Because Of You

Because Of You
Bab 10 : Chatingan



"Bila dengan cara seperti ini bisa terhubung denganmu. Aku akan melakukannya. Setiap hari hehehe"


_________________________________________


HARI sabtu tiba, menandakan hari libur telah datang untuk 2 hari ke depan. Di sebuah rumah mewah dominan putih ini, terpampanglah seorang pemuda yang sedang berenang di kolam renang rumah itu.


Terlalu mahir dalam urusan olahraga, hingga ia selesai dalam waktu 35 menit. Sesegera ia mengambil handuk, mengeringkan badan. Tak lupa ponselnya yang sedari tadi dipegang. Disana pemuda itu seolah sedang mengetik sebuah pesan untuk seseorang.


Disisi lain, di pagi sabtu ini. Amazora, Aoi, Kak Andre beserta Kak Lina melakukan sepeda santai bersama-sama. Ia mengelilingi taman kota. Kak Andre tentu saja memboncengkan Kak Lina. Sedangkan Amazora dan Aoi hanya mengikuti mereka berdua dengan sepeda masing-masing yang ia pakai. Bukan hanya mereka yang sedang melakukan olahraga pagi disini. Masih banyak juga yang melakukan. Ada yang jogging, senam, yoga, dan juga bersepeda seperti mereka.


Merasa letih, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon besar yang cukup teduh untuk mereka. Tak lupa Kak Andre memesan beberapa cemilan.


"Jam berapa ya?" Tanya Kak Lina.


Yang dengan pekanya, Amazora membuka ponsel untuk melihat jam. Namun bersamaan itu, ia menerima sebuah pesan dari seseorang. Si Bermasalah. Terpampanglah sebuah nama dari pengirim pesan. Namun hanya di deliv oleh Amazora karena merasa tidak penting.


Si Bermasalah


Pagi Tya :)


"Pukul 08.00 Kak," Kata Amazora, dan mematikan ponsel.


Tak lama lagi, ponselnya bergetar kembali.


Si Bermasalah


Pagi Tya:) Lagi apa nih?


Yang kali ini hanya di read Amazora.


"Kurang kerjaan," gumam Amazora tanpa sadar.


"Apa?" Tanya Aoi tiba-tiba setelah mendengar gumaman Amazora.


"Heh? Ee tidak kok. Tidak apa-apa," Jelas Amazora. Yang hanya mendapat jawaban mulut Aoi yang berbentuk menyerupai 'O.'


Merasa jengkel mendapat pesannya yang hanya di read saja. Akhirnya ia menelepon gadis itu.


Mendapat telepon dengan tiba-tiba, sesegera Amazora tolak. Hingga 3 kali akhirnya ia ijin pergi sebentar kepada Aoi.


"Gue lagi bernafas! Puas!" kata Amazora dengan kesal menjawab seorang pemuda di seberang sana.


"Lo dimana?"


"Bukan urusan lo."


"Bilang aja lo dimana?"


"Buat apa?"


"Buat ngejawab pertanyaan gue."


"Gak nyambung," Kata Amazora yang sudah kesal dengannya.


"Nyambunglah. Nih buktinya kita bisa bicara bersama," Kata Arva dengan nada sedikit menggoda. Ciri khasnya.


Tak ada balasan dari seberang sana, Arva pun mengecek ponselnya yang ia kira di putus se pihak. Tapi ternyata tidak.


"Hallo? Hallo Bandung. Ibu kota-"


"Gue di taman kota."


"Oke" Jawab Arva yang langsung memutus sepihak. Yang kala itu membuat Amazora kebingungan.


Sesampai disana, ia melihat Kak Andre dan Kak Lina yang tengah suap-suapan. Sedangkan Aoi yang bermain sepeda mengelilingi tempat itu. Hingga ia berhenti di depan Amazora.


"Ingin naik Nona?" goda Aoi sambil tersenyum dan turun dari sepeda. Yang seketika dibalas oleh Amazora. Belum terlalu siap duduk, tiba-tiba ia di kagetkan oleh jeritan para gadis disana ketika menemukan seorang pemuda dengan pakaian santainya berwarna biru langit tengah memperhatikan arah Amazora dan Aoi.


Melihat pemuda yang tadi tengah bertelepon dengannya yang sekarang sudah ada di depan membuat Amazora seketika terkejut. Merasa oleng akan jatuh, untung sesegera ia sadar. Pemuda itu mendekat, Aoi terlihat gugup tetapi sudah terlihat senyum mengembang disana.


