Because Of You

Because Of You
Please....



Happy Reading


***


Kenny POV


Sudah berlalu dua bulan lebih sejak kunjungan kami ke rumah sakit, baik Scout maupun aku tidak ada yang membahas soal itu. Bahkan soal mengadopsi anak. Setiap kami menonton siaran televisi atau film, kami akan menghindari segala sesuatu yang berbau tentang kehamilan, bayi, dan anak-anak. Kami bukannya sepakat untuk menghindari itu, tapi seolah ada ikatan di antara kami yang membuat kami mengerti bahwa itu tidak harus di bahas lagi. Kebanyakan orang menyebutnya ikatan bati, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai insting pasangan suami-istri.


"Voila... Aku tidak menyangka kau sudah 32 tahun..." ucap Rome dengan gaya mentelnya, penata riasku. Malam ini, aku dan Scout menghandiri pesta yang diadakan oleh kolega bisnis Scout. Sejujurnya, aku tidak terlalu suka begitu juga Scout, hanya saja ramah-tamah tetap perlu bagi kelangsungan perusahaan Scout.


Aku melihat bayanganku di cermin. Cantik, elegan, dan dewasa. Rambutku disanggul dengan anak rambutku dibiarkan menggantung di depan telinga. Penampilanku semakin hebat dengan anting dan kalung. Aku melihat bola


mataku dan membayangkan seperti anakku nanti, apakah dia memiliki warna bola mata sepertiku atau Scout?


"Kau bisa mengganti bajumu sekarang..."


"Thank you, Rome..." ucapku dan rome mengecup pipiku sekilas sebelum dia keluar dari kamar. Tidak lama kemudian, melalui pantulan cermin aku melihat Scout muncul dan masuk ke dalam kamar. Dia sudah memakai setelannya kecuali jasnya. Aku selalu suka penampilan Scout. Simpel tapi luar biasa. Beberapa pria saat ini berusaha terlalu keras untuk mempercantik diri dan jatuhnya hanya membuat mereka tampak payah. Untungnya, priaku bukan seperti mereka. Dia simpel, elegan, panas, dan spektakuler.


"Hai.." ucapku seraya berdiri dan melihat Scout bersandar pada dinging dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Dia berdiri dengan menyilangkan kedua kakinya. Terlihat...


"Kau tampak konyol dengan pose seperti itu." ucapku bohong. Sejujurnya dia terlihat panas. Kemeja hitam itu membungkus badannya dengan sempurna, tangannya yang masuk ke dalam saku menampilkan otot bisepnya, dan lihat kaki jenjang itu.. Sial, dia bisa membuatku gila.


Aku berjalan ke arah bajuku yang ada di atas ranjang seraya mengabaikan Scout yang terkekeh dengan suara beratnya. Aku menggigit bibir, menahan senyumku. Kami selalu seperti ini, tersenyum atau tertawa tanpa sebuah alasan penting dan begitulah beberapa pasangan di luar sana. Aku melihat gaun berwarna ungu lembut dan hampir berwarna putih dengan tali tipis di kedua sisinya.


"Baju kali lebih terbuka... Tidak seperti biasanya.." ucap Scout dari tempatnya.


"Aku ingin mencoba hal baru..." ucapku tanpa melihatnya.


Aku melepaskan piyamaku dan meninggalkanku hanya dalam celana dalam dan stoking hitamku, segera suara tarikan napas Scout yang berat terdengar. Aku tersenyum kecil. Aku selalu senang mengatahui jika aku memiliki daya tarik luar biasa terhadap Scout. Dan hanya aku seorang, tidak ada wanita lain.


Aku mengambil baju yang berkain beludru itu. Begitu lembut dan ringan. Wangi lavender tercium begitu pekat dan samar-samar tercium vanilla bercampur mint. Aku memakainya melalui kakiku dan menggantungkan tali tipis itu di kedua bahuku. Aku melihat ke arah Scout.


"Kau mau membantuku?" ucapku setengah berbisik.


"Yes, Mam.."


