Because Of You

Because Of You
Epilog



Happy Reading


***


Gaun volkadot, sepatu, hingga pitanya semua berwarna senada. Merah. Pipinya gembul dan bersemu merah. Rambutnya di kucir tinggi menjadi dua. Dia masih kecil dan dia sangat ribut. Namun, ini pertama kalinya aku bertemu anak yang lebih kecil dariku setelah Jenn.


"Dia jelek..." ucap Jenn saat kami sedang duduk di sofa dan memandang balita tadi yang duduk bersama Mrs.Cullen, ibunya. Dia manis dan patuh.


"Kau benar..." aku selalu mengiyakan segala hal untuk Jenn karena dia akan marah besar jika aku tidak sependapat dengannya. Dia anak perempuan yang sangat kasar, keras kepala, dan bandel. Dia juga tidak sopan padaku, padahal aku lebih tua satu tahun dari dia. Orang tuaku mendidikku untuk jadi anak yang tenang dan taat, berbeda dengan Jenn.


"Aku benci gaunnya.. Menjijikkan sama seperti ibunya..."


Kupikir tidak, Mr.Cullen dan Mrs.Cullen adalah orang baik dan aku yakin putri mereka juga akan dididik dengan baik.


"Aku tidak suka mereka datang ke sini..." oceh Jenn. Aku menoleh ke arahnya. Aku tidak tau kenapa dia selalu membenci semua orang, kecuali aku, papa, mama, dan papanya sendiri. Bahkan dia membenci anak anjing yang sangat lucu. Lalu aku kembali menatap anak kecil tadi yang melirik ke arah kami, penasaran. Dia punya warna bola mata yang sama dengan Mrs.Cullen


"Apa kau tau nama anak kecil itu, Jenn?"


"Kenapa pula aku harus tau namanya..."


Jelas dia tau nama anak kecil itu.


"Aku akan membiarkanmu masuk ke dalam kamarku..." Dia selalu memaksa ingin masuk dalam kamarku, tapi aku tidak suka karena itu ruang pribadiku. Tapi, demi balita manis tadi aku rela melakukannya.


"Serius?"


"Yeah..."


Jenn memberi jemari kelingkingnya padaku dan aku tersenyum padanya, "Janji?"


Aku mengaitkan jari kelingkingku, "Janji..." lalu melepaskannya.


"Namanya sangat jelek....Kenny. Selera orangtuanya sangat buruk....."


"Kenny?" aku mengulang lagi dan menatap ke arah Kenny, mengabaikan celotehan buruk Jenn tentang Kenny. Itu namanya yang manis, sesuai dengan wajahnya. Dia manis dan kuharap orang tuaku tidak keberatan membuat anak kecil perempuan seperti Kenny untuk hadiah ulangtahunku.


****


Usia sepuluh tahun dan di usia itu juga aku kembali melihat Kenny yang sudah berusia tujuh tahun. Aku tidak bisa melupakannya sejak pertemuan pertama kami karena aku mengharapan adik perempuan seperti dia, tapi orang tuaku bilang membuat anak bukanlah hal yang simpel. Tentu aku kecewa, tapi tidak apa. Aku akan membuat sendiri adik perempuan saat aku tau caranya.


Orang tuaku membuat pesta kecil-kecilan dan Kenny diundang. Banyak anak-anak yang diundang, pesta ulang tahunku diadakan di taman rumah kami. Sejujurnya aku tidak senang dengan pesta ini, tapi aku menyadari bahwa aku bisa melihat Kenny lagi jika pesta ini diadakan dan yah... Aku bertemu dia lagi. Pipinya tidak segembul dulu, tapi tetap memerah. Dia memakai gaun krem selutut, rambutnya hitamnya di gerai, sepatu hitam, dan dia memegang kotak hitam kecil.


"Untukku?" itu adalah percakapan pertama kami.


Dia tersenyum lebar, memamerkan giginya yang ompong di bagian depan, "Yeah..." dia mengangguk dan aku tertawa melihat wajahnya. Dia seperti orang berbeda saat tersenyum. Saat wajahnya datar, dia seperti orang yang kalem dan tenang.


