Because Of You

Because Of You
57. Kecupan Steven & Kekesalan Amel



.......


.......


.......


🍒


Motor yang dikendarai Steven melaju membelah jalan kota yang diterangi oleh lampu lampu jalan. Suasana jalan yang tidak terlalu padat membuat motor itu melaju lebih leluasa. Steven sesekali melirik Kara dari Spion motor.


Steven mengurangi kecepatan.


"Yang, Kau ingin makan?". Steven sedikit berteriak, mungkin saja Kara tidak mendengar ucapannya karena memakai helm.


Kara ikut membuka kaca helmnya melihat kearah Spion motor yang menampakkan wajah Steven membuka kaca helm full face nya itu.


"Ha???". Kara bertanya ulang karena hanya mendengar sayup-sayup


"Makan?, sayang...". Laju motor Steven menurun diikuti nada suaranya yang menekan lembut.


"Nggak. Kan tadi udah makan". Jawab Kara.


Steven mengangguk lalu kembali menambah kecepatan laju motornya. Ia kira Kara Ingin jajan sesuatu.


"Pakai ini, ini, ini dan itu. Kamu mau naik motor nggak mungkin make celana pendek dan baju pendek itu". Ucap Steven ketika masih diapartmen saat melihat pakaian Kara yang tidak memungkinkan untuk naik motor dimalam hari.


"Nggak, itukan baju kamu...".


"Nggak apa-apa. Diluar dingin sayang, kalau kamu sakit gimana....".


Kara memelas. "Tapi itu besar banget...".


"Pake sendiri atau aku yang pakein". Steven mengancam.


"Kak.Tap...".


"Stop. Pakai sekarang". Steven memberikan bajunya pada Kara sambil mendorong wanita itu memasuki kamar mandi untuk berganti baju. Ia tidak mau menerima penolakan. "Aku nggak mau kamu sakit...".


Kara telah memegang baju itu. "Kalau aku sakit,,, nggak apa-apa. lagian aku nggak ke sekolah juga". gumam Kara pelan.


Telinga Kara langsung ditarik pelan. "Sembarangan kalau ngomong".


"Hehehehe becanda kak...".


"Lihat deh mereka! Keren banget". Ucap salah satu pengendara roda dua juga menunjuk kearah Steven dan Kara yang memang berada didekatnya karena sedang menunggu lampu merah.


Steven menggenggam tangan Kara sepanjang menunggu lampu lalu lintas itu berubah warna.


"Cowoknya posesif banget, iri gue". Pengendara lain melihat juga.


Kara merasa tubuhnya agak dingin apalagi jari-jari tangannya. Ternyata benar kata Steven kalau cuaca diluar sangat dingin. Lagi, syukur Steven menggenggamnya. Sekarang ia tidak peduli tatapan orang-orang. Lagian dia pake helm. Hehehehe, "Nggak ada yang bisa kenal". Kara menyandarkan tubuhnya ke badan Steven sambil menutup mata mencoba tidur. Malam ini tak ada bintang, angin bertiup begitu dingin yang sepertinya akan turun hujan. Kara menikmati pelukannya.


"Pegangan yang kuat nanti jatoh".


Steven mengingatkan. Mata pria itu fokus melihat jalan sesekali melirik tangan Kara yang melingkar dipinggangnya. Ntahlah, sesuatu dalam dadanya membuncah. Bibirnya sesekali menyunggingkan senyum.


---


Amel sedang berada dikediaman Marlon. Wanita itu kini ngobrol bersama Diandra diruang tamu.


"Iya kak. Amel seneng banget, tu gembel nggak masuk sekolah tadi hingga beberapa hari kedepan". Amel tersenyum miring. Senang dengan keputusan guru BK walau awalnya ia mengomel memarahi Karin kemarin karena bertindak tanpa persetujuannya.


"Ya. Namanya juga cewek nakal, suka buat masalah. Yaaah diskors lah. Jadi, nggak ada yang gangguin hubungan gue sama Steven". Amel sama sekali tidak mengubah gaya bicaranya. padahal wanita itu sedang berbicara dengan orang yang lebih dewasa.


Diandra termangguk-mangguk mendengar Amel. Tapi sebagian pikirannya tidak terlalu percaya jika Amel berhasil mendekati sang adik.