Scout berjalan ke arahku dengan langkah perlahan. Dia berdiri di belakang tubuhku.


"Kancingkan bajuku..."


"Okay..."


Dia mengecup leherku sekilas dan mengirimkan getaran luar biasa, "Wangimu enak..." bisiknya di telingaku dan membuatku meleleh.


Jemarinya membelai leherku dan turun secara perlahan ke bagian bawahku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di leherku. Aku memiringkan kepalaku seraya menggigit bibir, menahan godaan untuk melenguh. Sial, kenapa dia selalu berhasil menggodaku hanya dengan sentuhan seperti ini?


"Aku suka warnanya..." bisiknya.


"Gaunku?"


"Bukan..." bisiknya, "Tapi pakaian dalam dan stokingmu, Mrs.Sharp."


Aku memerah dengan ucapan nakalnya. Aku merapatkan pahaku, mencegah cairan sialan itu membasahiku.


"Aku bisa saja menghabisimu saat ini juga, Ken. Membuat berteriak kencang dan memohon-mohon padaku...." bisiknya dengan nada mengancam dan justru membangkitkan gairahku semakin besar, "Tapi, Rome akan marah kepadaku karena mengacaukan riasanmu..."


"Scout..." suaraku nyaris tidak terdengar dan aku berdehem sekali, "Scout, jangan buang waktu. Kancingkan bajuku."


"Okay, Mrs.Sharp..." ucapnya dengan suara jenakanya. Dia menarik resleting bajuku dengan jemarinya tetap menyentuh punggungku.


"Trims..." ucapku setelah selesai dan menghadap kepadanya.


"Bajumu sangat terbuka, Mrs.Sharp..." ucapnya dengan nada tidak suka. Yah, dia benar. Baju itu memamerkan bahuku dan belahan dadaku. Biasanya aku memakai baju lebih tertutup, tapi aku tergoda menggunakan jenis baju yang lain.


"Tapi kau sukakan?" ucapku dan dia memasukkan jemarinya ke balik tali bajuku yang tipis bak pasta.


Dia menggangguk, "Suka..  Hanya saja...."


Aku menaruh jari telunjukku di bibirnya yang setangah terbuka, "Stttt... Jangan mengeluh, Scout dan ayo berangkat." aku berjalan meninggalkannya untuk memakai sepatuku.


"Hanya satu yang tidak berubah dari penampilanmu, Ken?"


"Apa?" aku memasukkan kakiku ke sepatu wedges dengan hak rendah, tidak lebih dari 5cm.


"Sepatu wedges dengan hak rendah..." Dia benar karena apa pun gaunnya, sepatu ternyaman adalah model seperti ini.


***


Scout POV


Setelah sampai di rumah, tempat pesta akan dilaksanakan, pelayan menyambut kami dan mengambil mantel kami.


"Mr.Sharp dan Mrs.Sharp..." ucapku pada pelayan seraya memberi undangan kami


"Yes, Sir..." ucapnya seraya mengambil undangan.


Posisiku berada di beranda dan pesta berada di ballroom yang dibatasi dengan kaca. Menampilan sudah ramainya tamu.


"Apa di dalam cukup hangat?" tanyaku pada pelayan dan merangkul Kenny. Ini sudah mendekati musim dingin dan Kenny memakai baju yang terbuka. Aku sedikit tidak senang dengan baju ini karena tidak cocok dengan musim saat ini dan kupastikan beberapa pria akan menggodanya nanti.


"Yes, Sir.. Semuanya yang diperlukan untuk kenyamanan tamu telah dipersiapkan." aku mengangguk dan menuntun Kenny masuk ke dalam pesta. Pintu kaca di buka dan udara yang lebih hangat langsung terasa.


Aku menggandeng tangan Kenny, mencari tuan rumah pesta ini. Musik, makanan, minuman, kehangatan, dan segala bentuk kemewahan lainnya ada di pesta ini. Aku melihat beberapa wanita memakai gaun jauh lebih terbuka dari Kenny. Betapa anehnya fashion jaman sekarang.


