Because Of You

Because Of You
58. Cantik



.......


.......


.......


🍒


Tiga hari berlalu. Hari ini Kara dengan semangat 45 berjalan menuruni anak tangga ia terlihat sangat cantik. Ah, itu akibat Steven yang memaksa wanita itu kemarin pergi ke salon. Rambutnya yang lurus kini sedikit bergelombang dan sebagian di cat berwarna brown pada bagian belakang. Digerai begitu indah.


"Sayang kau harus dengar perintahku dan lakukan semuanya. Jangan banyak membantah, ini demi kebaikanmu". Ucap Steven ketika mereka berada di salon terkenal dikota itu.


Kara menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian kemaren. Tapi memang seharusnya ia menuruti perintah Steven. Pria itu berbicara selalu tepat dan benar. Dan yahhhkkk, dia juga pusing bagaimana kalau Panji melihat warna rambutnya ini, bisa-bisa pria itu mengomel sepanjang hari. Padahal kemarin ia memberi tahu si mbak-mbak salon itu untuk memberi warna rambutnya tidak terlalu banyak, eh malah tu mbak kelupaan. Kara sebisa mungkin menutupi warna rambutnya


"Nek, Kara berangkat. Takut telat...". Cepat-cepat menyalimi tangan nenek tak lupa mencium kedua pipinya.


"Iya, hati-hati sayang. Assalamualaikum...".


Kara berhenti lalu berbalik sambil cengengesan. "Hehehehe. waalaikumsalam nek". Ia merutuki dirinya. Bisa-bisanya tidak mengucapkan salam lebih dulu.


Kara berjalan keluar lorong. Ia sudah memberitahu Steven agar tidak menjemputnya, dengan berbagai macam rayuan akhirnya Steven menyetujui. Sudah cukup ia merepotkan pria itu. Dengan langkah sedikit cepat Kara akhirnya sudah berada di depan lorong. Ia akan menunggu angkot.


1 menit


2 menit


3 menit


4 menit


5 menit


"Huh nih abang-abang angkot udah pada males nyari duit yaa. Kok nggak ada yang lewat sih". Kara sedikit kesal. "Masa awal gue masuk terlambat lagi...".


Kara mendumel. Lalu mencoba bersabar menunggu lagi. Rambut nya di terpa-terpa angin, tangannya disilangkan ke dada, mulutnya sesekali meringis ketika melihat angkot yang sudah di penuh oleh anak-anak SD.


Brumm Brummm


"Woyyy Kara".


Kara melihat pengendara motor yang tepat berada didepannya saat ini dengan gembira, sumringah.


"Bisma!!!...".


"Ngapain lo disini?".


"Gue nunggu angkot...". Kara menampilkan wajah imut. "Gue numpang sama lo aja yah". Pintanya dengan mata berbinar.


Belum juga Bisma menjawab Kara sudah naik lebih dulu.


"Ayoo Bis, nanti telat". Kara memukuli bahu Bisma pelan.


"Yaelah, ni orang belum juga di izinin". Bisma berbicara menyindir.


"Jawabannya pasti lo mau. Maka dari itu gue naik aja". Kara mengikat rambutnya agar tak berantakan.


"Belum tentu".


"Hiii".


"Busettt sakit banget".


Bisma mengusap-usap pinggangnya yang mendapat cubitan dari Kara.


"Ayoooo".


"Iya iya iya. Yang punya motor siapa, yang memerintah siapa".


Bisma mendengus. Lalu mengendarai motornya menuju sekolah.


"Kok lo lewat sini, bukannya rumah lo disebelah sana yaa".


"Pengen aja,...".


Kara hanya ber oh ria.


"Lo tau nggak Bis, hari pertama gue di skors. Panji sempat datang kerumah". Kara dengan santai memberitahu Bisma.


"OHH, ternyata dia kerumah lo. Huu Panji sial*n, katanya nggak enak badan".


