Because Of You

Because Of You
Bab 7 : Pendekatan



"Bila pergi adalah cara terbaik, maka mulai sekarang aku akan pergi. Mencari kebahagiaan yang asli."




SETELAH kejadian tempo lalu, Amazora mulai menghindari satu sama lain. Berusaha menenangin pikiran. Mulai dari menghindari Aoi, membatalkan kelas tambahan Arva, sampai bila bertemu Rey dia terlalu dingin seperti dulu. Dan Rey paham akan hal itu.



***Krek***.



Terdengar suara pintu perpustakaan terbuka. Terlihatlah sesosok gadis remaja yang baru saja keluar dengan membawa beberapa tumpukan buku. Hingga hampir menutupi wajah gadis itu. Mungkin ada 30 lebih, sangat berat. Dari arah belakang terdengar langkah Kaki yang mendekat. Yang benar saja, ia adalah seseorang yang selama ini ia coba hindari.



"Gue pinjem bukunya," kata Arva



"Nanti aja dikelas," jawab Amazora berusaha menghidar, meninggalkannya.



Bukan Arva kalau dengan mudah ditaklukan. Ia malah menghadang gadis itu.



"Gak mau, gue mau pinjem sekarang!" kata Arva sambil mencoba mengambil semua buku dari tangan Amazora.



"Satu aja dulu." mencoba melindungi buku itu agar tidak jatuh.



"Gak! Semuanya harus gue pinjem terlebih dahulu." paksanya.



"Terus yang lain gimana?"



"Bukan urusan gue. Toh, kalau udah selesai juga gue balikin. Mana?!" akhirnya semua buku berat itu berpindah ke tangan Arva. Hingga masuk ke dalam kelas. Amazora sesegera duduk dibangku, sedangkan Arva mengekori gadis itu.



"Nih," ujar Arva dan kembali kebangkunya. Yaitu belakang Amazora.



"Eh?" jawab Amazora heran dan berbalik yang mendapati Arva tengah menidurkan wajahnya di meja.


"Katanya mau pinjam semua?" lanjutnya.



"Udah," jawab Arva singkat.



Tapi masih mengundang penasaran Amazora. Disisi lain, teman sebangku Amazora yang bernama Lisa tengah memperhatikan mereka berdua. Segera ia mendekatti Amazora,



"Itu tadi maksud Arva hanya ingin bantuin lo bawain buku ini." sambil menyentuh semua buku tadi.



"Buat apa?" tanya Amazora, heran.



"Buat ngebantuin lo lah," jawab lisa sambil menepuk jidat.



"Tapi, tadi dia bilang mau pinjam buku kok," katanya dengan polos.



"Itu cuman bohong Ama." sambil duduk disebelah Amazora.



"Kenapa?" tanyanya lagi yang masih tidak paham.



"Karena kalau gue jujur mau bantuin lo. Dijamin gak bakal di ijinin," jelas Arva yang tiba\-tiba sudah duduk dengan tegak.



"Iya kan Tya?" lanjutnya dengan nada menggoda. Serta sebuah senyuman yang begitu manis.



"Tya?" tanya 2 gadis itu secara serempak.



"Iyalah Tyandra Mazora," jelas Arva.



"Oh. Panggil aja Amazora seperti biasa."



"Gak mau." dengan menggunakan nada sok manjanya.



"Wajib! Dah ah," kata Amazora di lanjut membagikan buku yang diambilnya dari perpustakaan itu kepada seluruh teman sekelas.



Waktu pulang pun telah tiba, Aoi sudah menunggu di depan pintu. Berusaha pulang bersama dengan Amazora. Sebenarnya ia juga merasa aneh dengan tingkah Amazora yang selalu menghindarinya. Karena jelas pikirnya ia tidak melakukan kesalahan. Memang sih, tapi ketika bertemu Aoi seketika Amazora akan mengingat Rey dan tempo hari lalu yang sangat mencemaskan kondisi Aoi.



Sudah 15 menit akhirnya Amazora datang. Ia berusaha menghindar dari Aoi. Tapi belum sempat, ia ditarik Aoi.



"Ama, lo kenapa? Apa salah gue?" tanya Aoi yang akhirnya mengeluarkan air mata.



"Gak ada," jawabnya dingin.



"Terus? Kenapa lo selalu ngehindari gue?"



"Gue hanya ingin sendirian."



"Tapi... Tapi Ama..." mulai memecah, Amazora yang melihat sahabatnya menangis akhirnya tidak tega.



"Maafkan aku Aoi, tapi untuk saat ini gue gak bisa cerita. Kasih aku waktu," jelasnya yang diikuti air mata jatuh. Tapi sesegera ia usap kasar.



"Apakah gue salah Ama? Katakan kalau gue punya salah! Gue gak suka lo memperlakukan gue bagai gak ada!" protesnya. "Lo selalu seperti ini. Gak pernah ceritain masalah lo, bahkan gue aja gak tahu siapa yang lo sukai. Lo sungguh kejam." lanjutnya sambil berjongkok memeluk lutut. Tiba\-tiba disaat yang tidak terduga.



