Because Of You

Because Of You
No Hope



Happy Reading


***


Kenny POV


Satu garis...


Artinya...


Tidak hamil....


Aku menarik napas dan menggaruk leherku yang tidak gatal. Aku menggoyang test-pack itu untuk kesekian kalinya, membuktikan bahwa hasilnya salah dan tidak berubah. Seketika udara di sekitarku sangat berat, membuatku kesulitan menarik napas. Aku menggigit bibir, berusaha untuk tidak menangis. Astaga, kupikir aku hamil.. Dan seharusnya memang seperti itu, aku melakukan hubungan intim dengan Scout hampir setiap malam dan bukan hanya sekali atau dua kali, tapi bisa berkali-kali setiap malamnya. Aku tidak memakai alat kontrasepsi begitu juga Scout yang tidak memakai pengaman.


Dengan sedih, aku membuang test pack itu ke tong sampah dan berjalan keluar dari kamar mandi. Aku kembali ke ruanganku dan Lani segera menyambutku. Dia berdiri hendak bertanya, tapi dia jelas membaca mimik wajahku dan mengurungkan niatnya untuk berbicara denganku. Aku membereskan barangku dengan perasaan hancur.


"Lani, aku pulang lebih awal hari ini..."


"Yeah, Ken... Apa perlu di antarkan?"


"Tidak.. Tidak perlu..." aku menggeleng kepala seraya memakai jaketku, "Sampai jumpa..."


Aku segera berjalan meninggalkan ruangan dan berjalan menuju lift. Di dalam lift hanya ada aku dan aku bersyukur atas itu. Aku melihat bayangan diriku di dinding lift, wajahku kusut. Hancur. Aku.. Aku sudah 31 tahun, atau lebih tepatnya hampir 32 tahun dan Scout jauh lebih tua dua tahun dariku. Tua.. Yah itu sudah cukup tua bagi beberapa orang, di tambah aku belum memiliki anak. Belum memberi Scout anak... Itu menyakiti hatiku yang sudah berharap penuh.


Saat pintu lift terbuka, aku berjalan ke arah mobilku yang di parkir di basement. Aku masuk dan segera duduk. Aku menyandarkan wajahku pada setir dan.. Menangis. Yah, hanya inilah yang bisa aku lakukan. Menangisi diriku. Aku kecewa dan takut.... Aku takut pada pikiranku bahwa aku tidak bisa hamil, padahal itu mungkin saja salah. Aku meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak bisa. Akhirnya aku menelpon Scout, aku ingin dia ada di dekatku, menenangkanku. Dia adalah obat terbaik yang kumiliki.


"Hai, Sweetheart..." aku tersenyum penuh pilu mendengar suara kalemnya. Aku bisa mendengar suara kertas yang dibolak-balik, pertanda dia sedang sibuk.


"Hai..." hisakku, padahal aku berupaya untuk tidak terisak, tapi aku tidak sanggup.


"Semua baik-baik saja?" suaranya berubah tegang.


"Sir.. Rapat akan segera dilaksanakan lima menit lagi..." ucap suara wanita di seberang, sekretaris Scout.


"Batalkan..." ucap Scout dan aku terenyuh serta merasa bersalah di waktu yang bersamaan, "Batalkan semua rapat dan pertemuan hari ini..." lanjut Scout.


Lalu kembali kepadaku, "Semua baik-baik saja, Ken? Kau ada di mana?"Aku mendengar suara langkah kaki, pertanda Scout bergerak meninggalkan ruangannya.


Aku menarik napas, "Tidak.. Aku tidak baik-baik saja..." hisakku, "Bisakah kau datang menemuiku di Rumah Sakit Lancaster?" kini suaraku lebih lantang, menahan diriku terisak lagi.


"Okay, aku akan kesana secepat mungkin. Jaga dirimu. Aku mencintaimu..."


"Aku mencintaimu..."


