Because Of You

Because Of You
27. Problem Bryan



Bryan melangkahkan kakinya ke ballroom the union hotel dengan langkah gontai dan wajahnya jelas sekali terlihat malas. hatinya menggerutu kenapa acara ulang tahun sang nenda (nenek muda) harus di rayakan hari ini??? dan kenapa papa sama mamanya memberi tahunya secara mendadak?? padahal bryan sudah berjanji untuk menemani elsa ke final CBC, terpaksa bryan harus membatalkan janjinya dan menuruti titah kedua orang tuanya.


The union merupakan hotel berbintang yang di kelola oleh keluarga besar Benhardy. Benhardy adalah kakek buyut bryan, entah bryan sudah keturunan ke berapa yang pasti malam ini nenda lunar yang merupakan salah satu cucu benhardy merayakan ulang tahunnya untuk mengumpulkan seluruh keluarga besar benhardy dari titisan pertama. ya, benar benar hanya keluarga benhardy yang menghadiri pesta tersebut.


nenda lunar juga sudah menyiapkan para tamu VVIP tersebut kamar di the union hotel untuk menginap malam ini. Bryan biasanya selalu menghindar jika sang papa mengajaknya ke pertemuan pertemuan perusahaan. malas saja.


Bryan menghampiri sepupunya, kefan sang playmaker. jika terus bergaul dengannya bisa bisa bryan ikutan brutal.


"lihat vanessa sudah balik dari europe. oh god... she's so gorgeus!!!"


see??? itu kalimat pertama kefan untuk menyapa bryan, bryan mendengus. dia menghampiri kefan bukan untuk itu. tapi untuk menghilangkan kebosanannya selama acara berlangsung.


"sorry... cewek gue lebih cantik dari siapapun!!"


"kenalin dong..."


"kefan..!!!!"


"ok, peace!" bryan mengambil minum. memandang sekeliling memperhatikan orang lain bersama kefan. tiba tiba kefan menepuk pundak bryan, bryan menurunkan tangan kefan. malam ini dia benar benar bad mood, malas.


"see...???" kefan berbicara tidak sedang memandang bryan tapi memandang seorang cewek yang sedang duduk bersama sepupunya yang lain "cassie.... she's the most elegant princess in the world pantes tiap di jakarta Daffin selalu berusaha mendekatinya" bryan melihat ke arah cassie sambil meminum minumannya kembali.


"ck..." bryan berdecak. melihat cassie yang memalingkan wajah setelah melihat ke arahnya.


"lo kenapa sih??? kayak orang bingung tau gak?"


"cabut yuk... ke tempat yang lebih asyik gitu tapi jangan jauh jauh!"


"oke, serahin aja sama gue buat nyari tempat paling asyik"


keduanya pun kabur dari pesta itu diam diam. dan kefan membawa bryan ke club yang ada di the union. bryan protes, dia tidak ingin berada di tempat berisik itu tapi kefan memaksanya untuk tetap tinggal. janjinya akan kembali setelah sekiranya pesta itu selesai.


"mau minum??" tanya kefan. bryan menatapnya sinis, lalu menghembuskan nafasnya berat.


"non alcohol!!"


kefan tersenyum mendengar jawaban bryan lalu meminta waitress untuk mengambilkan bryan minum.


"harusnya lo coba alkohol yan..."


"gak tertarik..."


"18 tahun ini lo ngapain aja sih.... dosa lo pasti dikit"


"dosa gue udah banyak, makanya gak mau nambahin"


"terserah!"


bryan berakhir menemani kefan main di club. ide kefan dari dulu memang gak pernah benar. dia bahkan pernah membawa bryan ke arena balap liar. memaksa bryan melakukan balap liar dan berakhir kecelakaan.


bryan meminum minuman yang kefan pesan. awalnya kefan tetap merasa aneh meski itu non alkohol yang kefan pesan. salahnya bryan dari dulu memang selalu percaya sama kefan tapi malam ini mungkin tidak begitu


2 jam kemudian, bryan sudah mulai pusing dan tubuhnya memanas, bryan merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. ia pun pamit untuk ke kamar lebih dulu kepada kefan. kefan menawarkan untuk mengantarnya melihat keadaan bryan sedikit kacau tapi bryan menolaknya.


bryan memencet lift dan menuju ke kamar 307. kamarnya tidak terkunci, meski sedikit heran bryan tidak sempat curiga karna tubuhnya benar benar memanas. bryan hanya melepas jas dan kancing kemejanya lalu langsung ambruk.


saat bryan berbalik untuk meraih guling tangannya memegang sesuatu yang agak kenyal. sontak dia kaget dan terbangun. kamarnya sudah gelap hanya ada cahaya dari lampu balkon hotel.


bryan mendekat, melihat wajah seorang cewek cantik yang terlelap di sampingnya. rasa panas di tubuhnya kembali menyerang dan menggelitiki birahi kejantanan bryan. bryan mengelus pipi itu dan memandangi bibir mungil bervolume di depannya.


