
Happy Reading
***
Kenny POV
"Jacob!!" suara teriakan Mags terdengar di lorong rumah sakit. Aku segera berdiri dan memeluk Mags.
"Mags.." isakku. Aku pun tidak hentinya menangis sejak kejadian itu hingga di rumah sakit. Kecelakaan pertama kali kusaksikan seumur hidupku.
"Jacob..."
"Dia akan baik-baik saja. I promise..." aku pun tidak yakin dengan apa yang aku katakan. Jacob terbang begitu jauh dan sangat jauh. Dia pulang dari sirkuit sebagai pemenang dan.. Korban. Aku menolak mengingat rekaman ulang kecelakaannya yang sangat jelas di pikiranku dengan mengarahkan Megs untuk duduk. Aku hendak melepas pelukanku, tapi dia menahannya. Oh.... Megs..
"Tetaplah bersamaku, nak..." bisiknya dan tetap menangis. Aku memeluk Megs dengan erat, dia sudah kuanggap seperti nenekku sendiri walau dia selalu mereweliku karena tidak menikahi Jacob.
"Aku akan di sini, Mags.."
Lalu waktu berjalan begitu lambat, ruang operasi tak kunjung terbuka, lorong terasa dingin bahkan di musim panas yang mengerikan, dan begitu hening. Aku menangis kembali dan Mags ikut menangis kembali. Sial. Sial. Selamat lah Jacob. Aku takut kehilangannya, dia teman, kekasih, sahabat, saudara, musuh, guru dan terkadang seorang ayah bagiku. Dia pria manis dan baik dan usianya belum penuh 23 tahun! Sejak tahun ini di mulai, aku belum pernah berdoa, tapi jika itu bisa menyelamatkan Jacob, aku akan berdoa secara khusus untuknya.
"Aku takut kehilangannya, Mags... Sangat takut..."
"Begitu pun aku, kids.."
****
Waktu terus berjalan dan sudah memakan waktu empat jam lebih, pintu itu tetap tidak terbuka. Megs pingsan dalam pelukanku karena darah rendah sehingga dia terpaksa harus di rawat. Wanita tua malang, seharusnya dia menikmati masa tuanya dengan tenang tapi kejadian ini benar-benar tidak terduga. Jacob bukanlah tipe yang tidak berhati-hati, terutama dalam perlombaan. Apa yang membuat dia hilang fokus?
Suara hentakan kaki ke lantai terdengar mendekat ke arahku, aku mengangkat kepala dan mendapati Scout. Aku segera berdiri dan berlari memeluknya. Oh My, betapa senangnya aku melihat dia di sini.
"Jacob... " bisikku.
"It's okay, babe... It's okay.."
Dia mengarahkanku kembali duduk. Aku tidak bisa lagi menangis seolah air mataku sudah terkurah habis, tapi relung hatiku benar-benar kosong. Sangat kosong. Scout menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mengusap lenganku lembut. Berusaha menenangkanku.
"Aku menyanyangi dia, Scout. Dia pria baik..."
"Aku tau dan dia akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu.." suara yang selembut beludru mengirimkan kedamaian bagiku. Wangi dan hangat dari tubuhnya benar-benar memberi ketenangan bagi jiwaku yang hancur.
"Bagaimana dengan Maldivesh?" Saat pertandingan itu, Maldivesh sedang berada di penitipan anak. Aku menyuruh Scout menjemputnya dan mengurus dia sebentar karena membawa dia ke rumah sakit bisa sangat membahayakan. Hanya saja, aku tidak yakin bagaimana Scout menangani Maldivesh.
"Aku menitipnya pada Lolita..."
"Lolita?" ucapku cukup terkejut. Lama nian aku tidak mendengar kabar tentangnya.
"Yah, aku ingin menitipnya di rumah Sarah, tapi---"
"Sarah?" aku memotong dia lagi.
"Yah... Lolita berteman dengan Sarah dan menantu Sarah. Aku datang ke rumah Sarah saat Lolita ada di sana, dan.. Yah, sepertinya Melani suka Lolita. Dan semua terjadi begitu saja, Lolita menawarkan diri merawatnya.."
