
yobi tidak melepaskan pandangannya dari wajah Elsa sampai rasanya cewek itu ingin menyembunyikan wajahnya di balik selimut saja. mereka berada di balkon apartment Elsa. yobi mengantarnya pulang sejam yang lalu tapi cowok itu belum terlihat ada inisiatif untuk balik.
beralaskan karpet tebal membuat yobi asyik berbaring memainkan jari jari kaki Elsa. Elsa fokus dengan ponselnya mengalihkan rasa salting karna yobi terus terusan memandangnya.
"Lo cantik banget!" ucap yobi tanpa kedib. sebenarnya dari tadi yobi kenapa sih?? sangat aneh tau gak. Elsa jadi kurang nyaman
"apa sih?!" elaknya padahal sudah salah tingkah tingkat kuadrat.
yobi menarik nafasnya dalam berbaring di pangkuan Elsa lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. sudah jam 10 ternyata tapi dia masih kelihatan enggan untuk pulang
"besok gue jemput?!"
"hm!!" Elsa mengiyakan hanya dengan bergumam, dia membaca quote quote milenial di Twitternya.
yobi bangun dari tidurnya lalu mencium pipi Elsa "gue mau balik!"
Elsa meletakkan ponselnya "pelan pelan, jangan biasakan bawa mobil kayak di arena F1"
cup!
yobi menjawabnya dengan sebuah kecupan
Elsa lantas bangun, berjalan menuju meja rotan dan merapikan beberapa alat tulisnya "ternyata Lo aktif banget ya saat menjadi seorang pacar!"
yobi tersenyum dan berdiri menghampiri Elsa "masa cewek secantik Lo di anggurin?!" Elsa mendesis dan memukul yobi "gak mungkin kan, mana tahan!!" Elsa kembali memukul yobi tapi yobi meraih tangan cewek itu, membalik tubuhnya lalu memeluknya dari belakang menghadap keluar balkon.
lampu lampu berkilau di tengah pekatnya malam kota Jakarta. yobi meletakkan dagunya di pundak Elsa. Elsa hendak melepaskan rangkulan yobi tapi yobi menahannya
"katanya pulang!!"
"bentar... masih kangen!"
Elsa terdiam. namun tiba tiba yobi mengangkat dagunya dari pundak Elsa, melingkarkan lengannya di leher Elsa, mencium pelipisnya kemudian berbisik di telinga Elsa "love you!"
Elsa memutar badannya menghadap yobi, memeluk pinggangnya lalu menciumnya sekilas. yobi berdecak lalu melihat ke arah samping. Elsa menciumnya lagi sekilas. yobi kesal, harusnya Elsa menahan ciumannya lebih lama.
tidak tahan yobi duduk di kursi rotan lalu menarik tubuh Elsa agar duduk di pangkuannya. kedua lutut Elsa berada di sisi kiri kanan paha yobi. kursi rotan itu harusnya hanya muat untuk satu orang saja.
"berani memulai, gak boleh mengakhiri" ucapnya lalu menekan tengkuk Elsa. membidik bibirnya dan menuntun tangan Elsa agar melingkar di lehernya. menyatukan lidah mereka lalu menghisapnya.
Elsa melepas tautan bibir mereka "pulang!"
"hm!!" yobi menangkup kedua pipi Elsa dan menyatukan bibir mereka kembali, mengelus lembut pipi Elsa dengan jari jempolnya lalu jemarinya beralih memasuki celah rambut Elsa.
permainan yobi selalu lembut, itu yang membuat elsa nyaman. sepertinya yobi begitu paham bagaimana cara memperlakukan pasangannya.
yobi mengelus halus lutut Elsa lalu berjalan semakin ke atas, menelusup ke dalam hot pant Elsa. Elsa menegang mendapati tangan yobi menggerayangi area pahanya.
Elsa dengan sengaja menggigit bibir yobi sedikit keras, saat cowok itu memekik sakit Elsa buru buru turun dari pangkuan yobi "Lo beneran gak beres!" protes Elsa
yobi kembali menarik tangan Elsa hingga dia kembali terjatuh di pangkuan yobi "tapi kan kita mainnya aman!"
