Because Of You

Because Of You
Bab 3 : Mulai!



HARI yang begitu menyebalkan menurut Amazora. Duduk di depan si bermasalah, mengajarkan beberapa soal serta memarahi karena dari tadi gak paham-paham yang membuat Amazora naik pitam.


Sudah 30 menit berlalu dengan cepat hingga pukul 16.20 sudah tiba. Mengingat beberapa tempo hari lalu pak Zul menyuruhnya untuk mengajari Arva akan berbagai hal untuk merubahnya. Akan hal itu dia sekarang harus terjebak di dalam perpustakaan bersama anak bermasalah ini.


Merasa gerah menunggu Arva menjawab beberapa soal yang ia berikan. Ia memilih untuk membuka jendela tepat berada di sampingnya. Angin mencoba menerobos masuk kedalam ruangan ketika jendela itu sudah terbuka. Senja yang sudah menampakkan diri memperindah suasana damai ini. Di ruangan atas ini-lantai 2- Amazora jadi bisa melihat sekeliling dengan tampak jelas di bawah sana.


Terpampang jelas lapangan basket di samping gedung dengan beberapa orang bermain disana. Kecuali Rey-mahasiswa itu. Damai akan hal ini, rasanya enggan untuk beranjak pergi sebelum tiba-tiba ada pesan masuk


Kapan kamu pulang nak? Ibu sudah buatin kue kesukaanmu. Dan juga hari ini ayah akan pulang.


Mendapat pesan itu Amazora masih terlelap akan kedamaian yang ia rasakan. Hingga ketika mengotak-atik layar ponselnya ia melihat waktu pukul 16.40. Seketika ia langsung berajak berdiri, menutup jendela, menutup korden dan kembali mendekati meja Arva.


"Astaga, bukannya ngerjain malah di tinggal tidur," gerutunya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya.


Belum berniat membangungkan. Amazora lebih memilih untuk memberekan buku-bukunya dulu dan beberapa buku dari sekolah untuk di kembalikan ke dalam rak.


"Hey, bangun! Pulang sekarang atau gue tinggal?" tanya Amazora yang membuat Arva sedikit terbangun. Coba lihat wajah si bermasalah ini yang baru saja bangun tidur sambil mengucek-ucek matanya. Seolah tanpa dosa atas apa yang ia perbuat.


"Jam berapa?"


"16.45."


"Udah mau petang," katanya sambil merenggangkan tangan. "Pulang yuk, biar gue antar." lanjutnya sambil mengambil tas untuk dipakai.


"Gak usah, makasih," tolak Amazora.


"Gak usah nolak. Ayo cepet!" tarik Arva hingga sampai ke parkiran.


Tanpa aba-aba dia langsung memakaikan helm untuk Amazora yang sedari tadi masih terdiam akan perlakuan Arva terhadapnya.


Ditengah perjalanan masih terasa hening, sunyi. Hingga Arva akhirnya membuka diri.


"Dimana rumah lo?"


"Belum punya," jawab Amazora datar. Diam sebentar kemudian Arva berkata lagi.


"Maksud gue dimana tempat tinggal lo? Rumah orang tua lo?" perjelasnya.


"Stop! Turunin gue disini aja." seketika motor itu berhenti mendadak mengikuti intruksi Amazora.


"Dimana?" tanya Arva dengan heran karena jelas-jelas tidak ada rumah di daerah ini. Melainkan taman yang cukup luas.


"Gue bisa ngurus gue sendiri buat pulang. Makasih." mengembalikan helm ke tangan Arva. Kemudian berjalan menjauh darinya.


Disisi lain Arva yang mendapat perlakuan gadis dingin itu malah menjadi penasaran ,mungkin sedikit tertarik dengannya. Baru kali ini ada cewek yang tidak menghiraukannya. Menarik juga. Batin Arva dilanjut melajukan motornya hingga melewati Amazora yang berjalan.


