Because Of You

Because Of You
New Home, New Guest



Happy Reading


****


Scout POV


"Jadi aku cinta pertamamu?" tanya Kenny untuk kesekian kalinya untuk hari ini. Aku segera menginjak pedal gas dan mobil kami melaju kencang hingga membuat tubuh Kenny terdorong ke belakang.


"Whoa!!!" teriak Kenny, "Pelankan, Scout!!"


Lihat, mulut cerewetnya tidak berhenti mengoceh. Aku membalasnya dengan menaikkan kecepatan mobilku.


"SCOUT!!! Aku berhenti!! Aku akan berhenti menanyakannnya...."


Aku segera menurunkan kecepatan mobil hingga ke titik normal, "Pilihan yang bagus, Ken..."


"Ayolah, Scout. Aku hanya bertanya. Apa salahnya?"


"Salah jika kau terus bertanya saat kau sudah tau jawabannya. Itu membuang tenaga dan sangat boros."


"Dasar manusia kaku yang gila kontrol..." Kenny memalingkan muka dariku dengan melihat ke sisi lain.


"Dasar tukang marah yang cerewet...."


"Dan 'tukang marah yang cerewet' itu adalah isterimu. Jadi, goodluck..."


Aku tersenyum dan menahan diriku untuk tidak tertawa, dia sangat menggemaskan saat marah.


"Untungnya aku mencintainya tanpa pamrih...."


"Dasar tukang gombal...." Kenny tertawa dan aku ikut tertawa kecil.


Aku menyalakan lampu sein ke kiri dan segera membelokkan mobilku masuk ke bandara. Yah, liburan kami sudah selesai. Seharusnya liburan kami sekitar dua minggu, tapi hanya bisa satu minggu. Keadaan di kantorku tidak bisa menunggu lama dan Kenny memiliki projek baru yang harus segera dia kerjakan.


"Goodbye Halmahera..." ujar Kenny sedih.


"Kita akan datang ke sini setiap akhir pekan jika kau mau..."


"Jangan boros..."


"Aku bukan boros, aku hanya mampu melakukannya dan aku ingin...."


"Terserah tuan gila kontrol yang kaku..."


Aku melajukan mobilku perlahan saat pesawat yang akan membawa kami terbang mulai terlihat. Aku melirik sekilas pada Kenny yang mengarahkan wajahnya ke cahaya matahari. Aku tidak yakin dia memejamkan mata atau tidak karena dia memakai kaca mata hitam.


"Andai kita bisa menaiki mobil cup terbuka di New York."


"Aku bisa membelinya untukmu..."


"New York dengan segala polusi, udara yang panas, dan kemacetannya? Mana mungkin, Scout."


"Kau benar..." bisikku, "Here we go..." ucapku lagi setelah sampai di tujuan kami. Aku segera turun setelah mematikan mesin mobil dan para kru pesawat mengambil barang kami. Aku berjalan ke arah mobil yang lain dan membukakan pintu mobil untuk Kenny.


"Ahk... Aku suka di sini.." erang Kenny, enggan bergerak.


"C'mon girl atau kau mau aku mengangkatmu?"


"Yeah...."


Aku terkekeh dan menggendong Kenny. Dia menggantungkan tangannya di leherku dan kami mulai berjalan, "Kau semakin berat..."


"Kau selalu menyuruhku makan banyak...." ujarnya dengan nada jengkel


"Aku juga berolahraga denganmu setiap saat..."


"Bercinta bukanlah jenis olahraga, Scout..." bisik kenny pelan dan aku menaiki tangga pesawat, menjaga suaranya tidak terdengar oleh kru pesawat.


"Pengertian olahraga adalah aktivitas yang mengeluarkan keringat dan membuat jantungmu berpacu kencang. Dan saat kita bercinta, bukankah itu yang kita dapatkan?" Kenny mencubit perutku.


"Pelankan suaramu..." aku terkekeh dengan sikap malu-malunya.


Aku menurunkan Kenny setelah sampai di pesawat dan kami masing-masing mengambil tempat untuk duduk.


"Seharusnya, asosiasi kebugaran memasukkan itu dalam jenis olahraga..." lanjutku lagi.


"Aku bersyukur kau bukan menteri pendidikan negara ini..."


"Apa hubungan pembicaraan kita dengan menteri pendidikan?"


Aku melihat kenny yang memakai sabuk pengaman, lalu melirikku melalui kacamatanya.


