
Happy Reading to special Readers
***
Scout POV
Aku menatap wanita bergaun merah itu. Kenny. Di tengah hingar-bingar pesta ini, aku merasakan kedamaian saat melihatnya. Dia begitu sederhana tapi begitu memikat. Sorot matanya lembut, sesekali menutup matanya seolah jemarinya mengerti harus bergerak ke mana. Dia seperti berada di padang rumput luas yang menenangkan dan bukan di pesta yang ribut. Dan aku merasakan hal yang sama saat melihatnya.
Dua tahun adalah waktu yang lama, tapi selama dua tahun itu tidak banyak yang berubah. Kenny masih tetap sama walau usianya sudah menginjak kepala tiga. Tetap memesona. Dan perasaanku tidak pernah luntur sedikit pun, malah bertambah seiring waktu dan terus menyiksaku. Hanya saja, perasaan Ken sudah berubah, dia bukan milikku dan.... London, kota sialan. Kenapa begitu banyak pria yang menginginkannya?!
Aku merasakan air mata menusuk dan aku segera mengendalikan diriku. Sial, Ken selalu memberi efek yang luar biasa dan sangat mengerikan untukku. Aku meminum sampanyeku tanpa melepas tatapanku padanya, berusaha menghilangkan emosi tak terkendaliku. Oh my... Dia ciptaan terindah yang pernah kulihat dan sialnya, aku tidak bisa memilikinya.
Lalu, interupsi MC membuat Kenny berhenti memainkan pianonya. Wajahnya berubah bosan dan jenuh, sesekali memutar matanya jengkel. Aku tertawa membayangkan wajahnya. Jemarinya kembali bergerak tanpa menekan tuts, seolah nadanya bisa didengar dan tercipta di kepalanya. Aku tersenyum kecil menatapnya dan seluruh diriku benar-benar berhasrat untuk memeluknya.
Aku mendengar namaku di sebut dan suara tepuk tangan terdengar. Sadar bahwa aku di panggil untuk memberi kata sambutan, aku berdiri dan menatap lurus ke depan.Tidak menatap satu pun , termasuk Kenny. Jika itu terjadi, aku bisa-bisa mempermalukan diriku sendiri dengan berlari memeluk Kenny.
Semua pandangan tamu tertuju padaku dan aku yakin Ken menatapku saat ini. Itu membuatku gugup. Aku berdehem lalu mulai berbicara. Aku mengatakan terima kasih atas kehadiran mereka dan kerja keras mereka yang bekerja untukku. Lalu bunyi 'DANG' keras terdengar, bunyi gabungan tuts piano yang kacau. Aku tau siapa pelakunya. Dua tahun dan sikap cerobohnya tidak berubah.
Aku memutar badanku dan melihat Kenny yang sedang kebingungan. Wajahnya memerah lalu mataku bertemu dengannya. Wajahnya yang kebingungan dan ketakutan membuatku ingin tertawa. Tanpa sadar aku tersenyum tipis padanya.
"Butuh bantuan, young Lady?" ucapku.
Mulutnya yang sedari tadi terbuku lebar segera tertutup.
"I'm okay." dia membentuk O pada jemarinya pertanda semua baik-baik saja. Aku hendak berjalan dan menenangkannya bahwa semua baik-baik saja sebelum MC sialan itu kembali bicara. Semua perhatian tertuju padaku sekarang.
Aku merasa jengkel untuk alasan yang tidak ku ketahui dan aku mendekat ke MC itu berbisik bahwa aku tidak akan melanjutkan kata sambutanku dan menyuruhnya melanjutkan ke acara berikutnya. Aku turun dari panggung dan kembali duduk di bangkuku. Lalu menyadari bahwa Kenny sudah tidak ada di sana, dia digantikan oleh seorang pria lain. Aku mendengus kecewa.
Satu jam yang berharga. Tidak apa, aku berterima kasih pada Vin yang mengatur hal ini sedemikian rupa sehingga aku bisa melihat Kenny. Aku menebak-nebak di mana keberadaanya sekarang?
