
Happy Reading
***
Empat Tahun Yang Lalu
Satu jam
Dua jam
Detik berganti menit. Menit berganti jam....
Hampir lima jam dan pintu itu tidak terbuka. Aku bangkit dari dudukku dan melihat pintu operasi. Aku yakin dia sudah mati, hanya saja dokter sialan itu menahan dia di sana, mengulur waktu. Dengan marah, aku berteriak dan menorobos pintu ruang operasi. Aku berhasil menerobos dan menghajar para perawat dan dokter, membuat mereka terjatuh ke sisi ruangan.
Waktu seolah berhenti saat aku melihat keadaan Kenny yang mengerikan. Perutnya terbelah, mulutnya terbuka, dan matanya menatap kosong ke depan. Tidak ada kehidupan. Semua tempat di ruangan berlumuran darah, darah Kenny. Aku menutup mulutku tidak percaya. Mengerikan. Aku tidak pernah membayangkan akan melihat kematian Kenny yang seperti ini, bahkan dalam mimpi terburukku.
Napasku memburu. Aku tidak bisa melangkahkan kakiku ke depan. Tidak sanggup. Mataku menatap ke arah lain, ke meja aluminum. Ada tiga daging yang berlumuran darah, tidak bergerak, tidak menangis, dan tidak ada kehidupan. Persis seperti Kenny. Bayi yang diperjuangkan Kenny dengan susah payah akhirnya sia-sia juga Mereka berempat tewas.
Aku berteriak. Berteriak kencang.
Ribuan. Ribuan kali kukatakan padanya bahwa dia tidak akan berhasil. Namun, dia keras kepala. Sangat keras kepala. Aku menangis, menangis histeris melihat mayat Kenny. Apa yang akan aku lakukan di dunia yang hancur ini? Hanya Kenny yang membuat dunia ini yang suram terasa lebih berwarna untukku. Namun sekarang, cahaya kehidupan itu hilang dan tidak meninggalkan apa pun.
Aku tidak bisa...
Aku akan mengakhiri hidupku...
Untuk apa hidup jika dia tidak di sini?
Aku melihat pisau bedah yang tidak jauh dariku, aku meraihnya dan tanpa ragu-ragu aku menusukkan itu ke perutku. Berkali-kali. Darah membasahi perutku dan aku ambruk pada lantai. Cahaya kehidupan perlahan pudar dari diriku. Aku melihat Kenny di sana, tersenyum manis, menungguku. Dan semua gelap...
****
Aku terbangun dan segera duduk dengan napas terengah-engah. Aku memegangi perutku dan merasakan bahwa aku baik-baik saja. Aku melihat sekitar dengan panik. Tubuhku berkeringat keras. Kenny?! Kenny?! Dengan kalut, aku turun dari ranjang dan tiba-tiba pintu terbuka.
"Coin!" teriakku seraya memegang bahunya, "Kenny.." ucapku parau.
Dia tersenyum seraya melepas genggamanku dengan lembut, "Easy, kids.. Mereka baik-baik saja..."
"Mereka?"
Mataku mengikuti Mr.Coin yang duduk di kursi samping ranjang.
"Bicara yang jelas, Coin..." ucapku panik.
"Scout.. Bisakah kau duduk dan kita membicarakannya dengan baik. Kau pingsan hampir seharian penuh...."
Seharian?!
Aku mematuhinya dan duduk di pinggir ranjang. Dia menarik tangan kananku dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat. Tatapannya sendu dan teduh, aku merasa tenang melihat itu.
"Selamat, nak.. Kau seorang ayah sekarang..."
"Apa?" bisikku.
"Kenny melahirkan tiga anak yang sehat dan Kenny baik-baik saja..."
Aku tersenyum penuh syukur. Lega. Beban dari dadaku terangkat hingga membuat bisa bernapas dengan bebas.
"Di mana mereka sekarang?" aku hendak bangkit untuk berdiri, sebelum Mr.Coin menahan bahuku.
"Kenny baru melewati masa kritisnya dan belum bisa dikunjungi untuk saat ini. Dan tiga anakmu masih dalam perawatan inkubator..."
