Because Of You

Because Of You
Bab 16 : Ujian



Lah? Sekolah kita kan gak ada apel pagi.


_________________________________________


SETELAH malam di atas gondola, Amazora sudah mulai membuka hati untuk Arva.


Disamping itu, waktu-waktu terasa begitu cepat hingga tanpa sadar ujian sudah ada di depan mata. Ketika sedang siap-siap untuk sekolah, tiba-tiba ponsel Amazora berbunyi. Dari Si Bermasalah.


"Apa?"


"Kamu dimana? Udah nyampai sekolah belum?"


"Mau jalan."


"Ya, kalau udah sampai bilang ya. Maaf gak bisa jemput. Aku apelnya di sekolah aja ya," Kata orang seberang.


"Apel? Lah? Sekolah kita kan gak ada apel pagi."


Terdengar tepukan jidat dari arah seberang.


“Maksud aku tuh apel, ngapel. Ngapelin kamu... Bukan apel upacara sayanggg," Jelas Arva greget.


"Oh."


"Yaudah, hati-hati ya beb. Jangan buat ulah, belajar yang rajin dan jangan mencontek saat ujian. Semangat."


Dan terputus sepihak.


"Lah? Bukannya itu karakternya?" gumam Amazora sambil melihat ponselnya, tidak percaya. Tapi satu hal yang berbeda dari mereka adalah panggilan aku-kamu yang sekarang mulai mereka terapkan.


Sesampai di kelas, Amazora segera mencari nomer urut ujian. Ia mendapat tempat duduk baris terakhir. Ketika teman-temannya pada sibuk dengan mempelajari materi. Ia hanya mendengarkan music dengan headset sambil melantukan dengan pelan.


Karena baginya, jika di hari H masih belajar, itu akan membuat stress. Maka dari itu ia merilekskan pikiran dan biasanya belajar satu minggu sebelum hari H.


Hari pertama selesai dengan lancar, hari kedua dan ketiga serta ke empat pun juga. Selesai akhirnya. Dengan hari yang kadang menjenuhkan, menyenangkan, menyebalkan. Semua dapat terlewati dengan cepat.


Pada malam hari ketika semua ujian telah terselesaikan. Amazora berada di balkon kamar dengan menikmati indahnya bintang malam bersama fantasy liarnya. Vampire.


Dengan hidangan serba coklat yang melengkapi. Tiba-tiba ponselnya yang berada di meja yang tak jauh dari jangkauanpun bergetar.


Si Bermasalah


Sedang apa?


Amazora


Bernafas.


Si Bermasalah


Itu kewajiban.


Amazora


Ouh baru tahu.


Si Bermasalah


Kalau gak nafas nanti death gimana?


Amazora


Gak juga. Aku udah pernah coba, sedetik gak bernafas gak death tuh.


Si Bermasalah


Kalau satu menit?


Amazora


Kalau itu mah tergantung kehendak Allah.


Kalau belum takdir mah ya enggak bakal death.


Si Bermasalah


Jawaban yang bagus.


Amazora


Makasih.


Si Bermasalah


Sama sama cayang :*


Read.


Si Bermasalah


Bobo cayank. Udah malam lho.


Tiba-tiba masuk pesan lagi dari Arva.


Si Bermasalah


Atau mau mbahas aku?:*


Amazora


Si Bermasalah


Kali aja bebeb pengen tahu apa gitu soal aku.


Amazora


Kayaknya gak ada deh. Gak kepo.


Si Bermasalah


Ih cayank. Topiknya habis kan?


Read.


Si Bermasalah


*Cayank


Sayang.


Tya.


Amazora.


Tyandra Mazora Askara Felizio.


Hey calon istrinya Arva!


Beb.


Sayangku! Cintaku!


Jangan cuman dideliv :((((


Read*.


Si Bermasalah


Aduh.. malah sekarang cuman di read doank lagi


Apakah cintamu terlalu sulit ku gapai?


Apakah sesulit itu untuk kusentuh?


Calon istrinya Arva, asal kamu tahu ya, banyak cewek yang ngantri lho dengan calon suamimu ini.


Mengetik.. Yes!


Amazora


Yaudah sama mereka aja kalau gitu. Gue ikhlas.


Jawab Amazora santai yang seketika membuat Arva memuncak. Ia membanting ponselnya di kasur dan bergegas pergi kesuatu tempat. Tak lama, akhirnya sampai..


"Ama.. ama.. turun nak. Ada yang nyariin kamu nih," Kata Hana yang tengah di ruang bawah.


"Iya bu," Jawabnya dan meninggalkan ponselnya dikasur.


Di sela tangga, Amazora berpikir siapa yang malam-malam gini mencarinya. Ia pikir Aoi karena besok ada remidial dan dia minta ajar. Tapi kalau iya, biasanya sih langsung ke kamar, pikirnya.


"Hey! Apa yang kamu lakuin disini? Ish.. ibu aku keatas dulu," Kata Amazora mencoba melarikan diri. Namun sebelum itu, Deni sudah mencegah Amazora dan memberi isyarat untuk anaknya tidak seperti itu dalam melayani tamu. Dengan hati pasrah ia kembali turun.


"Ada apa?" Tanya Amazora to the point ketika orang tuanya sudah pergi.


“Gak papa," Kata Arva sambil senyum-senyum.


Tidak ada perbincangan selama 5 menit. Akhirnya Arva membuka diri.


"Hey jomblo!" yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Amazora.


"Aku jomblo lho." Lanjut Arva.


"Terus?"


"Kamu juga jomblo."


"Terus?"


"Bukankah sama-sama jomblo bisa jadi satu?"


"Hah? Mending lo pergi ke Palestina aja!" suruh Amazora.


"Apa hubungannya?"


"Intinya lo kan gak mau jomblo, datang aja ke Palestina. Banyak tembak-tembakan. Siapa tahu ada yang pas buat lo," Jelas Amazora yang langsung dibalas tepukan jidat oleh Arva.


Didalam batin Amazora ingin rasanya ketawa melihat Arva jengkel seperti sekarang ini.


"Nanti kalau ada yang pas kamu syok, terus depresi terus gila terus bunuh diri gimana?" jawab Arva dengan heboh yang langsung mendapat balasan heran Amazora


“Ih jijik Arva.”


“Jijik-jijik juga suka kan?” goda Arva yang langsung dapat lemparan bantal sofa Amazora. Hingga berakhir saling tertawa Bersama dalam keheningan malam. Yang tak lupa orang tua Amazora mengintip anaknya itu yang bisa leluasa tertawa Bersama pemuda itu