***


Selesai membersihkan diri, Amazora langsung turun ke bawah untuk makan bersama keluarganya. Mengingat kamarnya berada dilantai 2 yang berada di paling ujung dan bila pintu dalam kamarnya dibuka itu akan dapat melihat depan rumah. Sedangkan jendela yang berada di samping kamar dapat melihat rumah sebelah-kamar Aoi.


"Sini nak, ayo makan bersama," perintah Hana sambil melambaikan tangan.


Anehnya, ketika ibunya sedang menyiapkan makanan untuk ayahnya, dari belakang ia ingin rasanya memeluk Hana. Dilingkarkanlah tangan itu di bahu ibunya serta menenggelamkan wajahnya dileher Hana. Yang seketika membuat ibu dan ayahnya kebingungan.


"Ada apa sayang?" tanya ayahnya yang tidak mengerti tingkah Amazora yang akhir-akhir ini terasa tertutup tidak seperti biasanya-dulu.


"Tidak pa pa, yah. Aku cuman merindukan ibu." sambil mencium pipi ibunya kemudian duduk di depannya.


Makan malam selesai, Amazora membantu membersihkan peralatan bersama ibunya. Hingga suara bel berbunyi.


"Biar Ama aja bu yang bukain."


Dibukalah pintu utama dan tampaklah sepasang Kakak beradik disana. Aoi dan Kak Andre.


"Ada apa malem-malem gini kesini?" tanya Deni-ayah Amazora-yang tiba-tiba datang membawa koran untuk di baca di ruang keluarga.


"Ah ini om, mau ngajakin Ama ke mini market buat beli es cream bersama," kata Kak Andre.


"Iya om. Boleh ya?" kata Aoi mengikuti.


"Iya boleh. Jagain anak kesayangan tante ya," kata Hana mengijinkan.


"Yaudah bentar, gue ambil uang dulu," kata Amazora.


"Eits." cegah Kak Andre. "Gue traktir Ma." lanjutnya. Yang di jawab 'oke' oleh Amazora.


***


"Abang lo kenapa?" tanya Amazora dengan heran sambil menjilati es cream coklat yang berada di gengaman tangannya.


"Kenapa gimana?" jawab Aoi dengan bingung.


"Aneh aja. Gak biasanya beliin es cream gratis."


"Tau tuh," jawabnya sambil menunjuk Kak Andre yang baru saja keluar dari mini market dengan dagunya.


"Idih. Kita bukan punya lo abanggggg!!! Huweekk." jawab Aoi dan Amazora serempak.


Bukannya kesal, Kak Andre malah tertawa melihat respon adiknya dan sahabat adiknya itu-yang sudah dianggap sebagai adiknya juga. Memang Amazora bila berada dirumah dia akan berubah 360 derajat sifatnya disekolah. Tidak terlalu dingin dengan orang. Apalagi orang yang sudah begitu akbrab dengannya.


"Ok ok. Gini, gini. Kalian tau Kak Lina anak pak RT yang super duper cantik itu kan?" tanya Kak Andre kepada Aoi dan Amazora. Yang hanya di jawab anggukan oleh mereka berdua.


"Nah, kalian kan kenal jadi gak usah Kakak jelasin secara detail orangnya. Dan sejak sore tadi, kami resmi pacaran. Dia nerima cinta Kakak," kata Kak Andre dengan penuh semangat dan bangga.


Anehnya, bukannya senang mendengar berita bahagia Kak Andre. Aoi dan Amazora malah terbatuk-batuk dan tersedak ketika mendengarnya. Begitu meremehkan.


"Apa? Gak salah dengar bang?" tanya Aoi memastikan berita itu.


"Iya Kak? Masak sih Kak Lina mau nerima Kakak?" dan masih banyak lagi pertanyaan yang keluar dari mulut mereka berdua.


"Stop! Kalian ngeremehin Kakak ya? Gini-gini gue juga keren. Hanya dimata lo berdua aja gue begitu rendah," jawab Kak Andre jengkel.


Memang sih, disamping otaknya lumayan wajahnya juga diatas rata-rata yang begitu di idamkan banyak gadis-gadis seumurannya. Sayangnya, dimata 2 adiknya ini dia begitu rendah. Apalagi bila Kak Andre mulai tebar pesona kepada gadis di jalan biasanya Aoi dan Amazora akan meninggalkannya karena melihat sifat Kak Andre yang terlalu kepedean itu, membuat mereka berdua malu.