Aku mengangguk paham dan menatap kosong ke depan
"Kupikir aku akan kehilangan mereka.." Aku mengingat mimpi buruk sialan itu. Itu mimpi yang sangat nyata.
"Mereka kuat dan jangan menangis lagi, Scout. Aku sangat heran melihatmu menangis histeris hingga membuatmu pingsan. Padahal saat pemakaman orangtuamu, kau tidak mengeluarkan setetes air mata. Sedih pun tidak. Hanya wajah datar...."
Dia benar.
"Saat itu aku harus berpura-pura kuat..." bisikku, "Agar lawanku tidak memandang remeh ke arahku..."
"Aku mengerti jelas tentang itu.. Tapi Scout, apa kau tidak penasaran dengan kelamin anakmu?"
Aku menatap ke arah Mr.Coin dan tidak tau harus menjawab apa.
"Dua putri cantik dan satu pria tampan. "
Aku menggaruk tekukku yang tidak gatal. Rasa penasaran menggelitik di dadaku.
"Anak pertama pria atau wanita?"
Mr.Coin tertawa, "Aku akan menunjukkannya padamu..."
***
Aku merapatkan tubuhku pada kaca pembatas yang menghalangi ruanganku dan ruangan bayi-bayi kami. Mereka tidur dengan nyaman di kotak inkubator, bernapas, dan hidup. Mereka nyata. Aku menatap penuh takjub, bagaimana mungkin sesuatu seperti ini tercipta dalam tubuh Kenny? Bagaimana pula kenny sanggup membawa mereka ke sana ke mari selama sembilan bulan? Ajaib...
"Kenapa ada selang-selang?" Aku merasa terganggu dengan selang yang menempel pada tubuh mereka.
"Hanyalah rangkaian medis. Tidak perlu dikhawatirkan..."
Aku mengangguk dan menatap mereka bertiga.
"Yang mana anak pertama?"
"Yang memakai rajutan warna biru. Seorang bayi pria yang sehat.."
"Anak kedua?"
"Yang memakai rajutan krem dan yang ketiga rajutan ungu. Dua bayi perempuan yang sehat..."
Aku berusaha melihat perbedaan di wajah mereka agar nanti aku tidak salah dalam hal mengingat mereka, tapi mereka bertiga tampak sama, bentuk wajah mereka. Wajah merah, kelopak mata bengkak, tidak ada alis atau rambut, dan kuakui bahwa mereka sangat jelek. Kenapa bayi yang baru lahir sangat jelek?
"Mereka manis, bukan?"
Aku menatap ke arah Coin yang menatap takjub.
"Apa yang manis dari mereka? Mereka botak dan jelek. Alis mata saja tidak punya. Seperti alien..."
"Kau serius mengatakan itu? Pada anakmu sendiri?" dia menatapku terkejut.
Aku terkekeh, "Yah, itu penilaian terbaikku tentang mereka. Kau tidak setuju, Coin?"
"Kau ada benarnya... Mereka tidak punya alis..."
Lalu dia tertawa dan aku tertawa bahagia seraya menatap bayi-bayi mungil itu. Lalu, kami pergi ke ruangan Kenny dan mengintip dia dari balik kaca pintu. Dia masih harus di rawat, tapi Dokter sudah memastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Aku sekarang bukanlah hanya seorang suami, tapi seorang ayah. Tanggung jawabku bertambah dan itu tidak membebaniku, justru membuatku semakin semangat menjalani hidup. Aku akan membuat mereka bahagia. Mengabdikan hidupku pada kabahagian mereka. Kenny dan ketiga bayi kami.
Sekarang dan seterusnya kami akan bahagia dan baik-baik saja.
Yah.. Baik-baik saja....
***
Cantik dan indah...
Itulah yang kupikirkan saat melihat Kenny sedang menyusui Peeta di kamar pasukan kecil kami. Peeta-lah yang paling rakus dari antara saudara-saudaranyadan suara tangisnya yang paling kuat dari yang lain. Aku berdiri dan bersandar pada pintu yang membatasi kamar kami dan kamar bayi kami. Aku sangat menikmati hal seperti ini, memandang Kenny sepanjang hari.