****


Scout POV


Aku keluar dari mobil dan setengah berlari memasuki gedung rumah sakit. Aku menoleh ke sana-ke mari saat berada di lobi rumah sakit, lalu aku melihat Kenny yang duduk di sudut kursi tunggu. Menunduk lesu. Aku segera berlari ke arah Kenny dan berlutut di depannya.


"Ken..." bisikku dan dia mengangkat wajahnya untuk melihatku. Matanya merah, wajahnya memerah dan basah karena air mata. Dia segera memeluk leherku dan aku memeluknya.


"Scout..." dia menangis, membuat hatiku perih. Sial. Apa yang salah? kenapa dia menangis? Menangis sepilu ini? Tadi pagi semua terasa baik-baik saja dan sekarnag...


"Stttt.. Aku di sini sekarang, sayang..." aku mengelus kepalanya lembut. Lalu Kenny menarik tubuhku untuk ikut duduk di sampingnya tanpa melepaskan pelukan kami. Dia terus menangis dan menangis, dan yang bisa kulakukan hanya mengelus kepalanya, membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Scout... Aku takut.. Aku takut..." dia mulai bicara dengan tangsinya yang belum berhenti.


"Apa yang kau takutkan, sayang? Aku di sini untukmu..."


"Aku takut tidak bisa memberimu bayi..."


Aku segera mendorong tubuh Kenny denagn kedua tanganku memegang bahunya, wajahnya hancur dan membuatku semakin hancur, "Kenapa? Jelaskan perlahan, Ken..."


Dia menggigit bibirnya dan menunduk lagi, tidak mau melihatku, "Lihat aku, Ken..." bisikku parau, merasa hancur.


"Aku tidak bisa..." hisaknya, "Aku.. Aku sudah tidak datang bulan beberapa bulan ini, beberapa hari ini aku mual dan pusing, kita tidak pernah memakai pengaman saat bercinta, dan kupikir aku hamil... Aku.. Aku yakin bahwa aku hamil dan mulai membayangkan bagaimana wajah anak kita nanti... Lalu.. Lalu.." dia menarik napas dengan berat.. "Aku mememeriksa dengan test pack dan hasilnya... Hasilnya..." Ken kembali menangis lebih kencang dan aku segera memeluk dia. Memeluk tubuhnya yang rapuh dengan erat.


"Kita akan memeriksanya kembali..." aku berbisik dan menolak mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, aku takut mengatakan sesuatu yang tidak bisa kupenuhi untuk Kenny.. Aku takut memberinya janji yang tidak bisa kupenuhi. Dan apa pun hasilnya nanti, dia tetap Kenny, tetap isteriku, tetap wanitaku.


***


Kenny POV


Scout melingkarkan tangannya pada tubuhku saat kami duduk di depan Dr.Adele, dokter kandungan di rumah sakit ini. Dia duduk di depan kami, wajahnya tegang dan membuatku ingin menangis lagi. Scout menggenggam tanganku dan meremasnya lembut, memberikan kekuatan.


"Hasil menunjukkan Mrs.Sharp tidak hamil...." ucap Dr.Adele dan Scout mengeratkan tangannya pada tubuhku.


"Dari keterangan anda bahwa kalian melakukan hubungan intim tanpa pengaman dan anda sudah tidak datang bulan selama dua bulan, seharusnya tidak salah jika kalian berpikir bahwa Mrs.Sharp mungkin hamil dan saya pun berpikir begitu..."


Aku menarik napas, menunggu kelanjutan perkataan Dr.Adele.


"Ada banyak kasus yang menyebabkan calon ibu sulit hamil dan salah satu dari kasus itu mungkin terjadi pada kalian. Kami sudah mengambil sampel sel telur dan sperm* dan melakukan rontgen pada kalian, dan beberapa hal lainnya untuk melihat apa yang salah. Bisa saja calon ibu yang salah atau pun calon ayah yang salah. Dan kita akan melihat hasilnya tiga hari kemudian..."