Aku memutar mata, "Maldivesh dan bukan Melani..."
Scout terkekeh, "Untungnya kau ingat nama Lolita..."
"Aku sedikit mengenalnya..."
"Benarkah? Bagaimana mungkin?" oh... Kesibukanku membuat lupa beberapa teman di New York.
"Aku tidak tau kapan, tapi terjadi seperti saja. Aku sering bertemu dengannya di pesta-pesta dan dia mulai mengoceh padaku tanpa alasan." aku tertawa kecil membayangkan Lolita yang cerewet berbicara pada Scout, "Dia sangat cerewet dan itu cukup menggangguku..."
"Bagaimana hubungannya dengan Harry?" pertanyaan itu keluar begitu saja dan segera menyesalinya. Oh..Shit! Bagaimana bisa aku begitu sialan? Kenapa mulut sialan ini tidak bisa di control?
"Tidak ada yang terjadi antara mereka. Tidak ada..."
Aku mendekatkan diriku pada Scout. Harry... Aku merindukan dia. Bukan sebagai 'a lover' tapi sebagai 'family'.
"Bagaimana keadaan Harry?" bisikku, kuharap dia tidak salah mengartikannya.
"Aku cukup sering bertemu dengannya dalam rapat dan perjamuan makan. Hanya saja, kami tidak terlalu dekat atau.. Aku tidak yakin, dia seperti menutup dirinya dari dunia luar. Dia menganggap orang lain hanya sebatas teman kerja. Kau mengerti maksudku bukan?"
Aku mengangguk, "Kuharap dia menemukan seseorang yang bisa dia cintai..."
"Dia akan menemukannya..."
"Begitu juga Lolita..."
Lalu pintu ruang operasi itu terbuka. Aku dan Scout segera berdiri di hadapan Dokter. Scout tetap menggenggam tanganku erat, menyalurkan kekuataa. Dokter itu membuka maskernya dan menatap kami dengan senyum.
"Keajaiban.. Kupikir kami akan kehilangan dia, tapi dia sangat beruntung. Dia selamat walau mengalami patah tulang parah, tapi untungnya organ vitalnya tidak mengalami masalah apa pun. Dia sangat beruntung.."
Aku menghembuskan napas lega dan mulai menangis, "Terimakasih, Dokter.. Terimakasih..." ucapku penuh syukur.
"You're wellcome, Mrs.... Dia akan di bawa ke ruangan khusus dan hanya bisa dikunjungi dengan peraturan ketat. Kalau begitu, saya permisi.." Lalu Dokter itu berlalu dari kami. Tidak menunggu waktu lama, para perawat keluar diikuti Jacob yang berbaring di ranjang dengan berbagai mesin tertempel pada tubuhnya. Aku mengigit bibir dan mengingat perkataan Dokter bahwa dia baik-baik saja. Aku segera memeluk Scout penuh bahagia. Kupikir aku akan sosok teman, musuh, sahabat, guru, ayah, kekasih, saudara dan kakekku yang menyatu menjadi satu dalam diri Jacob, tapi tidak.. Doaku terbalaskan. Dan untukMu, siapa saja di atas sana yang mendengar doaku walau aku bukan umat taat, aku berterima kasih padaMu..
***
Satu tahun kemudian
Scout POV
"Aku akan melamarnya..." ucapku pada Jacob yang duduk di kursi roda saat kutemui di kediamannya, New York. Yah, si bre*sek ini memutuskan tinggal di New York, terutama karena dia harus menjalani pengobatan dan terapinya.
Dia menatapku dan diam. Persetan! Aku membencinya, tapi Kenny selalu mengatakan 'Dia adalah teman, sahabat, kekasih, saudara, musuh, ayah, kakek, dan buyut dari buyutnya' dan aku harus meminta izin dari si sialan ini!! Ahk! Aku tidak suka wajah dan aksen Londonya... Begitu... Sulit kuungkapkankan dalam kata-kata dan itu menyebalkan.
"Kau tau, aku bisa pulih dengan cepat semua karenamu, Scout.. Atau lebih tepatnya karena uangmu." Kemana arah pembicaraan ini?