Aku berjalan ke arahnya saat dia kembali menaruh Peeta itu ke box bayi. Aku memeluknya dari belakang dan menaruh daguku ke bahunya. Dia mengarahkan wajahnya ke arahku dan mencium bibirku sekilas. Llau kami menatap tiga bayi mungil yang tidur dengan nyenyak.
"Peeta sangat rakus bukan?" komentarku.
"Yah, seperti ayahnya.."
Aku terkekeh, "Mereka sudah tidur lelap, bukan?"
"Begitulah..."
Tanganku menjalar di lekuk tubuhnya, "Aku merindukanmu, Ken..." bisikku seraya menghisap telinganya lembut dan Kenny segera melenguh. Ah.. Betapa senang dan bangganya aku bisa membuat Kenny terangsang hanya dengan sentuhan biasa.
"Aku juga..."
"Bagaimana pemeriksaan Dr.Adele?"
"Aku sudah bisa, Scout..."
Yeah!!!
Aku segera menggendong Kenny menuju kamar kami dan membaringkannya di tempat tidur. Aku memandang wajahnya yang cantik dan segera mencium keningnya dengan lembut. Lalu mulutku merayap ke bawah dan kami saling berciuman dengan lembut. Kami melepaskan ciuman dan aku segera menarik gaun tidur Kenny, menampilkan dirinya hanya dalam balutan celana dalam.
Cantik dan berisi.
Aku menjilat bibirku dan aku mataku bertemu dengan mata Kenny, wajahnya memerah. Sial, bisa-bisanya dia malu-malu padaku yang sudah menghapal setiap inci tubuhnya. Aku melepaskan kaosku dan segera memasukkan daging kenyal itu ke mulutku hingga penuh. Tanganku yang satunya meremas dengan penuh nikmat.
Sial.. Tubuhnya sangat manis dan semakin manis pasca kelahirannya. Tubuhnya semakin berisi. Ahh.. Betapa nikmatnya. Kenny melenguh keras dan mendorong kepalaku semakin dalam ke mulutnya. Dia membuat semakin semangat.
"Ahk.. Scout.. Scout.." lenguh Kenny.
Aku menghisap bagian yang lain dengan nikmat, membuat pucuknya semakin memanjang ke depan dan semakin tegak. Puas dengan dadanya, aku mencium dan menghisap kulitnya yang lembut. Wangi bayi, uh... Dia sangat wangi dan manis. Mulutku semakin turun ke bawah.
"Ahhhh.." pekik Ken.
Aku melirik dia dan mata kami bertemu. Aku tersenyum miring.
"Pelankan suaramu, Ken.. Atau bayi kita akan bangun.." bisikku dan menghembus udara hangat dari mulutku, membuat dia melengkungkan punggungnya, mengarahkan miliknya ke mulutku.
"Sentuh aku, Scout... Sentuh...." mohon kenny dengan nada putus asa.
"Kau sangat wangi, sayang..." dan tanpa aba-aba, aku melebarkan kaki Kenny dan menghisap miliknya dengan mulutku. Menyentuh tiap inci miliknya. Aku menahan pinggul Kenny agar tidak bergerak-gerak dengan gelisah.
"Ahk.. Ahk.. Ahk..." pekik Kenny dengan suara tertahan.
Tubuhnya bergetar, pertanda dia akan datang. Aku segera melepas miliknya dari mulutku, membuat dia mendesah kecewa. Aku menjilat bibirku seraya menatap wajah Kenny yang kecewa.
"Kau nikmat dan enak, Ken..."
"Scout..." rengek Kenny, "Kenapa?"
Aku merayap di tubuhnya dan mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Aku mengecup bibirnya sekilas.
"Aku suka melihat dirimu seperti ini, Ken.. Memohon-mohon..." bisikku.
"Scout..."
"Aku akan sangat keras padamu, Ken... kau yakin tidak apa?"
Sudah empat bulan setelah kelahirannya dan ini malam pertama kami. Kuharap dia sudah cukup kuat.
Kenny membelai wajahku, "Dr.Adele bilang bahwa kita bisa melakukannya..." bisiknya malu-malu dan membuat diriku geram akan tingkah malu-malunya. Aku mengecup bibirnya lagi.
"Kau siap?"
"Yeah..."
"Aku akan sangat cepat dan keras, Ken.."
