Because Of You

Because Of You
Bab 14 : PDKT



“Bila melalui sepeda, novel dan yang lain dapat membuatmu senang. Kukan lakukan semuanya untukmu”


_________________________________________


"Lo kenapa ma?" Tanya Lisa yang melihat kegelisahan Amazora.


"Novel, novel gue gak ada."


“Mungkin lo lupa membawanya."


“Gak. Gue selalu naruh disini. Bahkan terakhir kali gue memasukin dan belum ngambil lagi."


“Jika masih rezeki pasti akan kembali."


"Itu mah gue tahu. Oh iya, apa mungkin ada di sekretariatan. Gue kesana dulu." Pamit Amazora.


Tak lama selang itu, Arva yang sedari tadi melihat tingkah gadis yang disukainya panik mencari buku dan pergi. Ia memutuskan untuk mengembalikannya. Ia berjalan mendekati bangku Amazora, ia meletakkan novel itu di laci. Lisa yang melihat hanya mengerutkan dahi. Seolah memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


"Gue nemuin kemarin di sekretariatan," Jelas Arva kepada Lisa yang seolah ingin bertanya. Dan ia mendapat 'O' ria dari Lisa.


Tak lama Amazora kembali dengan wajah yang masih lesu.


"Gimana?" Tanya Lisa.


"Gak ada," Jawab Amazora, singkat. Lalu meletakkan kepalanya di meja.


“Coba lihat di laci, siapa tahu ada. Dari tadi lo belum ngecek."


"Tetap sa-" meringkung untuk melihat laci "Hah? Kok bisa?" Tanya Amazora dengan bingung.


"Berati masih rezeki," Kata Lisa sambil mengerling ke Amazora.


Melihat gadis itu tersenyum, seketika hati Arva seolah mendapat kupu-kupu yang sedang bertebaran. Begitu indah. Namun tak lama, kebahagiaan itu berubah menjadi amarah ketika Toni mendekat.


"Ama, aku bawakan kamu novel tentang vampire. Mau baca?"


"Cih, aku-kamu an," gerutu Arva.


“Benarkah? Gue mau, sangat mau. Mana?"


"Ini." Sambil memberikan kepada Amazora.


"Oh iya, itu apa ma?" Tanya Toni dengan novel yang sedang di bawa Amazora.


"Oh ini, ini novel fantasy tentang seorang gadis biasa yang suka dengan seorang pangeran vampire hanya karena surat."


"Benarkah? Memang bisa?"


"Bisalah. Yang jelas keren banget. Gue aja sampai baper bacanya," Kata Amazora dengan malu.


Melihat suasana di depan, seketika membuat Arva frustasi dan pergi ke kantin. Tak sengaja disana bertemu Aoi.


"Boleh duduk disini?" Tanya Aoi mendekati Arva.


"Hmm."


"Kenapa wajah lo? Bete ya?"


"Itu, si Tya kenapa bisa cerewet banget sih ama Toni. Greget gue lihatnya. Selama ini biasanya cuek, hari ini malah berubah 360 derajat," jelas Arva dengan jengkel. Ceritanya curhat ya, batin Aoi.


"Kok bisa? Emang ada apa sampai Amazora cerewet? Mbahas apa mereka?"


"Itu tuh, hanya gara-gara novel vampire. Gak mutu banget."


"Apa? Novel Vampire? Mana? Ama di kelas kan? Gue ikut ah," Kata Aoi antusias dan ketika akan pergi ia malah ditahan oleh Arva.


"Ada apa?" Tanya Aoi.


"Seharusnya gue yang tanya."


"Ah nantilah." Berusaha melepas genggaman itu. Namun nihil.


"Ok. Disini, baik gue maupun Ama. Kami sangat suka karakter vampire apalagi di anime. Disana akan menceritakan tentang seorang pemuda vampire yang begitu sempurna. Dan Ama suka dengan karakter anime yang memakai kacamata, dingin, cuek tapi romantis," Jelas Aoi


"Jadi hanya karena ini dia bisa cerewet?"