Aku menggoyang kotak itu di dekat telingaku dan mendengar bunyi gemeletuk, "Apa ini?"


Dia tersenyum, "Ayo.." dia menarik tanganku meninggalkan keramaian pesta menuju ke arah taman yang lebih sepi. Aku malu karena dia memegang tanganku dengan tangannya yang hangat. Kenapa aku malu, Jenn hampir setiap hari menyentuhku dan selalu memaksa agar kami bisa mandi bersama, tapi aku tidak pernah malu.


Aku melihat rambut gelombangnya bergerak ke sana-ke mari, terhembus angin. Dia sangat wangi dan wanginya sangat lembut, sangat cocok untuk usianya. Aku harus menyuruh Jenn memakai pewangi yang dipakai Kenny dan berhenti memakai parfum aneh. Lalu, Kenny berhenti di depan kursi taman putih. Dia melepas tanganku dan berusaha naik untuk duduk di kursi. Dia terlalu pendek.


"Bantu aku..." ucapnya dan aku segera mendorong tubuhnya untuk naik ke kursi dan berhasil.


Aku naik ke kursi dengan mudah karena aku lebih tinggi dari dia dan aku duduk di sampingnya. Kakinya yang menggangtung bergerak ke depan dan ke belakang. Aku duduk dengan rapi dan tidak menggerakkan kakiku seperti dia.


"Kau Scout Sharp, bukan?" ucapnya dengan suara khas anak-anak


Dia tau namaku?


"Kau tau namaku?"


"Yeah, Mommy selalu bercerita tentangmu padaku.."


Aku penasaran apa yang diceritakan Mrs.Cullen pada Kenny dan kuharap Mrs.Cullen menceritakan hal yang bagus. Jika tidak, akan sangat memalukan.


"Aku juga tau namamu..."


"Tentu kau tau karena Dad dan Mom bekerja di sini..." Sejujurnya, orangtuanya tidak pernah bercerita tentang dia padaku.


"Apa yang di cerikan Mrs.Cullen?"


Dia menatapku dengan bola matanya yang bulat dan jernih, "Mommy ingin anak seperti dirimu..." ucapnya sendu.


Kenapa? Tidak ada yang istimewa dariku. Malah aku berharap memiliki adik seperti dia. Dia jauh lebih baik dariku dan aku yakin orang tuaku akan senang jika memiliki anak perempuan semanis, sebaik, dan seceria dia.


"Kenapa?"


"Kau sangat sopann, rapi, pintar, dan disiplin... Itu kata Mommy.." Apa menjadi anak yang sopan, rapi, pintar dan disiplin itu sebuah kelebihan?


"Kau manis kok..."


"Menjadi anak manis tidak cukup untuk Mommy. Dad dan Mom selalu bilang aku harus bisa 85% seperti dirimu. Pintar, sopan, dewasa, dan disiplin..."


"Apa keahlianmu?" aku harus menghiburnya.


"Aku suka musik, terutama piano. Grandma mengajariku bermain piano..."


"Kalau begitu bermainlah dengan bagus dan tunjukkan keahlianmu pada orangtuamu.."


Dia menggeleng, "Mom dan Dad tidak suka aku bermain piano, mereka lebih suka jika aku ikut les tambahan Matimatika, sejarah, dan pelajaran lainnya yang membosankan..."


Ada satu sifat yang dapat kuketahui tetang Mr.Cullen dan Mrs.Cullen, mereka keras dan orang yang suka menunttut. Pantas Jenn tidak suka pada mereka, apa mereka juga suka menunttut orang tuaku?


"Bukalah.. Aku membuatkannya untukmu. Sebenarnya Mommy sudah membungkus kado untukmu, tapi aku ingin memberimu sesuatu yang bagus.."


Aku tersenyum dan menggangguk kecil. Lalu aku merobek kertas kado yang dilipat asal-asalan. Aku membuka kotaknya dan mengambil hadihnya miliknya. Gantungan kunci? Itu memiliki manik berbentuk bulat seperti bola yang dibuat dari kain perca berwarna hijau, ada dua mata ikan plastik yang ukurannya yang tidak sama menempel pada kain perca itu,  dijahit dengan benang hitam yang asal-salan, dan mulutnya berbentuk senyum zig-zag.