"Pidato yang bagus.." bisik Megan di telingaku.
"Trims..."
"Kau tampak kecewa." aku mengarahkan pandanganku padanya yang duduk di depanku. Dia selalu menyadari banyak hal.
"Pestanya tidak menyenangkan..."
"Alasan yang bagus, Sharp..." ucapnya penuh cemooh.
Aku mendengus dan tersenyum tipis.
"Mata nakalmu tidak pernah lepas dari wanita 'DANG' tadi..."
"Wanita 'DANG'?" ucapku tertawa kecil, Kenny Dang. Hahah..
"Aku gagal merebut hatimu malam ini untuk kesekian kalinya.."
Aku menatapnya dan baju sialannya yang tampak bodoh saat dia pakai. Aku tidak tau bagaimana menjelaskan pakaiannya, dia memakai dalaman berwarna merah terang lalu jaring bodoh berwarna hitam berbentuk gaun atau apalah. Selera beberapa orang memang sangat ekstrem.
"Jika kau tidak memakai jaring sialan itu, mungkin aku akan sedikit terpikat.."
"Jaring? Jaring sialan? Padahal aku memakai ini untuk menjaring ikan besar, seperti kau contohnya.."
"Sayangnya yang terjaring adalah ikan badut..."
Dia tertawa dan meminum sampanyenya, "Ikan badut yang nyaris mati.." ucapnya mengarah pada beberapa pasang mata pria tua yang tidak henti-hentinya melihat dia.
Aku mengabaikannya dan permisi untuk ke toilet. Aku merasa senang dengan keadaan tamu yang sedang duduk. Itu memberiku dua keuntungan, yaitu mereka tidak perlu pura-pura bersikap baik dan aku lebih mudah mencari keberadaan Kenny.
Saat mencari Kenny seperti orang *****, aku berpikir kembali tindakan gegabahku. Jika aku bertemu dia kembali, apa yang aku lakukan? Mengajak makan malam? Tidak mungkin! Aku menggeleng kepal kesal seraya menuju balkon lebar yang terhubung dengan ballroom, hanya saja sepi. Hanya ada aku dan pencahayaan remang nan lembut.
Aku bersandar di pembatas balkon, melepas dasiku, membuka dua kancing teratasku, dan merogoh sakuku. Aku mengambil kotak cerutu dan mengambil satu buah cerutu. Aku menaruhnya di bibirku dan menyalakannya. Sejujurnya, aku bukan perokok berat dan hanya menghisap satu hingga empat cerutu perbulannya itu pun terkadang aku tidak menghisapnya sampai habis. Aku melakukannya hanya saat aku sangat merindukan Kenny, saat sedih, atau apalah...
Selagi aku menghisap, aku membuka ponselku dan menatap wajah Kenny di layar ponsel. Senyum yang manis. Aku bukannya tidak berusaha melupakan Kenny, aku berusaha. Sangat keras hingga membuatku tampak bukan manusia normal. Aku bekerja tanpa lelah, menyibukkan diriku, dan mencari wanita-wanita yang bisa menghiburku. Hanya saja, aku selalu mencari wanita yang mirip Kenny, dari segi bentuk tubuh, rambut, wangi, bentuk wajah, dan apa pun. Namun, saat mereka menyentuh tubuhku, aku merasakan rasa jijik luar biasa. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mencari wanita lagi dan membiarkanku hidup dalam kesibukan.
Aku hidup seperti orang kesetanan selama kurang-lebih enam bulan. Benar-benar tidak ada wanita, tidak ada kenangan tentang Kenny, dan hanya sibuk dengan duniaku. Semua berjalan bagus dan akhirnya pertahananku runtuh saat mendengar musik piano, itu mengingatkanku tentang Kenny dengan sangat jelas dan buruk. Yang terjadi akhirnya adalah aku menangis dan menangis mengingat betapa sia-sianya apa yang aku lakukan. Sekeras dan sekuat apa pun aku melawan, dia selalu ada di mana-mana. Dia akan hidup selalu dalam pikiran dan hatiku selama aku masih bernapas. Itu membuatku gila dan takut secara bersamaan, aku takut bila aku tidak bisa melupakannya maka aku akan benar-benar gila.