“Ya begitulah kami. Dan saran gue cobalan kasih sesuatu atau novel tentang vampire. Dijamin loncat-loncat."


"Segitunya?"


"Karena udah takdirnya gitu. Dah ah, gue mau ikut kesana." Dan pergi.


***


Hari Minggu pun tiba, waktunya untuk santai di rumah. Siapkan novel vampire bersamaan ice cream coklat, roti coklat dan wafer coklat untuk cemilan.


"Mumpung sendiri dirumah jadi free," Gumam Amazora.


Belum sempat merasakan ketenangan, sedetik kemudian bunyilah bel rumah dengan begitu tak sabaran.


"Siapa sih pagi-pagi jam 06.30 yang datang?"


Mengetahui siapa yang datang, seketika Ama akan menutup pintunya kembali. Belum sempat, Arva segera mencegahnya.


"Di dalam atau di luar?" tawar Arva.


"Oke fix diluar," Jawab Amazora tanpa ingin debat.


"Nah kalau gini kan enak." Sambil mengusap kepala Amazora namun segera ditepis.


"Dont touch me!" Tegas Amazora.


"Siap Nona." Turut Arva dengan membungkuk ala Pangeran kerajaan.


Merasa tak penting, Amazora kembali ke dalam. Kali ini diikuti oleh Arva namun ia tak sadar.


"Aneh tuh orang," Gumam Amazora disela jalannya.


"Siapa yang aneh?" Tanya Arva dibelakang.


"Astag-" Teriak Amazora yang tiba-tiba mendapati Arva di belakangnya.


Mencari jarak antara mereka, Amazora melangkah ke belakang yang malah diikuti Arva dengan berjalan ke depan.


“Stop! Jangan mendekat. Jaga jarak."


"Gak mau."


"Dengan satu syarat."


"Gue korban."


"Hah? Emang gue ngapain elo? Menggang aja enggak," Jawab Arva santai sambil mengangkat kedua tangan, seperti tanda menyerah.


"Oke, apa?"


"Kencan yuk?!" kerling Arva.


"Mata lo kenapa? Akhir-akhir ini gitu mulu."


“Biarinlah, efek jatuh cinta."


"Oh," Jawab Amazora datar.


"Ayo mau gak? Tapi ini lebih tepat hukumnya WAJIB.!"


"Mana ada kencan hukumnya wajib?"


"Ada, khusus kita berdua."


"Yuk." Tarik Arva menuju pintu.


"Tunggu! Gue belum mandi."


"Gak masalah, kita sekalian jalan-jalan aja. Habis itu kamu berkeringat terus mandi terus kencan dan wangi," jelas Arva cengar-cengir.


"What?"


Di perjalanan menuju rumah Amazora, Arva tidak memakai motor ataupun mobil. Tetapi hanya memakai sepeda.


"Naik."


"Mana?"


"Sini."


"Gak mau, mending jalan Kaki."


Belum sempat menjauh, sesegera Arva menarik Amazora untuk duduk di depan dengan cara duduk memiring.


Ah gila! Kalau seperti ini gue bisa baper beneran. Batin Amazora.


"Baper beneran gak pa pa kok. Gue siap tanggung jawab," Kata Arva yang seolah dapat mendengar hati Amazora.


"Kenapa? Terkejut ya? Kok gue bisa tahu isi pikiran lo, begitu? Iya kan beb?” kata Arva dengan ekspresi mengerucutkan bibir, manja yang seketika ingin Amazora lempari pakai batu.


"Beb beb? Gue bukan bebek," Jawab Amazora datar sambil memalingkan wajah.


"B-a-b-e maksudnya beb." Dengan nada manja.


"Gue buka babe-babe. Gue cewe dan masih muda."


"Babe yang ditujukan untuk kekasih."


"Tapi gue bukan bebek."


"Iya cayangku." Dan mencubit pipi Amazora dengan gemas.


"Cie bulshing." Goda Arva.


"Gak."


