
Elsa, Debby dan Levita menghampiri kelas krystal, anak itu sedang mengerjakan tugas jadi terpaksa harus menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas.
"krys pekan depan kita camping, Lo juga daftar kan?" tanya Elsa sambil ber sender ke meja di seberang krystal. Debby duduk di hadapan krystal sementara Levita di samping krystal.
"kemaren Lo antusias banget karna camping pertama kata Lo!" ucap Levita sambil memeriksa tas krystal.
"gue pengen tapi males pasti si ketos itu yang tugas ngatur ngatur!"
Debby berdecak mendengar jawaban krystal "lupain soal itu krys" Debby berbicara dengan sorot mata seperti biasanya, antusias "ingat hal ini, camping nya di pantai, belakangnya pegunungan. di jamin bakal jadi momen teristimewa sepanjang sejarah SMA Lo"
"oke gue daftar!" ucap krystal tanpa ragu. ketiganya TOS, Debby paling bahagia karna dia yang berhasil bujuk krystal tapi sebenarnya memang karna krystal ingin menambah pengalaman setelah melewati separuh SMA nya di internasional school.
"pulang sekolah nge-mall yuk, cuci mata cari yang glow up!"
semua nya setuju. mereka mengobrol di kelas 11 sosiologi 1 cukup seru. merencanakan hal apa saja yang akan mereka lakukan nanti, saat camping ataupun nanti di mall ngapain saja. sudah mereka susun semua rencana menarik. mereka akan pergi berkaraoke dan sepakat ke rumah hantu.
sebenarnya Elsa, Levita dan krystal sudah menyusun rencana kejutan buat Debby. hari ini anak itu berulang tahun, 2 April. mereka sudah menyusun prank paling creepy buat Debby tidak bisa melupakannya. tidak ada di antara mereka yang mengucapkan hbd buat Debby tapi masalahnya anak itu terlihat baik baik saja meski teman temannya pura pura lupa ulang tahunnya. tidak ada yang berubah dari Debby, tetap ceria dan aktif seperti biasanya.
tapi tiba tiba suara dering ponsel Debby membuat obrolan mereka ter jeda, beralih fokus memperhatikan Debby. anak itu tersenyum melihat nomer Melvin yang menelfon nya.
"kakak semenjak nikah gak pernah hub___"
"...." ekspresi Debby berubah serius, otot ototnya menegang seketika. tapi kemudian ia tertawa hambar meski matanya sudah memerah.
"hari ini aku ulang tahun kakak nge prank aku??" tanyanya tapi ekspresi panik jelas terlihat di wajahnya. giginya ber gemeletuk seolah khawatir menunggu jawaban dari melvin
"...." seketika Debby menjatuhkan i-phone nya. membuat teman temannya mendekat. mata Debby memerah, tatapannya terlihat kosong
"kenapa deb??"
"papi...." ucapnya lirih dan setetes air mata lolos dari matanya kemudian dia berlari keluar tanpa berkata apapun kepada teman temannya.
krystal segera menutup bukunya dan berlari keluar menyusul Elsa dan Levita yang sudah berlari mengejar Debby.
Levita mencegah Debby saat anak itu hendak duduk di balik kemudi "biar Elsa saja yang bawa mobil" ucap Levita tampak serius. debby langsung bergegas memutari mobil dan membiarkan Elsa menyetir. Levita masuk di pintu belakang yang ternyata krystal menyusulnya.
"kita kemana?" tanya Elsa sambil memakai sabuk pengaman
"RS.DR. SUCIPTO" jawab Debby tampak menggigit kuku jarinya. ketiganya tampak sudah sedikit mengerti dengan apa yang terjadi dengan Debby
Elsa membawa mobil dengan kecepatan stabil tapi kemahirannya untuk menyalip membuat perjalanan terasa begitu cepat. mereka pun tiba di parkiran rumah sakit, sebelum mobil terparkir dengan sempurna Debby sudah membuka pintu mobil dan bergegas keluar.
ketiganya pun berlari menyusul Debby sedari tadi Debby hanya menampakkan ekspresi murungnya sambil menggigit kuku kukunya di sepanjang perjalanan.
di koridor rumah sakit mereka melihat Melvin dan mami Debby tampak mendorong hospital bed bersama 2 suster dan seorang dokter. sontak Debby berlari dan mendekat. tangisnya pecah melihat sang papi bernafas menggunakan tabung oksigen tanpa membuka matanya
"papi kenapa mi???" maminya tidak menjawab hanya memeluk Debby sambil menahan tangisnya agar tidak bersuara. Debby beralih menatap Melvin. "tadi pagi papi masih baik baik aja kak. papi kenapa??"teriak Debby kepada melvin
"serangan jantung!" jawab Melvin datar tapi kecemasan di wajahnya tidak bisa ia tutupi.
Melvin tampak mengguncang papinya dan berusaha menyadarkannya. tangis Debby semakin menjerit di koridor rumah sakit itu tatkala sang dokter memeriksa denyut nadi dan nafas papinya. kemudian dokter itu berkata dengan iba "maaf. pasien tidak tertolong"
krystal menutup mulutnya tidak percaya, Elsa sudah jatuh terduduk kelantai seraya air mata meleleh di matanya. sementara Levita bergegas menghampiri Debby dan memeluknya.
Melvin terlihat bersandar ke tembok dan menutupi matanya dengan tangannya. Debby menangis di pelukan Levita tapi tiba tiba mami Debby yang sedari tadi memeluk suaminya ambruk ke lantai begitu saja.