"You're welcome"
"Sorry, aku tidak mengucapkan terimakasih padamu, man."
Aku diam dan tetap menatapnya.
"Kau hanya bisa melakukan itu jika aku sudah bisa berjalan.." Oh, pria licik sialan. Aku tau dari ahli terapinya bahwa dia sudah bisa berjalan, bahkan tanpa tongkat.
"Jangan berbohong, sialan..." geramku.
"Jangan tegang, Sharp.. Minumlah tehmu. Mags membuatkannya khusus untukmu. Dia penggemarmu," dia berbisik, "Thank You, Mags!! Dia menyukai tehmu.." teriak Jacob dan terdengar tawa malu-malu khas orangtua yang sudah ompong. Aku menatapnya datar dan bosan.
"Persetan dengan itu, aku akan menikahi Kenny. Segera.."
"Easy.. Kau tidak lihat aku sedang minum teh? Minumlah tehmu, aku bisa mengajarkanmu sopan santun minum teh kerajaan. Maldivesh mengajarkannya padaku..." dia meminum tehnya dengan lengan terangkat sejajar bahu, jari kelingkingnya terunjuk, dan meminumnya dengan gaya lentiknya yang menjijikkan.
"Persetan dengan minum teh kerajaanmu. Aku akan menikahinya, dengan atau tanpa izinmu."
"Di awal kau berkata ingin melamarnya, kenapa sekarang kau mem---..."
"Dia hamil..."potongku
"Apa?!" dia segera berdiri dari kursinya dan melangkah ke arahku deangan tertatih.
"Kenny tidak hamil dan kabar baiknya aku akan menikah. Terima kasih atas izinmu Mr.Anderson." aku segera berdiri dan tersenyum licik. Dia segera menyadari senyumku dan mendengus kesal. Dia kembali ke kursinya dan meminum tehnya dengan rakus, tanpa aturan minum teh kerajaan sialannya.
"Okay... Kau menang, manusia licik.. Tidak salah jika kau menjadi ba*jingan yang luar biasa kaya, ternyata kau punya otak licik.."
"Itu asetku...." aku tersenyum senang dan meminum teh dengan gaya kerajaannya, "Terima kasih tehnya, bukan untukmu, tapi Mags..." ucapku penuh olok-olakkan padanya dan dia tertawa senang untuk sesuatu yang tidak kumengerti. Terlepas dari itu, aku senang mengenalnya atau lebih tepatnya, Kenny mengenalkanku padanya.
Awalnya aku tidak menyukainya dan begitu juga dia. Dulu, kami tidak sepaham dan aku selalu marah saat dia memanfaatkan kondisi lemahnya untuk mengambil perhatian Kenny. Namun, seiring waktu, aku mulai melihat ada yang berbeda. Kasih sayang di antara dia dan Kenny bukan seperti kasih sayang antara aku dan Kenny. Itu seperti kasih sayang antara saudara, teman, buyut, atau apapun Kenny menyebutnya. Aku tidak cemburu atau apa pun. Aku senang mengenalnya, dia pria baik.. Sejujurnya tidak terlalu baik, tapi aku cocok padanya. Dan yah, dia temanku dan saudara, sahabat, buyut bagi Kenny Cullens... Kenny Cullens yang akan berubah menjadi kenny Sharp untuk kedua kalinya dan untuk yang terakhir.
****
Kenny Sharp
Aku turun dari mobilku, yah aku sudah bisa mengendarai mobil dan sudah memiliki surat izin mengemudi. Aku berjalan menuju pekarangan taman kanak-kanak tempat Maldivesh sekolah. Aku bertugas menjemputmu dan terkadang Lolita... Oh, Lolitta yang malang. Dia tertarik pada Jacob, tapi tidak dengan Jacob. Aku kasihan padanya.
Aku kembali memfokuskan diriku ke pekarangan, mencari keberadaan Maldivesh di antara anak-anak lainnya. Aku memeriksa setiap anak kecil perempuan yang berambut pirang, tapi tidak menemukannya. Aku bergerak ke gedung pendidikan, tapi di cegat seseorang.