"Kau bisa saja memasukkan itu ke dalam kurikulum pendidikan dan para siswa melakukan s*x secara terbuka..."


Aku terkekeh seraya memasang sabuk pengamanku, "Kau benar. Untung aku bukan menteri..."


Lalu kami terbang, meninggalkan Halmahera yang penuh kenangan manis kami walau hanya dalam waktu singkat.


****


Kenny POV


"Scout...." bisikku lalu dia menatapku.


"Kau sudah bangun, sweetheart? Welcome to our home.." ah surat Scout yang berat dan kalem adalah suara terindah di dunia ini versi diriku.


Aku menggerakkan tubuhku, mengisyaratkan untuk menurunkan aku dan Scout melakukannya. Aku sedikit terhuyung karena efek jetlag dan Scout menopang tubuhku, "Jetlag?" bisik Scout dan aku mengangguk kecil.


"Aku tidur sangat lama..."


"Dan sangat pulas.." sambung Scout. Dia benar karena aku tidak merasakan aku sudah sampai atau apa pun.


Aku melihat sekitar dan tidak terasa asing dengan tempat ini. Beberapa pelayan mengambil koper dan bawaan kami dari Halmahera. Aku kembali menatap beranda rumah yang mewah ini. Tiang-tiang putih yang besar, lantai marmer yang mewah, langit-langit yang tinggi, furnitur klasik nan mewah, dan warna putih gading pada dinding. Aku hapal jelas tempat ini, rumah Scout.


"Ayo..." Scout menarik tanganku menaiki tangga besar nan megah itu. Jantungku berdegup kencang saat kami menuju sayap kanan, tempat kamar kami berada. Aku menggenggam tangan Scout semakin erat saat melihat pintu kayu mahoni coklat itu.


"Kau mau membukakan kamar kita?" Scout memberiku kunci kamar emas yang pernah kumiliki dulu.


"Scout..." bisikku terharu dan segera memeluknya. Scout bercerita bahwa dia meninggalkan rumah ini tidak lama setelah kami bercerai karena rumah ini memiliki banyak kenangan dan kenangan itu membuat dia tidak bisa tidur tenang. Scout berpikir untuk menjualnya dulu, tapi ini adalah rumah yang dibangun kedua orangtuanya dengan penuh kerja keras dan cinta. Scout meeninggalkan rumah ini dan memilih tinggal di penthouse mewah, lalu tidak pernah mengunjungi sekalipun rumah ini.


Aku menangis mengetahui Scout memiliki masa berat setelah perceraian kami. Tidak sedikit pun keinginan Scout menceraikanku saat itu, hanya saja dia merasa tidak pantas untukku padahal akulah yang harus merasa seperti itu padanya. Dia menghabiskan waktu dua tahun menjadi workoholic, bekerja tiada henti dan hanya menemukan dirinya semakin tenggelam dalam kekosongan. Dan akhirnya dia kembali ke sini setelah dia merasa siap. Setelah aku hadir kembali padanya.


"Terimakasih sudah memberanikan diri, Scout..."


"Itu karena kau ada di sini, Ken..." bisik Scout seraya melepaskan pelukan. Aku berjinjit dan menicium pipinya sekilas. Lalu kembali kepada pintu, aku menekan handle pintu dan segera masuk. Aroma kayu, mint, dan lavender bersatu menjadi satu, lalu mengarahkan tanganku ke dinding untuk menyalakan lampu. Aku perlahan masuk dan melihat semua yang ada di kamar ini tidak ada yang berubah. Furnitur dan letaknya masih sama seolah kami masih menempatinya sejak dulu, lalu... Aku melihat hiasan foto yang pernah kubuat. Masih pada tempatnya dan aku berpikir betapa konyolnya hiasan ini, tapi ini membuat mataku memanas karen emosi yang tidak ku mengerti. Aku menggigit bibir dan segera memeluk Scout yang berada di belakangku.


"Kita kembali ke rumah..." bisikku.


"Kita di rumah sekarang dan kita tidak akan pernah meninggalkannya lagi..."


"Tidak pernah...."


****


"Thank you, Litsie..." ucapku pada pelayan yang membantuku memasak sarapan. Lidsie segera pergi untuk kembali membereskan pekerjaan rumah. Jangan harap aku bisa membersihkan rumah ini sendirian, di tambah dengan halamannya yang sangat luas.