"Hu um, dia kenapa sih?, gue lihat tu orang aneh deh".


"Iya, semenjak dia suka sama lo". Ucap Bisma pelan.


"Apa???. Lo ngomong apa Bis?". Kara mendekatkan telinganya dipunggung Bisma.


"Nggak ada".


---


SEMENTARA itu di parkiran sekolah.


"Panji!".


Keyla memanggil Panji yang baru saja keluar dari mobilnya.


Panji menutup pintu mobil kemudian menoleh kearah Keyla. "Ya??". Dengan muka tanda tanya.


Wanita itu mendekat dengan menampilkan senyum secerah matahari pagi. "Selamat pagi".


Alis Panji berkerut. "Pagi...". Balasnya sambil berjalan pelan. Mukanya tak menunjukkan ekpresi apapun.


Keyla mengikut. Keduannya memasuki koridor gedung sekolah.


"Kemarin... Lo kemana?". Keyla memutuskan untuk membuka pembicaraan.


"Kemarin?".


"Yaa, gue lihat beberapa hari ini lo nggak bareng Bisma dan Niko ke kantin".


"Oh. Gue sibuk". Panji menjawab singkat. Ia malas berbicara beberapa hari ini bahkan memilih mengurung diri diruang OSIS, tidak bersemangat menerima pelajaran. "Ini semua karena Kara". Wakilnya itu seperti kupu-kupu yang beterbangan diatas kepalanya.


Keyla hanya mengangguk pelan. Padahal dirinya berharap Panji menjawabnya lebih jelas dan panjang agar obrolan mereka berlangsung lama. Keyla tidak percaya Panji sibuk di ruang OSIS padahal sekolah tidak mengadakan kegiatan. Pikirannya langsung tertuju pada Kara yang 3 hari ini sudah tidak masuk. Apa Karna Kara tak masuk sekolah???. Lagi dan lagi pikirannya menuduh Kara dalang dari semua ini. Keyla menggeleng tidak seharusnya semua tentang Panji ia libatkan dengan sahabatnya itu.


(Tapi, bukankah feeling Keyla benar. Panji seperti itu Karena Kara).


"Gue dul...".


"PANJII".


Panji menoleh lagi, ia mengenal suara yang memanggilnya, Bisma. Keyla pun juga menoleh kesumber suara.


Bisma berlari tergesa-gesa mendekati Panji. Hanya lima detik melihat Bisma Panji langsung mengalihkan pandangannya kearah wanita yang berada dibelakang temannya. Kara. Wanita itu sedang berjalan santai dikoridor. Yaah, ternyata wanita itu telah berakhir masa skorsingnya. Satu kata untuk Kara hari ini, cantik.


Panji bersitatap dengan Kara. Mau tau reaksi Kara?. Ia hanya menatap biasa saja, malah ia membuang pandangan.


Keyla memejamkan mata. Senyumnya yang tadi telah sirna malah digantikan oleh ekspresi kesal. Lagi-lagi ia menyaksikan tatapan terpana Panji pada Kara. Bahkan ia di acuhkan. Padahal pria itu tampak lesu tadi.


Panji masih mengabaikan Bisma. Ingin sekali ia menghampiri Kara, mencari kesalahan dari wanita itu agar ia bisa dekat dan bertukar kata walau dengan ekspresi dan ucapan marah-marah.


Kara menuju kearah Keyla.


"Akhirnya gue masuk sekolah Key. Kangen banget sama lo". Kara sekejap memeluk Keyla.


Sayangnya, itu kabar buruk untuk Keyla. Keyla hanya bereaksi dengan senyum kaku.


🌷


AAAAAA


KARAAAAA.


Suara Mila menggema didalam ruang OSIS hingga mengagetkan beberapa anggota lain yang berada dalam ruangan itu juga. Mila Menepuk bibirnya yang telah lancang padahal ada Panji.