"Kau Kenny Cullens?" tanya wanita asing tersebut.
"Yah, itu aku..."
"Anak pertamaku bersekolah di sekolah musik dan dia sangat suka semua musik di albummu. Dia sangat berharap mendapat tanda tanganmu. Bolehkah?" Yah, albumku sudah delapan bulan di pangsa pasar dunia permusikan dan ajaibnya, banyak yang menyukai musikku. Itu mungkin hanya lantunan piano, tapi tersimpan pesan tersembunyi di sana.
"Oh my... Tunggu sebentar..."ucapnya seraya memeriksa tasnya. Pandangannya bergantian antara aku dan tasnya. Aku menundukkan kepala dan melihat pria kecil yang memeluk kaki ibunya, nampak malu-malu.
"Hai..."sapaku dan dia tersenyum malu.
"Ini..." ucap wanita tadi seraya memberi CD albumku dan marker.
"Kau memiliki anak yang tampan..." ucapku.
"Oh, dia James.."
"Hai James," sapaku lagi seraya menandatangani album, "Siapa nama anakmu?"
"Katerina Clark."
Aku memberikannya setelah menandatanganinya, "Kuharap aku bisa berkolaborasi dengannya suatu saat."
Kami mengambil gambar bersama dan dia mengucpakan terima kasih. Setelah dia pergi, aku segera sadar bahwa aku melupakan Maldivesh. Oh my gosh! Semakin tua, ingatanku semakin rentan. Aku hendak mesuk ke dalam gedung sebelum ponselku berbunyi. Aku melihat layar dan ada nama Lolita di sana.
"Kenny, Aku minta maaf karena lupa mengabarimu, kuharap kau tidak mencari Maldivesh karena dia sudah bersamaku...." aku menarik napas lega. Astaga.
"Sialan, Lolita..."
"I'm so sorry..."
"It's okay..."
"Thank you. Sampai jumpa..." lalu sambungan terputus. Aku segera melangkahkan kakiku menuju parkiran. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan mencari keberadaan kunci mobilku. Setelah menemukannya, aku masuk ke dalam mobil. Lalu melajukannya ke jalan raya. Ponselku berbunyi dan aku menghubungkannya dengan earphone.
"Kenny..." suara Scout dan senyum langsung merekah di pipiku.
"Hai, babe.. Bagaimana pertemuanmu dengan Jacob?" ucapku dan tetap menjaga diriku fokus pada jalan.
"Lumayan, aku hanya berhasil mematahkan salah satu kakinya..."
"SCOUT!!!" teriakku kesal dan dia tertawa di seberang., "Itu tidak lucu..." aku ikut tertawa karena tawa lepasnya. Tawa yang ada sejak aku hadir dalam hidupnya.
"Aku bercanda, okay? Buyutmu aman..."
Aku memutar mataku, "Namanya Jacob dan dia bukan buyutku..."
"Okay, Mags menyajikanku teh specialnya..." aku tertawa membayangkan itu. Yah, Mags adalah penggemar berat Scout, dia berkata bahwa Scout mirip kekasihnya dulu sebelum akhirnya harus menikah dengan Kakek Jacob karena dijodohkan.
"Apa teh nya lebih enak dari punyaku?"
"Kalian pembuat teh yang nikmat untuk dimensi waktu yang berbeda..."
"Jawaban bagus..."
"Datanglah ke kantorku..."
"Untuk?"
"Ada yang ingin kutunjukkan..."
"Apa?" aku segera membelok jalanku menuju kantor Scout
"Kau bisa melihatnya sendiri..."
"Aku tidak suka kejutan...'
"Tenanglah, ini bukan kejutan. Bye, honey..." lalu panggilan segera terputus. Aku memutar mataku kesal karena sambungan segera terputus dan aku terjebak di lalu lintas New York yang macet.
****
Aku keluar dari mobilku setelah memarkirkannya. Sial karena aku harus terjebak macet selama satu jam. Gila. Satu jam. Inilah alasannya aku tidak suka daerah kantor Scout, begitu padat. Surya sudah mulai tenggelam dan beberapa pegawai perusahaan mulai berpulangan. Aku masuk ke lift dan menuju lantai tertinggi gedung ini. Bunyi 'TING' terdengar dan aku segera melangkahkan kaki keluar dari lift.