Yang terjadi setelah adalah aku kembali berjalan ke jalan yang pernah kulalui dengan Kenny, mencari jejak keberadaanya di setiap memoriku tentangnya. Lalu menghabiskan waktuku sebagai pecundang dengan bermabuk-mabukan. Akhirnya, Vin menemukanku dengan keadaan babak belur dan mabuk. Aku menyentuh pacar seseorang yang sangat mirip Kenny dari belakang dan dari sanalah aku mendapatkan banyak luka oleh beberapa pria yang menhajarku habis-habisan. Itu membuatku harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu lebih dan tetap menghabiskan sebagaian besar waktuku dengan menangis dan menyesal karena melepaskan Kenny. Aku kesepian, benar-benar kesepian saat itu. Aku.... Aku tidak memiliki siapa pun untuk berbagi segala keluh kesahku. Tidak memiliki seseorang yang akan memelukku saat sedih. Tidak memiliki seseorang yang bisa berbagi senyum dan bahagia denganku. Aku hanyalah pria kesepian. Sangat kesepian. Dan hingar bingar dunia ini tidak bisa mengobati kesepianku.
Aku melepasnya bukan karena aku tidak mencintainya, justru aku sangat mencintainya melebihi apa pun yang ada di dunia bahkan melebihi diriku sendiri sehingga aku mampu melepasnya. Dia tidak aman denganku, aku tidak bisa melindunginya, dan dia selalu dalam bahaya bila bersamaku. Apa lagi mengingat kejadian yang dilakukan Jenn dan itu membentuk sebuah dosa dalam diriku. Aku merasa bersalah akan semua yang terjadi pada Kenny dan memilih langkah untuk bercerai dengannya.
Setelah waktu suram di hidupku, aku kemabli mencari keberadaan Kenny dan menyelidiki apa pun tentangnya. Bagaimana keadaanya di London, apa kesehariannya, dan memeriksa apakah dia bahagia. Awalnya, aku hanya melakukan itu hanya untuk kepuasanku sendiri. Kupikir hanya dengan melihat dan mengetahui kesehariannya, kesepian dan kerindukaanku padanya terobati, malah rasa rindu itu semakin besar kian hari. Lalu, rasa rindu itu membentuk sebuah ambisi dalam diriku. Ambisi untuk membawa Ken kembali kepelukanku.
Lalu, hatiku hancur mengetahui kedekatannya dengan pria bernama Jacob. Aku tidak tau ada apa di antara mereka. Hanya saja, ada kedekatan khusus yang tidak bisa kujelaskan bagaimana antara mereka. Terutama, saat mengetahui ada anak kecil di antara mereka. Kupikir aku akan mati jika mengetahui anak itu adalah anak Kenny dan pria itu. Namun, itu bukan anak Kenny dan mereka hanya teman. Tapi, teman bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar pada suatu saat dan mereka tampak bukan seperti teman biasa.
Ambisiku terhadapnya semakin menggila dengan mengatur segalanya untuk Kenny bisa kembali ke New York. Aku mengarahkan sebuah agensi untuk Kenny,sejujurnya dia bekerja untuk agensi itu hanya saja sebagai pemusik lepas. Aku mengatur segalanya yang pada akhirnya membawa Kenny kembali ke sini. Namun, terlepas dari itu, Kenny adalah pemusik hebat, Direktur agensi itu pun setuju denganku. Kenny layak mendapatkannya.