"Tya! Tya! Tungguin," teriak seorang pemuda dari belakang yang langsung disambut tajam Amazora.



"Ayo pulang." genggamnya. Dan segera ditepis oleh Amazora.



"Dan lo! Jangan ganggu gue juga. Gue ingin sendiri untuk saat ini," bentaknya dan berlari pergi meninggalkan Arva dan Aoi.



\*\*\*



"Aku pulang," kata Amazora yang sudah disambut Hana diruang tamu dengan seorang wanita sebaya ibunya bersama seorang pemuda yang mungkin kelihatan lebih tua dari Amazora atau mungkin se umuran.


"Sini nak." panggil Hana sambil memberi syarat untuk duduk disampingnya.




Sebenarnya malas banget, tapi mau gimana lagi. Ia juga tidak ingin mempermalukan ibunya di depan tamunya itu. Tanpa intruksi Amazora segera menyalami 2 orang itu lalu duduk disamping Hana lagi.



"Cantik," kata wanita yang merupakan teman Hana itu. Dan disusul sebuah senyuman Hamdan kepada Amazora. Dibalaslah senyuman itu dengan manis walaupun terpaksa.



"Kalau begitu, kita lanjut makan malam saja gimana?" tanya Hana dengan antusias.



"Kamu ganti baju dulu sana gih, terus bantuin ibu masak," perintah Hana. Yang hanya dibalas anggukan oleh anaknya itu.



Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Amazora turun. Segera menuju ke dapur.



"Oh, sudah selesai ya? Mending kamu temenin Hamdan saja di ruang tamu. Itung\-itung ibu juga udah ditemenin ibunya," jelasnya sambil senyum. Berusaha mendekatkan anaknya dengan anak temennya itu\-Hamdan.



Disisi lain, Arva tiba di depan rumah Amazora untuk meminta maaf karena telah membuat Amazora marah. Namun sebelum itu, "Itu siapa?" gumam Arva ketika melihat seorang pemuda di dalam rumah Amazora\-sendirian.



Ia mencoba mendekati rumah Amazora berniat mengintip. Tanpa di duga Amazora datang dan sesegera ia bersembunyi di balik pohon.



Amazora yang sifatnya begitu dingin, hanya duduk di sofa samping Hamdan. Hamdan sebenarnya cukup tampan tapi dia tidak bisa menarik perhatian Amazora yang terlihat begitu bosan. Dengan berbagai cara agar diperhatikan oleh Amazora, akhirnya ia beranjak dan duduk tepat disebelah Amazora. Di sofa yang sama. Yang seketika itu membuat seorang pemuda yang tengah mengintip mereka berdua itu geram.



Mendapat posisi Hamdan yang tiba\-tiba berada disampingnya jelas membuat gadis itu secara reflek menjauh. Tapi, juga disusul oleh Hamdan. Hingga tangan nakal itu mulai memegang pinggang gadis itu tanpa seijinnya. Seketika ia terbelalak dan berdiri. Menolak perlakuan Hamdan yang menurutnya sudah keterlaluan. Memangnya dia gadis murahan yang dengan senang hati dipegang, apa? Mungkin semua perempuan ingin, tapi tidak bagi Amazora.



Ia sesegera pergi menghindari Hamdan. Bukan lelaki namanya bila ia langsung menyerah. Hamdan seketika menahanya hingga ia tersudutkan di dinding. Lelaki bahaya, pikir Amazora.



Dengan berbagai cara memberontak, ia masih tidak bisa melepaskan cengkraman yang dilakukan Hamdan. Melihat gadis itu sudah tak berdaya, ia mencoba memajukan sedikit wajahnya, menyamakan tingginya hingga bisa melihat jelas wajah gadis itu yang sedang merunduk, menutup mata sambil menahan tangis, karena baginya ia sangat sulit untuk mengeluarkan suara. Sangat sulit, mengingat kejadian hari ini yang membuatnya murung.



Dipeganglah dagu gadis itu. Hingga sebuah pukulan melayang di wajahnya. Tak terkesiap ia pun terpental. Terkejut sebuah tangan yang kini tidak menyentuh membuatnya sesegera membuka mata.



*Apa yang terjadi? Apa dia pergi? Tapi tadi suara apa? Seperti orang jatuh*, tanyanya yang masih melayang di pikiran.



Dengan perlahan ia pun membuka mata. Terlihatlah seorang pemuda sepantaranya dengan masih menggunakan seragam sekolah sedang memukuli Hamdan hingga babak belur. Tak tega melihat pemuda itu, ia mencoba melerainya.



"Hentikan Arva!!!" teriaknya, yang seketika membuat gerakan pemuda itu terhenti.



"Lo bilang berhenti?! Setelah gue dari tadi lihat lo yang mah dicium orang tak dikenal ini? Hah?" bentaknya dengan penuh amarah, tapi menampakkan tatapan yang begitu sendu dan cemas terhadap Amazora.