"Selamat sore Ms. Cullens..."ucap Vin yang berdiri di depan pintu.
"Selamat sore, Vin. Apa Scout di dalam?"
"Yes, Ms..." Vin segera membuka pintu dan aku segera masuk. Aku berjalan masuk dan pintu tertutup. Aku melihat Scout berdiri membelakangiku, menatap kota New York. Dia tidak memakai jas dan kemeja tergulung hingga batas sendi lengannya. Cahaya matahari oranye yang lembut menyinari tubuhnya, menyempurnakan fisiknya yang luar biasa. Aku segera memeluk tubuhnya dari belakang. Menyandarkan kepalaku di punggungnya yang lebar. dan mencium wangi kayu-kayuan yang bercampur dengan musk dan mint. Begitu nyaman.
"Maaf aku terlambat. Lalu lintas New York semakin parah setiap tahun..."
"It's okay, Ken..." dia menarik tanganku untuk berdiri sejajar dengannya dan tangannya melingkar di tubuhku. Aku menyandarkan kepalaku ke lengannya dan menatap matahari yang perlahan turun.
"Cantik..." bisikku.
"Orangtuaku membangun perusahaan ini dengan usaha luar biasa. Aku tidak terlahir dengan sendok perak di mulutku, tapi orangtuaku mengusahakan agar aku tidak bernasib sama seperti mereka. Papa dan Mama melewati segala hambatan untukku, akulah alasan mereka tetap bertahan. Aku menghormati mereka, selalu dan kuharap mereka memiliki tempat peristirahatan terbaik di luar sana..." aku melingkarkan kedua tanganku ke sisinya, menangis mendengar kisahnyaa.
"Scout.." hisakku, "Mereka pasti bangga memiliki anak setangguh dirimu..."
Dia menjauhkan badannya dariku dengan memegang kedua bahuku dengan tangannya. Dia tersenyum lebar.
"Bagiku, Papa adalah pria paling luar biasa dan kau tau alasannya dia bisa menjadi pria luar bisa, Ken?"
Aku menggeleng.
"Dia memiliku wanita laur biasa di sisinya, yaitu Mamaku. Dan Papa selalu berkata untuk mencari wanita yang luar biasa, yang bisa mendukungku dalam keadaan apa pun dan itu kau... Kau Kenny Charlotte Cullens...'
Secara mengejutkan, Scout berlutut di depanku. Dia membuka kotak beludru biru, di sana ada cincin mungil dengan permata kecil di sana. Sederhana dan cantik. Aku tidak tau bagaimana wajahku saat ini, jantungku berdetak kencang, pikiranku terpusat pada Scout saat ini. Scout... Astaga...
"Will you marry me?"
****
Scout POV
"Will you maary me?" ucapku dengan suara mantap. Jantungku berdetak kencang dan memenuhi indra pendengaranku. Hanya detak jantung yang terdengar dan detak itu semakin kencang dengan air muka Kenny yang di luar dugaanku. Aku melihat berbagai video di jejaringan internet bagaimana melamar yang baik, dengan makan malam mewah, bunga, kembang api, di Paris, dan berbagai hal yang mewah. Namun, bukan hal seperti itu yang kuharapkan, Kenny tidak suka hal seperti itu dan itu bukan gayaku. Terlepas dari itu, wanita-wanita di video yang dilamar itu menunjukkan wajah senang dan bahkan menangis, tapi tidak dengan Kenny. Wajahnya sulit dijelaskan, seperti... Tidak suka?
Aku menggigit bibirku gugup. Dia pasti tidak suka. Bodohnya aku melamarnya dengan cincin tua milik Mama. Bodohnya aku tidak mengikuti apa yang dilakukan video di jejaringan internet itu. Bodohnya aku hanya melamarnya di kantorku. Bodohnya aku melamarnya dengan cerita orangtuaku. Dia pasti menolakku. Pasti menolakku..Aku segera bangkit berdiri dan menutup cincin itu, berjalan ke arah meja yang penuh dengan kotak cincin yang sengaja kupersipakan untuk hal yang tidka terduga, seperti ini contohnya.