"hehehehe lo kangen gue kannn". Ucap Kara dengan percaya diri. Setelah melepas rindu dengan sahabat-sahabatnya Kara langsung bergegas keruangan OSIS untuk menemui Mila dan Ana. Yang lain memperhatikan pembicaraan 3 wanita yang sedang melepas rindu itu.


"Iya Kar, lo benar. Kita kangen sama lo". Ucap Ana sambil mendekati Kara. Suaranya pelan kegirangan.


"Biasa aja kali". Niko yang duduk di pojokan bersuara.


Kedua wanita yang bersama Kara itu langsung mencibir. Tapi Niko malah memasang earphone ke telinga nya. Cuek.


"Ngomong-ngomong lo tambah cantik".


"Iya ihhh, kayak ada yang beda gitu".


Mila dan Ana tak henti-hentinya memuji. Ntahlah kedua wanita itu sangat nyaman apabila bertemu Kara. "Soalnya lo beda dengan yang lain. Semua orang yang dekat sama lo pasti akan nyaman, termasuk kita berdua". Itulah ucapan yang selalu Mila dan Ana ucapkan pada Kara. Berbagai macam obrolan walau itu tak penting pasti akan menjadi bahan pembicaraan mereka.


"Ternyata dia masih punya muka datang kesini, nggak tau malu". Salah satu anggota OSIS yang tidak menyukai Kara berbisik-bisik dengan anggota lain.


"Emang kenapa?". Tanya salah satu dari mereka karena menurutnya Kara tak salah. Mereka tau arah pembicaraan.


"Dia kan udah ngejelekin OSIS,".


"Itu bukan salah Kara seutuhnya kali...".


"Yaelah elu...".


Panji terusik.


"Kalian semua keluar".


Semua saling memandang, keadaan langsung hening. "Kalian nggak denger?". Tanya Panji tegas. Matanya melotot tajam pada beberapa anggota yang sedang bergosip.


Dalam sekejap semua orang berbondong-bondong keluar. Bisma memukul bahu niko yang sedang mendengarkan musik lalu menarik temannya itu keluar, ia tau apa yang Panji ingin lakukan "Melepas rindu mungkin hahaha". Termasuk Mila, Ana dan Kara malah dengan semangat ketiga wanita itu melangkahkan kakinya.


"Kecuali lo".


Kara berhenti. Menatap tanda tanya Panji. "Ni orang kenapa lagi...". Batin Kara.


Mila menyikut Ana, tersenyum menyeringai. "Aaaaa gue tau Panji pasti pengen berduaan sama Kara. OMGGG...".


Ana menaikan sebelah alisnya. "Lo kenapa sih...".


"Lebih baik lo ikut gue sekarang".


"Eh... T-tapi Kara...". Ana yang tidak sepemikiran Mila memandang Kara kasihan. Pikirannya, Panji akan memberikan hukuman pada Kara karena telah berani membuat onar yang dimana status Kara disekolah ini adalah wakil ketua OSIS.


Blamm


Bunyi pintu yang ditutup oleh Mila.


"Issss Mil, seharusnya kita bawa Kara keluar. Kalau Panji ngelakuin sesuatu...".


"Bagus dong".


"Hahkkk!!!".


"Udah deh, pikiran lo nggak nyampe".


...


"Ternyata lo cuek juga ya".


Mata Kara langsung berotasi. "Cuek". Emangnya dia harus apa saat bertemu? Loncat-loncat, menyapanya dengan senyum gembira. Hadeuh.


Pria itu berjalan kearahnya dengan tangan yang memegang beberapa kertas. Matanya terus tertuju pada Kara. Bisa-bisanya wanita ini tadi menghiraukannya.


"Ini apa?". Panji memegang rambut Kara yang digerai indah kini sedikit bergelombang dan mempunyai warna. Matanya sangat teliti, hingga menyadari perubahan penampilan Kara. Panji memperhatikannya sedetail itu. Padahal yang lainnya tidak terlalu memperhatikan mereka hanya mengatakan "Kayak ada yang beda deh".