"Apa peduli lo?!"



"Apa peduli gue? Lo tanya apa peduli gue? Karena lo.." jawabnya yang kemudian tertahan sebentar, seolah sedang memikirkan sesuatu. "Karena lo sedang patah hati. Makanya gue peduli." lanjutnya dengan nada lemah. Sebenarnya ia peduli bukan karena itu, tapi karena ia sudah mulai menyukai gadis di depannya ini, gadis yang begitu menariknya, memikatnya. Dan gadis yang ingin selalu ia lindungi dari semua lelaki termasuk Kakaknya sendiri\-Rey.



"Buat apa? Kasihan ke gue?! Gue gak butuh kasihan lo," kata Amazora sambil melangkah meninggalkan ke 2 pemuda tadi.



"Tidak! Tunggu!" tahan Arva "Gue tahu, lo baru saja patah hati. Kalau lo mau, lo bisa lampiasin semua ke gue."



"Gak, makasih," jawab Amazora datar.



"Terus apa mau lo?" katanya dengan nada lemah, frustasi.



"Apa mau gue? Gue hanya ingin lo menjauh! Mulai saat ini."



"Gak! Gak bisa," jawabnya tak mau menuruti. Perdebatan pun terjadi hingga Amazora mulai jengkel. Hingga akhir ia tidak sengaja mengatakan sesuatu yang membuat Arva terkejut.



"Menjauhlah dari gue, gue gak bisa dekat dengan lo. Karena gue baru tahu, bagaimana sakit hati itu ketika melihat orang yang disukai sedang bersama sahabatnya sendiri."



"Maksud lo?" tanya Arva tak mengerti



"Iya, Aoi suka lo. Jadi, gue minta menjauhlah dari gue. Gue gak ingin Aoi juga merasakan hal yang sama kek gue."



"Tapi buat apa? Dia bahkan gak mikirin lo ketika dengan Rey," jelas Arva tanpa sadar yang seketika membuat gadis itu tertusuk beribu duri. *Bagaimana Arva bisa mengetahuinya*?, batinnya. Tapi ia tidak ingin menyakannya. Males.



Hatinya sudah sakit. Bohong, kalau dia tidak marah dengan Aoi. Bohong bila ia tidak jengkel dengan Aoi. Tapi, untuk apa? Karena dia hanya memikir bahwa yang salah bukan Aoi melainkan dirinya dan Rey. Dirinya yang dengan mudah menaruh hati kepada Rey yang menurutnya juga menyukainya.



Apalagi setelah mendapat beberapa perhatian Rey dulu. Dan Rey yang pernah memberi respon, ternyata malah menyukai Aoi.



Disamping itu, Amazora juga mengetahui siapa yang disukai Aoi, yaitu Arva. Jadi dalam masalah ini, Aoi benar\-benar tidak salah. Ia hanya menganggap Rey sebatas teman tidak lebih. Tetapi, Rey sudah terlanjur suka pada Aoi, yang membuat gadis itu akhirnya meneteskan air mata.



"Tya," panggil Arva dengan lembut.



"Gue bilang pergi Arva," bentak Amazora sambil menginsyaratkan tangannya menuju pintu. "Dan jangan pernah panggil gue Tya. Nama gue Amazora!" lanjutnya.



Mendapat perlakuan seperti itu Arvapun bisa memahami, segera dia pergi dari tempat itu.



"Ama.." panggil Hamdam berusaha menenangkan Amazora.



"Lo juga hamdan!! Gue mohon pergi dari sini! Pergi semua! Gue ingin sendiri!" teriaknya.



\*\*\*



Beberapa hari kemudian, Amazora dan Aoipun sudah berbaikan. Sudah seperti biasa, mereka sudah sering lagi belajar bersama. Mengingat UN yang tinggal beberapa minggu lagi. 6 minggu, mungkin.



Semua sudah seperti biasa, seperti dulu lagi. Begitu pun dengan Arva yang jarang sekolah. Hingga Amazora bisa melupakan pemuda itu karena jarang bertemu. Di kantin sekolah yang selalu ramai pengunjung, Amazora dan Aoi akhirnya bisa menerobos salah satu stan disana. Hingga disemua tangan terisi penuh makanan berkantong plastik. Tidak berniat makan di tempat ramai. Mereka pun memutuskan untuk makan di taman belakang sekolah. Di sela perjalanan, Amazora tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.



"Aduh, kalau jalan lihat\-lihat dong," ujar Amazora dengan kesal sambil mengelus kepalanya.



"Lihat? Lihat lo?" jawab seseorang itu yang merupakan Arva sambil tersenyum sinis, meremehkan.



Si bermasalah yang sudah lama tak berangkat sekolah. Entah kenapa sekarang berangkat, mungkin karena ingat akan UN yang segera tiba. Mendapat jawaban itu, Amazora hanya menggeleng\-gelengkan kepala sambil membuang muka. Dan melanjutkan jalannya.