Aku menundukkan kepalaku pada telinga Ken "Apa dingin?" bisikku.


"Tidak. Di sini hangat..."


"Bagus..." kami tetap berjalan, "Kuharap kau memakai pakaian tertutup untuk lain kali..."


"Alasannya? Ini baju yang bagus dan aku nyaman memakainya..."


Aku memutar mataku jengkel.


"Semua pria di sini menatap dadamu dan berharap menghisapnya..." ucapku datar dan Kenny segera memeukul pahaku dengan tangannya yang bebas.


"Jaga ucapan nakalmu, Scout...."


"Aku serius, Ken..."


"Aku tidak akan membiarkannya... Dasar pecemburu."


"Aku tidak cemburu.."


"Whatever, Scout..." ucapnya jengkel dan aku terkekeh kecil. Aku segera melihat Robinson, pria tua yang mengadakan pesta ini. Kuharap dia tidak melihat dada Kenny nanti. Yah, mungkin dada Kenny tidak besar, tapi itu mungil, pepat, berisi, pas dalam genggamanku dan menggemaskan. Pria mana pun akan tertarik, termasuk si tua bangka Robinson


"Itu mereka..." aku melangkah ke arah mereka yang sedang bercakap-cakap, "Jaga dadamu, ken.." bisikku setengah mengancam.


"Mr.Robinson..." ucapku menarik perhatian si tua Robinson.


"Suaramu sangat kaku..." bisik Kenny tepat dengan pandangan Robinson pada kami.


"Oh.. Scout Sharp..." ucapnya dengan suara tuanya. Dia berjalan dengan perut buncitnya seraya memindahkan gelas kacanya ke tangan kirinya. Kami saling berjabat tangan, lalu dia  menjabat tangan Kenny. Aku melirik mata nakal sialannya dan tentu saja matanya tidak tertuju pada wajah kenny, tapi dadanya.


Itu milikku, tua bangka sialan. Dada itu milikku!!


"Mrs.Sharp.." ucap Robinson pada Kenny.


"Mr.Robinson.. Terimakasih atas undangan anda." mereka melepas jabatan dan aku kembali menjabat tangan isterinya yang malang dan Natalie Robinson. Aku tersenyum kecil padanya. Aku tidak mengenalnya secara personal, tapi dia selalu hadir di setiap pesta, jamuan kecil perusahan, rapat, dan lainnya yang membuatku sering melihatnya karena dia putri si Robinson tua.


"Anakku tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, tapi dai mengirimkan salam untuk kalian berdua." ucap Robinson yang mengacu pada anak pertamanya dan aku tidak ingat nama anaknya. Dia mulai mengajakku bicara dan bergabung dengan petinggi perusahaan lain, tapi matanya tidak lepas dari dada Ken. Ingin aku meninju wajah berlemaknya itu dan berteriak...


Berhenti melihati dada isteriku, sialan!!!


***


Kenny POV


"Bicaralah..." ucapku seraya melepas gandengan Scout dan sedikit menjauhi mereka. Aku melihat punggung Scout dan dia jelas tidak nyaman berada di sana. Berbasa-basi bukan keahlian Scout. Seorang pelayan menawarkan nampan yang berisi alkohol dan aku segera mengambil satu gelas. Aku menyesapnya dan tatapanku tidak lepas pada Scout yang berdiri menyamping dariku. Dia menoleh ke arahku dan tatapan kami bertemu. Dia tersenyum kecil dan mengedipkan mata kanannya. Aku terkekeh dan berharap wajahku tidak memerah. Lalu, dia kembali fokus pada kelompoknya.


"Yah itu aku.. Panggil aku Kenny saja..."


Dia tersenyum manis. Aku ingat jika Scout tersenyum kecil padanya, bukannya aku cemburu atau apa. Hanya saja, Scout tidak tersenyum pada sembarangan orang. Dia hanya tersenyum kepada orang yang dia hormati dan yang cukup dia kenal baik. Aku tidak yakin mereka saling mengenal baik karena Scout tidak pernah menceritakan kepadaku bahwa dia punya teman wanita.