Berlainan dengan Arva yang sudah santai mengendarai sepeda, Amazora malah mengalami panas dingin. Pertama mendapat perlakuan hangat oleh Arva. Kedua naik sepeda. Ketika dipanggil babe, lalu sayang. Dan terakhir dicubit pipi. Ah ingin rasanya Amazora meledak seketika.


Jalan-jalan sudah selesai. Amazora kini bersiap-siap untuk kencan dengan Arva. Sebenarnya tadi ia sudah berusaha menolak. Sudah tidak sanggup lagi untuk melayang ke langit tujuh. Namun karena paksaan darinya. Akhirnya Amazora menuruti dengan hati yang penuh paksaan.


Sesampainya dirumah, dengan sepeda yang terpakir disamping gerbang menjadi saksi kencan pertama mereka. Canggung rasanya, berdiri disana seolah menjadi patung sepasang remaja yang sama-sama saling malu-malu. Disisi lain Amazora yang belum pernah merasakan hal ini, Arva pun sama. Seperti sesuatu yang ingin meledak dari hatinya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, Arva segera pamit pulang. Begitupun Amazora yang segera masuk ke rumah dan berlari ingin cepat-cepat ke kamar. Naik kasur tak lupa menutupi dirinya yang memerah, sambil mengingat kejadian tadi ketika kencan.


***


"Mau es crim?" Tanya Arva.


"Boleh"


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya Arva kembali dengan 2 es cream yang memenuhi tangan.


"Boleh minta?" Tanya Arva dengan nada memelas.


"Hah?" tanpa aba-aba Arva segera mendekat dan merasakan es cream milik Amazora.


"Hey! Lo gila?! Ini!" Serah semua es cream ke Arva. Ia tidak tahan kemudian pergi menjauh dari Arva. Namun sebelum itu terjadi. Arva sudah menahan Amazora yang ingin melarikan diri.


"Lepas! Atau gue akan teriak?" ronta Amazora.


"Maaf, maaf membuatmu terkejut."


"Lupakan. Gue ingin pulang. Gue udah menuhi syarat lo. Biarkan gue pulang."


"Gak," Kata Arva sambil mendekati Amazora secara perlahan. Dan reflek gadis itu mundur secara pelahan juga. Merasa takut iapun menutup mata. Namun tak terasa, sesuatu menutup matanya.


"Arva! Apa yang lo lakuin. Lepas! "


"Kumohon diamlah sebentar.. Gue gak akan berlaku jahat. Kumohon," Kata Arva tulus sambil memegang pipi Amazora dengan lembut.


Setelah tenang, ia membawa gadis itu ke sebuah tempat yang sangat disukai gadis itu. Sesampai disana, penutup mata itu dibuka dan,


"Oh my god. Apa ini? Gue gak nyangka bahwa disini ada begitu banyak koleksi." Sambil mengelilingi tempat itu seolah tidak percaya.


Terlalu senang dan tidak percaya ia mendekati Arva sambil menggenggam tangan pemuda itu, seperti salaman. Sambil mengucapkan banyak terima kasih. Arva yang baru pertama kali disentuh Amazora seketika menjadi patung, tidak begitu menyangka bahwa gadis itu akan memiliki reaksi seperti ini.


Setelah selesai dan meminjam beberapa buku disana, mereka berniat untuk pulang dan mengambil sepeda di seberang. Amazora yang tengah sibuk dengan khayalan dan bukunya tanpa sadar ia sudah hampir berada ditengah jalan.


PIP..PIP..


suara tlakson menyadarkannya dan untung sesegera Arva menarik Amazora ke dalam pelukan. Begitu lama, hingga mereka sadar bahwa mereka sedang saling berpelukan. Melepaskan pelukan dengan keadaan berubah menjadi canggung.


***


"Astaga Ahhhh malunya," Gumam Amazora menutup wajahnya lagi dengan selimut sambil berguling kesana kesini.


Disisi lain, ditempat Arva, ia sedang memegang dada yang sedari tadi masih berdetak kencang. Ia tidak membayangkan bahwa ini akan menjadi canggung seperti ini. Dan maksud dari detakan ini mungkinkah?