"Ye--" sebelum Kenny menjawab, aku segera mengisi Kenny dengan milikku. Memasukkan milikku ke miliknya. Memutar pinggulku dengan perlahan agar milikku semakin masuk.
"Nyaman?" bisikku pada Kenny.
"Yeah..." Kenny mulai menggerakkan pinggulnya dengan tidak sabar.
"Kau sangat semangat..." aku terkekeh dan aku mulai mendorong, menggerakkan tubuhku naik-turun dengan perlahan dan semakin cepat. Kenny mengikuti irama gerakanku, berusaha mengimbangi kecepatanku yang menggila. Aku menghisap lehernya dan tetap mendorong dengan cepat. Tempat tidur bergerak mengikuti gerakan kami.
"Oh.. Oh yeah, sweetheart.." lenguhku, "Nikmat... Kau nikmat.. Yeah..."
"Scout.. Scout.. Scout..."
"Sebut namaku, sayang... Sebut..."
Suara kami bercampur menjadi satu, decitan tubuh kami dan tumbukan antara ranjang dan dinding bagaikan musik yang mengiringi gerakan kami. Kami menggila di malam ini, menyalurkan cinta kami dengan gerakan hebat, melenguh, berteriak hingga pelepasan itu datang.
Napas kami memburu dan aku tidak puas. Aku memutar tubuh Kenny menghadap ranjang dan mengeksploitasi dirinya. Meremas dadanya yang penuh dengan nikmat. Memukul bokongnya yang cantik dan mendorong masuk ke dalam dirinya. Lalu, mendorong, mengisi, memompa milikku ke milik Kenny. Dan aku tau, setelah itu kami akan tetap bercinta karena kami tidak pernah puas.
"Aku mencintaimu..." bisikku dengan terus menggiringnya menuju puncak pelepasan kami.
***
Empat Tahun kemudian..
Aku dan ketiga pasukanku turun dari mobil. Katniss dan Prim memegang buket bunga. Aku mengarahkan mereka menuju pemakaman orangtuaku dengan lambat karena langkah kaki mereka sangat pendek. Kami berjalan di jalan kecil di antara pemakaman.
"Dad... Apa Mommy di sana?" ucap Katniss.
"Yeah..."
"Sampai kapan kita pergi mengunjungi Grandma dan Grandpa?" tanya Peeta
"Sampai nanti kau memiliki anak dan anakmu memiliki anak lagi, dan begitu seterusnya... Kita akan melakukan tradisi ini setiap pergantian musim..." ucapku.
"Artinya, kita melakukan ini untuk selamanya?" timpal Prim.
"Yeah, kids. itu tradisi kita dan kita akan menjaganya..."
"Itu Mommy!" mereka segera berlari saat melihat Kenny berdiri tidak jauh dari kami. Dia memakai dress coklat sebetis, rambut hitamnya diikat, dan dia tampak cantik.
"Hati-hati..." teriak Kenny dan aku hanya tersenyum menatap mereka berlari dengan kaki mereka yang mungil. Kenny berlutut di depan mereka dan mencium mereka bergantian.
"Aku tidak dapat juga?" ucapku setelah sampai di tempat mereka. Kenny melihatku dari bawah dan segera bangkit berdiri. Aku segera melingkarkan tanganku pada pinggulnya yang ramping dan mencium bibirnya.
"Uek...." ketiga pasukan kami bertingkah seolah mereka akan muntah dan kami berdua tertaawa setelah melepas ciuman kami.
"C'mon, kids... Kenapa aku tidak bisa mencium Mommy kalian di saat kalian bisa?"
Mereka segera memeluk kaki Kenny, "Karena Mommy adalah mommy kami..."
"Orang dewasa dilarang berciuman di depan anak kecil, Dad.." timpal Prim
"Terutama jika kau melakukannya di pemakaman...." lanjut Katniss.
aku terkekeh, "Whatever, kids..."
Lalu kami melakukan tujuan kami datang ke sini. Memberi penghormatan bagi orang tuaku dan orang tua Kenny. Kami menghormati mereka walaupun kami memiliki masa lalu yang buruk. Masa lalu biarlah masa lalu karena ada masa depan yang menunggu kami. Mungkin terasa sulit untuk menerima masa lalu, tapi jika kita lebih membuka hati dan pikiran kita, kita akan terbebas dari belenggu masa lalu. Dan aku bersyukur dengan adanya Kenny di sampingku untuk membantuku melangkah menuju masa depan.