Aku meneteskan air mata dan membenamkan wajahku pada dada Scout. Yah.. Ada yang salah dan aku sudah memperkirakan itu.


"Di setiap kasus, apakah memiliki solusi?"  tanya Scout.


"Tergantung hasil yang kan kita lihat tiga hari kemudian, Mr.Sharp... Tapi, apa pun hasilnya, kami akan mengusahakan yang terbaik..


***


Scout POV


Sepanjang perjalanan pulang, Kenny hanya diam dan aku tidak mengajaknya berbicara. Itu sebuah pukulan berat untuknya dan untukku juga. Terutama pada Kenny, dia seorang penyayang anak. Mengingat dia dulu sempat merawat Maldivesh, anak Jacob dan jiwa keibuannya sudah dapat kulihat jelas saat dia di dekat anak -anak. Aku tidak masalah jika tidak memiliki seorang anak, yah... Sejujurnya aku ingin memiliki seorang anak dari Kenny dan diriku, anak yang akan meneruskan generasi darah keluarga kami. Namun, itu tidak wajib bagiku. Aku merasa baik-baik saja dengan atau tanpa kehadiran seorang bayi, selama Kenny di sisiku, semua akan baik-baik saja


Lalu, begitulah kami hanya diam sepanjang perjalanan. Setelah sampai, kami segera turun dari mobil. Kenny berjalan dengan cepat, meninggalkanku di belakang. Aku berjalan perlahan menuju kamar kami. Aku melepas sepatuku, jaket, dan jasku, lalu meletakkannya asal. Aku berjalan ke arah Kenny yang berbaring memunggungiku. Aku ikut berbaring dan bergabung dengannya di dalam selimut. Aku menelusuri tubuhnya dengan tanganku secara perlahan. Tanganku menuju kebawah dan hendak masuk ke dalam celana Kenny sebelum Kenny memegang tanganku, menghentikanku.


"Tidak untuk malam ini, Scout... Maafkan aku..."


Aku menarik tanganku dan mengambil posisi menatap langit-langit. Aku sakit hati karena Kenny menolakku dan aku memakluminya, tidak selamanya bercinta menjadi solusi terbaik dalam setiap masalah rumah tangga. Aku menelan ludah dan merasa kosong. Ini baru pukul delapan lewat dan aku tidak yakin bisa tidur malam ini karena pikiranku berkenalana entah kemana.


***


Tiga hari kemudian...


Kenny POV


Selama tiga hari aku hanya menghabiskan waktu di rumah, menolak untuk pergi bekerja dan selama itu juga Scout berada di sisiku. Dia tidak pergi bekerja ke kantor dan membawa pekerjaannya ke rumah. Dia tidak berusaha mengajakku melakukan apa, tapi dia mengawasiku. Memastikan aku baik-baik saja.


Aku menolak melakukan kontak fisik apa pun dengan Scout dan kami hanya bicara seperlunya. Bukannya Scout tidak berusaha memberiku penghiburan, tapi aku menolaknya dengan bahasa tubuhku. Aku ingin sendirian hingga hasil testnya keluar, memikirkan kemungkinan terburuk untukku. Aku merasa bersalah pada Scout karena sikapku yang kekanak-kanakkan, tapi aku hanya butuh ruangku sendiri.. Memikirkan kemana ujungnya berakhir.


"Kau sudah siap, Ken?" tanya Scout dengan suara rendahnya. Aku melihat pantulan dirinya di cermin. Kami akan berangkat ke rumah sakit karena hasilnya sudah keluar.


"Yeah.." aku berdiri dari meja rias dan berjalan ke arahnya. Dia menatapku dengan tatapan sendunya, dia juga rapuh sama halnya denganku. Hanya saja, dia lebih kuat dan selalu ada untukku. Seharusnya aku melakukan hal yang sama untuknya, saling menguatkan dan bukannya lari sepertiku. Lari dan bersembunyi dalam lingkaran ketakutan.


