Because Of You

Because Of You
Another Chance (21+)



Happy Reading


Be wise readers. Tq


***


Kenny POV


Aku segera turun dari mobil bersama Scout dan menyadari bahwa kami ada di basement. Scout memegang tangan kiriku dan aku berjalan sempoyong. Scout menempelkan jari jempolnya pada alat semacam scan dan kami masuk ke dalam lift.


"Kita di mana?" tanyaku dan bersandar pada tubuh Scout. Aku menguap keras, mataku berair karena menguap.


"Apartemenku.."


"Rumahmu?"


"Aku sudah lama tidak tinggal di sana."


Aku menguap lagi, "Karena?"


"Kenny tetaplah sadar dan jangan tertidur.."


"Scout yang nakal..." ucapku melantur. Lalu, secara mengejutkan Scout mendorongku keluar dari lift setelah mendengar bunyi TING


Dia menciumku membabi buta dan aku segera membalas. Scout mengangkat tubuhku dan aku merangkulkan kakiku padanya. Dia membawaku entah ke mana tanpa melepaskan ciuman. Beberapa saat kemudian, Scout membaringkanku di tempat tidur dan melepas ciuman kami.


"Scout..." bisikku, lalu Scout kembali mencium wajahku dan membuka gaun merehku dengan perlahan. Itu membuatku gila saat sentuhannya mengikuti bentuk tubuhku dengan bibirnya mencium tiap inci tubuhku.


Aku mengerang keras merasakan sentuhannya. Kepalaku pusing akibat gairah.


"Kau sangat cantik, Ken...." bisiknya saat gaunku sudah terlepas. Aku memerah mendengar pujiannya dan dia membuka kemeja miliknya. Dia berjalan ke arah meja kabinet di samping tempat tidur dan mengambil sesuatu dari sana. Suara plastik terdengar, tanda dia memasang pengaman pada dirinya sendiri. Lalu, dia kembali ke hadapanku. Dia merayap dari bawah tubuhku dan menciuminya. Badanku bergetar dengan sentuhan perlahan Scout. Scout berada di depan dadaku dan membuka bra milikku.


"Kau milikku.." bisiknya dan mencium dadaku secara bergantian. Lalu meremasnya bergantian. Aku melengkungkan badanku ke arahnya dan mendorong kepalanya lebih dalam di sana. Itu sangat nikmat, teramat nikmat. Aku mengerang keras saat dia menggigit ujungnya yang sudah menegang.


"Scout..." bisikku.


"Sebut namaku sayang... Sebut..." Scout kembali naik dan mensejajarkan tingginya denganku. Dia melepaskan celana dalam milikku dengan kakinya.


Dia menurunkan kepalanya dan berbisik di telingaku, "Apa yang kau inginkan?" Scout mendekat kejantanannya ke millku, menggodaku dengan sangat tersiksa. Menggeseknya dengan penuh godaan.


"Ahk.. Scout.. Plis..." ucapku pening, aku menggeleng kepalaku ke kanan dan ke kiri, dan kedua tanganku mendorong tubuh Scout mendekat padaku. Namun, Scout tetap menahannya dengan bagus.


"Katakan atau tidak sama sekali..."


"Scout... Scout..." aku merengek tersiksa, aku mencakar kulit punggung Scout dengan frustasi. Aku sudah lama tidak merasakan ini. Ini membuatku menggila


"Katakan..." di menggodaku lagi.


"Aku menginginkanmu, Scout... Kumohon... Kumohon.."


Dengan itu Scout mendorong masuk miliknya yang membuatku sedikit terkejut dengan rasa yang sudah lama tidak kurasakan. Dua tahun ku yang sepi. Aku menggantungkan kakiku pada pinggang Scout sehingga dia masuk semakin dalam dan dalam. Aku mengikuti iramanya, dia naik dan aku turun.


"Kau milikku, Ken. Ya atau tidak?" dia mendorong sangat lambat. Menggodaku dengan teramat. Dia masuk dan keluar sangat perlahan, membuatku tersiksa. Aku bergerak cepat, tapi Scout menahanku.


"Scout..." rengekku dan tetap menggoyang.


"Stt... Kita akan melanjutkannya setelah kau menjawabku. Kau milikku, ya atau tidak?"


"Yah, Scout.. Yah..." ucapku putus asa dan segera Scout mendorong semakin cepat dan cepat hingga membuat kakiku lemas. Scout menciumu wajahku. Dia mendorong sangat keras dan cepat, bahkan membuat tempat tidur terdorong mengikuti irama kami. Tubuhku bergetar hebat, pertanda puncak milikku.


"Ahk!!" teriakku kencang dan aku melepaskan puncakku diikuti Scout setelahnya.


Scout segera ambruk dan berbaring di sisiku, tangannya di atas dadaku. Itu.. Itu benar-benar hebat..


"Ken..." Scout berbisik di telingaku.


"Uhm.."


"Aku belum puas..." dia meremas dadaku lagi.