Elsa kembali bangun dari pangkuan yobi, dia memejamkan matanya kesal. hatinya sungguh lemes menghadapi cowok setipe yobi. iman nya udah terlalu minim untuk menghadapi cowok modelan yobi yang mungkin ciuman saja udah pro.
"mulai sekarang gak ada ciuman ya...!!!" putus Elsa, bisa kebablasan kalau terus terusan begitu.
"oke!" kata yobi santai tanpa beban "kecuali kalo ciumannya ada permission nya! kan kesepakatan berdua!"
"terserah! pulang... entar bunda khawatir!!" Elsa meraih tangan yobi untuk bangun tapi cowok itu lagi lagi mengambil kesempatan dan mencium tangan Elsa
"oke, pulang!" yobi bangkit dan merangkul pundak Elsa menuju pintu keluar tapi sebelum membuka pintu yobi kembali mengecup bibir Elsa.
Elsa mencubit pinggang yobi "iihh tuh kan, baru di bilangin juga!"
"emang ngapain??"
"barusan Lo ngapain?" Elsa melotot, yobi menarik hidungnya gemas
"gak ngapa ngapain!"
"itu tadi bukan ciuman babe?!"
"lah terus?"
"ciuman yang sebenarnya gak seperti itu tapi seperti ini"
yobi menarik pinggang Elsa dengan satu tangannya, spontan cewek itu mendekat tanpa celah. tangan yang lainnya memegang tangan Elsa agar tidak berontak.
dia kembali memperlakukan Elsa dengan lembut, tau bagaimana caranya agar Elsa membalas ciumannya. Elsa pun memejamkan matanya. satu tangan Elsa menyentuh dada yobi.
yobi menghentikan ciumannya "bibir Lo berdarah!" yobi mengusap bibir Elsa "sorry, lain kali bakal lebih pelan!" yobi membawa Elsa kedekapannya. Elsa memasukkan wajahnya ke dalam jaket yobi yang resletingnya terbuka. menghirup wangi manis cowok itu lebih dalam
sebenarnya masalahnya bukan karna "kurang pelan' tapi sejak siang yobi tidak membiarkan bibir Elsa diam. cowok itu terus menciuminya tiap kali ada kesempatan
yobi kembali mengecup kening Elsa sebelum benar benar keluar. Elsa benar benar tidak bisa mencegah yobi untuk tidak menciumnya dengan mudah. apa perlu dia menulis surat perjanjian yang di tanda tangani di atas materai?? apa ada hubungan bisnis yang tengah mereka jalin??
******
sore itu untuk kedua kalinya yobi pergi ke restaurant yang cukup jauh dari area sekolahnya, seperti beberapa bulan yang lalu. menemui seorang wanita yang masih tetap duduk di dekat jendela, memandang keluar.
iya, yobi memenuhi undangan mama Elsa untuk menemuinya di tempat terakhir kali dia meminta yobi untuk memastikan Elsa baik baik saja.
mama Elsa memesankan yobi americano latte dan sepotong red Velvet. tidak ada makanan berat karna mereka datang untuk berbicara.
"terima kasih ya nak, selama ini sudah meluangkan waktumu untuk mengangkat telfon Tante, membalas pesan pesan Tante dan... kamu benar benar memastikan Elsa baik baik saja. sepertinya anak Tante sekarang sedang bahagia!"
mama Elsa tersenyum, yobi menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "sekarang Tante ambil alih Elsa. kamu___"
"Tante!" yobi memotong pembicaraan mama Elsa, menunduk lagi kemudian melihat mama Elsa "boleh gak Tan yobi terusin buat memastikan Elsa baik baik saja?" mama Elsa terdiam menatap yobi beberapa saat "kita buat Elsa merasa baik sama sama Tan!" yobi menunduk lagi lalu melihat sepotong red Velvet di depannya.