"Aku membuat itu sendiri untuk tugas kerajinan sekolah dan mendapat nilai bintang untuk itu..." ucap Kenny dengan penuh bangga.


"Kau memberikan tugas kerajinanmu sebagai hadiah?"


"Yeah dan itu benda favoritku. Namanya Dodo dan jaga dengan baik..."


Itu memang tidak bagus, tapi dia sudah berusaha keras, "Terimakasih. Aku menyukainya..." aku tersenyum. Aku menyukainya. Aku suka Kenny dan Dodo sejak saat itu...


***


Aku menatap tanah coklat yang menimbun peti mati orang tuaku dan orang tua Jenn. Kecelakaan mobil yang hebat itu terjadi dan hanya aku yang selamat. Itu mematahkan hatiku dan hati Jenn. Aku bahkan belum genap 17 tahun dan sudah di tinggal sendiri.


"Dad..." hisak Jenn yang berdiri di sampingku. Aku mengeratkan lenganku melingkari tubuhnya, "Mereka membunuhnya, Scout.." bisiknya lagi.


Aku tau siapa yang dia maksud. Mataku melihat wajah-wajah orang yang mengikuti pemakaman ini. Para Paman dan Bibiku yang licik. Yah, mereka yang merencanakan kecelakaan mobil ini. Lihat wajah mereka yang pura-pura sedih dang berkabung... Aku ingin meludahi wajah mereka. Dasar penjilat sialan.


Mataku bergerak lagi, melihat Mr.Cullen dan Mrs.Cullen. Mereka juga sama liciknya. Orang tuaku mempercayai mereka dan yang mereka lakukan adalah sebuah penghianatan. Aku salah menilai mereka sejak awal, kupikir mereka orang baik. Kini aku tau jelas kenapa Jenn membenci mereka semua karena dia bisa merasakan dan mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat.


Lalu pandanganku bertemu dengan gadis remaja berusia 14 tahun itu, pertemuan kami yang ketiga. Dia berdiri di samping Mr.Cullen, menatap tanah yang di lempar menutupi peti itu. Dia memakai gaun hitam selutut, rambutnya dikucir kuda, dan dia semakin cantik. Sadar ditatapi, dia menoleh ke arahku dan kami saling bertatapan.


Aku tidak yakin apakah dia mengingatku. Dia memiliki bola mata yang sama dengan Mrs.Cullen dan dia memiliki bentuk wajah Mr.Cullen. Aku menatap tajam ke arahnya. Aku membencinya. Aku tidak kagum lagi dengannya. AKu membenci mereka semua dan aku akan membalaskan dendamku dengan sangat baik


"Daddd..." hisak Jenn lagi dan dia menyandarkan kepalanya pada bahuku dan tangan kami saling berpegangan erat.


"Aku akan membalaskan dendam kita, Jenn.. Aku berjanji..."


Dan tatapanku tidak sedetik pun lepas dari Kenny. Dia dan keluarganya akan membayar semua luka kami.


****


Waktu berjalan dengan cepat. Aku mendisplinkan diriku. Belajar dan belajar. Aku mengenali mana musuh dan mana teman. Aku tumbuh menjadi pria dewasa yang mapan dan tidak terkalahkan. Aku mengalahkan semua lawanku. Aku menyingkirkan Paman dan Bibiku, lalu yang terakhir adalah Benjami Cullen dan Samantha Cullen. Namun, itu tidak semudah yang kubayangkan.


Mereka berdua menyadari langkahku untuk balas dendam dan berniat melarikan diri membawa putri semata wayang mereka. Tapi malam itu bukan aku yang bekerja untuk balas dendamku, melainkan karma. Mereka mengalami kecelakaan mobil di jalan tol pada malam yang berhujan. Aku pikir mereka bertiga tewas, tapi Kenny selamat. Dia tidak berada di mobil itu, melainkan di bandara. Hendak pergi meninggalkan New York.