Aku memutar pandanganku ke arahnya dan menatap bola matanya yang menghitam pertanda gairahnya yang belum surut. Kejantanannya mendorong pahaku dan tanpa aba-aba dia memutar tubuhku sehingga wajahku mengarah ranjang. Dia mengangkat perutku sehingga aku bertumpu pada tanganku dan memukul bokongku dengan keras.


"Aku akan sangat keras padamu malam ini," ucapnya seraya mencium bokongku bergantian. Dia meremas dadaku dari balik tubuhku dan kembali memasukiku.


Lalu, dia mengeksploitasi tubuhku sepanjang malam. Membuatku berteriak keras penuh kenikmatan sepanjang malam. Memanjakan tubuhku dengan sentuhan dan mulutnya yang ahli. Membuat badanku dan badannya basah oleh keringat. Suaraku, suaranya, dan decitan manis terdengar sepanjang malam. Dan ini adalah malam terpanjang dan ternikmat milikku setelah dua tahun yang membosankan.


****


Aku membuka mataku saat mendengar dering ponsel. Itu dering ponsel milikku. Aku melepaskan pelukan Scout dari perutku seraya bangkit untuk berdiri. Lalu, rasa sakit di selangkanganku membuatku meringis. Sial. Aku menahannya dan tetap mencari keberadaan ponselku.


Aku mencari tas milikku di antara pakaian yang tercecer dengan keadaan telanjang. Aku memerah mengingat betapa kami melalui malam yang sangat luar biasa. Sial, Scout mengeksploitasiku sangat keras dan kuat. Dia benar-benar pria yang kuat dan aku heran melihat diriku sendiri karena sanggup mengimbanginya sepanjang malam. Namun, dia benar-benar memanjakanku. Memberi pengamalan baru dalam dunia bercinta.


Aku mendapatkan tas kecilku dan menarik napas lega. Aku duduk di lantai yang dingin dan membuka tasku. Melihat layar ponsel, aku melihat nama Jacob di sana. Aku menerima panggilan.


"Ken!" dia berteriak di ponsel dan membuatku sedikit menjauhkan telingaku dari ponsel.


"Jacob, suaramu membuatku terkejut di pagi hari yang cerah..." ucapku dengan suara serak. Aku berdehem dan menyadari sesuatu, "Atau malam di London..."


"Kau okay? Suaramu sangat serak.." aku memerah lagi. Tentu saja serak, Scout membuatku berteriak sepanjang malam ini.


"Okay. Aku sehat. Jangan khawatir. Ada apa menelponku pagi-pagi seperti ini? Bukankah sekarang sudah larut malam di Londong?"


"Ken, ini sudah siang dan aku tidak ada di London..."


Apa?!


"Aku di New York dan sudah menunggumu sejak pagi di depan rumahmu bersama Maldivesh. Kau ada di mana?"


Aku melihat ponselku dan memeriksa jam. Jam satu siang?!!! Sial.


"Ken? Kau masih di sana? Kau ada di mana?" Jacob mencari-cari saat aku hanya diam saja.


"Aku.. Aku menginap di rumah teman karena ada hal yang sangat mendesak perlu kulakukan semalam..."


"Baiklah jika kau baik-baik saja dan kapan kau akan pulang? Maldivesh ingin sekali melihatmu."


Aku buru-buru mencari pakaianku dan mengumpulkannya.


"Okay.."


"Akan kututup. Bye.." ucapku dan segera mematikannya. Aku segera memakai bra dan gaunku yang kukancing denagn susah payah. Lalu mencari-cari celana dalamku di antara pakaian-pakaian. Di mana benda sialan itu? Aku tidak sanggup berjalan di New York tanpa celana dalamku.


"Kau mencari ini?"


Aku terkejut bukan main saat mendengar suara Scout. Aku berdiri dan melihat ke arah Scout yang mengangkat celana dalamku dengan tangan kanannya. Sejak kapan dia bangun?


"Bisa kau lemparkan?" dia melemparkannya dan aku segera mengambil, lalu memakaikannya di depan Scout.


"Kau akan pulang?"


"Apa kau memliki sisir?" ucapku, mengabaikan pertanyaan Scout dan mencari-cari keberadaan sisir.


"Meja kabinet sebelah kananku di laci nomor dua.."


Aku segera mencari keberadaan sisir dan segera menyisir rambutku setelah menemukannya.


"Jacob ada di New York?"


Aku melihat ke arah Scout seklias dan melanjutkan mengikat rambutku, "Begitulah..."


"Aku akan mengantarmu.."


"Tidak... Tidak perlu, Scout. Aku bisa naik taxi." ucapku panik dan aku tidak tau mengapa aku panik. Dan semakin panik saat Scout bangkit berdiri. Dia mengabaikanku dan segera pergi ke ruangan lain di kamarnya yang kuyakini ruangan khusus pakaiannya.


Aku menatap Scout tidak percaya. Mana bisa aku keluar dari sini tanpa sidik jari miliknya. Aku menatap kamar yang kacau dan merasa malu. Sial. Pertemuan pertamaku bersama Scout setelah dua tahun berakhir di ranjang sepanjang malam. Aku berniat memperbaiki keadaan kamar, tapi rasa nyeri di tubuhku segera menghantamku.