tubuhnya mulai menegang, nafasnya tidak teratur. kenapa harus ada cewek di kamarnya saat dirinya dalam keadaan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


bryan kembali menyentuh bibir itu dan menciumnya lebih dalam. tangannya sudah tak terkendali untuk tidak meraih apa yang ingin di sentuhnya hingga cewek itu mengeluarkan suara aneh yang membuat bryan semakin tidak bisa mengendalikan akal sehatnya.


bibir cewek itupun terbuka membuat bryan lebih leluasa untuk merasuki rongga mulutnya. ciuman bryan semakin menuntut dan tangan bryan semakin mer*m*s sesuatu yang menjadi pusat lenguhan cewek itu.


cewek itupun mulai melingkarkan tangannya keleher bryan dengan mata tetap terpejam saat itulah bryan benar benar berada di titik lemahnya. bryan semakin menggila mendapati cewek itu meresponnya. ia di kuasai oleh jiwa yang ingin kepuasan lebih.


bryan benar benar menuruti pikiran buruknya untuk melakukannya 'you did it' . mereka melakukannya bersama sama. menikmati setiap sentuhan yang melenakan, sebuah suara cewek itu yang membuat bryan tidak ingin menghentikan kegiatannya.


******


matahari sudah meninggi dan semua tamu VVIP keluarga benhardy sudah siap melakukan sarapan pagi mereka yang di hidangkan secara istimewa di restaurant the union hotel.


sinta memperhatikan kesekeliling dan tidak menemukan putrinya iapun pamit untuk membangunkan putrinya kepada didad, suaminya. sinta terpaksa kembali harus menaiki lift dan menuju kamar 207.


dia langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk karna tau kebiasaan anaknya di rumah yang tidak pernah mengunci pintu. sinta hanya bisa menggeleng mendapati putrinya seceroboh itu di hotel.


"AAAAA.... CASSIIE!!!!" seketika lutut sinta melemas, ia menutup mulutnya tidak percaya, mendapati putrinya tertidur di pelukan seorang pria dan semakin shock melihat anak laki laki yang baru bangun dari tidurnya tanpa mengenakan baju, begitupun cassie yang menggeliat sambil mengucek ngucek matanya hingga selimut itu tersingkap ke dadanya.


"kalian....."ucap sinta lemas "kenapa kalian melakukan hal ini??"


cassie bangun dan terkejut mendapati dirinya tidak mengenakan apa pun. kemudian ia melihat ke arah bryan yang juga seperti orang bodoh. cassie tidak mampu berteriak seperti mamanya. dia hanya bisa bersandar ke dashboard ranjang dan bergumam "oh my god!!! i did it??"


"kalian...???" sinta mendekat ke arah putrinya "cassie mama kecewa, sangat"


PLAKK!!!


PLAAKKK!!!


2 tamparan untuk cassie mungkin belum cukup tapi cassie sukses memegang pipinya dengan mata memanas. bryan ingin menghentikannya tapi dia punya hak apa??


"dan kamu bryan!!! orang tua kamu harus tau hal ini. aku tidak mau tau kalian cepat keluar dan segera datang ke kamar 205. setengah jam lagi kalian sudah harus di sana!" sinta berbicara tanpa melihat ke arah brian dan cassie.


sinta langsung keluar dengan tergesa dan berurai air mata. rasanya tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang menjijikkan seperti itu


bryan diam dia bahkan tidak tau harus mengatakan apa kepada tante sinta, dia juga bingung. menyanggah juga tidak mungkin karena ini sudah seperti operasi tangkap tangan.


"kita melakukannya???" tanya bryan bodoh. cassie tetap diam dan melihat brian sinis


"lo pikir??? argh!!!! kenapa sih dari jutaan cowok di muka bumi ini harus lo orangnya..."


"lo pikir gue mau? nonsense!"


cassie bangun menarik selimut agar tetap menutupinya. terlihatlah bercak merah itu. blood virgin. pikiran bryan melotot melihat darah tersebut, pikirannya bertanya tanya 'cassie masih virgin???' pasalnya cewek di depannya sering kali bryan menemuinya dengan pacar yang berbeda beda.


cassie meringis sakit saat melangkah. rasa bersalahnya semakin tinggi setelah mengetahui ini adalah yang pertama untuk cassie. tadinya bryan berpikir ini sudah biasa di lakukan cassie sebelumnya.


bryan mendengus lalu mendekat ke cassie "gue bantu..." kata bryan sambil menggendong cassie menuju ke bathroom


cassie berontak "gak perlu... gak butuh bantuan apapun" cassie tetap saja berontak. bryan langsung menurunkannya di bath up dan menghidupkan airnya. "kenapa sih lo lakuin itu saat gue mabuk??? lo selalu begituin tiap keadaan cewek sedang mabuk?? apa yang lo lakuin saat seorang cewek mabuk???"


bryan melengos. susah menjelaskannya. apa cassie akan percaya jika ini semua murni kecelakaan. aaargh... kepala bryan rasanya mau pecah.


"cepet mandi... gue tunggu di kamar nyokap lo!"


bryan keluar dari kamar hotel tersebut dan tanpa sengaja matanya melihat nomor kamar tersebut yang bertuliskan '207'


"****!!" berarti bryan yang salah kamar???