"Aku penggemarmu..." ucapnya seraya tersenyum lebar. Memamerkan giginya yang putih dan rata. Tingginya mungkin hanya 165cm dan dia terlihat mini di depanku yang 12 cm lebih tinggi. Dia berambut coklat panjang, warna bola matanya coklat madu, hidungnya mancung dan tipis, kulitnya putih bersih, dan.. Tidak bisa kupungkiri, dia wanita yang manis dan cantik.


"Benarkah?" ucapku ramah.


"Yah... Apa kau akan mengeluarkan album baru?"


"Dalam waktu dekat mungkin tidak..."


"Kenapa?


"Menemukan inspirasi dalam musik tidak mudah..."


"Kau benar...Aku menunggu albummu, Kenny..." dia tersenyum, "Aku permisi. Senang bicara denganmu..."


"Aku juga..." lalu dia berlalu. Mataku tetap mengikuti Natalie yang bergabung dengan kelompok Scout. Aku menyesap minumku seraya bergerak sedikit untuk mendapatkan sudut pandang yang bagus agar aku bisa melihat wajah Scout dan Natalie dengan jelas.


Scout hanya diam dengan wajah bosan yang tidak ia tutup-tutupi. Lalu, aku menatap Natalie. Dia hanya diam dan mengikuti pembicaraan, tapi pandangannya tertuju pada Scout. Aku paham pandangan itu. Berbinar-binar dan penasaran. Jelas dia menyukai Scout. Seolah sadar ditatapi, Scout melihat ke arah Natalie yang mana harus membuatnya sedikit menunduk melihat Natalie. Mereka saling menatap untuk sekian detik sebelum Natalie mengalihkan pandangannya. Wajah dan telinganya memerah. Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, gerakan khas wanita yang malu-malu di depan pria yang dia sukai.


Aku menyesap minumanku sampai habis dan tatapanku kembali ke Scout yang sedang menatapku. Dia mengalihkan tatapannya ke kelompoknya dan berbicara pada mereka. Lalu dia berjalan ke arahku, meninggalkan kelompoknya. Aku melihat ke balik punggung Scout dan mataku bertemu Natalie. Tatapan sakit hati.


Wanita yang malang, kau menyukai pria yang salah...


****


Aku berbaring miring menghadap Scout di ranjang dengnn lengan Scout sebagai bantalku. Kulit kami yang polos saling bersentuhan. Aku menggerakkan jemariku secara melingkar di dada Scout. Setelah pesta yang melelahkan, menghabiskan waktu di ranjang bersama Scout adalah penyegaran yang terbaik.


"Natalie menyukaimu..." bisikku.


"Banyak wanita di luar sana yang menyukaiku, Ken..." ucapnya tidak peduli dan dia benar soal itu.


"Kalian saling bertatapan tadi.." aku tidak menyembunyikan nada kesal di sana.


"Aku selalu melakukan itu pada siapapun, baik pria maupun wanita. Aku akan memandang mereka hingga mereka mengalah sendiri. Kau tau jelas bahwa aku terbiasa menang, bahkan dalam hal saling menatap..."


Aku menairk napas dan menghembuskannya perlahan. Mataku menatap dada Scout, menerawang sesuatu.


"Scout... Kau tau aku selalu ingin punya anak..."


"Kau sudah mau mengadopsi? Kita bisa pergi ke panti asuhan sesegera mungkin..."


Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku perlahan. Jantungku berdetak kencang dan aku yakin Scout merasakannya.


"Kau tau, Scout--" bisikku.


"Jantungmu berdebar kencnag..." potong Scout.


"Kau tau, Scout." ulangku, "Aku dulu sangat sayang pada Nenekku karena dia yang merawatku saat ayah dan ibuku sibuk dengan duniannya..." aku mengelus dada Scout perlahan, tubuhnya menegang.