"Kau tidak bisa memperbaikinya dengan keadaan seperti ini.." ucap Scout dengan pakaian lengkapnya. Dia memakai kaos putih dancelana levis. Sial, dia sangat tampan.


"Kau benar..."


"Ayo.." ucapnya dan segera berjalan keluar kamar. Dia sangat dingin pagi ini, padahal semalam begitu hangat dan... Ahk?! Hantu apa yang merasukinya sehingga bersikap dingin seperti ini?


Aku berjalan dengan susah payah dan rasa nyeri di selangkanganku semakin hebat sakitnya. Sial. kenapa semalam terasa nikmat dan sangat sakit saat ini? Aku berhenti berjalan dan membungkukkan badanku kelelahan.


"Butuh bantuan, young lady?" ucap Scout dengan suara hangat miliknya. Aku mengangkat kepalaku dan menatap dia berdiri di depanku dengan senyum hangatnya. Kenapa dia bisa berubah dengan sangat cepat?


"Aku hanya sedikit... Kau tau maksudku bukan?" aku menggeleng kepalaku, bingung dengan kata apa yang harus ku pilih dan ku ucapkan. Secara mengejutkan, Scout segera menggendongku.


"Whoa... Scout. Turunkan aku.." ucapku seraya mengalungkan lenganku pada lehernya.


"Badanmu sangat ringan, apa kau rajin makan?" Scout mengabaikanku dan tetap menggendongku bahkan di lift.


"Aku makan dan bisa kah kau menurunkan aku di sini saja?" ucapku setelah kami di lift.


"Tidak.."


Aku segera menarik napas panjang dan pasrah. Sial, sifat gila kontrolnya muncul kembali.


"Jacob datang yah?"


"Dari mana kau tau tentang Jacob?"


"Kau menceritakannya semalam, kau lupa? Bahkan tadi aku sudah bertanya tentang dia."


Hah! Jika mabuk, mulutku tidak bisa di filter dan membuatku semakin pelupa. Setelah keluar dari lift, dia membawaku ke arah mobilnya dan menurunkanku di samping pintu mobilnya. Aku segera masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tidak tau kenapa dia datang ke sini..."ucapku akhirnya saat dia hanya diam saja.


"Di mana alamat rumahmu?"


"17th street, Manhattan. Blok 102." ucapku dan dia mengarahkan GPS miliknya.


"Ken.."


"Yah?"


"Kau anggap apa yang kita lakukan semalam?" aku menatap jalan dan tidak melihat Scout.


"Aku belum siap..."


"Aku masih dan tetap mencintaimu hingga saat ini..."


Jantungku berdetak kencang sekarang karena pengakuannya, tapi ada sesuatu dalam diriku yang membuatku ragu.


"Scout, bisakah kita membahasnya lain kali?"


"Apa karena Jacob? Aku yakin kau pun masih tetap menyukaiku, tapi kau ragu akan sesuatu."


"Sudah kukatakan bukan karena Jacob. Dia lebih muda delapan tahun dariku, Scout. Kumohon jangan memaksaku membahas hal ini..."


"Kapan kita akan membahasnya?"


"Scout, beri aku waktu.."


"Aku merindukanmu, Ken... Benar-benar merindukanmu..." aku memutar pandanganku ke arahnya. Wajahnya keras dan datar. Dia menatap lurus ke depan, tapi bola matanya mengkilat. Matanya berair. Aku segera mengalihkan tatapanku ke arah jalan, menggigit kulit jariku. Sial. Dia tulus. Benar-benar tulus. Dan aku tidak tahan melihat dia seperti itu.


Saat pertama kali melihatnya, saat dia berpidato malam itu, aku bisa melihat betapa kesepiannya Scout. Aku seolah bisa merasakannya dari tatapan kerasnya yang cenderung sendu dan punggungnya. Dia sudah melewati waktu yang berat di hidupnya. Sial, ditambah fakta bahwa aku salah satu sumber luka dalam hidupnya. Tidak memiliki siapa pun yang bisa dia andalkan, tidak ada keluarga, dan.. Scout tidak pernah dan pandai dalam hal bergaul, dia tidak punya teman. Dia benar-benar kesepian. A lonely man. Aku... Aku meraskan nyeri dalam hatiku betapa Scout sudah melalui hidup penuh luka dan perjuangan.


Aku ingin bisa menjadi orang yang diandalkannya. Dia benar, aku masih menyukainya. Tapi ada sesuatu yang membuatku ragu melangkah lagi. Lalu, mataku menatap Jacob yang ada di depan rumahku yang mencari-cari sesuatu setelah kami sampai dan parkir di jalan depan rumahku. Jacob melihat ke arah mobil Scout, seolah mengetahui kami ada di mobil ini walau kaca mobil hitam.


Aku menatap Scout yang juga menatap Jacob. Tatapan kosong. Apa yang dia pikirkan? Dan apakah yang di katakan Scout benar? Bahwa aku ragu melangkah karena Jacob?


***


MrsFox


Selamat Ulang tahun Indonesia. Selamat 17-an untuk kalian walau di masa pandemi ini. Semoga kita baik-baik saja yah gais... Terimakasih gais. lopyuh from the moon and back