Because Of You

Because Of You
Episode 62



Happy Reading


***


Kenny POV


"Kapan pertandingan selanjutnya?" tanyaku pada Jacob setelah makanan kami datang. Maldives segera menyantap miliknya. Aku mengelus rambut pirang Maldives dan menyuruhnya makan pelan-pelan.


"Minggu depan..." ucap Jacob. Saat aku melihat lengan kirinya, aku melihat sepasang tato sayap kecil di sana.


"Tato yang bagus..."


Jacob melihat tato miliknya dan tersenyum miring padaku.


"Apa itu sayap fried chiken?" ucapku seraya mengangkat sayap ayam yang di goreng dari piringku.


"Tebakan yang bagus, tapi salah. Ini sayap malaikat..."


"Jacob Anderson dan malaikat. Perpaduan yang bagus."


"Ini memiliki makna tersirat..."


"Terlepas dari itu, lengan kirimu sudah hampir penuh dengan tato..."


"Aku masih puny tangan kanan..."


"Apa aku bisa memiliki tato?" tanya Maldives.


"Tentu, suatu saat nanti..." jawab Jacob, "Untuk sekarang, habiskan makananmu..." dan Maldives mengangguk senang dengan mulut penuh makanan.


"Berhati-hatilah saat pertandingannya..." ucapku.


"Aku selalu berhati-hati."


"Yah, kau sangat berhati-hati.." ucapku dengan nada mencela dan memutar bola mataku." Tapi aku serius mengatakan itu, berhati-hatilah saat balapan mu nanti karena tidak ada yang akan merawatmu.."


"Kau bisa merawatku..."


Aku menelan ayamku dan mengkocok soda di gelasku.


"Aku tidak...."


"Kau akan pergi?" ucap Jacob dengan nada lebih dalam dan pelan.


"Yah... Rekamanku tidak bisa dilaksanakan di London. Aku harus kembali ke New York..."


Jacob meremas burger miliknya dan menarik napas panjang.


"Kita bicarakan nanti..."


****


Jacob kembali dari kamar Maldives saat aku sedang duduk di ruang tamu. Dia berdiri dan bersandar di dinding. Menatapku tajam. Kaos polos hitamnya kotor karena bercak saos dan mayonase.


"Aku akan pergi Jacob..."


"Kenapa? Kupikir kau suka London...'


Yah, aku suka London. Aku suka orang-orangnya yang sedikit lebih ramah dari orang New York, aku suka jalannya yang tidak macet, aku suka bangunan tua di sini, dan aku senang bisa hidup di sini karena bakatku dalam musik semakin bagus dan terasah.


"Aku suka hanya saja aku memiliki mimpi, Jacob. Mimpiku sejak kecil. Ini kesempatanku.."


"Kenapa harus rekaman di sana? Apa kau tidak bertanya-tanya? Apa bedanya London atau New York?" suaranya meninggi.


"Pelankan suaramu, Maldives sedang tidur. Dan bisakah kau duduk?" dia berjalan dan segera duduk di depanku. Wajahnya keras.


"Itu memang peraturan di sana dan kewarganegaraanku ada di sana dan bukan di sini."


"Kau curang..." ucapnya ketus.


"Curang?"


"Maldives sudah nyaman denganmu dan... Dan aku juga, Ken."


Aku menggeleng kepala.


"Jacob, usia kita beda 8 tahun lebih. Aku sudah 30 tahun..."


"Angka bukanlah masalah... Kau sering mengatakan itu padaku."


"Ini bukan hanya tentang angka..."


Jujur, aku suka Jacob. Yah, aku suka dia. Hanya suka dan tidak lebih. Aku menganggap dia sebagai teman dan... Adik..


"Apa kau beralasan rekaman hanya untuk menghindari aku dan Maldives?"


Aku menggeleng kepala keras.


"Bukan, Jacob... Agensi yang merekrutku berpusat di New York.. Dan.. Dan aku merindukan kampung halamanku.."


Dua tahun lebih sudah berlalu sejak kepergianku dari New York dan memulai hidup baru di London. Aku bisa hidup tenang berkat saham perusahaan mantan suamiku. Aku mengasah bakat dan pengalamanku di sini. Menciptakan lagu hingga mimpiku terwujud. Yah, ada agensi yang tertarik dengan laguku.