"Hingga akhirnya dia meninggal saat aku belum genap 12 tahun, itu membuatku sedih. Karena aku selalu menangis, ibuku menghiburku dengan berkata bahwa Nenekku sekarang menjadi bintang dan menatapku dari atas. Kau tau, aku memercayainya hingga saat ini dan aku yakin Ayah dan mama menatpaku dari sana, begitu juga orangtuamu Scout dan orang yang kita sayangi...."


"Jangan membicarakan kematian denganku, Ken..." bisiknya dan otot lengannya yang kutiduri semakin tegang.


Aku memejamkan mata, "Aku percaya jika yang meninggal akan menjadi bintang dan menatap kita dari atas..." suaraku bergetar dan aku menggigit bibirku keras. Scout segera bangkit untuk duduk dan aku ikut duduk, menarik selimut menutupi dadaku.


"Bicara yang jelas, Ken..." walau dalam cahaya yang temaram, aku bisa melihat ekspresi Scout yang keras dan marah.


Aku menggigit bibir dan menunduk ke bawah, "Aku mengikuti program hamil Dr. Adele..."


Aku terdiam, tidak sanggup melanjutkannya. Seharusnya ini menjadi berita yang membahagiakan, tapi tidak untuk Scout. Aku tentu bahagia hanya saja... Aku takut akan kemarahan Scout.


"Lanjutkan..." napas Scout menderu cepat dan dadanya naik-turun semakin cepat. Aku menarik napas dan merasakan air mataku jatuh. Aku memejamkan mata dan membuat air itu semaakin berjatuhan.


"Aku... Maafkan aku, Scout tidak memberitahumu...." hisakku dan Scout memegang kedua bahuku dengan keras.


"Tatap aku, Ken..." ucapnya dengan suara rendah dan berat. Marah. Dia marah...


"Scout... I'm so sorry..." hisakku dengan suara tertahan. Tiba-tiba, Scout memegang kedua pipiku, memaksaku memandang dia. Tangannya yang satu masih di sisi kiri bahuku dan tangan kanannya memegangi pipiku dengan keras. Dia tidak pernah sekasar ini padaku sejak pernikahan kami bahkan saat kami pacaran. Dia selalu memperlakukanku dengan lembut, hangat dan hati-hati, seolah aku adalah benda paling berharga dan mudah rusak.


Scout marah. Benar-benar marah besar...


Dan aku takut...


Aku takut dan merasa bersalah karena tidak mendiskusikan hal ini dengannya. Namun, aku ingin memiliki bayi dan Scout tidak akan menyetujui ini jika kuberitahu. Seminggu setelah vonis Dr.Adele sekitar dua bulan lalu, aku mendatanginya dan melakukan program hamil dengan serum itu. Tentu awalnya aku ragu karena tidak memberitahu Scout, yang notabenya adalah suamiku. Namun, hatiku teguh dan apa pun yang terjadi aku akan memberikan keturunan dan penerus pada Scout karena aku yakin aku sanggup.


Aku melakukan penyuntikan serum sekali tiga hari dan terus melakukan itu. Awalnya tidak ada tanda-tanda, tapi aku tidak menyerah. Aku meminum berbagai vitamin, memakan makanan yang membantu kesuburan wanita, melakukan yoga, dan segala hal yang di sarankan Dr.Adele... Lalu tibalah ujung perjuanganku, sehari yang lalu aku melakukan tes kehamilan di rumah sakit dan mendapat kabar bahwa aku sudah hamil. Aku melakukan USG dan ada titik kecil di rahimku, usia calon bayiku kurang dari dua minggu. Itu benar-benar membuatku menangis bahagia dan merasa bersalah di saat yang bersamaan..


Aku merasa bersalah dengan pria yang di depanku ini.


"Katakan, Ken..." bisiknya dengan suara marah dan parau.


Aku memejamkan mata dan membirakan air mata itu mengalir dengan deras, "Program itu berhasil dan aku hamil...." hisakku.


Scout melepas tangannya dariku dan menatapku dengan tatapan tidak percaya, marah, dan emosi yang tidak aku tahu.