Inilah aku, selalu seperti itu. Sangat egois. Aku memejamkan mata, meresap rasa sakit itu. Betapa egoisnya aku... Aku melihat kembali wajah Scout, lingkaran hitam dan kelelahan. Dia jauh lebih lelah dariku, tapi dia berusaha kuat dan mengusahakan semuanya baik-baik saja.


"Scout..." bisikku setelah dekat dengannya dan segera memeluk dia. Aku menyandarkan kepalaku pada dadanya dan mendengar detak jangtungnya. Aku mengelus punggungnya lembut dan perlahan tubuhnya tidak tegang lagi. Dia memelukku kembali dengan sangat erat


"Maafkan aku..." bisikku lagi, "Maa--"


"Tidak, ken.." potong Scout, "Jangan minta maaf... Tidak ada yang perlu disesali dan ditangisi. Jangan merasa bersalah atau apa pun.... Aku akan selalu ada untukmu, bagaimana pun hasilnya nanti. I love you..."


"I love you..."


"Always and forever..."


"Always and forever..."


***


Dr.Adele menaruh tiga kertas gelap dengan gambar biru di sana, kertas rontgen. Jantungku berdetak kencang dan tanganku meremas kuat tangan Harry. Dr. Adele duduk kembali dengan kedua tangannya terlipat di atas meja. Dia memperbaiki letak kacamatanya.


"Ini adalah hasil rontgen rahim Mrs.Sharp..." aku menarik napas saat itu ditujukan untukku, "Saya akan menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana, pada uterus Mrs.Sharp terjadi penyumbatan, sehingga sel sperm* tidak bisa membuahi sel telur..."


Badanku bergetar, sudah kuduga bahwa aku yang salah di sini dan bukan Scout.


"Dari segi kualitas sel telur dan sp*rma, semua baik-baik saja dan permasalahannya hanya di penyumbatan ini..."


Aku membenamkan wajahku pada dada Scout, menahan diriku tidak menangis. Mencari kenyamanan dan kehangatan dari tubuh Scout yang beraroma menenangkan.


"Tindakan medis apa yang bisa dilakukan?" tanya Scout. Suaranya tegang.


"Ada dua..." ucap Dr. Adele dengan suara datar dan tegang, "Kita bisa melakukan rangkaian medis seperti menyuntikkan serum khusus ke rahim Mrs.Sharp. Serum ini bekerja kurang-lebih selama 12 jam dan selama itu, penyumbatan itu akan terbuka sedikit dan tingkat keberhasilannya kurang dari 45%. Dan jika pun berhasil, risiko dalam melahirkan adalah yang terberat. Karena adanya sumbatan itu, kemungkinan komplikasi dalam melahirkan bisa terjadi dan mengakibatkan kematian bagi calon ibu atau calon bayi mau pun keduanya. Kemungkinan keberhasilannya kurang dari 35% dalam proses kelahiran."


Aku mendengar itu semua diikuti detak jantung Scout yang berdetak kencang. Dia sama takutnya denganku. Sial, vonis itu membuatku dan Scout gemetaran. Terkhusus diriku, aku merasa wanita mandul pembawa sial bagi Scout. Sejujurnya, aku sudah pembawa sial sejak dulu padanya.


"Dan  cara kedua adalah, kita melakukan bayi tabung, tapi dengan seorang wanita sukarelawan yang memiliki rahim yang sehat..."


Aku menarik napas dengan kencang. Wanita lain? Apa yang dipikirkan Scout saat ini? Mana yang dia pilih? Oh my... Kenapa selalu ada masalah di saat kami berpikir bahwa hidup kami akan aman sentosa.


"Baiklah... Terimakasih, Dr.Adele. kami akan mendiskusikannya terlebih dahulu."


"Yeah, tentu... Hubungi saya jika kalian membutuhkan saran apa pun."