"MAMIII!!!" teriak Debby, Melvin langsung menopang maminya dan memanggil suster "mami lev..."
"tante akan baik baik aja!" ucap Levita sambil menghapus air mata Debby dan tetap memeluknya.
air mata Debby semakin berurai memenuhi wajah dan lehernya, beberapa saat dia tetap menangis di pelukan Levita "lev papi gue lev... papi gue..." suara Debby terdengar sangat tertekan "sekarang siapa yang akan jagain gue lev??"
"masih ada kak Melvin deb, yang akan perhatiin lo!" Levita membawa Debby duduk saat beberapa suster dan Melvin akan mengurus jenazah papinya. krystal dan Elsa menghampiri Debby yang membuat Debby beralih memeluk Elsa.
"El.. tadi pagi papi masih nyuruh gue buat jadi anak baik..." Elsa tidak bisa membendung air matanya "tadi malem papi masih cium gue... dua malem yang lalu masih cium gue.... seminggu yang lalu.... sebulan yang lalu... masih..."ucapannya tersenggal karna isakan tangisnya " sekarang gak ada lagi El... gak akan ada lagi... papi pergi El... sakit El... sakit banget...." ketiganya memeluk Debby erat dengan air mata yang meleleh dari sudut mata mereka masing masing.
semuanya akan mengingat hari itu... hari kelam dalam hidup Debby yang memenuhi kabut di langit rumah Debby. langit tak menampakkan cahaya mentarinya, hanya ada suara burung walet yang terbang di langit kala itu. suara burung yang saling bersahutan di atas orang orang yang tengah merundung kesedihan. di ulang tahun Debby yang membuat dia kehilangan cinta pertamanya.
mereka ingat hari itu... hari Debby menangis luar biasa. Debby yang ceria... Debby yang kuat... Debby yang selalu berusaha membahagiakan orang lain di sekitarnya.... dan Debby yang tidak pernah benar benar sedih hari ini dia meluapkan segala air matanya.
papi yang katanya paling panik saat dia sakit harus pergi tanpa pamit. tanpa mengatakan sakit sebelumnya. Debby tidak pernah tau pergi tanpa pamit akan sesakit ini. Debby hanya tau orang lain sedih saat kehilangan orang tuanya tapi sebelum dia pernah mengalami sendiri, dia tidak pernah tau rasanya akan sesakit itu. hatinya terasa sangat perih, seperti teriris tapi darah itu tidak terlihat.
saat keluarganya yang lain tidak bisa tersadar, Melvin harus bisa menggantikan papinya mengurus semua hal. berusaha bersikap tegar di tengah rasa kehilangan. Melvin yang mengurus semuanya hari itu dan istrinya yang menemaninya membantu segala situasi duka itu.
pemakaman dilaksanakan jam 3 sore, mami Debby sudah tersadar dan memaksa untuk ikut ke pemakaman. teman sekelas Debby pun yang melihat kabar duka di group kelas banyak yang datang melayat termasuk yobi cs.
Elsa, Levita, dan krystal yang sekarang sudah berpakaian duka menemani Debby di kamarnya yang masih belum bisa tenang, terus menangis dan ketika berhenti dari isakannya dia hanya melamun
Debby ingin menolak untuk sadar. berharap hari ini mimpi. berharap hari ini 1 April, April mop dan ada seseorang yang akan berteriak di hadapannya 'april fool's day' tapi itu bukan hari ini. hari ini adalah 2 April, ulang tahunnya tapi Debby masih berharap ini hanya prank kemudian papinya datang memberinya hadiah. tapi jika ini kenyataan, ini adalah hadiah terburuk dalam hidup Debby. Debby tidak akan pernah mau merayakan ulang tahunnya lagi.
"sakiiitt...." katanya sambil menunjuk dadanya dengan air mata yang tetap meleleh "kalian gak akan tau seperih apa rasanya!"
"deb... semua orang yang hadir dalam hidup kita, mereka akan pergi dan orang baru akan datang"
"kehidupan akan tetap berlanjut deb, entah ada atau nggak nya kita. waktu akan berlalu, musim akan berganti meski kita udah pergi sekalipun"
"kita juga akan pergi deb, entah kapan kita hanya harus mempersiapkan diri. kematian itu mutlak terjadi. jadi hidup tentang bagaimana kita tidak menyia nyiakan nya dan mengambil kebaikan setiap kesempatan!"
air mata Debby tetap deras, sambil termenung dia berkata "gue bakal kangen papi... dan gue akan benci hari ulang tahun ini...."
tiba tiba pintu kamar Debby terbuka menampilkan seorang rossy dengan kemeja hitamnya "gue boleh masuk??"
membuat Levita, krystal dan Elsa terbengong sebentar kemudian saling pandang dan mengangguk kepada Rossy. Elsa berbisik kepada Debby yang pandangannya masih tampak linglung "kayaknya Lo butuh kesadaran intensitas yang lebih tinggi!" Debby menoleh ke arah Elsa, Elsa mengedikkan dagunya ke arah Rossy membuat Debby melihat kehadiran almet biru
Elsa cs pergi meninggalkan Debby dan Rossy dengan pintu kamar Debby di biarkan tetap terbuka. Rossy menghampiri Debby, duduk di sisinya dan mengambil tangan cewek itu untuk dia genggam. Debby menoleh ke wajah Rossy "Lo harus bahagia..." ucap Rossy. Debby memandangnya sebelum akhirnya air mata luruh dari pelupuk matanya. Debby memeluk cowok itu dan menangis di dadanya.