"Scout..." aku hendak meraihnya dengan tanganku, tapi dia menjauh dan segera berdiri, menatap tanganku dengan jijik. Itu membuat hatiku hancur, aku tidak mengira dia akan semarah ini.


Scout menyisir rambutnya dengan tangan dan menatapku seraya menggeleng kepalanya.


"Aku tidak percaya kau melakukannya, Ken..."


"Scout, please... Aku bisa melaluinya.. Kita bisa melaluinya. Aku hamil, tidakkah kau bahagia?" hisakku dan berusaha meraihnya dengan tanganku.


"Hah? Kau berkhianat, Ken..."


"Tidak.. tidak..." aku menggeleng kepalaku, "Aku tidak berkhianat..."


"Yah, kau berkhianat. Kau membicarakan bintang sialan itu. Kau hamil dan kau akan mati, lalu mengatakan padaku bahwa kau akan melihatku dari  bintang?! Yang benar saja, Ken!!!" teriakknya keras hingga membuat urat lehernya menyembul.


"Scout.. Please.. Jangan marah.... Kumohon.." aku menangis semakin keras.


"Kau berkhianat..." bisiknya parau, hancur. "Kau akan meninggalkanku.. Meninggalkanku sendirian lagi di dunia ini..."


Dia hancur dan aku segera bangkit hendak memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja, tapi dia segera menjauh.


"Jangan mendekat, Ken...."


"Please..." bisikku parau.


"No, Ken... Aku tidak bisa. Aku tak tau harus bagaimana... Menjauhlah dariku. Kumohon..." dia segera memutik pakaiannya dan memakainya.


"Scout..." hisakku semakin keras, "Scout! Aku mencintaimu!!! Kumohon..." teriakku dan Scout tetap bergerak, mencari sesuatu.


"Jika kau mencintaku, kau tidak akan melakukannya," dia berhenti bergerak dan menatapku, "Kau tidak pernah mencintaiku dan tidak akan pernah mencintaiku...." ucapnya dengan nada datar dan segera melangkah pergi dari kamar. Dia membanting pintu dengan keras.


Aku ambruk ke lantai yang dingin dan mulai menangis di sana. Tidak memedulikan keadaanku yang telanjang, aku hanya menangis dan menangis terus seraya memeluk perutku. Scout marah dan dia tidak memercayaiku lagi.. Aku sudah menghancurkan kepercayaannya. Dia rapuh dan mudah hancur. Dia memercayaiku dan aku merusaknya, membuat dia yang rapuh menjadi hancur. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Scout akan semarah ini dan ini membuatku semakin takut. Aku takut akan apa yang terjadi di hari esok. Aku takut akan segala kemungkinan yang terjadi antara aku dan Scout. Dan aku takut, apakah aku dan bayi ini akan baik-baik saja? Aku takut apakah rumah tangga ini dapat bertahan?


***


MrsFox


Sebenarnya aku pengen Natalie hadir gitu jadi tokoh antagonis, jadi wanita pelakor gitu. Cuman, liat komen kalian yang gegana, jadi aku mainkan ke sisi ini ajah, pertarungan hati dan batin antara Scout dan kenny. Hope you enjoyed. Semua orang menyukai happy ending dan aku juga gais, tapi happy ending setiap orangkan berbeda-beda. Gimanapun endingnya, gimana pun jalan cerintanya, jangan gegana gais... Semua akan indah pada waktunya. Wkwkw, seharusnya di chapter ini aku udah nutup cerita ini karna memang target aku jumlah chapter segini ajah dan fokus buat novel yang baru, tapi imajinasiku berkeluaran tanpa arah dan menuangkannya di sini. Novel berikutnya aku bercerita tentang kisah cinta Harry, mantan Kenny. Udah aku update sih, cuman masih di review pihak mangatoon. So stay tuned ajah dan jangan lupa vote, like, koment, dan apapun yang bisa mendukung aku. Lopyuh from the moon to the world and back.