"Udah jam 8 malam nih, pulang yuk," ajak Aoi.


"Iya nih kalian harus segera pulang terus belajar habis itu tidur biar gak kesiangan bangunnya." saran Kak Andre.


"Tumben abang bilang kek gitu." heran Aoi.


"Masak sih? Gak pa pa lah itung-itung belajar buat perhatian sama anak."


"What?" ucap Amazora dengan mata membulat.


"Hahahah enggak-enggak dah ah. Pulang yuks." ajak Kak Andre.


"Kalian dulu aja, gue masih mau disini. Masih mau cari udara segar nih," tolak Amazora dengan halus.


"Cari udara atau cari cwo?" goda Aoi.


"Apaan sih? Cari udara ya cari udaralah," jawab Amazora dengan nada sensi.


"Ya udah kami duluan ya ma, salam buat tante sama om ya," kata Kak Andre dan mulai pergi meninggalkan Amazora disana sendirian.


***


"Huhhhh." Amazora menghela nafas di bangku mini market itu sendiri sambil meletakkan kepala di atas meja depannya.


"Amazora kah?" terdengar suara di sampingnya. Penasaran ia pun menengadahkan wajahnya untuk melihat pemilik suara itu. Mengetahui siapa pemilik suara itu, seketika Amazora menjadi tegang, gugup, takut, salah tingkah mengingat Rey yang tiba-tiba ada di depannya.


"Ah ah, Kakak? Iy... Iya? Ad.. Ada apa ya Kak?" tanya Amazora gelagapan.


"Boleh duduk?" tanya Rey.


"Si-silahkan Kak," jawab Amazora yang di ikuti Rey duduk.


Kalau tau gini mending tadi gue ikut pulang... Aoiii.. Kak Andre... Jerit, Amazora dalam hatinya.


"Sendirian aja?" tanya Rey membuka diri. Memang aneh bagi Rey yang biasanya selalu dingin cuek dengan seorang perempuan apalagi ini tidak terlalu di kenal. Dan seumuran adiknya pula.


"Ah iya Kak. Tapi tadi ada Aoi sama Kak Andre kok."


"Sekarang?"


"Sudah pulang. Katanya udah malem."


"Lha kamu kok enggak ikut? Gak baik lho gadis remaja diluar rumah malam hari."


"Ah iya Kak," jawabnya dengan sedikit malu.


"Kalau gitu ayo Kakak anterin pulang," tawarnya.


"Gak usah Kak. Aku bisa sendiri kok."


"Gak pa pa. Ayo," ajak Rey sambil menarik tangan Amazora.


Disepanjang jalan mereka berbincang-bincang ringan yang topiknya tentang buku kesukaan mereka yang ada beberapa kesamaan. Tak terasa akhirnya sampailah di depan rumah Amazora. Bukannya langsung pulang Rey menunggu hingga pintu rumah terbuka. Syukurnya yang membuka adalah Hana. Bila ayahnya sudah pasti terjerat banyak pertanyaan yang kadang tidak masuk akal.


"Eh sayang. Ini siapa?" tunjuk ibu kepada Rey.


"Ah kenalin tante saya Rey, kenalan anak tante. Saya ketemu dia tadi di mini market. Lalu saya anter dia pulang, takut dia kenapa-napa mengingat ini sudah malem," jelas Rey


"Oh ya nak. Makasih ya."


"Iya tante. Kalau begitu saya undur diri ya tante." sambil menyalami tangan Hana. "Duluan ya ma.." lanjutnya dan menghilang bersama gelapnya jalan.


***


Didalam kamar yang penuh dengan dominan biru langit dan beberapa warna putih milik Amazora. Disanalah dia berada dengan beberapa senyum yang terukir di wajahnya sendari tadi mengingat pertemuan tak terduga dengan Rey dan beberapa kalimat yang masih teringat di kepalanya