uks. Gue bisa sendiri kok." lanjutnya dengan penuh keangkuhan.


"Dih, siapa juga yang mau nganterin lo kesana. Mending gue balik." jawab Amazora tak acuh sambil berjalan meninggalkan Arva yang masih di atap.


"Kalau gitu, lo emang harus anterin gue ke uks." sambil menarik tangan Amazora secara paksa untuk turun kebeberapa tangga secara bersamaan.


Disepanjang jalan yang terdapat beberapa siswi disana pada menjerit heboh di karenakan Arva menggandeng Amazora. Tapi dimata Amazora, Arva sedang menyeretnya bagaikan hewan. Tak berperi kemanusiaan.


Begitupun langkah yang begitu berbeda antara Arva dan Amazora yang mengakibatkan kesusahan dalam berjalan bahkan hingga berlari kecil hanya untuk menyamakan langkahnya.


Krek.


Pintu uks terbuka, dengan Amazora yang masih memberontak minta dilepaskan. Sampai tersadar, mereka melihat Aoi sedang mengobati mahasiswa tadi tanpa sedikit penolakan bahkan merasa cukup nyaman. Sedangkan Aoi dan mahasiswa itu melihat Amazora yang sedari tadi digenggam oleh Arva-lembut dimata mereka.


Tanpa sungkan, Arva kembali menarik Amazora masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk ditempat tidur. Sedangkan Arva mencari beberapa obat luka untuknya.


"Nih, obatin!" perintah Arva sambil memberikan beberapa obat kepada Amazora.


"Hah? Punya tangan kan? Masih sembuh kan? Gunain!" jawabnya berusaha untuk turun dari ranjang itu. Namun sesegera ditahan oleh Arva.


"Obatin gue atau gue bilangin pak Zul karena lo gak mau menjalani perintahnya." ancamnya. Sebenarnya sih bukan masalah. Hanya saja Amazora udah gak mau ribet lagi makanya dia mau mengobati. Setelah mengisyaratkan kepada Aoi bahwa dia akan menjelaskan semuanya secara detail.


"Ternyata dibalik sifat dingin lo ada sisi lembutnya juga ya." ujar Arva. Merasa dicuekin Arva pun kembali marah hingga membuat jengkel Amazora akan sifat kekanak-kanakan Arva dan menekan lukanya dengan begitu kuat. Sampai-sampai dia menjerit kesakitan.


"Bisa ngobatin gak sih? Hah?" bentaknya. "Sakit tauk." lanjutnya dengan nada sok manja. Yang mendengarnya pasti langsung merasa mual-jijik.


"Enggak! Makanya obatin aja sendiri. Nih." melemparkan kapas di samping ranjangnya dan pergi keluar meninggalkan Arva, Aoi, serta mahasiswa itu.


***


Ditaman dekat perumahan Anggrek, Aoi dan Amazora duduk disana sambil menikmati es cream coklat. Disana mereka saling menjelaskan satu sama lain tentang masalah tadi. Mereka saling terbuka akan perasaan masing-masing. Yang faktanya Amazora memiliki rasa kepada Rey-mahasiswa itu.


***


Disisi lain, di dalam rumah mahasiswa bernama Rey tadi sedang mengadakan makan malam. Belum berlangsung karena sedang menunggu seseorang yang belum datang.


Tidak peka, mungkin karena sudah sangat lama keluarga itu menunggu kedatangannya. Hingga suara pintu depan pun terbuka dan mereka yang menantinya pun tak sia-sia walaupun sudah sangat lama.


"Aku pulang." kata seorang pemuda yang masih berusia anak SMA-an dengan seragam yang sudah terlihat tidak rapi dipakai serta beberapa kancing yang sudah menghilang dari asalnya.


"Lama banget. Cepat duduk! Kami capek nungguin lo buat makan." gerutu Rey sambil menyuruh adiknya untuk segera menempatkan diri.


Mendengar perintah Kakaknya iapun langsung merespon dengan sesegera mungkin duduk disampingnya. Walaupun adiknya semaunya sendiri, tapi ia masih menghormati keluarganya. Tidak ada masalah di dalam sana. Damai, tentram.


"Rey, Ar ini mama masakin makanan kesukaan kalian. Dimakan ya."


Ocha-mama Rey dan Arva-pun menyajikan makanan untuk 2 anak lelakinya itu beserta suaminya untuk makan bersama setelah sekian lama tak berjumpa dikarenakan Rey habis study banding ke Jepang.


Dia pintar berkebalikan dengan Arva. Tapi walaupun berbeda, mereka saling menyayangi dan menghormati dengan cara mereka masing-masing.


Sesudah acara makan malam selesai mereka langsung menuju kamar-se kamar. Bergiliran mandi hingga yang satu asyik main game-Arva-yang lainnya fokus belajar-Rey.


"Kak." panggil Arva mendahului pembicaraan.


"Ya?" jawab Rey masih fokus dengan beberapa pelajaran di depannya.


"Lo benar abang gue kan?"


"Maksud lo? Mbak lo gitu?"


"Ih bukan woi!! Tadi, saat di uks. Tadi benar lo bang?"


"Lha tadi benar lo juga?" tanya Rey melemparkan.


"Iyalah."


"Yaudah sama."


"Beneran? Gak biasanya lo mau disentuh sama cewek kecuali mama bang."


"Lo juga Ar, tadi lo mau disentuh wajahnya. Padahal biasanya bila ada yang megang aja udah marah. Kalau cowok dipukul, kalau cewek di dorong. Tapi tadi gue lihat lo malah genggem sambil narik. Maksa banget lo tuh." canda Rey.


"Wah, kalau gue mah beda bro. Kalau gue cuman penasaran sama tuh anak, dia itu terlalu serius, dingin dan anehnya Kak...-" hentinya disengaja.


"What?" dengan penuh penasaran akan kalimat menggantung adiknya itu.


"Dia... gak kenal gue." jawabnya datar sambil jengkel..


"Apa? Bwahahahah." tawa Rey pun pecah "beneran lo? Masak gak kenal sama anak bermasalah ini?"


"Yee kalau bermasalah dia tahu. Tapi cuman sekedar tau. Dia aja gak tau kalau gue teman sekelasnya. Padahal jelas-jelas gue duduk dibelakangnya."


"Mungkin aura lo itu abstrak. Bwahahaha."


"Ketawa aja terus sepuasnya." sambil melempar batal ke wajah Rey.


"Sorry adik gue yang imut imut... Btw, siapa namanya?"


"Tya. Tyandra Mazora. Biasa dipanggil Amazora. Tapi khusus gue manggilnya Tya."


"Ya ya terserah." jawab Rey tak mau peduli.


"Lha lo gimana? Tau namanya?"


"Siapa?"


"Tadi yang ngobatin lo lah. Seseorang yang bisa buat abang diam ketika diobati." sindir Arva.


"Yeee bukan diem cuman kahanan aja. Namanya Aoi Shinomia dia ngenalin sendiri tanpa gue tanya. Aneh banget."


"Aneh.. Aneh juga suka." goda Arva.


"Siapa?"


"Lo lah bang. Lo suka Aoi, lebih tepatnya sahabat Tya."


"Yeee, bukan lah. Yang ada lo yang suka ma Tya."


"Gue juga enggak. Eehh untuk saat ini sih belum. Udah ah bang, gue dah ngatuk. Selamat malam."


"Malam." melanjutkan belajarnya


Mungkinkah, ini akan menjadi cinta segitiga? Batin Rey.