"Gadis bodoh!" gumam Amazora disamping Aoi yang tengah melihat sahabatnya itu seperti orang bodoh. Tersenyum sendiri tanpa ada balasan dari lawannya itu.


Sesampai tepat di depan Aoi yang Amazora sudah duduk santai di boncengan, Amazora hanya melihat Arva dan Aoi. Sebagai penonton. Hingga salah satu dari mereka akhirnya membuka diri.


"Pagi Aoi," Sapa Arva, yang seketika membuat Aoi terbelalak. Arva menyapaku, Arva memanggil namaku.. batin Aoi merasa kegirangan.


"Ah.. I,..iya.. pagi...juga Ar..va," jawab Aoi malu-malu.


"Boleh ngobrol sebentar? Kita berdua?" Tanya Arva kepada Aoi tanpa melirik Amazora sekalipun.


"Oh tentu," Jawab Aoi, yang segera mengekori Arva, tak lupa menyetandarkan sepedanya yang sedang ditumpangi Amazora.


Entah mereka membicarakan soal apa Amazora tidak mengerti. Selang beberapa lama karena masih ditinggal ia pun berniat untuk turun. Namun sebelum itu, ia dicegah oleh seseorang yang sudah duduk di depannya itu.


"Apa yang lo lakuin disini?" Tanya Amazora yang jelas-jelas terkejut.


"Aku pinjam sepedanya dulu ya Aoi," Kata Arva.


Amazora yang tak terkesiap tak sengaja berpegangan baju Arva-menarik-ketika sepeda itu mulai dikayuh olehnya.


Merasakan keterkejutan Amazora, iapun memiliki ide licik, selicik iblis. Ia melajukan sepeda itu dengan kencang yang seketika membuat Amazora terkejut dan menarik baju depannya. Namun tak lama, ia seketika mengerem mendadak yang seketika tubuh Amazora tak sengaja memeluk Arva. Dan itu dilakukan berulang kali. Hingga Amazora terus memintanya berhenti.


Tapi yang sudah seperti kesetannan yang senang melakukan ide licik ini enggan menghentikan lajunya. Hingga ketika Arva mengerem mendadak lagi, tangan Amazora yang tak sengaja memeluknya segera ia pegang. Amazora memberontak, meminta untuk dilepaskan. Sedangkan Arva terlalu menikmati permainan ini.


"Hentikan atau gue teriak?!" Ancam Amazora.


"Teriak aja. Seharusnya lo bangga."


"Bangga? Untuk?" Tanya Amazora dengan heran.


"Iyalah, lihat mereka para gadis disekeliling pada jatuh cinta pada gue. Pasti mereka iri pada lo karena hanya lo doank yang gue boncengin."


"Hentikan Arva! Gue bilang berhenti!!!" Teriak Amazora yang sudah diajak Arva berkeliling jauh dari tempat semula. Merasa terkejut iapun memberhentikan sepedanya itu. Dengan ini, Amazora memiliki kesempatan untuk turun.


"Kok turun? Ayo naik lagi."


"Gak! Gue mau pulang."


"Lha ayo, ayo gue anter."


"Gak perlu," Kata Amazora yang sudah berjalan kembali


"Ayolah, janganlah marah," Kata Arva menyetarakan lajunya dengan langkah Amazora.


"Apa lo gak bisa mikir apa? Tepat di depan ada Aoi, dan lo nyakitin dia. Gila lo ya. Gak punya hati. Lo tuh sama aja, sama dengan yang lain."


"Gak, gue beda!" Yang tiba-tiba menghadang Amazora. Nadanya mulai serius sambil menatap tajam gadis itu."Gue beda Tya." Lanjutnya dengan lirih.


"Beda dari mana nya? Sama aja. Dan jangan panggil gue Tya, nama gue Amazora."


"Gue beda. Setidaknya gue gak ngasih harapan ke semua gadis. Gue gak kayak Rey yang pernah ngasih lo kenangan sementara. Gue gak kek gitu. Dan lo tahu? Tadi, ketika gue bicara berdua dengan Aoi. Gue udah ngomong jujur. Bahwa gue gak suka dia. Dan juga menyuruhnya untuk berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin."


"Apa? Terus? Dia nangis gak?" Tanya Amazora yang sudah mulai cemas. Hingga tanpa sadar.


"Turun," kata Amazora menyuruh Arva untuk turun. Namun pemuda itu tidak mau. Hingga ia yang mulai naik kembali. Dan meminta untuk diantar ke tempat semula. Sesampai disana, nihil. Sudah tidak ada siapapun. Sepeda Amazora pun juga sudah tidak ada disana. Mungkin di pakai Aoi untuk pulang.