"Ekhmm, apa hubunganmu dan Stev ada kemajuan?". Diandra bertanya penasaran karena sedari tadi Amel selalu bicara tentang kekesalannya pada wanita yang menjadi pacar adiknya sekarang. Yeah, Diandra sudah tau tentang adiknya yang berpacaran. Dia tau semua itu dari Asisten pribadi papa nya.


Amel terlihat langsung lesu. "Ka Andra... Tolongin gue dong, sampai saat ini Stev masih cuek. Sebenarnya gue pusing harus ngelakuin apalagi". Amel berbicara, menekan kata pusing agar Diandra bisa merasakan apa yang ia rasakan.


Diandra menaikkan sebelah alisnya. Secantik apa pacar adiknya itu hingga Steven sama sekali tidak melirik Amel yang jelas-jelas cantik dan termasuk pilihan papanya sendiri.


"Stev selalu ngebela cewek dekil itu, kesel gue kalau inget kak...". Amel menekuk wajahnya. Tak senang ketika melihat Steven yang selalu membela bahkan melihat sikap romantis Steven pada adik kelasnya itu.


Ia tau, papa Steven sudah men-cap dirinya sebagai calon tunangan Steven. Tapi kalau ia hanya berdiam diri dan membiarkan Steven selalu bersama Kara lama-lama ia muak juga. Amel mendengus.


Diandra mengoyang-goyangkan gelasnya hingga air biru pekat yang ada didalam ikut bergerak. "Sudahlah, tak perlu khawatir... beberapa bulan lagi semua itu akan berakhir bukan?!".


"Ya, Tapi...". Amel tidak mampu menjelaskan kekesalannya.


...


"Masuklah... Nenek pasti mencari mu".


Ucapan Steven membuat Kara langsung mengangguk patuh. Pria itu mengangkat tangannya mengusap pelan pucuk kepala Kara. Tiba-tiba...


Cup


"Salam sama nenek. Aku tak bisa mampir".


Mata Kara melotot. Ia kaget, sama sekali tidak merespon ucapan Steven. "Ini beneran Stev nyium gue??!!". Batin Kara menjerit bahkan mulutnya kaku, sungguh ia tidak bisa berbicara lagi.


Steven terkekeh, ia tau Kara pasti syok dengan kelakuannya.


"Hey, sayang masuklah". Steven menyadarkan Kara.


"Ha? Ah y-ya. K-kau hati-hati".


Ingin sekali Kara memukul mulutnya, kenapa mulutnya ini seketika jadi gagu. Ia cepat-cepat bergegas masuk, mengunci pagar lalu menutup pintu. Kara bersandar dibelakang pintu sambil memegangi jantungnya yang berdetak cepat. Beberapa detik kemudian Ia mendengar deru motor Steven meninggalkan rumahnya. Ia kembali membuka pintu lalu berlari mendekati pagar. Matanya masih menangkap motor Steven.


"Aaaaaaaaaa ini nggak mimpi kan?, puk puk puk". Kara berbicara sambil menampar-nampar pelan pipi nya. "Stevvv...". Kara menutup mulutnya, ia ingin sekali berteriak kegirangan.


Kara segera masuk kedalam rumah dengan senyum lebar. Kali kedua membuka pintu dengan hati-hati takut membangunkan nenek. Sebelum menaiki tangga menuju lantai 2 Kara terlebih dahulu mengecek kamar yang berada disamping tangga.


Ceklek.


Kara bernapas lega. Nenek telah tidur disampinya ada Lulu juga. "Mmm kayaknya gue harus berterima kasih banyak-banyak sama tu anak". Gumam Kara masih dengan senyumnya.


"Duhhhh ngantuk bangetttttt...". Kara menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Bayangan-bayangan bibir Steven menempel di otaknya masih beterbangan dimana-mana. Si*lnya, hal itu membuat ia terlihat gila sekarang. Bibirnya selalu terlihat melengkung. Tersenyum penuh arti.


"Uhhhh sosweet banget sihhhhh....".


.


.


.


❤❤❤


Ekhmmm. sorry yaaa author UP nggak nentu soalnya author sibuk banget didunia nyata ini. 🤪 nggak bisa janji untuk Up, duhhh jugaa author mau ngucapin makasih sama kalian yang udah mampir kecerita ini. maaf kalau ada typo. komen dan like nya biar author semangat nulisnyaa. By See you next part❤❤❤❤