mama Elsa tersenyum, lalu meminum jus avocado nya buat menutupi senyum itu "sepertinya perasaan kalian jauh lebih berkembang sekarang?"
yobi menatap mama Elsa dan tersenyum salah tingkah "yobi sayang elsa Tan, lebih sayang dari sebelum sebelumnya tapi entahlah dari dulu emang sayang. cuman sekarang aku ngerasa ingin menguasainya!!!"
mama Elsa tersenyum dan menoleh ke samping. bocah di depannya bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya "sekarang hubungan kalian berada dalam tahap apa??"
yobi memutar gelas americano latte lalu menegakkan duduknya "yang jelas pacaran Tan, tapi nanti saat yobi udah lebih pantas buat Elsa dan sudah siap berumah tangga, yobi akan datang menemui Tante dan... om. sesayang itu Tan yobi sama Elsa... sesayang yang gak orang lain tau!"
mama Elsa diam mendengar penjelasan yobi. dia menunduk, memilin jari jarinya di bawah meja. "restuin kita ya Tan bagaimanapun surga Elsa tetap Tante?"
"sekarang kamu minta restu atau ngelamar?" keduanya tergelak. lalu meminum minuman masing masing.
"om masih di Malaysia Tan?" mama Elsa mengangguk sambil tetap memperhatikan minumannya "sepertinya cukup lama Tan? kalo boleh tau kira kira kapan om pulang??"
mama Elsa menatap yobi dalam. dia malah bertanya "kamu masih merahasiakan pertemuan kita dari Elsa??" yobi mengangguk. mama Elsa menarik nafasnya dalam "Tante mau cerita... tentang papa Elsa....."
yobi fokus, mendengarkan perkataan mama Elsa. sesekali anak itu menarik nafas dalam. yobi menatap sepotong red Velvet di depannya. jika hidup Elsa adalah sepotong red Velvet bukankah tidak boleh ada air di sisinya, red Velvet itu akan melepuh, tidak ada yang mau memakannya. hambar.
yobi menarik nafasnya lagi. sekarang dia tidak ingin ada air mata kesedihan di hidup Elsa, ingin membuat gadis itu bahagia. dia benar benar ingin memiliki Elsa untuk hari esok, nanti bahkan mungkin selama dia masih bisa menghirup oksigen di planet ini.
"kamu bisa mengambil keputusan sekarang, sebelum semuanya terlalu jauh" yobi menatap mama Elsa, ingin tau apa yang ada di pikiran wanita di hadapannya "terserah kamu nak menjauh dari el___"
"Tante!" yobi menyela, tidak ingin mendengar kalimat itu "jika ada satu alasan untuk aku meninggalkan Elsa maka aku bisa menemukan seribu alasan untuk tetap bisa bersama Elsa!"
mama Elsa tersenyum lalu menghembuskan nafasnya lega "sebelumnya Tante sudah bilang kan kalau Tante ingin mempercayaimu??? dan sekarang Tante percaya sepenuhnya sama kamu. tolong jangan bilang Elsa soal kasus papanya karna Tante juga gak tau apakah papa Elsa akan mengatakannya atau menyembunyikannya dari Elsa. Tante tau sesayang apa papanya sama Elsa!"
"Tante bisa percaya sama aku!" mama Elsa tersenyum mendengar jawaban yobi.
mereka mengobrol selama beberapa saat. sebelum mama Elsa meninggalkan yobi sendirian wanita itu sempat memberikan yobi sebuah bingkisan. semoga berguna katanya.
mama Elsa pergi meninggalkan yobi sendirian dengan sepotong red Velvet yang tak tersentuh di meja itu. bahkan saat senja sudah menghilang dan suara adzan Maghrib berkumandang sepotong red Velvet itu tetap tak tersentuh.
yobi meraih kunci motornya dan pergi meninggalkan sepotong red Velvet yang tetap utuh. sepertinya dia tidak ingin red Velvet itu tidak utuh, ingin tetap seperti itu karna terlihat cantik dan sayang untuk di makan.
oh come on, jangan men sugesti semua hal seperti Elsa, yobi!!!