Jika aku dan Kenny tidak menerima masa lalu, mungkin aku dan Kenny tidak akan berdiri di sini bersama anak-anak kami. Mungkin kami masih di dunia yang penuh dendam dan tidak memiliki kedamaian. Mungkin kami masih berusaha saling menyakiti. Mungkin hidup kami dipenuhi air mata, kemarahan, keegoisan, dan tidak ada cinta.
Namun, di sinilah kami berada. Penuh cinta dan kasih. Hidup dalam damai. Kami mungkin tidak tau bagaimana hari esok karena hidup ini penuh misteri, tapi aku yakin bahwa kami sanggup melewatinya dengan cinta dan kasih yang kami miliki. Kami mampu bertahan. Dan kisah kami akan kami ceritakan pada anak kami suatu saat, dan anak kami mencertaikan kisah itu lagi pada anak mereka, cucu, cicit, dan begitu seterusnya hingga cerita perjuangan hidup keluarga kami akan abadi
"Ayo Mom... Ayo Dad..." teriak pasukan kami setelah kami menaruh buket bunga. Mereka sudah tidak sabar karena sudah kelaparan.
Aku melihat Kenny yang tersenyum manis padaku dan aku mengarahkan tangan kananku padanya
"Together?" tanyaku.
"Together..." dan dia menerima dan menggenggam tanganku. Dia menyandarkan kepalanya pada lenganku dan kami berjalan bersama seraya menatap anak-anak kami yang berjalan tidak jauh dari kami.
"Hati-hati..." teriak Kenny.
"Yeah Mom!!"
"Mereka sangat patuh padamu..." ucapku.
"Kau cemburu?"
"Tentu saja tidak..." aku tersenyum dan mengecup pucuk kepala Kenny.
"Mereka sudah tumbuh besar..." bisik Kenny.
"Dan akan semakin besar..."
"Aku bahagia..."
"Aku juga, sweetheart..."
"Terima kasih, Scout sudah hadir dalam hidupku..."
"Kau sedang menggombal?" ucapku dengan suara jenaka.
"Aku serius..."
Aku terkekeh, "Aku tau sayang... Aku juga. I love you. Forever and always..."
"I love you to, Scout..."
Tanpa aba-aba, aku segera menggendong Kenny di depan tubuhku.
"Wow.. Scout..." pekik Kenny kegirangan dan aku segera berlari membawa dia bergabung dengan anak-anak kami yang sudah menunggu. Dan aku selalu membawa dia kemana pun kakiku melangkah. Membawa dia dan anak-anakku ke masa depan yang jauh lebih indah. Sekarang dan selamanya. Forever and always.
THE END
***
MrsFoX
Wait for epilog yah gais. hehe. Sudah selesai. yeayyy... Gimana"? Aku kurang berbakat buah ending yang happy dan bikin mewek gais wkwk, sorry kalo kurang nyentuh tapi coba dengerin pake lagu A thausand years-Christina Perry, sapa tau dapat feelnya gituloh. But, big thanks untuk kalian semua yang selalu mendukung jalannya cerita ini karena itu sangat membantuku untuk mengembang imajinasiku. Tunggu kisah Harry gais, besok bakal di up kalau riviewnya berhasil oleh pihak mangatoon. Ceritanya bakal penuh emosi, gairah, cinta, dengan karakter yang berbeda, dan lainnya gais. Tapi gak ada lucu" yah gais, gk bakat soalnya. Hehe, Tinggal satu chapter lagi untuk pasangan tercintah kita Kenny dan Scout sebelum kita benar" berpisah dengan mereka. Gak pisah kok, kalian bisa baca dari awal tanpa harus bersambung" lagi kalo kalian kangen. Semoga kita menemukan cinta sejati kita kek mereka berdua. Kalo ada pertanyaan, monggo bisa ditanya... Lopyuh anda lopyuh forever and always
NB: gambar hanya pemanis, sorry gak sesuai sama ciri" tokohnya