"Kami permisi..." Scout segera berdiri diikuti diriku yang tetap menyandarkan wajahku padanya


Kami berjalan di lorong rumah sakit yang sepi. Langkah kami perlahan dan kami hanya diam. Akhirnya aku memberhentikan langkahku, membuat Scout berhenti melangkah. Aku mengambil dua langkah mundur, hingga tubuhku bersentuhan dengan dinding rumah sakit yang dingin. Aku menarik napas sebelum akhirnya aku menatap Scout.


"Langkah apa yang kau pilih, Scout?" bisikku.


Dia memalingkan wajah dariku, tatapannya keras dan ekspresinya tegang. Dahinya berkerut dan bibirnya dilipat membentuk garis.


"Kita tidak membicarakannya di sini..."


"Apa yang kau pikirkan saat Dr.Adele mengatakan dua cara itu? Apa yang terlintas di benakmu? Sesuatu yang akan kau pilih?"


Dia mendengus kesal, "Kau..."


"Aku?" ulangku, "Lihat aku, Scout..." aku mengarahkan wajah Scout dengan lembut menggunakan jemariku.


Dia menatapku sebelum dia mengurungku di antara kedua lengannya yang ditopang pada dinding.


"Hanya kau yang terlintas dan bukan bayi, atau perkataan Dr.Adele atau apa pun... Hanya kau.." bisiknya pelan dan napasnya yang hangat menyentuh wajahku.


"Tapi Scout, kau butuh seorang penerus..." ucapku setengah putus asa. Kami berdua putus asa.


Dia menggeleng kepalanya, "Jika memiliki bayi harus mengancam nyawamu, maka jawabannya tidak. Kita bisa mengadopsi anak..."


"Bagaimana dengan cara kedua?" aku membelai wajah tampannya dengan lembut.


"Jangan bodoh... Aku ingin bayi, tapi bayi yang keluar dari rahimmu..."


"Scout, kita bisa mencoba cara suntik serum itu.."


"Jangan mendebatku. Aku tidak sanggup kehilanganmu, Ken... Aku tidak mau hidup di dunia yang tidak ada dirimu..." Scout menempelkan dahinya padaku sehingga hidung kami bersentuhan. Napasnya sedikit memburu, bukti bahwa dia juga takut.


"Scout..." tanganku tergantung di lehernya.


"Aku tidak bisa Ken... Kau kelemahanku. Kau kekuatanku. Aku tidak bisa." suaranya terdengar rapuh, "Kumohon jangan mendebatku untuk sekali ini saja, kita bisa hidup bahagia dengan atau tanpa kehadiran seorang bayi..."


Lalu aku menarik tubuhnya mendekat, mendekapnya dalam pelukan. Mendekap tubuhnya yang rapuh. Dia memelukku juga dan kami menyalurkan dukungan melalui pelukan kami. Kuharap aku bisa patuh dan memikirkan bahwa semua akan baik-baik saja dengan atau tanpa sang bayi.


Namun kurasa, aku tidak bisa melakukannya.


***


MrsFox


Gais. Maaf kalo ada yang salah soal penjelasan Dr.Adele, soalnya aku bukan anak kesehatan dan penggiat biologi gitu wkwkw, jadi kalo ada pembaca yg ngerti soal kesehatan dan merasa penjelasan aku ngawur, maap bangte yah. Anggap saja itu benar yah, jangan di debat (Aku gk tau soal kek gitu soalnya) hehe. Sebenarnya, aku udah ngetik biar Kenny hamil gitu untuk chapter ini, tapi pas gabut aku kek baca ulang koment kalian yang sangat bahagia dan aku tergoda menghancurkan itu wkwkwk (ketawa kejam)-Just Kidding, my love-- Semoga mereka menemukan jalan terbaik untuk masalah ini yah gais. Jangan lupa vote, like, coment, love, masuk grup, kasih coin/poin dan apa pun yang bisa dukung aku. Lop yuh gais.... Btw,aku jadi ikut jatuh ci