Lalu, Jacob Anderson. Aku bertetanggaan dengannya dan entah bagaimana terjadi, kami menjadi dekat ditambah dengan fakta bahwa Jacob menyukaiku membuat hubungan kami semakin dekat. Aku senang berteman dengannya karena dia tidak berusaha memaksakan perasaanya padaku dan dia seorang ayah yang baik. Dan Maldives, gadis kecil yang haus kasih sayang seorang Ibu, membuat dia memanggilku 'Mamma' saat dia belajar bicara dan terus berlanjut hingga saat ini.


"Ken.. Abaikan aku, tapi bagaimana mungkin kau bisa mengabaikan Maldives? Dia menyayangimu..."


"Jacob, jangan menekanku..."


"Atau... Karena Scout?" bisiknya pelan dan membuat amarahku naik. Scout adalah topik sensitif untukku dan dia tidak berhak melakukan ini.


"Kita sudah membahas ini ribuan kali untuk tidak membawa-bawa nama Scout dan dia tidak ada sangkut pautnya dengan kepergianku..."


"Aku melihat matamu dan aku yakin itu karena dia."


Aku menggeleng kepala. Kenapa sikap menyebalkannnya muncul di saat yang tidak tepat? Aku segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan dia. Sebelum Jacob mengejar dan berdiri di hadapanku. Aku berjalan ke kiri mau pun ke kanan, dia tetap menghalangi jalanku.


"Excuse me..." aku mengadah kepalaku padanya. Sial, dia sangat tinggi.


"Bisakah kita kembali ke kursi dan membicarakannya kembali."


Aku menggeleng kepalaku padanya, "Aku berusia 30 tahun dan ini mimpiku sejak dulu, Jacob. Mimpiku sejak kecil..."


Jacob menyisir rambut tembaganya. Bibirnya berubah menjadi garis keras dan kerutan kasar terbentuk di dahinya. Dia menunduk dan menatapku dengan mata hijaunya. Omong-omong, itu warna mata yang bagus.


"Baik.. Baiklah... Silakan pergi." dia segera berjalan melewatiku dan aku segera menggeleng kepala. Aku berjalan meninggalkan aparteman Jacob dan berjalan sepuluh langkah menuju apartemenku. Yah, seperti yang kukatakan, kami bertetangga.


Aku masuk ke dalam apartemenku dan berjalan menuju kamarku. Aku segera menghempaskan badanku ke ranjang. Aku menyayangi Maldives. Astaga, aku bahkan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku suka anak-anak. Sangat menyukai mereka, tapi... Aku bahkan bukan ibu kandungnya dan aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Jacob.


Aku suka tinggal di sini, tapi tidak untuk selamanya. Aku merindukan New York. Itu kota kelahiranku, seburuk apa pun kenanganku di sana. Yang terpenting saat ini adalah aku sudah melupakan kenangan itu walaupun tidak sepenuhnya. Di tambah, aku memiliki tawaran rekaman dari agensi hebat. Aku bahkan sudah menandatangani kontraknya.


Jika pun aku kembali, kecil kemungkinan aku bertemu dengan Scout. Aku sudah lama tidak mendengar kabarnya. Dulu, setelah perceraian kami, aku masih sering memeriksa jejaring sosial untuk mencari tahu kabarnya, hanya saja, seiring waktu aku kembali sibuk dan akhirnya berhasil melupakannya.Sial, seandainya Jacob tidak membahasnya, aku tidak perlu mengingat-ingat Scout lagi.


Scout adalah masalah lalu. Aku dan dia memiliki kenangan baik dan buruk. Dan tentunya kenangan itu untuk dikenang. Aku tidak memiliki kekasih hingga di usia tuaku ini bukan karena Scout, tetapi aku belum menemukan yang pas dan aku tidak tertarik. Bila perlu, aku akan menjadi janda tua hingga akhir hayatku. Tidak maslaah, aku bisa mengadopsi anak jika aku mau.


Sekarang yang harus aku lakukan adalah mempersiapkan diri karena aku akan terbang dari negara ini sepuluh hari lagi.