Aku tersenyum bahagia, setidaknya karma memberikan sisa untukku. Aku bisa melampiaskan segala kemarahanku dan dendamku pada Kenny. Aku tau jelas dia tidak berhubungan dengan hal ini, tapi siapa yang peduli. Dia anak seorang pembunuh. Pembunuh orangtuaku.


Aku menikahinya dan memberikannya mimpi buruk


Jenn menjauh dariku sejak saat itu karena tidak suka rencanaku untuk menikahi Kenny. Aku tidak peduli dan tetap melakukannya. Sayangnya, Kenny berpikir bahwa aku adalah pembunuh orang tuanya dan dia berpikir aku sengaja melakukan itu agar aku bisa menikahinya. Aku menertawai pikiran konyolnya. Menyedihkan. Tapi itu benar-benar menyenangkan untukku, semakin menyiksanya.


Aku benar-benar memberikan dia mimpi buruk. Memaksakan nafsuku pada dia, melakukan kekerasan padanya, dan segala hal yang menyakiti dia. Dua tahun dan itu bukan waktu yang sebentar. Aku berpikir akan melepaskannya karena munculnya rasa bersalah yang tidak kupahami.


Lalu malam itu terjadi. Aku sengaja mempertemukan Kenny dengan Harry, mantan tunangannya di sebuah pesta. Untuk memberi dia siksaan batin dan itu kali pertamanya aku membawa Kenny keluar bersamaku. Kupikir aku akan menikmatinya, tapi...


Aku melihatnya. Melihat tatapan Kenny malam itu pada Harry, penuh cinta dan penuh kerinduan. Tatapan yang tidak pernah kudapatkan selama pernikahan kami. Ada sesuatu yang menggangguku dan itu berasal dari hatiku. Cemburu. Aku ingin menyangkal hal itu, tapi aku tidak bisa...


Rasa itu tumbuh semakin besar dan itu tidak dapat ku kendalikan.


Rasa yang sama saat aku bertemu dengan dia di pesta ulang tahunku, sangat mendebarkan...


Rasa ingin melindungi dan memiliki.


Lalu, aku mempertaruhkan segala hal untuk Kenny dan membuktikan bahwa aku benar-benar tulus untuknya. Tentu saja itu tidak mudah. Banyak masalah yang datang silih berganti, bahkan sempat membuatku putus asa. Tapi aku menyadari bahwa dialah takdirku dan aku tetap berjuang untuknya hingga aku sampai pada tiitk ini.


Titik terbahagia dalam hidupku.


Menjadi suami untuk Kenny dan seorang Ayah untuk tiga anak-anak kami. Peeta Sharp, Katniss Sharp, dan Primrose Sharp.


Sangat sempurna..


Aku mengecup pucuk kepala Kenny yang tertidur dalam pelukanku. Kulit polos kami saling menempel dan lengket karena keringat. Aku mempererat pelukanku padanya, memastikan bahwa dia benar-benar nyata. Dan dia benar-benar nyata, bukan mimpi. Dia dan anak-anakku nyata. Aku akan melindungi dan memberikan kabahagian pada mereka.


Terkhusus Kenny yang mau menerima diriku walau banyak hal buruk yang kulakukan. Keteguhan, keramahan, kelembutan hatinyalah yang membuatku luluh. Bagiku di adalah cinta pertamaku dan terakhirku. Cintaku untuk selamanya.


"I love you, Ken. Forever and always...."


HAPPY ENDING FOREVER AND EVER


****


MrsFox.


Ini benar-benar perpisahan kita dengan mereka. Silahkan check cerita aku yang baru 'Harry's Love Story' atau kalian bisa sekedar menyimpan dalam favorit dan tunggu chapter ceritanya makin banyak, terus kalian puas bacanya. Gituloh gais, karna emang lebih enak baca kalo udah chapternya udah banyak. Seenggaknya kalian simpan dalam favorit dan jangan lupa balik ke lapak ini gais. Kalau ada yang mau di tanya seputar cerita atau apa pun, silakan gabung ke grup chat aku yah gaiss.


BIG LOVE FROM SHARP FAMILY and MRSFOX