Otak kara loading. "Yakk, pertanyaan apa itu?. Apa dia nggak lihat ini rambut. Matanya udah rabun keknya". Batin Kara jengkel.


"Lo nggak liat ini rambut?". Kara menjawab.


Takk


Beberapa kertas yang ada di genggaman Panji sudah mendarat mulus di dahi Kara.


Auukkk


"Ni orang main pukul aja. Haissss hah... rambut gue". Kara sadar. Pasti Panji mau menegurnya sekarang.


"Hehehehe. Ini... Ini biar rambut gue sehat". Kara beralasan tak masuk akal. Sedikit melirik-lirik Panji


"Oh yaaa?".


Panji melangkah lebih dekat. Kara berjalan mundur.


"Gue nggak marah". Sambil memegang rambut Kara lagi.


Ucapan Panji membuat langkah Kara berhenti. "Masa sih dia nggak marah".


"Hmm??". Kara menatap curiga jangan sampai kertas yang ada digenggaman pria itu kembali melayang didahinya.


"Lo cantik".


...."APA???!!!". Batin Kara menjerit kuat. "A-apa ini mimpi? Telinganya tak salah dengar?. Panji baru saja memujinya. OH NO!!!. Huhuhu nih pipi kenapa panas sihh ".


Panji meninggalkan Kara dalam keterkejutannya. Pria itu malah duduk kembali dikursinya tanpa berkata apa-apa lagi.


Panji menutup mulutnya rapat-rapat. Ia baru saja memuji wakilnya itu secara terang-terangan. Aih ia sedikit malu.


Kara segera menghempas keterkejutannya dan langsung pura-pura biasa saja.


"Ekhhmm, lo muji gue?". Kara menyeringai lalu bersedekap. "Jangan sampai lo suka sama gue". Dengan pede ia mengucapkan kalimat itu pada Panji. Iya kan!?, bukankah dulu Panji pernah bilang kalau dia tidak akan mungkin memiliki perasaan pada Kara.


Panji mengangkat pandangannya. Ia merasa menyesal memuji Kara tadi. Lihatlah sekarang, wanita itu malah menyombongkan diri. Dan apa tadi katanya?, jangan sampai menyukainya. "Cih, kalau IYA kenapa?, gue nggak peduli kalau lo punya pacar". Satu hal dalam diri Panji semua yang ia mau harus dimilikinya. Sekalipun itu memaksa Kara untuk berada dalam genggamannya.


Kara menyerngit. "Tumben ni orang nggak nyerocos, biasanya kan selalu... Cihhh apa dia habis terbentur sesuatu tadi atau dia sedang sakit gigi". Batinnya.


"Ambilin gue map merah itu". Panji tiba-tiba menyuruh. Padahal Kara dari tadi menunggu tanggapan Panji tentang ucapannya.


Kara menghentakkan kaki kesal menuju lemari Kaca yang berada dipojokan. Ia menuruti apa yang disuruh oleh Panji walau hatinya dongkol. Ia menunggu respon Panji.


Tak


Map itu disimpan kasar oleh Kara didepan Panji. "Tuh...".


"Lo yang baca".


"hah?. Lo nyuruh gue baca map yang isinya tumpukan kertas tebal ini. Ihh nggak".


"Gue nggak nerima penolakan. Lo baca itu semua dan salin nama-nama siswa yang belom terdaftar disana".


"What!!!. Bukannya itu tugas Mila. Kok malah gue yang ngerjain". Kara protes.


Kini Panji berusaha sabar didepan Kara. Ia menarik napas pelan. "Selama lo nggak masuk, Mila sudah bekerja keras".


Alis Kara berkerut. Baru saja Panji menjawabnya dengan lembut biasanya kalau ia protes begini huh pria itu langsung memaki dan memarahinya.


"Aneh".


.


.


.


Salam dari Author❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