****


"Halo, Ini Kenny Cullen..." ucapku setelah terhubungan dengan panggilan, "Yah, aku pernah bertanya apakah rumah itu masih kau sewa?....... Tentu, aku akan ke sana sekitar empat hari lagi....." aku berjalan mondar mandir di kamarku saat mendengar penjelasan wanita yang akan menyewakan rumahnya padaku. Kuharap rumahnya tidak berhantu karena posisi rumah itu bagus.


"Uang muka? Bisakah kau menungguku untuk melihat rumahmu terlebih dahulu?"


"Baik, sampai jumpa empat hari lagi.." aku memutuskan panggilan dan kembali membereskan beberapa barangku.


Aku melihat koper besarku. Aku tidak memiliki banyak barang karena aku menyewa apartemen ini sudah lengkap dengan perabotnya, kecuali pianoku. Aku menjualnya beberapa hari yang lalu dan sudah ada pembelinya. Dan pianoku sudah di angkat sejak tadi pagi. Suara bel terdengar tanda ada tamu. Aku berjalan ke luar kamar dan melihat siapa tamuku melalui lobang kecil di pintu. Di sana ada Jacob.


Aku segera membuka pintu dan seseorang segera memeluk kakiku, yang tak lain adalah Maldives.


"Mommy..." ucap Maldives dan aku segera mengangkat tubuh mungilnya.


"Hai, sayang..." aku mengisyaratkan agar Jacob masuk. Aku melirik dia membawa bungkusan di tangan kirinya.


Jacob duduk di sofa dan aku mendudukkan Maldives di sampingnya. Aku melipat tanganku dan menatap kedua tamuku.


"Apa yang kau bawa itu?"


"Makanan perpisahan..."


Aku menggeleng kepala, "Makanan perpisahan. Nama makanan yang bagus. Kau keberatan jika kita makan di dapur?"


Jacob mendengus, tetapi tetap bangkit berdiri seraya menggendong Maldives. Aku belum bicara dengannya sejak pertengkaran kecil kami. Di tambah, Jacob sibuk dengan pertandingan balapnya dan aku sibuk dengan kepindahanku. Sedangkan Maldives, Jacob menitipnya pada Mags, nenek Jacob.


Aku berjalan menuju dapur dan mereka berdua sudah duduk di kursi meja makan. Aku menaruh plastik itu di atas meja dan mempersiapkan piring untuk makanan kami.


"Apa yang kau beli?" ucapku saat mengambil piring dan sendok.


"Pasta granola di ujung blok ini." sudah kuduga dia membelikan ini. Dia tau jelas apa kesukaanku.


"Untuk Maldives?"


"Dia sudah makan jadi hanya puding yang kubeli untuknya.."


Aku mengangguk kecil dan menyajikan pasta hangat itu ke atas piring dan puding Maldives. Setelahnya, kami menikmati makanan itu. Sesekali, aku melap wajah Maldives yang belepotan coklat.


"Bagaimana pertandinganmu?"


"Lancar..." ucapnya acuh tak acuh.


"Daddy meraih juara satu.." Maldives berbicara dengan mulut penuh dan suara cadelnya.


"Maldivesh, dilarang bicara saat mulut penuh makanan.." ucap Jacob dengan nada otoriternya dan membuat Maldives cemberut.


"Jangan kasar..." ucapku memperingatkan Jacob lalu mengelus rambut Maldives, "Jadi Daddy meraih juara satu?"


Maldives mengangguk dan kucir kudanya bergoyang-goyang.


"Dan hanya membelikanmu puding?"


Maldives melirik Jacob dan mengangguk kecil.


"Daddy sedang mempersiapkan hadiah besar untukmu, jadi jangan sedih. Bukan begitu, Jacob?" ucapku penuh nada penekanan pada Jacob.


Jacob memutar matanya dan mengangguk kecil.


"Lihat? Daddy sudah mempersiapkannya..."


"Bisakah aku menonton televisi?" tanya Maldives dan aku mengangguk. Segera Maldives turun dari kursinya seraya membawa pudingnya.


"Kau juara satu lagi?" tanyaku seraya menyantap pastaku yang tinggal sedikit.


"Begitulah..."