Aku biasanya memasak sendiri karena hanya aku dan Scout yang makan di rumah ini, tapi aku mendapatkan pagi yang kurang menyenangkan. Aku merasakan mual pagi ini, tapi tidak muntah. Yah, itu biasa terjadi padaku saat pergantian musim. Tahun ini sudah memasuki musim gugur dan itu adalah mimpi buruk untukku karena saat pergantian musim aku akan menderita flu yang cukup parah disertai mual dan muntah-muntah.


"Morning, sweetheart.." ucap Scout dan mencium bibirku sekilas. Dia segera mengambil kursi dan duduk. Aku menyajikan sarapan untuknya, "Kau baik-baik saja? Aku bisa menyuruh Dr.Murphy datang dan kau tidak perlu bekerja hari ini..." ucap Scout dengan nada khawatir.


Aku menarik kursiku sendiri dan duduk, "It's okay... Setiap pergantian musim memang seperti ini. Aku bisa ke rumah sakit nanti..."


Scout mengelus tanganku yang berada di atas meja dan mengelusnya, "Panggil aku jika kau butuh sesuatu. Kau mengerti, Mrs.Sharp?"


"Okay, Mr.Sharp..." ucapku lalu meminum teh milikku.


Scout segera berdiri setelah selesai memakan sarapannya. Aku ikut berdiri dan memperbaiki dasinya, setelahnya menepuk-nepuk dadanya yang bidang. Lalu menciumnya. Kami berciuman cukup lama, sebelum aku melepaskan kaitan kami.


"Kau harus bekerja..."


"Kupikir aku bisa bercinta denganmu saat ini juga di atas meja dapur..." bisiknya nakal dengan napas terangah.


"Jangan bodoh.." aku menggandeng tangannya untuk berjalan keluar rumah, "Mulutmu membuatku ingin muntah..."


"Serius? Padahal sebelum sakit kau memuja-muja mulutku..." aku memerah mendengar omongannya yang nakal.


"Pergilah bekerja pria besar...." aku mendorong badannya menuju mobil dan aku terkekeh melihat Scout membentuk sebuah hati dengan kedua tangannya. Aku membalas hatinya dengan membentuk hal yang ama dengan tanganku sebelum akhirnya Scout masuk ke dalam mobil dan segera pergi. Omong-omong, mungkin beberapa orang berpikir tingkah seperti ini memuakkan, tapi tidak untuk kami berdua. Ini menyenangkan dan kalian akan merasakan hal yang sama setelah kalian menikah dengan pria yang kalian cintai, jadi jangan berpikir kami pasangan menyebalkan...


****


Aku menghentikan permainan pianoku seraya melepas headsetku. Aku bangkit berdiri dan keluar dari studio.


"Kau okay Ken?" tanya Ana menawarkan teh untukku


"Okay..  Hanya saja bau studio itu memuakkan.." aku menghirup bau teh mint yang menenangkan seraya mengambil tempat untuk duduk, "Lani, apa kau mengganti pewangi ruangnya?" tanyaku pada Lani, managerku.


"Tidak, itu masih wangi yang sama. Mint dan lavender."


"Serius? kenapa sangat memuakkan di dalam sana...."


"Mungkin saja kau hamil..." ujar Ana dengan anda kelam dan itu sangat berarti untukku, "Guys, cukup untuk saat ini, kalian bisa istirahat..." ucap Ana kepada kru perekam dan mereka segera berhamburan keluar, meninggalkan Aku, Ana, dan Liz.


"Aku hamil..." itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Jelas... Astaga. Bodohnya aku. Aku segera meminum teh milikku sampai habis, lalu air minum dari botol minumku sampai habis. Yang kupikirkan saat ini adalah, segera buang air kecil.


"Kau hamil? Cool...." sambung Ana masih dengan nada kalem, seolah aku bercanda.


"Liz... Tolong pergi ke apotek dan beli aku test kehamilan..."


"Kau serius?" tanya Ana lagi tanpa nada kalemnya.


"Yah, karena aku yakin 99% bahwa aku hamil karena aku sudah melewati tanggal datang bulanku."


"Okay, selagi kalian bicara, aku akan pergi apotik. Bye..." ucap Liz dan segera keluar dari ruang rekaman.


"Kau yakin?" tanya Ana dan fokus ke perutku seraya mengelus perutku, "Yah, ini sedikit kembung.. Tapi kau yakin yang kembung ini bayi dan bukan makanan?" aku menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


Lalu tersenyum seraya mengelus perutku, "Ini pasti bayi.. Aku yakin.."


****


MrsFox