Aku segera membuka satu per satu kotaknya,"Ken.. Maafkan soal cincinnya. Mungkin kau tidak suka? Aku.. Aku membeli beberapa cincin tadi dan ada juga cincin pernikahan kita yang terakhir. Kau bisa mamilih mana yang kau suka...." Apa? Apa yang kukatakan? Kenapa aku malah mengingatkan masa kelam kami? Stupid!
"Atau tidak... Aku membeli beberapa cincin baru... Atau kau ingin makan malam mewah? Atau... Atau?"
Secara mengejutkan Kenny memelukku dari belakang membuatku berhenti bergerak.
****
Kenny POV
Secara mengejutkan, Scout segera berdiri dan menuju mejanya. Dia sibuk dengan kotak-kotak beludru lainnya yang tersusun di atas meja kerjanya. Banyak sekali. Aku tidak memerhatikannya tadi.
"Ken.. Maafkan soal cincinnya. Mungkin kau tidak suka? Aku.. Aku membeli beberapa cincin tadi dan ada juga cincin pernikahan kita yang terakhir..." dia mulai berbicara dengan tergagap dan tangannya yang bergetar sibuk membuka kotak-kotak beludru yang berisi cincin berbagai macam bentuk. Aku melihat punggungnya yang bergetar. Sial. Scout. Aku menangis dan aku menahan isakku sendiri dengan menggigit punggung tanganku. Melihatnya seperti ini membuatku menangis.
"Scout.." bisikku.
"Atau tidak... Aku membeli beberapa cincin baru... Atau kau ingin makan malam mewah? Atau... Atau?" lanjutnya dan membuatku tidak tahan. Aku segera memeluknya dari belakang. Memeluknya erat dan menumpahkan air mataku di sana.
"Berhenti bodoh.. Berhenti bertindak tidak masuk akal. Dengan atau tanpa cincin mewah, makan malam romantis, atau hal bodoh lainnya... Aku menerimamu.. Aku mau menikah denganmu...." ucapku dengan air mata bahagiaku.
"Apa?" bisik Scout seolah tidak percaya.
"Aku menerimamu. Aku bersedia menikah denganmu, Scout Damian Sharp. Aku mencintaimu..."
Lalu, Scout memutar tubuhnya, dia mengangkat tubuhku dan memutarku bersamanya. Tawa bahagiaku bercampur dengan tawa bahagia Scout. Dia memelukku erat, sangat erat. Dan aku pun memeluknya, begitu erat. Aku bahagia jika dia bahagia. Scout sudah melewati sendirian tahun-tahun yang begitu berat dan kejam. Dia bertahan walau tidak ada di sisinya, menghadapi kejamnya dunia sendiri. Dia pria tangguhku, sebesar apa pun kesalahanku dahulu padanya, dia selalu ada si sana, berdiri menungguku. Sekeras apa pun dunia berusaha menjatuhkannya, dia tetap bertahan. Scout, my love.. Pria tangguhku. Aku mencintainya melebihi apa pun di dunia ini dan aku berjanji akan membahagiannya. Aku berjanji akan selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun. Aku akan setia padanya hingga maut memisahkan
"Terimakasih, Kenny... Terimakasih sudah hadir di hidupku. Terimakasih memberi warna baru dalam hidupku. Aku mencintaimu. Selalu dan selamanya... I love you, My Lady..."
"I love you too..." bisikku
***
MrsFox
Udah diujung ajah ini cerita. Tinggal beberapa episode lagi dan ini bakal full mereka doang. Kalian bisa request adegan" uwu mereka dalam bentuk apa,biar aku tuangkan di tulisan ini. Mungkin ada beberapa dari kalian yang pengen adegan tertentu untuk pasangan bahagia kita, tapi gk kecapaian karna w cuma munculkan masalah dari awal :'v Emang dikit amat sih adegan uwu mereka. Jadi yang mau request silakan dah..