"Kau harus berhenti balap liar dan melakukan balapan yang resmi..."


"Bayarannya tidak sebesar balap liar..."


"Jaminan keselamatanmu lebih besar..."


"Buktinya, aku masih selamat sampai hari ini...'


"Tidak ada yang mengetahui hari esok.."


"Baik, jika aku tidak balapan liar, kau mau tinggal di sini?"


"Kau membahasnya lagi.... Ini demi kepentingan Maldives."


"Maldives bisa di rawat Mags..."


Aku memutar bola mataku seraya bangkit untuk mencuci piringku, "Kau selalu menganggap remeh segala hal..."


"Begitulah cara hidupku.."


"Cara hidup yang hebat.. Berikan piringmu.."


Suara gesekan bangku kayu dan lantai terdengar. Jacob memberiku piring kotornya dan bersandar di samping wastafel. Dia melipat tangannya, menunjukkan otot dan uratnya. Aku tergoda untuk menekan itu.


"Aku mencintaimu, Kenny.." suara berat dan logat britishnya yang kental membuat pernyataannya terdengar sangat.. Rrr.. Sialan, Ken.. Dia delapan tahun lebih muda.


"Kita sudah membahas hal itu, Jacob." aku menaruh piring di rak dan aku melap tanganku ke baju.


"Aku serius.."


Aku memutar tubuh dan menatapnya.


"Apa wajahku kurang serius untukmu?"


"Aku tidak keberatan soal usia. Soal uang, aku bisa menghasilkan ribuan poundsterling untukmu perbulan dan.. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu..."


"Kau mau menikahiku?" aku menaruh kedua tanganku di pinggang.


"Pernikahan hanyalah sebuah simbolis dan adat yang tidak penting.."


Sudah kuduga dia mengatakan seperti itu.


"Cara hidupmu dan cara pikirmu berbeda denganku. Dan tentunya perbedaan usia kita adalah masalah besar untukku..."


"Umur? Itu hanya angka... tidak berarti apa pun..."


"Terserah..." aku berjalan meninggalkannya dan secara tiba-tiba, Jacob mendorongku ke dinding. Dia menciumku bibirku. Aku menolak dengan menggoyang-goyang kepalaku, tapi dia menahan kepalaku dengan tangan kirinya dan kedua tanganku dengan tangan kanannya.


Aku berhenti meronta karena mustahil melawan badan besarĀ  dan membiarkan dia menciumku, aku tidak bergerak dan aku tidak membalas. Dia sudah di luar batas.


"Balas, Ken...." bisiknya, "Aku tau kau menginginkannya..."


Yah, aku menginginkannya. Itu wajar, aku janda usia 30 tahun. Gejolak gairah masih hangat dalam tubuhku. Aku.. Aku menginginkannya.. Aku segera membalas ciuman itu. Kepala kami beradu ke kanan dan ke kiri. Saat yakin aku tidak akan melawan, tangan Jacob mulai meraba tubuhku dan aku menggantungkan tanganku kelehernya.


Aku hendak melepas karena aku kekurangan udara, tapi Jacob terus mendorong dan mendorong. Lalu, tangan Jacob menelisik ke balik bajuku dan memanjat. Dia menyentuh perutku, perlahan naik, dan naik. Aku melenguh dan semakin pusing.


"Mom.. Dad... Apa yang kalian lakukan?" suara Maldives membuatku sadar dan segera mendorong Jacob menjauh dariku. Aku melihat wajah polos Maldives yang belepotan dengan cokelat. Detak jantungku meningkat daa bukan karena ciuman tadi, tapi karena aku ketahuan melakukan hal tak senonoh di depan anak yang belum genap berusia empat tahun.


"Hanya kegiatan orang dewasa..." ucap Jacob santai dan berjalan ke arahku, "Nanti kita lanjutkan tanpa gangguan." bisiknya dan membuat wajahku semakin panas.


Lalu Jacob pergi menggendong Maldives keluar dari apartemenku dan aku segera ambruk ke lantai. Itu ciuman pertamaku setelah dua tahun lebih...


****


MrsFOX


mo nanya, paketan emina bright stuff itu bisa mutihin wajah tidak+hilangin komedo?