Lalu di sinilah aku sekarang, bergerak perlahan membawa Kenny ke pelukanku. Hanya saja, aku harus bermain lambat dan santai, aku tidak tau apa pemikiran Kenny tentangku. Apa dia membenciku atau.. Mencintaiku? Bodoh, mana mungkin. Aku tertawa kecut tentang pemikiranku, lalu entah setan apa yang membuatku menekan nomor ponsel Kenny. Aku terkejut dan terbatuk saat melihat sambungan telepon terjadi. Aku selalu melakukan kesalahan bodoh ini terlampau sering, tapi biasanya aku mengunakan telepon umum atau telepon kantor bukan ponselku sendiri. Lebih parahnya, aku hanya menelpon seperti orang iseng sialan tanpa berbicara. Sial. Aku panik dan hendak memutuskan panggilan, tapi itu segera tersambung. Jantungku berdegup kencang.
"Halo?" aku mendengar suaranya yang manis dan membuat setap sarafku menari bahagia.
"Halo? Ada orang di sana? Siapa yang menelpon ini?" Oh my, suaranya bear-benar sesuatu yang berharga bagiku.
Aku memejamkan mataku hendak memutuskan panggilan. Sial, kenapa aku tidak berbicara saja padanya? Persetan. Bagaimana pun reaksinya nanti, aku akan bicara saat ini juga dan mengatakan bahwa aku Scout. Scout Sharp. Jika tidak sekarang, kapan lagi aku mengetahui pikiran Kenny tentangku? Semakin lama aku menunda, semakin jauh kesempatanku mendapatkan Kenny.
Aku berdehem hendak berbicara, tapi...
"Akan kumatikan.." lalu Kenny mematikan ponsel dan membuatku mendengus kecewa. Aku menjatuhkan cerutuku dan menginjaknya kesal. Sialan. Kenapa aku berubah menjadi pecundang sialan?! HAH!! Aku kesal diriku sendiri. Aku berubah semkain tol*ol semenjak Kenny dan aku berpisah. Seharusnya, aku emnjawab lebih cepat tadi.
Suara langkah kaki terdengar yang mendekat ke arahku dan suara orang yang sedang berbicara. Dan suara salah satu dari mereka sangat kukenal jelas.
"Siapa?" tanya wanita satu.
"Bau asap rokok.. Kupikir ini wilayah bebas asap rokok..." ucap wanita satu.
"Orang kaya bodoh dan sialan itu selalu bisa melakukan apa pun dengan urang mereka, termasuk merokok di tempat bebas asap rokok." dan 'orang kaya bodoh dan sialan' maksud Ken lagi-lagi adalah aku. Lalu, aku memutar tubuhku ke belakang saat langkah kaki itu semakin dekat, dan..
***
Kenny POV
"Sial..." umpatku saat aku kembali ke balik panggung. Sial. Ahk. Aku selalu bertingkah seperti orang sinting dan gila. Aku terlampau ceroboh untuk hal yang sangat sederhana. Scout sedang berpidato begitu hikmat, resmi, damai, dan tenang. Sebelum ketolo*lanku menghancurkan semuanya. Ahk!!! Kenapa aku tidak mati saja?!!!! Aku memukul tanganku kepada meja dengan keras dan segera menyesalinya karena menimbulkan rasa panas di sana.
"Whoa...Whoa.. Easy girl.. Semuanya sudah berlalu." ucap Ana yang muncul tiba-tiba di sampingku.
Aku menggeleng kepala.
"Aku merusak acara itu..." ucapku sedih seraya berpegangan pada pinggir meja.
Ana menepuk pundakku, "It's okay. Itu sering terjadi.."
Aku hendak membalasnya bahwa bukan itu yang kupermasalhkan, tapi Scout... Sial.. Ahkl!! Kembali mengingatnya hanya membuatku semakin malu.
"Aku ingin pulang, Ana..."
"Pulang? Tentu, aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu, aku akan naik taxi. Kau harus di sini, memastikan acara ini berjalan bagsu...." aku tersenyum tipis padanya.
"Kau yakin?"
"Yeah... Jangan khawatirkan aku..." aku mengambil tas kecilku dan membereskan apa yang perlu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai lobi..'
"Aku bisa berjalan sendiri, Ana..."
Dia memutar matanya dan kembali berjalan ke arah pintu. Akhirnya, aku menyerah dan berjalan dengannya. Kami berjalan keluar dan hendak masuk ke pesta. Aku segera memegang tangan Ana. Dia menoleh kepadaku dengan wajah penuh pertanyaan.
"Bisakah kita menuju jalan yang lebih sepi?"
"Okay... Baiklah.." lalu Ana membawaku ke arah lain yang tidak kuketahui. Kami berjalan di luar ballroom dan menyadari ini adalah balkon yang sangat panjang mengikuti panjang ballroom ini. Balkonnya sepi dan cukup gelap. Bagus, dengan begitu orang lain tidak akan melihatku. Lalu, ponsel yang berada di dalam tas ku berbunyi.
Aku mengambil ponselku dan tetap berjalan. Aku melihat layar dan tidak ada nama di sana. Siapa? Enatahlah, aku sangat sering mendapatkan panggilan orang iseng beberapa bulan terakhir ini. Hanya memanggil tanpa sempat kujawab. Kupikir itu hanya orang iseng atau orang yang salah panggil. Aku hendak memutuskan panggilan, tapi aku segera menerimanya. Siapa tahu ini adalah panggilan penting.
"Halo?" ucapku dan hanya hening.
"Halo? Ada orang di sana? Siapa yang menelpon ini?" tanyaku lagi dan tetap hening. Aku menunggu beberapa saat, menunggu pemilik nomor ini merespon dan tidak terjadi apa-apa.
"Akan kumatikan." aku segera mematikan ponselku dan memasukkannya kembali ke tas dengan kesal. Ini membuatku moodku kembali buruk.
"Siapa?" tanya Ana
"Orang iseng.. Aku sangat sering mendapatkan panggilan iseng seperti ini. Dasar manusia iseng sialan kurang kerjaan.." ucapku dan Ana terkekeh.
"Bau asap rokok.. Kupikir ini wilayah bebas asap rokok..." ucap Ana
"Orang kaya bodoh dan sialan di pesta itu selalu bisa melakukan apa pun dengan uang mereka, termasuk merokok di tempat bebas asap rokok."
Saat kami berjalan, aku menyadari seseorang sedang berdiri membelakangi kami. Seorang pria. Aku tidak menyadari keberadaanya karena tempat ini cukup gelap dan pencahannya sangat temaram. Oh, yah ampun... Kuharap dia bukan pria yang sedang merokok itu. Dan kuharap dia tidak mendengar ucapanku. Sial, kenapa mulutku semakin tidak bisa di saring?! Kenny si bodoh... Oh, yah ampun. Semoga aku tidak mendapat masalah. Cukup kejadian memalukan tadi menghancurkan malamku.
Aku menarik tangan Ana untuk menjauhi pria itu dan mengambil sisi yang lain, lalu pria itu memutar tubuhnya. Aku segera berhenti melangkah. Walau dalam gelap dan cahaya temaram, aku tau siapa pria itu. Jantungku segera berdetak kencang dan semakin kencang.
"Kenny, kenapa berhenti?" ucap Ana dan aku mengabaikannya.
Lalu suara orang lain dari talkie-walkie milik Ana terdengar. Aku tidak tau apa yang di ucapkan orang talkie-walkie dan Ana karena fokusku saat ini adalah pria yang tidak jauh dariku.
"Kenny.. Kenny..." Ana menggoyang badanku dan aku melihatnya, "Aku harus pergi karena ada yang memanggilku, maafkan aku..."
Aku tidak yakin dengan apa yang diucapkan Ana dan hanya menyadari dia berlari. Berlari dan meninggalkan kami berdua. Aku memutar pandanganku kembali pada pria itu. Jarak kami hanya sepuluh langkah lagi. Kami begitu entah berapa lama... Aku bertemu dengan....
Scout... Scout Damian Sharp!!!
***
MrsFox
hope you enjoy it guys. jangan lupa koment, like, love, vote, dan apa pun yang bisa mendukungku dalam penulisan novel bersambung ini. Untuk yang minta wajah Jacob kek mana, next chapter yah. I lop yuh gais from the moon and back. See you later.